Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 23 : Ambisi Seorang Resi


Setelah mendengar perkataan dari Aria, Buto Ijo tersenyum penuh Arti.


Tanpa berbasa-basi lagi, Buto Ijo melesat melewati Ki Birawa, tangannya langsung menghantam pria berbaju merah.


Prak!


Anak buah Sura kendil yang naas, tewas dengan kepala hancur terkena pukulan Buto Ijo.


Ki Birawa hanya bisa gelengkan kepala melihat aksi Buto Ijo.


Wajah Sura kendil merah menahan hawa amarah, melihat muridnya tewas di depan mata, tanpa ia bisa berbuat apa-apa.


“Birawa! Kau harus jelaskan, apa maksud orangmu membunuh muridku? Tanya Sura kendil.


“Percuma saja kau bertanya padaku, lebih baik kau hadapi saja orang itu, sebelum semua orang di sini habis di gasak olehnya.


Tadinya Sura kendil berpikir, bahwa perkataan Birawa hanya untuk menakut-nakuti.


Tetapi setelah melihat satu persatu muridnya rubuh dan tak bangun lagi, Sura kendil langsung melesat, ke arah Buto Ijo, tangannya menghantam ke arah leher pria bertubuh raksasa.


“Awas!? Teriak Wulan berusah memberi tahu Buto Ijo.


Plak!


Suara hantaman terdengar keras, setelah menghantam leher Buto Ijo, Sura kendil mundur sambil tersenyum.


Buto Ijo lehernya terkena hantaman langsung terhuyung, caping yang ia kenakan terlepas.


Sura kendil kerutkan kening, melihat musuhnya memiliki ke anehan, karena seluruh wajahnya berwarna hijau.


“Kau tenang saja! Buto Ijo tidak akan celaka oleh pukulan seperti itu.


“Kau kan tidak lihat! Tadi ketua padepokan Baju merah memukul leher Buto Ijo,” ucap Wulan dengan nada cemas.


Aria mendengar suara peringatan Wulan, tahu Buto Ijo di serang musuh dan terkena pukulan, tetapi Aria tidak khawatir, karena telah di beri tahu oleh Nyi Selasih, bahwa Buto Ijo tubuhnya dari bayi, sudah di isi oleh ajian Watu Rogo oleh ayahnya.


Pukulan apapun tidak akan berpengaruh pada Buto Ijo, karena tubuh Buto Ijo layaknya sebongkah batu.


Kreek….kreek!


Suara tulang leher Buto Ijo terdengar ketika Buto Ijo menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan, setelah terkena hantaman Sura kendil.


Matanya menyorot tajam ke arah Sura kendil.


“Gundul! Kau jangan lari lagi seperti waktu di padepokan Wisanggeni,” ucap Buto Ijo dengan nada dingin.


Sura kendil kerutkan kening melihat Buto Ijo yang masih bisa berdiri tegap, walau lehernya sudah terkena hantaman dengan keras.


“Siapa orang ini, aku baru melihatnya, lalu apa maksudnya bicara aku lari saat bertemu dengannya di Wisanggeni,” batin Sura kendil.


Raut wajah Sura kendil berubah, saat mendengar suara jarak jauh yang di kirim oleh kakek tua yang berdiri di dekat pilar.


“Hati-hati Sura! Orang yang kau pukul tadi adalah Buto Ijo.”


Buto Ijo dikenal oleh orang dunia persilatan, karena unik dan kejam.


Kemana mana hanya memakai cawat, memakai kalung dengan batu berwarna hijau, raut wajah berwarna hijau, jenggot dan kumis tidak terawat dan rambut gimbalnya adalah ciri khas dari Buto Ijo.


Tetapi sekarang, orang yang di lihat oleh Sura kendil, memakai baju, rambutnya rapi, kumis serta jenggotnya juga tidak acak-acak an, dan kulit wajahnya berwarna hijau, sehingga Sura kendil sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang telah ia hantam adalah Buto Ijo.


Sura kendil pernah mendengar kabar, Buto Ijo sangat di takuti karena mempunyai ilmu kebal pukulan, sehingga orang dunia persilatan lebih baik menyingkir jika bertemu dengan Buto Ijo, daripada harus ber urusan dengan sang manusia raksasa.


“Maaf Kisanak! Kalau aku tidak salah, apa benar saudara adalah Buto Ijo, tokoh yang terkenal itu? Tanya Sura Kendil.


Orang dari ketiga padepokan serta para tamu mundur selangkah, ketika mendengar Sura kendil menyebut nama Buto Ijo.


“Benar, aku Buto ijo,”


Hmm!


“Tak ku sangka, rupanya kalian bersekongkol,” Sura kendil berkata sambil mendengus.


“Sura kendil! Kedokmu sudah terbuka, cepat katakan siapa resi yang di maksud oleh Mahesa,” Ki Birawa membalas perkataan Sura kendil.


“Tutup mulutmu! Kau pikir jika Buto Ijo berada di pihakmu kami takut? Ucap Sura kendil.


“Padepokan Tapak Suci, keluarga juragan Mahendra, padepokan Baju merah serta padepokan Tombak terbang, hari ini kita bersatu untuk memberantas golongan hitam.


“Tidak usah takut! Buto Ijo memang kebal terhadap pukulan, tetapi dia tidak kebal terhadap senjata,” lanjut perkataan Sura kendil, sambil memberi isyarat untuk siap bertempur.


Sura kendil menatap Wiratama, Wiratama anggukan kepala melihat tatapan Sura kendil, lalu menarik tombak dari punggungnya dan bersiap.


Ki Birawa sudah memegang pisau kecil berwarna kebiruan, begitu pula dengan Wulan.


Hanya Aria yang tetap tenang, berdiri sambil memegang tongkatnya.


Buto Ijo mendengar perkataan Sura kendil bahwa ia tidak kebal senjata, kulit wajahnya menjadi sangat hijau, tanda amarahnya sudah memuncak.


“Mundur kau! Seru Buto Ijo sambil menoleh ke arah Ki Birawa.


“Kita bertempur bersama,” Birawa membalas perkataan Buto Ijo.


“Mundur kataku!? Buto Ijo membalas dengan nada tinggi.


Birawa mundur dan berdiri di samping Aria, mendengar ucapan Buto Ijo yang nadanya mulai tinggi.


“Maju semua!? Teriak Buto ijo.


Wiratama mendengar perkataan Buto ijo, tanpa ragu langsung melesat, tombaknya menusuk ke arah kepala Buto Ijo.


“Ki Ronggo tidak mau ketinggalan, orang kepercayaan Wiratama itu, ikut menyerang Buto ijo dengan tombaknya.


Whut!


Buto ijo miringkan kepala menghindari tusukan tombak Wiratama, setelah tombak lewat, Buto ijo berusaha mengambil tombak, tetapi Wiratama langsung menarik tombak.


Ki Ronggo menusuk pinggang Buto Ijo dari arah kiri.


Buto Ijo mundur satu langkah, menghindari tusukan, setelah tombak lewat di depannya, tangan Buto ijo dengan cepat melesat ke arah batang tombak Ki Ronggo.


Tap!


Ki Ronggo menarik tombak dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan tombaknya dari genggaman Buto Ijo.


Tetapi tenaga Buto Ijo lebih besar, Buto Ijo menghentakan tangan, Ki Ronggo ikut terbawa, karena tak mau tombaknya terlepas.


Krak!


Buto Ijo mematahkan tombak Ki Ronggo, setelah Ki Ronggo dekat, Buto Ijo langsung menghantamkan patahan tombak ke arah leher Ki Ronggo.


Krek!


Tak ada teriakan dari Ki Ronggo, saat patahan tombak meremukan tulang lehernya.


Kepala Ki Ronggo tertekuk ke samping, saking kerasnya hantaman tombak Buto Ijo, tubuh Ki Ronggo langsung ambruk ke tanah.


Sura kendil melotot seperti tidak percaya, begitu pula dengan Wiratama, Ki Ronggo adalah orang kepercayaannya, tetapi hanya dua jurus Ki Ronggo tewas di tangan Buto Ijo.


“Serang! Teriak Sura kendil.


Puluhan murid ketiga padepokan langsung menyerang Buto Ijo, setelah mendengar teriakan Sura kendil.


Whut….Shing!


Tombak dan pedang bergerak ke arah tubuh Buto Ijo.


Buto Ijo seperti tak peduli dengan puluhan senjata yang bergerak ke arahnya.


Sebatang tombak Tiba lebih dulu, menuju ke arah dada Buto Ijo.


Buto Ijo bergerak ke kanan menghindari tusukan, sambil maju mendekat ke arah si pemegang tongkat.


Setelah dekat, Buto Ijo kedua tangan menangkap pinggan murid padepokan Tombak terbang, setelah tertangkap, Buto Ijo langsung mengangkat dan memutar murid padepokan tombak terbang, menahan serangan puluhan senjata yang sedang menuju ke arahnya.


Crep….Crash!


Satu tombak menancap di tubuh kawannya sendiri, sedangkan pedang menebas tangan, kaki serta merobek dada pria naas itu.


Darah mengucur membasahi kepala dan tubuh Buto Ijo, menambah seram penampilan manusia setengah siluman itu.


Buto Ijo lalu melemparkan murid padepokan tombak terbang yang tubuhnya sudah tidak utuh lagi ke arah musuh di depannya.


Brak!


Wiratama melihat muridnya tewas mengenaskan, melemparkan tombaknya ke arah Buto Ijo.


Whut!


Tombak melesat menuju ke arah kepala Buto Ijo.


Buto Ijo hanya memiringkan kepala, menghindari tusukan tombak Wiratama.


Tetapi tombak tidak berhenti, setelah tidak mengenai sasaran.


Tombak Wiratama bergerak ke samping ke tempat kepala Buto Ijo menghindar.


Buto Ijo terkejut melihat perubahan tombak, dengan cepat tundukkan kepala menghindari sabetan tombak.


Whut!


Tombak lewat diatas kepala Buto Ijo.


Sura kendil tidak mau tinggal diam, tubuhnya melesat dan pedangnya menusuk ke arah dada Buto Ijo.


Buto Ijo mundur menjauh, melihat dadanya dalam bahaya, Wiratama melihat Buto Ijo mundur, tombak terbangnya melesat ke arah pinggang, di ikuti oleh Sura kendil.


Buto Ijo mendengus, melihat serangan tombak dan sura kendil yang ikut menyerang.


Buto Ijo menepis tombak, dengan tangan kiri.


Tombak sedikit melenceng dan menusuk sisi pinggang Buto Ijo.


Crep!


Wiratama tersenyum melihat mata tombaknya sedikit menancap di pinggang Buto Ijo, darah perlahan menetes keluar.


Wiaratama lengah setelah melihat tombaknya berhasil melukai Buto Ijo, sebelum ia menarik tombaknya, Buto Ijo mematahkan batang tombak yang terhubung dengan tali.


Krak!


Buto Ijo mencabut tombak yang menancap di pinggang dengan tangan kanan, lalu tombak di pakai untuk menangkis pedang Sura kendil yang hendak menebas lehernya.


Trang!


Sura kendil langsung mundur menjauh, setelah serangannya berhasil di tangkis.


Buto Ijo tidak memburu ke arah Sura kendil, tetapi berbalik ke arah Wiratama yang sudah kehilangan tombaknya.


Wiratama yang tidak menyangka Buto Ijo akan menyerangnya, berusaha mundur, tetapi Buto Ijo lebih cepat.


Sambil menyeringai, tangan kanan Buto Ijo menghantam ke arah kepala Wiratama.


Wiratama menjerit ketakutan, saat tangan Buto Ijo hedak menghantam kepalanya.


Blam!


Suara keras terdengar.


Kerikil kecil serta debu beterbangan menutupi pemandangan.


Buto Ijo terpental dan menabrak gerbang padepokan Tapak suci.


Buto Ijo langsung berdiri sambil menatap ke arah kepulan debu.


Setelah kepulan debu mulai hilang.


Tampak seorang kakek dengan kumis, janggut serta rambut berwarna putih, dengan selempang kain putih di bahunya yang telah menahan pukulan Buto Ijo, berdiri di dekat Wiratama, sambil menatap tajam ke arah Ki Birawa.


“Mana kitab 7 racun.”