
Rumah besar tempat berkumpul para prajurit Kahuripan penjaga desa jatijajar kini sepi.
Aria yang menempati bekas rumah Sugriwa, saudagar Ming juga akhirnya menempati tempat yang sama dengan Aria.
Malam hari mereka berkumpul di ruangan tengah, Andini dan Andira seperti biasa menyiapkan makanan serta minuman, kali ini mereka di bantu oleh para pelayan Sugriwa.
Raut wajah saudagar Ming tampak kusut, dua kali ia melihat pembantaian yang sangat mengerikan di lakukan oleh rombongan Aria Pilong.
“Hai gendut! Kenapa wajahmu tampak kecut? Tanya Buto Ijo.
“Aku bingung tuan pendekar, bagaimana aku bisa berdagang kalau seperti ini,” jawab saudagar Ming.
“Memangnya kenapa? Bukankah kau sudah ada janji dengan Tumenggung Wirayuda untuk berdagang? Tanya Wangsa ikut bicara.
Saudagar Ming menarik napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Wangsa.
“Kalau Tumenggung Wirayuda mendengar peristiwa pembantaian ini, apa dia masih mau berdagang denganku? Saudagar Ming berkata sambil balik menatap ke arah Buto Ijo.
“Kenapa kau melotot padaku? Tanya Buto Ijo.
Saudagar Ming langsung tundukkan kepala, setelah mendengar perkataan Buto Ijo.
“Kami yang membunuh, kenapa kau yang pusing? Tanya Buto Ijo.
“Pendekar Li! Kau saja yang bicara, aku bingung mau berkata apa lagi,” ucap saudagar Ming.
“Saudagar Ming bingung karena 2 peristiwa yang terjadi, perdagangan nya bisa terancam, bukan hanya perdagangan tetapi nyawa kami mungkin terancam, karena Tumenggung Wirayuda pasti menyelidiki peristiwa ini.”
“Menurut tuan Aria bagaimana? Li Ho langsung bertanya kepada Aria, karena ia dan Li Mei yakin Aria adalah pemimpin sebenarnya.
“Benar apa yang di katakan kakak kedua, bukan kalian yang membunuh, kenapa kalian yang cemas? Tanya Aria.
“Tuan Aria! semua sebab pasti ada akibat, Tumenggung Wirayuda pasti menanyakan, kenapa kami masih berjalan dengan kalian setelah kalian membunuh anak buahnya, Tumenggung Wirayuda pasti berpikir kita bekerjasama dengan tuan.
“Baiklah! Besok kita berpisah, agar rombongan tuan tidak terkena masalah,” balas Aria.
“Semua sudah terjadi tuan Aria , banyak orang yang melihat tuan jalan bersama kami, jika tuan pergi! kami akan lebih celaka lagi,” balas Li Ho.
“Tumenggung Wirayuda orang yang kejam, kenapa kalian mau berdagang dengannya? Masih banyak pembesar yang mau membeli dagangan kalian, kenapa kalian tidak mencoba peruntungan di kerajaan Kadiri? Tanya Aria.
“Kami memang sudah mengetahui orang seperti apa Tumenggung Wirabumi, karena kami selalu bertanya tentang orang yang akan berdagang dengan kami.
“Ini seperti pisau bermata dua bagi kami tuan, kami batalkan kami celaka tetapi tidak kami batalkan juga, kami bisa celaka,” ucap saudagar Ming kembali ikut bicara.
“Apa tuan mau bekerja sama dengan kami? Tanya Aria.
Raut wajah saudagar Ming berubah ceria, mendengar perkataan Aria Pilong.
“Kerjasama apa yang tuan Aria maksudkan? Tanya saudagar Ming.
“Kami akan membantu tuan berdagang di kerajaan Kadiri,” jawab Aria.
“Terus terang tuan Aria! Dagangan yang kami bawa bukan barang yang bisa di beli oleh rakyat biasa, karena barang yang kami bawa sangat mahal harganya, kami biasa berdagang dengan pedagang besar atau orang dari kerajaan, apa tuan Aria punya kenalan di kerajaan Kadiri? Tanya Saudagar Ming.
“Biar buta, adik ketiga kenal dengan panglima Galuh, bahkan anak panglima kerajaan Galuh hendak menikah dengan adik perempuan, adik ketiga.
“Di kerajaan Kadiri adik ketiga juga kenal baik dengan Tumenggung Wirabumi, yang merupakan orang kepercayaan raja Kadiri,” Wangsa berkata menjawab pertanyaan saudagar Ming.
Saudagar Ming, Li Ho serta Li Mei terkejut mendengar perkataan Wangsa, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Aria Pilong, pemuda buta yang penampilannya biasa, bisa mempunyai kenalan para pembesar kerajaan.
“Apa benar yang tuan katakan? Tanya saudagar Ming, wajah sang saudagar kali ini tampak gembira setelah mendengar perkataan Wangsa.
“Kau pikir aku bohong? Ucap Wangsa sambil melotot.
“Aku percaya….aku percaya dengan tuan-tuan pendekar,” jawab saudagar Ming.
“Jangankan Tumenggung! Dengan penguasa Kadiri, si Samarawijaya adik ketiga juga kenal,” kembali Wangsa berkata.
“Apa….apa benar begitu? Kalau tuan Aria benar kenal dengan raja Samarawijaya, aku mau bekerja sama dengan tuan Aria,” balas saudagar Ming, di pikiran saudagar Ming sudah terbayang pundi-pundi uang hasil keuntungan yang ia dapat dari berdagang di kerajaan Kadiri.
“Tentu saja kenal! Samarawijaya tidak akan pernah lupa dengan adik ketiga, karena menurut cerita muridku, dulu adik ketiga hendak membunuh Samarawijaya, tetapi di halangi oleh Tumenggung Wirabumi,” Wangsa membalas perkataan saudagar Ming.
“Benar tidak perkataanku Jo? Ucap Wangsa.
“Kau benar,” jawab Buto Ijo.
Pundi-pundi uang yang berputar di kepala saudagar Ming langsung hilang, setelah mendengar perkataan Wangsa dan Buto Ijo.
Wajah ceria saudagar Ming kembali berubah sedih, Li Ho dan Li Mei juga bingung, kenapa kenal tapi bisa hendak membunuh, pasti ada alasan untuk itu, pikir kedua kakak beradik, pengawal Ming Tao Lim.
Setelah tak ada jawaban dari Saudagar Ming, pasti pedagang dari negeri asing itu, tengah berpikir mendengar perkataan kedua sahabatnya.
“Saudagar Ming jangan khawatir, biarpun dulu aku pernah ada selisih paham dengan Prabu Samarawijaya, tetapi urusan kami sudah beres dan tidak ada lagi masalah, aku bisa menjamin saudagar Ming bisa berdagang dengan aman dan tenang di kerajaan Kadiri,” Aria ikut bicara.
“Apa tuan Aria bisa menepati janji dan mempercayai ucapan yang sudah tuan katakan? Tanya saudagar Ming.
“Bangsat! Kau pikir Raden penipu,” Buto Ijo berkata sambil menatap tajam saudagar Ming, yang langsung tundukkan kepala.
“Tuan Ming jangan khawatir! Tuan bisa pegang ucapan dan janjiku, bahwa tuan bisa berdagang di kerajaan Kadiri tanpa ada yang mengganggu,” jawab Aria memberi kepastian kepada saudagar Ming.
“Beli saja semua barangnya jika masih tak percaya,” ucap Buto Ijo.
“Memangnya kau punya uang? Tanya Wangsa.
“Suruh mereka ambil uangnya ke iblis Kawi,” jawab Buto Ijo.
“Paman Kawi, Jo! Ucap Wangsa.
“Suketi! Ayahmu pasti sanggup membeli semua barang-barang si gendut ini,” ucap Buto ijo tanpa menimpali perkataan Wangsa.
Suketi langsung anggukan kepala, sambil mulutnya terus saja mencicipi minuman yang disediakan di meja.
Saudagar Ming menatap Li Ho, lalu bicara dengan bahasa dari negeri mereka.
“Coba kau pikir! Sutra-sutra berkualitas tinggi milikku di tawarkan kepada kera, apa menurutmu omongan mereka bisa di percaya? Tanya saudagar Ming kepada Li Ho.
“Untuk saat ini apa tuan Ming ada pilihan lain, selain menerima tawaran mereka? Li Ho balik bertanya.
Saudagar Ming mengerti dengan maksud perkataan Li Ho dan anggukan kepala.
Setelah berembug dengan Li Ho memakai bahasa asal mereka, akhirnya Saudagar Ming setuju bekerja sama dengan Aria.
Tuan Aria setelah aku bicara dengan Li Ho, aku setuju bekerjasama dengan tuan, mari kita rayakan kerja sama ini, ucap saudagar Ming.
“Ini minuman khusus yang kami bawa dari negara kami, namanya Arak buah! Silahkan tuan Aria coba,” ucap Saudagar Ming.
Sebelum Aria menjawab, terjadi kegaduhan di meja, karena Buto Ijo teriak-teriak bahwa Suketi mati karena minum racun.
Li Mei langsung menghampiri, melihat Suketi tampak terlentang dan di sampingnya cawan Arak tergeletak, dengan sebagian arak tumpah.
Li Mei tersenyum, kemudian berkata.
“Kera ini mabuk karena terlalu banyak minum arak.”
Phuih!
“Baru jadi kera sudah berani mabuk-mabukan, apalagi sudah jadi manusia.” Ucap Wangsa.
Saudagar Ming tertawa, begitu pula dengan Li Ho serta Li Mei.
“Oh iya tuan,” kita sudah sepakat untuk bekerjasama, tuan akan membantu aku berdagang dan berkenalan dengan para pembesar kerajaan kadiri, jadi sebutkan saja berapa jumlah uang yang tuan Aria minta dari kami? Tanya Saudagar Ming sambil tersenyum lebar, begitu pula Li Ho serta Li Mei, karena kesulitan majikan mereka terpecahkan.
“Uang! Aku tidak pernah bicara tentang uang,” ucap Aria.
Saudagar Ming kerutkan keningnya mendengar perkataan Aria.
“Kalau bukan uang, lantas kerjasama apa yang tuan maksudkan? Tanya saudagar Ming.
“Bantu aku membunuh Tumenggung Wirayuda,” jawab Aria.
Prak!
Cawan yang di pegang saudagar Ming langsung jatuh ke lantai dan pecah berantakan, setelah mendengar perkataan Aria Pilong.
Keringat mengucur dari wajah saudagar Ming mendengar perkataan Aria.
“Tuan Aria! Apa bisa kerjasama ini kita batalkan saja? Tanya Saudagar Ming dengan wajah cemas
“Aku bisa membatalkan kerjasama ini dengan tuan Ming, tetapi dengan satu syarat,” jawab Aria.
“Cepat tuan Aria katakan syaratnya? Balas Saudagar Ming.
Aria tersenyum dari balik capingnya dan berkata dengan nada dingin, menjawab pertanyaan Ming Tao Lim.
“Sekarang juga! Tuan Ming segera angkat kaki dari tanah Jawa.”