
“Salam hormat Jati Wilis kepada Patih Argobumi.”
Patih Argobumi tak menjawab, Patih kerajaan Kahuripan itu turun dari kuda dan menatap tajam ke arah Tumenggung Jati Wilis.
“Aku mendengar berita tak sedap mengenai dirimu Jati Wilis,” Patih Argobumi berkata.
“Patih Argobumi Jangan percaya dengan kabar yang beredar dan tidak terbukti kebenarannya,” Jati Wilis berkata sambil melirik ke arah Raden Kusumo.
Raden Kusumo setelah sampai di Panarukan, langsung menghubungi pihak kerajaan Kahuripan saat mendengar anak buahnya banyak yang di rampok saat menuju kota Keta.
Apalagi mendengar cucunya Rama di kejar-kejar oleh prajurit Keta.
Raden Kusumo di temani patih Argobumi langsung menuju Keta, sehingga tidak bertemu dengan Rama dan tidak tahu Aria berada di kota Keta.
“Dimana cucuku Jati Wilis? Tanya Raden Kusumo sambil turun dari kuda, dan langsung menghampiri Jati Wilis.
“Kenapa Raden Kusumo bertanya kepadaku? Tumenggung Jati Wilis balik bertanya sambil tersenyum mengejek.
“Jati Wilis! Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap cucuku, aku tidak akan segan-segan mengerahkan kekuatan yang aku punya untuk membunuhmu,” Raden Kusumo berkata dengan nada penuh ancaman.
“Kusumo! Kau sudah bosan hidup berani melawan pejabat kerajaan Kahuripan,” Jati Wilis berkata mendengar ancaman Raden Kusumo.
“Kudengar kau anggota perguruan Jagad Buwana, apa kau tahu ketua Jagad Buwana adalah orang yang sudah membunuh Tumenggung Wirayuda di Tumapel? Kembali Tumenggung Jati Wilis berkata sambil tersenyum mengejek Raden Kusumo.
“Prabu Kahuripan sedang meneliti kasus Tumenggung Wirayuda dan belum di ketahui siapa benar dan salah dalam hal ini,” jawab Raden Kusumo.
“Salah atau benar ketua Jagad Buwana sudah membunuh pejabat kerajaan, dan itu harus di pertanggungjawabkan,” balas Tumenggung Jati Wilis.
“Nanti saja kalian bahas masalah itu,” ucap patih Argobumi berkata, lanjut perkataan sang patih.
“Jati Wilis! Kau sudah mengacak acak para pedagang, bukan saja pedagang anak buah Raden Kusumo, tetapi semua pedagang yang berdagang di kota ini dan Panarukan, aku ingin minta penjelasan masalah ini.”
“Patih Argobumi! aku melakukan semua ini untuk kepentingan Prabu Mapanji Garasakan.
“Kalau semua kota di kerajaan Kahuripan pedagangnya berada di bawah kekuasaan Raden Kusumo, Kita orang Kahuripan yang akan di rugikan, karena mereka adalah musuh kita, pasti jika terjadi peperangan semua hasil keuntungan yang mereka dapat dari berdagang di sini, di pakai oleh kerajaan Kadiri,” Jati Wilis membalas perkataan Patih Argobumi.
“Dusta! Semua itu hanya akal-akalan Tumenggung Jati Wilis,” tuan Patih.
“Tumenggung Jati Wilis bersekongkol dengan padepokan Elang emas, mengumpulkan hasil rampokan dan di jual kembali untuk ke untungan pribadi,” pedagang yang menusuk Pancamuka Angkat bicara.
“Tidak benar….itu tidak benar,” patih Argobumi.
“Aku sudah memberantas markas padepoan Elang emas dan membunuh mereka semua, jadi tidak benar kalau aku di sebut bersekongkol dengan padepokan Elang emas,” lanjut perkataan Tumenggung Jati Wilis.
“Bohong! Kau menyerang padepokan Elang emas, karena mereka mengambil kembali harta yang sudah kau beli,” pedagang itu berkata sambil menunjuk Tumenggung Jati Wilis.
“Kurang ajar! Berani sekali kau tidak sopan di depan patih Argobumi,” Jati Wilis melesat dan menghantam ke arah pedagang yang tadi bicara, tetapi Selamet lebih dahulu menarik tubuh si pedagang sehingga terhindar dari serangan Jati Wilis.
Raden Kusumo terkejut, tetapi tak lama kemudian bibirnya tersenyum melihat Selamet yang sudah menyelamatkan anak buahnya.
“Met! Mana ketua? Tanya Raden Kusumo.
Selamet menunjuk ke arah pohon besar, dimana terdapat empat orang tengah berdiri memperhatikan ke arah kerumunan.
Tanpa memperdulikan Patih Argobumi dan Jati Wilis, Raden Kusumo setengah berlari ke arah Aria, kemudian memberi hormat.
“Kusumo memberi hormat kepada ketua Jagad Buwana.”
“Sudahlah, paman! Seru Aria agar Raden Kusumo tak perlu menghormat secara berlebihan.
Raden Kusumo lalu mengajak Aria menuju ke tempat Patih Argobumi.
Patih Argobumi dan Tumenggung Jati Wilis kerutkan kening melihat Raden Kusumo bersama satu rombongan bercaping, salah satu orang bercaping di tuntun oleh seorang gadis yang sangat cantik.
“Patih Argobumi, perkenalkan! Ini Aria Pilong ketua padepokan Jagad Buwana.
Raut wajah patih Argobumi berubah, begitu pula dengan Tumenggung Jati Wilis begitu Raden Kusumo memperkenalkan ketua Jagad Buwana.
Patih Argobumi anggukan kepala kepada Aria Pilong tanpa berkata.
Wangsa mendengus melihat sikap Patih Argobumi yang menurutnya sombong.
Bukan tanpa alasan Patih Argobumi bersikap seperti itu, Aria Pilong adalah nama yang paling sering di sebut oleh Prabu Mapanji Garasakan karena beberapa petinggi kerajaan Kahuripan yang tewas di tangan si Iblis buta.
Tetapi Prabu Mapanji Garasakan tak mau gegabah, karena Aria Pilong berhasil membunuh pejabat Kahuripan yang terkenal ber ilmu tinggi di kalangan istana.
Melihat sikap Patih Argobumi terhadap Aria Pilong, Tumenggung Jati Wilis merasa berada di atas angin.
“Sedang apa kau di Kota Keta? Tanya Tumenggung Jati Wilis.
“Bukan urusanmu,” Jawab Aria.
“Bangsat buta! Sombong sekali kau,” Tumenggung Jati Wilis berkata.
Aria menghilang setelah mendengar perkataan Tumenggung Jati Wilis, tak lama kemudian Aria muncul di depan sang Tumenggung dan menampar pipi Jati Wilis.
Plak!
Setelah menampar, Aria kembali ke tempatnya.
Tumenggung Jati Wilis menjerit sambil tangannya menutup mulut, tampak sebuah gigi Jati Wilis tanggal terkena tamparan Aria.
“Hati-hati kalau bicara, nanti kepalamu pecah,” ucap Aria dengan nada dingin.
Raut wajah Patih Argobumi berubah kelam, setelah melihat anak buahnya di tampar oleh Aria Pilong.
Walau Argobumi tidak suka terhadap Tumenggung Jati Wilis, tetapi sang patih tidak suka Aria menampar Jati Wilis di hadapannya.
“Lancang sekali kau anak muda,” Patih Argobumi berkata dengan nada dingin.
“Lancang atau tidak, itu urusanku,” Aria membalas perkataan Patih Argobumi.
“Patih Argobumi, kita sudah berteman lama, kenapa harus di perpanjang,” Raden Kusumo berkata dengan nada cemas.
“Ini bukan urusanmu, Kusumo! Lebih baik kau mundur, aku sudah lama memang ingin menjajal orang yang sudah membunuh sahabatku, Wirayuda dan resi Larang tapa.
Salah seorang kepala prajurit yang terus menatap ke arah Buwana Dewi, kemudian berbisik kepada Tumenggung Jati Wilis, memberitahu siapa gadis yang bersama Aria Pilong.
Setelah mendengar perkataan anak buahnya, Jati Wilis langsung memberitahu patih Argobumi.
“Patih Argobumi! Gadis yang bersama Iblis buta adalah Gadis terkutuk yang di cari oleh sang Prabu,” teriak Tumenggung Jati Wilis.
Suasana langsung gempar, kasak kusuk terdengar dari mulut para pedagang dan penduduk, karena mereka tahu gadis terkutuk adalah gadis yang paling di cari, oleh semua kalangan.
Semua mata langsung memandang Buwana Dewi yang tidak memakai caping, setelah mendengar teriakan Tumenggung Jati Wilis.
“Ambil gada bumi! Seru Patih Argobumi.
Pengawal sang patih memberikan gada sebesar kaki, yang terbuat dari pohon jati
ber usia ribuan tahun kepada Patih Argobumi.
“Aria Pilong! Aku menantang mu bertarung, jika aku menang gadis itu akan menjadi milikku, apa kau berani menerima tantanganku? Tanya patih Argobumi.
“Buwana Dewi adalah manusia, bukan barang taruhan, jika Patih Argobumi memang benar Ingin bertaruh, kita bertaruh hal lain saja,” jawab Aria Pilong.
“Kau ingin bertaruh Apa? Tanya Argobumi
Aria menjawab dengan nada dingin setelah mendengar pertanyaan Argobumi.
“Nyawa”