
Serigala hitam menyeringai sambil menatap Senopati Aji Gatra yang tengah memegang keris.
“Tidak kusangka! Seorang Senopati dari kerajaan besar, mempunyai sipat licik sepertimu.
“Siapa gurumu anak muda? Tanya Serigala hitam.
“Guruku adalah Resi Sarpa kencana,” Jawab Senopati Aji gatra.
“Aku tidak mempunyai murid yang mempunyai sipat Licik sepertimu, mulai saat ini kau bukan muridku lagi,” ucap Resi Sarpa kencana.
Ha Ha Ha
“Sekarang aku penasaran padamu dan ingin bertanya sekali lagi, siapa gurumu anak muda? Serigala hitam berkata, sambil tertawa.
Raut wajah Aji gatra berubah kelam, mendengar ejekan dari Serigala hitam.
Maksud hati sang Senopati memperlihatkan kepandaian kepada Rara Ayu, tetapi ia malah di buang oleh gurunya sendiri di depan semua orang.
Sinar perak melesat ke arah kepala Serigala hitam.
Serigala hitam mundur satu langkah, kemudian kakinya menendang ke arah pinggang Senopati Aji gatra.
Whut!
Tangan kiri Senopati Aji gatra menangkis kaki Serigala hitam.
Plak!
Tanpa sadar Aji gatra setelah berhasil menangkis kaki Serigala hitam, tangannya langsung di tarik dan di usapkan ke dada, bibirnya meringis.
“Tenaga dalam bangsat hitam itu, ternyata berada jauh di atasku,” batin Senopati Aji gatra.
Ha Ha Ha
“Kenapa Senopati, sakit ya? Tanya Serigala hitam sambil tersenyum.
Gelak tawa terdengar dari para penonton, karena mereka juga melihat Senopati Aji gatra yang meringis kesakitan.
Senopati Aji gatra mendengar gelak tawa para penonton, kerisnya dengan cepat menusuk ke arah tenggorokan Serigala hitam.
Serigala hitam memiringkan kepala, keris Senopati Aji gatra lewat di dekat kulit leher Serigala hitam.
Setelah berhasil menghindari tusukan keris Aji gatra, Serigala hitam sambil menyeringai, bergerak ke kanan, kemudian siku kirinya menghantam pinggang Senopati Aji gatra.
Buk!
Senopati Aji gatra terhuyung, Senopati Aji gatra sampai menggigit bibirnya sendiri, agar tidak keluar jerit kesakitan dari mulutnya, setelah pinggangnya di hantam siku Serigala hitam.
“Lebih baik Senopati turun dari arena, resi Sarpa kencana melawanku, belum tentu menang, apalagi kau,” ucap Serigala hitam, memberi kesempatan kepada Senopati Aji gatra untuk menyerah.
Phuih!
“Tutup mulutmu! Serigala busuk,” balas Senopati Aji gatra.
Keris perak yang di pakai Senopati Aji gatra berputar, setelah berada di depan dada, keris tegak lurus dan bergetar.
Mulut Senopati Aji gatra merapal mantra ajian ular putih ajaran Resi Sarpa kencana, asap perlahan keluar dari ubun-ubun kepala sang Senopati.
Resi Sarpa kencana anggukan kepala melihat bekas muridnya merapalkan ajian ular putih.
Dalam hati sebenarnya resi Sarpa kencana tidak tega melihat Senopati Aji gatra menjadi bahan ejekan Serigala hitam, tetapi akhirnya sang resi menguatkan hati, karena hal itu bisa menjadi pelajaran buat sang murid untuk merubah sipat dan sikapnya.
Semakin lama keris semakin bergetar, sinar putih terlihat keluar dari ujung keris.
Senopati Aji gatra sambil berteriak kencang tangan kanannya yang memegang keris, di tusukan ke arah lantai arena, sinar putih melesat keluar dari ujung keris menghantam ke arah lantai arena.
Blam
Asap putih mengepul, setelah asap hilang, di lantai arena tampak ular berwarna putih dengan mata merah, tampak menjulurkan lidahnya yang merah bercabang, mata ular putih itu seperti sedang mengamati Serigala hitam.
Serigala hitam menatap ke arah ular berwarna putih, perlahan kedua telapak kaki serigala hitam bergerak membuka, memasang kuda-kuda dan bersiap.
Sret!
Ular putih melesat dengan mulut terbuka, memperlihatkan dua taring panjang, seperti terbang ke arah leher Serigala hitam.
Serigala hitam terkejut melihat kecepatan ular putih, tanpa pikir panjang tubuhnya berguling di tanah, menghindari serangan ular putih.
Senopati melihat Serigala hitam berguling di tanah, melesat sambil tangan menusuk ke arah punggung Serigala hitam.
Whut!
Serigala hitam tubuhnya berputar, setelah tahu punggungnya di serang Aji gatra.
Setelah posisinya terlentang, kaki Serigala hitam menendang perut Aji gatra.
Serigala hitam di untungkan, sebelum keris menusuk perut, tendangannya akan terlebih dahulu mengenai perut Senopati aji gatra
Plak!
Dengan meminjam tenaga dari kaki Serigala hitam, tubuh Senopati Aji gatra melenting mundur menjauh dari Serigala hitam.
Ular putih melihat musuhnya berhasil menghindar, setelah sampai lantai arena, kemudian berbalik, lalu melesat cepat ke arah Serigala hitam.
Serigala hitam melentingkan tubuhnya kebelakang, setelah menjauh dari ular putih, tangan Serigala hitam tampak sudah memakai sarung tangan, dengan jari baja berbentuk seperti cakar binatang.
Ular putih melesat menyerang dada Serigala hitam.
Serigala hitam menyabetkan cakar baja, ke arah ular putih.
Crash!
Badan ular putih putus jadi dua, setelah jatuh ke tanah, tubuh ular langsung menghilang.
Hoaks!
Darah menyembur dari mulut Senopati Aji gatra, setelah ular putih menghilang, raut wajah Senopati Aji gatra tampak pucat pasi.
Ajian Ular putih adalah ilmu ghaib yang terhubung antara peliharaan dan majikan, jika ular lenyap, si pemanggil juga akan terluka.
Dan itu yang terjadi dengan Senopati Aji gatra.
Serigala hitam melihat Senopati Aji gatra muntahkan darah segar, langsung melesat sambil matanya menatap buas ke arah Senopati Aji gatra.
Cakar baja Serigala hitam menyambar ke arah pangkal lengan kiri Senopati Aji gatra.
Crash!
Setelah berhasil memutus lengan kiri Senopati Aji gatra, Serigala hitam langsung lompat mundur.
Raungan keras terdengar, setelah lengan kiri Senopati Aji gatra putus dan jatuh ke lantai arena.
Senopati Aji gatra sebelum tubuhnya tersungkur, tangan kanan menusukan kerisnya ke lantai arena.
Crep!
Tubuh Senopati Aji gatra yang hendak tersungkur ke lantai arena, langsung tertahan.
Perlahan dengan tumpuan kerisnya, sambil menahan sakit di dada akibat luka dalam dan rasa sakit akibat tangan kirinya putus, Senopati Aji gatra berusaha berdiri.
Setelah berdiri, kedua kaki Senopati Aji gatra tampak gemetar, tubuhnya seperti hendak rubuh kembali ke lantai arena.
Serigala hitam yang berada tiga tombak di depan Senopati Aji gatra, tampak menyeringai melihat keadaan sang Senopati.
He He He
“Bagaimana Senopati? Membunuh atau dibunuh,” Serigala hitam berkata sambil menatap ke arah Senopati Aji gatra.
Rara Ayu dengan kedua tangan menutup wajahnya, Rara Ayu tidak tega melihat keadaan Senopati Aji gatra.
Rara Ayu teringat kembali kenangan bersama Aji gatra.
Sebelum kedatangan Aria, Rara Ayu dekat dengan Senopati Aji gatra, rasa simpati mulai muncul kembali di hati Rara Ayu, setelah melihat keadaan Senopati Aji gatra.
Serigala hitam menatap ke arah bangku kehormatan.
Senyum dingin terlihat di bibir Serigala hitam, setelah melihat Senopati Singalodra anggukan kepala.
Serigala hitam langsung melesat, sambil cakar bajanya menyambar ke arah leher Senopati Aji gatra.
Prabu Samarawijaya menarik napas panjang, sambil tundukkan kepala, sebagian penonton menjerit.
Tumenggung Wirabumi tidak bisa berbuat apa-apa, karena membunuh atau di bunuh adalah perkataan dari Senopati Aji gatra.
Mata sayu Senopati Aji gatra menatap ke arah Serigala hitam yang melesat ke arahnya.
“Guru! Maafkan muridmu yang durhaka.
“Rara Ayu! Maaf, kakang tidak bisa menemani mu.
Senyum pasrah terlihat di bibir Senopati Aji gatra, perlahan kelopak mata sang Senopati menutup, siap menerima kematian.
Plak!
Serigala hitam terkejut, setelah serangannya berhasil di tangkis, apalagi melihat tangan kiri orang yang menangkis serangannya, menyambar perut, Serigala hitam lompat mundur, tetapi baju di bagian perutnya robek terkena sambaran.
Bret!
Suasana di sekitar arena langsung hening.
Senopati Aji gatra perlahan membuka mata, setelah tahu dirinya belum mati.
Senopati Aji gatra melihat, di depannya telah berdiri seorang pemuda.
Pemuda itu setelah melihat Serigala hitam mundur, lalu menoleh ke arah Senopati Aji gatra dan berkata.
“Tong waka paeh.”