Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 24 : Tewasnya Seorang Ketua Padepokan


Ki Birawa menatap tajam ke arah kakek yang telah menahan pukulan Buto Ijo.


“Apa maksudmu Kisanak? Tanya Ki Birawa.


“Serahkan kitab 7 racun, dan kau bebas pergi dari sini,” jawab si kakek dengan nada dingin menatap ke arah Ki Birawa.


“Rupanya kisanak Resi yang di maksud oleh Mahesa,” Ki Birawa berkata sambil tersenyum sinis.


“Tak usah banyak bicara Birawa, berikan atau kau mati saat ini juga,” balas si kakek.


“Kitab itu sudah ku bakar,” ucap Birawa.


“Bohong! Teriak si kakek.


Setelah berkata, tubuh kakek yang berpakaian seperti seorang resi, bergerak ke arah Birawa.


Setelah berada di depan Ki Birawa, Resi itu seperti menempelkan telapak tangannya ke dada Birawa, Ki Birawa langsung terpental, dari mulutnya menyembur darah segar.


“Kakek!? Teriak Wulan sambil menghampiri Ki Birawa.


Ki Birawa mengambil botol kecil, lalu mengambil sebutir pil, kemudian memakannya lalu memejamkan mata.


Rasa hangat mengalir di dada Ki Birawa setelah memakan pil penyembuh.


Mata Ki Birawa perlahan terbuka, Wulan membantu Ki Birawa berdiri.


“Siapa Resi ini, gerakannya tak bisa di lihat oleh mata, saking cepatnya,” batin Ki Birawa.


Aria juga terkejut, ia hanya merasakan desiran angin lembut, tak lama kemudian Ki Birawa sudah terpental.


“Aku kasih satu kesempatan lagi, Birawa! Serahkan atau kau ku bunuh,” ucap sang Resi.


“Lebih baik aku mati daripada menyerahkan kitab 7 racun, Jika kitab 7 racun jatuh ketanganmu, dunia persilatan akan kacau,” balas Ki Birawa.


Aria yang mendengar perkataan sang Resi, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Nyi Selasih.


“Raden! Sebaiknya tinggalkan tempat ini, Resi itu bukan tandingan Raden, aku belum bisa membantu Raden, karena aku butuh satu hari lagi agar kekuatanku pulih seperti sedia kala,” Nyi Selasih berkata dengan nada cemas.


“Nyi Selasih tak usah membantu, biar aku hadapi sendiri, aku tak suka dengan kesombongan kakek itu,” balas Aria.


“Jangan Raden, lebih baik tinggalkan tempat ini! Kembali Nyi Selasih berkata dengan nada cemas.


Aria tidak memperdulikan perkataan Nyi Selasih, kakinya melangkah ke arah Ki Birawa, Buto Ijo yang sudah berdiri menghampiri ke arah Aria, berjaga di dekat pemuda itu.


“Jangan ikut campur urusanku jika kalian ingin selamat,” sang Resi berkata setelah melihat Aria dan Buto Ijo menghampiri ke arah Ki Birawa.


“Pak tua, jangan suka memaksakan kehendak terhadap orang lain,” ucap Aria.


“Diam kau! Sang Resi membalas perkataan Aria, sambil menatap pemuda itu dari bawah ke atas, lalu mata sang resi menyipit, setelah melihat tongkat Aria.


Hmm!


“Rupanya kau berani karena ada dukungan dari mahluk tak kasat mata,” lanjut perkataan sang Resi.


“Selasih! Kau sudah beritahu siapa aku, kepada junjunganmu? Tanya sang Resi.


Aria dan Buto Ijo terkejut mendengar kakek itu menyebut nama Selasih.


“Jangan sakiti dia, dia adalah titisan Hyang Naga langit, Resi Larang Tapa pasti tahu akibatnya jika mengganggu Aria.


Hmm!


“Naga langit sudah lama tidak terdengar kabarnya, mungkin sudah tewas atau berubah wujud menjadi Mustika, jadi apa yang harus ku takuti? Kakek yang di panggil Resi Larang tapa berkata, sambil tersenyum sinis.


“Kami memang sudah lama tidak mendengar dan mengetahui jejak leluhur, tetapi kau pasti tahu, Resi Lanang jagat tidak akan tinggal diam, mendengar aksi jahatmu,” balas Nyi Selasih.


“Kuberi tahu padamu, kakak seperguruan Ku, Resi Lanang jagat sekarang berada jauh dari sini, dia tak mungkin ada untuk menolong kalian, jika kalian tidak menyingkir,” ucap Resi Larang tapa, kali ini nadanya penuh ancaman.


Setelah berkata, Resi Larang tapa bergerak ke arah Aria sambil menampar kepala pemuda itu, tetapi Buto Ijo mendahului, menerima tamparan Resi Larang tapa.


Tamparan Resi larang tapa menghantam dada Buto Ijo, Buto Ijo langsung terpental dan muntahkan darah segar.


“Jangan ikut campur urusanku, Aji Watu rogo mungkin menakutkan untuk orang lain, tetapi tidak ada artinya buat Resi Larang tapa,” ucap Si Resi dengan nada jumawa.


Aria melihat Buto Ijo terpental sambil muntahkan darah segar, melesat dan menghantam tubuh Resi Larang tapa, dengan tongkat kayu cendana.


Tangan kanan Resi menangkis, tetapi tongkat Aria turun dan menghantam kaki Sang Resi.


Plak!


Hantaman keras dari tongkat Aria, tidak membuat sang Resi goyah, malah menambah kegusaran Resi Larang Tapa.


Blam!


Sinar menyilaukan terlihat dari tangan Resi Larang tapa, yang menghantam perut Aria.


Hoaaks!


Darah menyembur dari mulut Aria, setelah perutnya terkena pukulan sang Resi, tubuhnya langsung terpental dan jatuh ke tanah, isi perut serasa hancur.


Untuk sementara, Aria berbaring di tanah, merasakan sakit di sekitar perutnya.


Melihat Aria terkena pukulan dan masih terbaring, Ki Birawa menyangka Aria tewas, dengan wajah gusar, telapak tangan Ki Birawa berubah menjadi biru, kemudian menghantam ke arah punggung Resi Larang tapa.


Resi Larang tapa tahu dirinya di serang, tiba-tiba tubuhnya lenyap dan sudah berada di samping Ki Birawa.


Resi Larang tapa menghantam ke arah pinggang Ki Birawa.


Krak!


Beberapa tulang iga Ki Birawa patah terkena hantaman Resi Larang tapa.


Darah muncrat dari mulut Ki Birawa, tubuhnya langsung ambruk.


Resi Larang tapa menghampiri Ki Birawa yang terlentang di tanah, kemudian menginjak dada ketua padepokan Wisanggeni.


“Cepat katakan dimana kitab 7 racun? Tanya Resi Larang tapa.


Mulut Ki Birawa penuh dengan darah, tak menjawab perkataan Sang Resi, matanya hanya melotot sambil menatap Resi Larang tapa.


Resi Larang tapa menambah tekanan kakinya, setelah tak mendengar jawaban dari mulut Ki Birawa.


Darah kembali menyembur dari mulut Ki Birawa.


“Cepat katakan! Seru Resi Larang tapa.


Phuih!


Ki Birawa dengan mulut penuh darah meludahi kaki Resi Larang tapa, yang sedang menginjak dadanya.


“Keparat! Ucap Resi Larang tapa melihat kakinya penuh dengan ludah bercampur darah.


Krek!


Resi Larang tapa terus menambah tenaga injakan, setelah melihat Ki Birawa diam karena sebagian tulang dada Ki Birawa remuk di injak oleh Resi Larang Tapa, sang Resi jongkok, kemudian memeriksa tubuh Ki Birawa.


Setelah memeriksa dan tak menemukan apa yang ia cari, Resi Larang tapa mendengus kemudian menendang pinggang Ki Birawa yang tak sadarkan diri.


Buk!


Tubuh Ki Birawa kembali terpental terkena tendangan sang Resi.


Wulan langsung memburu sang kakek.


“Kek….bangun kek! Ucap Wulan sambil menangis.


“Wu….Wulan! Kitab 7 racun ada di goa batu suci, mulai sekarang kau ikutlah bersama Aria, maafkan kakek yang tak bisa melihat kau menikah,” setelah berkata kepala Ki Birawa terkulai, tubuhnya perlahan menjadi dingin dan kaku.


Ketua padepokan Wisanggeni tewas mengenaskan sebelum bisa membersihkan nama perguruan.


Wulan menjerit keras setelah tahu kakeknya tewas, sambil memeluk jenazah Ki Birawa.


Aria yang baru saja bangkit, tak menyangka Resi Larang tapa membunuh Ki Birawa tanpa perasaan, hanya karena sebuah kitab yang bukan miliknya.


Marah, kesal dan benci bercampur aduk menjadi satu, semua di tumpahkan oleh Aria dengan suara teriakan yang menggelegar.


“Aaaaggghhhhr!?


Setelah teriakan Aria berhenti, dari tubuh pemuda itu, tiba-tiba keluar aura berwarna kuning ke emasan, aura itu langsung menyebar dan menyelimuti tubuh Aria.


Resi Larang Tapa melihat perubahan yang terjadi pada tubuh Aria, mundur satu langkah, mata sang Resi menatap cemas ke arah Aria.


Sedangkan Aria sendiri tidak tahu perubahan yang terjadi terhadap tubuhnya, pemuda itu hanya menumpahkan kekesalan dan kemarahan dengan berteriak kencang.


Tetapi teriakan putus asa dari Aria Pilong telah membangkitkan satu mahluk yang sudah lama tertidur di dalam tubuh pemuda itu.


Mata berwarna kuning ke emasan terlihat setelah mahluk itu membuka mata, dari mulut mahluk keluar suara desisan pelan.


“Rupanya ramalan Lanang Jagat sudah mulai mendekati kenyataan, ini saatnya aku bangkit dari tidur panjangku.”