
Mendengar perkataan Gadis pelangi yang kutukannya baru saja terbuka.
Aria lalu berkata kepada Wangsa.
“Kau Lindungi dia! Mereka, biar aku yang hadapi.
“Baik,” jawab Wangsa.
Setelah berkata, Wangsa lalu merapalkan mantra ajian Benteng angin.
Bayangan asap tipis, perlahan mulai menyelimuti gadis Pelangi.
Raden Untung sudah berubah setelah merapalkan ajian Banteng wulung, sementara Selamet juga bersiap.
Sedangkan Buto Ijo baru saja naik dari telaga warna, setelah terpental ke dalam telaga.
Dua orang murid padepokan Srigunting melesat, dengan sepasang pedang pendek menyambar ke arah leher Aria.
Aria dengan tenang angkat tongkatnya.
Trang!
Sepasang pedang pendek bergetar setelah menghantam tongkat, kemudian satu orang murid padepokan Srigunting tubuhnya berputar cepat, lalu melesat menyambar ke arah kaki Aria.
Sebelum pedang menyambar, tiba-tiba Selamet dengan ajian Halimun, sudah berada di samping pria itu, kakinya langsung menendang ke arah pinggang.
Buk!
Murid padepokan Srigunting terpental, setelah terkena tendangan Selamet, lalu muntah darah.
Ki Bondo yang merupakan ketua padepokan Srigunting terkejut, setelah melihat Selamet menghilang dan berhasil menendang muridnya.
“Bangsat! Teriak Ki Bondo sambil melesat, pedang pendeknya menyambar pinggang Selamet.
Shing!
Saking cepatnya gerakan pedang, hanya suara sabetan saja yang terdengar.
Sebelum pedang Ki Bondo menebas pinggang Selamet.
Sang utusan langsung menghilang setelah berubah menjadi asap dan berpindah tempat.
“Dasar pengecut,” teriak Ki Bondo, melihat Selamet hanya menghindar tanpa membalas serangannya.
“Selamet! Kau bantu si Untung.
“Biar tua bangka ini, aku yang hadapi,” Buto Ijo berkata, setelah sampai di dekat Selamet.
“Baik! Saudara Buto Ijo hati-hati dengan sepasang pedangnya,” ucap Selamet, kemudian melesat ke arah Raden Untung yang sedang mengamuk.
Jadi kau ketua padepokan sinting? Tanya Buto Ijo.
Ki Bondo langsung melihat kebelakang mendengar perkataan Buto Ijo, tetapi selain muridnya, tidak ada yang lain lagi.
“Apa tadi kau bilang? Tanya Ki Bondo.
“Kau ketua padepokan sinting, dasar tuli! Ucap Buto Ijo.
“Bangsat kau, Srigunting, tolol! kau yang sinting,” balas Ki Bondo dengan nada geram, padepokannya di ganti nama menjadi Sinting.
Phuih!
“Mau sinting, srigunting atau keling, memangnya aku peduli,” ucap Buto Ijo.
“Kau bersekongkol dengan Kalasrenggi? Lanjut perkataan Buto Ijo.
“Kalau iya, lantas kau mau apa? Ki Bondo menjawab sekaligus bertanya.
“Tentu saja aku akan membunuhmu, kenapa kau masih tanya,” jawab Buto Ijo.
Serang! Seru Ki Bondo setelah mendengar perkataan Buto Ijo, karena ketua padepokan srigunting tidak mau berlama lama, setelah melihat Kalasrenggi sudah berhadapan dengan Aria.
Padepokan Srigunting yang menghadiri pertemuan di gunung Bromo, saat hendak kembali, di jalan di pegat oleh Kalabenda, lalu mengajak bekerja sama dengan meng imingi Ki Bondo kekuasaan dan harta yang berlimpah.
Ki Bondo setelah berpikir, langsung menyetujui tawaran Kalabenda.
Setelah Ki Bondo setuju, Kalabenda lalu menyuruh Ki Bondo untuk mengikuti Kalasrenggi dari kejauhan, nanti Kalasrenggi yang akan memberi tanda di jalan yang akan ia lalui, sehingga orang padepokan Srigunting bisa mengikuti rombongan Aria dari kejauhan.
Anak murid Ki Bondo langsung melesat dengan sepasang pedang pendek di tangan, menyerang Buto Ijo.
Ki Bondo belum bertindak, hanya mengawasi anak muridnya yang menyerang.
Ki Bondo sudah melihat dan mendengar tentang orang-orang dari padepokan Jagad Buwana dari Kalabenda.
Salah satu orang yang di katakan oleh Kalabenda merepotkan, adalah orang yang kini ada di depannya.
Murid No. 1 dari padepokan Srigunting menyabetkan pedang pendek, ke arah leher Buto Ijo, sementara yang lain menyerang kaki,
Buto Ijo terpaksa mundur setelah melihat dua serangan cepat dari pihak musuh, sambil mundur Buto Ijo merabut pohon sebesar lengan yang ada di dekatnya.
Krak!
Whut…Crak….Crash!
Sepasang pedang pendek menebas ranting serta daun, pandangan mata murid padepokan Srigunting tertutup oleh dedaunan yang masih menempel di ranting.
Sebagian ranting terkena tebasan pedang pendek, murid Ki Bondo yang pandangannya terhalang, melesat naik hendak menyerang dari atas.
Buto Ijo setelah berhasil menangkis serangan musuh, dengan kekuatan penuh, menyabetkan pohon yang ia pegang dengan kedua tangan ke arah murid Ki Bondo yang lompat ke atas.
Murid Ki Bondo tidak menyangka, batang kayu berat yang di pegang oleh Buto Ijo bisa melesat dengan cepat ke arahnya, tanpa bisa ia hindari, karena baru saja tubuhnya melesat naik.
Buk!
Tubuh murid Ki Bondo terpental setelah terkena hantaman batang pohon, setelah muntah darah karena beberapa tulang rusuknya patah, murid Ki Bondo terkapar dan tak bisa bangun.
Empat murid yang tersisa, setelah melihat kawan mereka tidak bangun lagi, langsung berpencar dan menyerang Buto Ijo dari berbagai arah.
Buto Ijo kembali mundur, lalu memutar batang pohon yang ia pegang, berusaha menahan serangan dari 4 arah yang berbeda.
Dua orang murid mundur menghindari batang pohon, sementara itu dua lainnya melesat ke atas berusaha menyerang dari atas seperti satu kawan mereka yang sudah tewas.
“Serang yang berada di atas paman,” suara ujang Beurit terdengar oleh Buto Ijo.
Setelah mendengar suara Si Beurit, tanpa ragu lagi Buto Ijo langsung melesat sambil memegang batang pohon sebagai senjata.
Buto Ijo mengangkat batang pohon, lalu menghantam salah seorang murid Ki Bondo.
Batang pohon melesat dari atas menghantam kepala, murid Ki Bondo.
Whut…Prak!
Murid naas itu meluncur turun dengan cepat, setelah kepalanya pecah terkena hantaman batang pohon yang di pakai senjata oleh Buto Ijo.
Dua orang murid yang berada di bawah, melihat kawan mereka tewas, bersiap menyerang, saat hendak melesat salah seorang merasakan kakinya berat untuk melangkah.
Murid Ki Bondo merasakan pergelangan kakinya dingin, kemudian melihat ke bawah.
Kedua kakinya seperti di tarik masuk ke dalam tanah.
Belum hilang rasa kejutnya, raut wajahnya berubah pucat pias setelah melihat seorang pria dengan mata sayu perlahan keluar dari dalam tanah, sambil memegang pisau kecil.
Pisau kecil senjata ujang Beurit menyambar leher murid Ki Bondo, tanpa bisa di tahan.
Sret!
Leher murid Ki Bondo robek dan menyemburkan darah segar, setelah berhasil membunuh salah seorang murid padepokan Srigunting.
Tubuh ujang Beurit meluncur kembali, masuk kedalam tanah setelah berhasil membunuh salah seorang murid Ki Bondo.
Dua murid Ki Bondo yang tersisa, satu masih berada di atas, sedangkan satu lagi berada di bawah dan terus bergerak, karena tak ingin mati seperti temannya.
Murid Ki Bondo yang masih berada di atas, melemparkan satu pedangnya ke arah kepala Buto Ijo.
Shing!
Pedang pendek melesat cepat, sambil berputar ke arah tubuh Buto Ijo.
Buto Ijo tarik batang pohon dan menancapkan batang pohon di depannya.
Crak!
Pedang langsung menancap di batang pohon di depan tubuh Buto Ijo.
Buto Ijo setelah pedang menancap, kemudian mengambil pedang dan melemparkan pedang ke arah murid Ki Bondo yang masih berada di atas.
Shing!
Pedang melesat menyerang tuannya dengan kecepatan dua kali lipat dari pertama.
Murid Ki Bondo terkejut, tetapi terlambat karena pedang sudah menyambar ke arah pinggang.
Crash!
Saking kuatnya lemparan dan tenaga dalam yang di gunakan, Pedang pendek sampai membuat putus badan murid Ki Bondo.
Badan yang terpisah langsung terhempas jatuh ke tanah, dengan isi perut berhamburan serta darah berceceran.
Murid yang berada di tanah melihat kawannya tewas, saat tengah berlari berhenti.
Gundukan tanah melesat cepat ke arah murid Ki Bondo yang tengah berhenti, saat murid Ki Bondo sadar, tetapi sudah terlambat, kedua kakinya langsung di tarik oleh Si Beurit ke dalam tanah, setelah terjepit oleh tanah, si Beurit keluar dan langsung menebas ke arah leher.
Crash!
Kepala murid Ki Bondo langsung terlepas dari leher, setelah terkena sabetan pisau ujang Beurit.
Wajah ketua padepokan Srigunting yang mengamati pertempuran tampak kelam, ia sudah melihat, bukan saja Buto Ijo yang akan membuat repot, tetapi manusia yang bergerak dari dalam tanah dan menunggu kesempatan untuk menarik badannya.
Bertempur dalam tingkatan tinggi, lengah dalam kejapan mata sudah cukup membuat orang yang lengah, terluka atau mati, menyadari hal itu. Ki Bondo berkata dalam hati setelah melihat kerjasama antara Buto Ijo dan Si Beurit.
“Pertempuran yang merepotkan”