
Aria menoleh ke arah Wangsa setelah mendengar perkataannya.
“Kau seorang Resi, kenapa berkata seperti itu? Tanya Aria sambil menoleh ke arah Wangsa.
“Mereka yang panggil aku Resi, tetapi aku tidak merasa bahwa aku ini seorang resi,” jawab Wangsa.
“Yang bantu menemani dan menuntun adik ketiga ku akan ku lindungi,” lanjut perkataan Wangsa.
Andira langsung melangkah ke arah Aria, lalu memegang tangan kiri Aria.
“Aku ingin di tuntun oleh Andini,” ucap Aria, sambil menepis tangan Andira.
“Kau….kau buta tidak tahu diri! kau pikir aku mau menuntunmu,” balas Andira, setelah tangannya di tepis.
“Kakak ketiga, mari aku tuntun! Ucap Andini dengan lembut, lalu melotot kepada Andira, “kau pegang tongkat kakak ketiga, dan jangan banyak bicara.”
Andira diam, tetapi akhirnya ia memegang tangan kanan Aria serta membawa tongkat, sedangkan Andini memegang tangan kiri, Silahkan kakak ketiga,” ucap Andini.
“Terima kasih adik ke empat,” jawab Aria.
“Aku setuju dia jadi adik ke empat,” ucap Wangsa mendengar perkataan Aria.
“Itu artinya aku adik kelima,” Andira ikut bicara.
“Benar! Tetapi kau cari sendiri ke empat kakakmu,” balas Wangsa.
Mereka bersama-sama keluar dari ruangan tengah, sesampainya di depan rumah. Kurang lebih 100 orang berpakaian hitam berbaris, di depan mereka, seorang pria paruh baya dengan mata juling, berpakaian bagus, berdiri sambil senyum-senyum, menatap Andini serta Andira.
“Mau apa kalian? Tanya Pranaya.
“Mengambil alih semua harta keluarga Kemala,” jawab Kawilarang, sambil matanya menatap ke arah sepasang Pedang Kemala.
“Panon na tileung kitu? Ucap Wangsa, melihat wajah Kawilarang menghadap Pranaya sementara matanya melihat ke sisi lain, dimana ada kedua gadis bersama Aria.
Baru saja berkata, Kawilarang langsung melesat dengan kedua tangan terbuka, seperti hendak memeluk Andini.
“Njir! Ceuk aing oge tileung! ucap Wangsa sambil melesat ke arah Kawilarang.
Tangan Wangsa berusaha mencengkeram lengan Kawilarang.
Plak!
Kawilarang menghantam dengan tangan kiri, melihat jari Wangsa hendak mencengkeram pangkal lengan.
Setelah kedua tangan bertemu, Kawilarang lompat mundur satu tombak.
Sambil melepaskan senjata rahasia berupa paku kecil.
Shing!
Wangsa mengibaskan tangan, setelah paku mendekati tubuhnya.
Tring!
Satu paku yang di lepaskan berhasil di tepis.
“Hebat juga kau orang tua,” ucap Kawilarang.
Melihat paku beracun miliknya berhasil di tepis.
“Matamu itu juling ya? Tanya Wangsa.
“Tutup mulutmu,” balas Kawilarang, ia paling tidak suka di sebut juling.
Wajah Kawilarang sebenarnya tidak buruk, malah bisa di sebut tampan, tapi karena matanya yang juling, membuat orang lebih memperhatikan keanehan mata Kawilarang daripada ketampanan wajahnya.
Dan oleh sebab itu, Kawilarang paling benci kalau orang sudah menyinggung matanya.
“Kau bilang tutup mulut, kepada siapa? Tanya Wangsa.
“Kepada kau keparat! Jawab Kawilarang.
“Kalau kau berkata kepadaku, matamu itu sini ke arah ku, bicara denganku tetapi mata malah melihat orang lain.
“Harusnya aku yang marah, karena kau bicara tidak sopan, tapi malah galakan kau,” balas Wangsa.
“Jangan macam-macam tua bangka! Kapan aku bicara tak sopan? Tanya Kawilarang.
“Sekarang saja kau bicara tidak sopan.
“Kau bicara padaku, tetapi matamu satu melirik ke kiri satu lagi melirik ke kanan, bukankah itu namanya tidak sopan? Jawab Wangsa.
Roman wajah Kawilarang semakin kelam mendengar perkataan Wangsa, tangan kanan terangkat ke atas, memberi isyarat kepada ratusan anak buah yang dia bawa.
“Serang, bunuh mereka semua! Seru Kawilarang dengan suara lantang.
Suara teriakan dan beradu senjata mulai terdengar antara anak buah Kawilarang dengan keluarga Kemala, sementara itu Wangsa di kepung oleh puluhan rampok.
Melihat anak buahnya sudah mulai mengepung musuh, Kawilarang bergerak ke arah Andini serta Andira.
“Kakak ketiga, apa kau bisa silat? Tanya Andini.
Belum lagi Aria menjawab, Andira lebih dulu berkata.
“Mana ada orang buta bisa silat Bi, kita lindungi saja dia, sambil menunggu kakak pertama datang membantu,” ucap Andira.
Andini anggukan kepala mendengar perkataan sang keponakan, lalu berjaga di depan Aria yang tengah berdiri, sambil memegang tongkat.
Kawilarang melesat, lalu tangan kanan yang memegang pedang menusuk ke pinggang Andini, sedangkan tangan kiri menyambar dada Andira.
Trang!
Andini menangkis pedang Kawilarang lalu mundur.
Sedangkan Andira mundur menghindari tangan cabul Kawilarang.
Kawilarang melihat Aria berdiri seperti patung, lalu menyabetkan pedang ke arah leher.
Whut!
Merasakan angin dingin ke arahnya, Aria di balik caping sunggingkan senyum.
“Awas kakak ketiga! Teriak Andini dengan nada cemas.
Aria sengaja jatuhkan tongkatnya setelah merasakan pedang sudah berada dekat sisi leher.
Trak!
Aria tundukkan tubuh untuk mengambil tongkatnya yang terjatuh, dan kepala Aria yang memakai caping, dengan tepat menanduk dada Kawilarang.
Buk!
Kawilarang mundur selangkah, setelah dadanya terbentur kepala Aria.
Setelah mengambil tongkat, Aria kembali berdiri tegap sambil tangan kiri membetulkan caping yang tadi membentur dada Kawilarang.
Andini melesat sambil menebas ke arah pinggang Kawilarang, begitu pula Andira, tubuhnya bergerak ke bawah dan pedangnya menebas kaki Kawilarang.
Kawilarang melihat dua serangan pedang loncat mundur dua tombak kebelakang.
Setelah Kawilarang menjauh, Andini serta Andira melesat dan berdiri di depan Aria.
“Kakak ketiga tidak apa-apa? tanya Andini.
“Aku tidak apa-apa, hanya kepalaku sakit entah tadi membentur apa,” jawab Aria.
“Untung tongkatmu jatuh, kalau tidak, kau tadi sudah mati,” ucap Andira.
“Buta! Jangan jauh-jauh dari kami,” lanjut perkataan Andira.
“Andira! Yang sopan terhadap kakak ketiga,” ucap Andini mendengar Andira memanggil Buta.
“Aku mencemaskan dia Bi, kalau dia tewas, kita juga akan tewas,” balas Andira.
Phuih!
“Kau pikir aku akan mati semudah itu,” Aria mendengus sambil berkata dalam hati dari balik capingnya.
He He He
“Manis….kalian berdua manis sekali, cocok untuk menemani aku malam ini,” ucap Kawilarang sambil satu matanya berkedip ke arah Andini serta Andira.
“Tutup mulutmu! Dasar Buaya darat,” Andini berkata dengan nada sebal, melihat tingkah Kawilarang.
“Hai, sobat muda! Bagaimana dengan kedua gadis cantik ini, kau sudah merasakan tubuhnya belum? Tanya Kawilarang.
“Kau bicara dengan siapa? Aria balik bertanya.
“Tentu saja dengan kau, tolol! Teriak Kawilarang kesal.
“Kau buta? Tanya Kawilarang.
“Hebat sekali! Buta, tetapi punya dua gadis cantik, bagaimana rasanya? Tanya Kawilarang.
“Aria angkat jempol kiri, mendengar perkataan Kawilarang.
Phuih!
“Jadi mereka berdua sudah kau perawani? Ucap Kawilarang, setelah melihat jempol Aria.
“Dasar buta! Lancang sekali kau,” Andira bergerak sambil tangan kirinya menampar ke arah caping.
Tap!
Sebelum tangan Andira mengenai caping, tangan besar berwarna hijau sudah memegang pergelangan tangan Andira.
Raut wajah Andira pucat, melihat tangan
yang besarnya dua kali lipat dari tangannya, sedang mencekal erat pergelangan tangannya.
Andira angkat kepala menuju ke arah si pemilik tangan.
Tampak Buto Ijo dengan raut wajah bengis menatap Andira.
“Berani sekali kau menyentuh Raden,” ucap Buto Ijo dengan tatapan bengis.
“Lepas….lepaskan, aku! Seru Andira. dengan nada cemas,” Andira sangat takut dengan Buto Ijo, melihat perawakan dan warna kulit Buto Ijo.
Tangan kiri Buto Ijo terus memegang erat pergelangan tangan Andira, sehingga Andira tidak bisa menjauh, kemudian tangan kanan Buto Ijo langsung terangkat dan menghantam tepat ke arah kening Andira.
Andini langsung sujud, sambil teriak.
“Putra Naga hijau! ampuni Andira.”
Tetapi teriakan Andini tidak di gubris, tangan Buto Ijo tetap menghantam.
“Musuhmu orang itu, bukan gadis ini,” Aria berkata.
Whut!
Kepalan tangan Buto Ijo berhenti tepat beberapa senti dari kening Andira, rambut Andira sampai berkibar akibat hembusan angin pukulan tangan Buto Ijo, wajah Andira serasa di siram air satu gentong, kulit wajahnya sakit terkena angin tinju, Buto Ijo.
Kepalan tangan Buto Ijo yang tepat berada di depan kening Andira, jari telunjuknya terbuka dan menyentil kening Andira.
Tak!
Andira langsung jatuh, pedang ia lepas, kemudian tangan kanan Andira terus mengusap usap keningnya yang di sentil jari telunjuk Buto Ijo.
Andini langsung memburu, lalu meraih rambutnya yang panjang kemudian di usapkan ke kening sang keponakan.
“Sakit….sakit sekali keningku, Bi! ucap Andira.
“Masih untung kau tidak tewas,” ucap Andini, bibir gadis itu tersenyum melihat di kening Andira, sekarang ada benjolan sebesar telur ayam.
“Sekali lagi aku dengar kau berkata kasar, ku patahkan semua tulangmu,” ucap Buto Ijo, kemudian berbalik ke arah Kawilarang.
Buto Ijo kerutkan kening melihat bola mata Kawilarang yang berputar dan terus berubah arah.
“Kenapa matamu? Tanya Buto Ijo.
Mimik wajah Kawilarang tampak kelam mendengar pertanyaan Buto Ijo, ia paling benci kalau orang sudah bicara tentang mata.
“Keparat kau menghinaku? Jawab Kawilarang.
“Siapa yang menghina? Aku tanya kenapa matamu? Kembali Buto Ijo bertanya.
Kawilarang melesat, pedangnya menusuk dada Buto Ijo.
Buto Ijo menepak badan pedang, tapi telapak tangan kiri Kawilarang menghantam ke arah pinggang Buto Ijo.
Buk!
Setelah berhasil menghantam, Kawilarang mundur sambil tersenyum.
“Nanti kepalamu yang aku hantam, jika kau berkata macam-macam.
Ha Ha Ha
“Kau pikir bisa memukul Buto Ijo, itu artinya kau sudah menang!
“Pilih….Silahkan pilih bagian tubuhku yang ingin kau pukul,” ucap Buto Ijo sambil berputar.
Kawilarang merasa di ledek, ia melesat sambil menusuk leher Buto Ijo.
Buto Ijo miringkan kepala, setelah Pedang lewat, tangan kiri Buto Ijo menarik lengan Kawilarang.
Whut!
Kawilarang tubuhnya di tarik, setelah dekat, telapak tangan kanan Buto Ijo menghantam wajah Kawilarang.
Plak!
Kawilarang terpental, dari hidung dan mulutnya keluar darah, tulang hidung Kawilarang patah terkena hantaman Buto Ijo.
Kawilarang langsung bangkit, matanya menatap Buto Ijo, sambil langkah kakinya terus saja berjalan menyamping.
Buto Ijo kerutkan kening melihat Kawilarang jalan menyamping sambil terus mengawasinya, lalu tertawa.
Ha Ha Ha
Kulihat kau seperti kepiting.
“Dua mata ke depan, tapi berjalan ke samping.
Hmm!
Aria mendengus melihat Buto Ijo masih saja menggoda Kawilarang.
Aria terus mendengarkan suara langkah kaki Kawilarang, setelah merasa sudah tepat jarak yang ia perkiraan antara dirinya dengan Kawilarang, Aria kemudian menggunakan ilmu Rogo Demit.
Aria yang berada di tengah dan di kawal oleh Andini serta Andira, tiba-tiba lenyap.
Andini serta Andira masih terus menatap ke arah Buto Ijo dan Kawilarang, mereka tidak tahu bahwa Aria sudah tidak ada di samping mereka.
Kawilarang yang masih saja berjalan menyamping mendengar suara dengusan napas dan kata-kata dingin dari belakang tubuhnya, raut wajah Kawilarang berubah pucat, matanya terus berputar, tetapi bukan mata penuh gairah, melainkan putaran mata putus asa dan takut.
“Aku paling benci dengan manusia cabul.”
Jleb!
Kening Kawilarang berkerut, punggung serta dadanya terasa sakit.
Mata Kawilarang berputar putar dan akhirnya menatap ke bawah, setelah mata Kawilarang melihat ada ujung tongkat keluar dari dada, Kawilarang langsung teriak kencang.
Aria menarik tongkatnya.
Dengan Ajian Rogo Demit, Aria sudah kembali berada di antara Andini serta Andira.
Andini serta Andira terkejut, mereka melihat ada ujung tongkat menembus dada Kawilarang, tetapi mereka berdua tidak melihat si penusuk karena terhalang oleh tubuh Kawilarang.
Andini serta Andira Saling pandang setelah Kawilarang ambruk, hati mereka bergidig ngeri, karena tidak melihat orang yang menyerang Kawilarang
Mimik muka mereka berubah setelah melihat ke bawah.
Mereka melihat darah mengucur dari ujung tongkat Aria dan membasahi tanah di sekitar ujung tongkat.
Andira melirik ke arah Aria, begitu pula dengan Andini.
“Apa si buta yang membunuh Kawilarang? Lanjut perkataan Andira dalam hati, sambil terus menatap ke arah ujung tongkat Aria.
“Tetapi, aku tidak melihat dia bergerak.”