Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 21 : Berangkat Ke Kerajaan Wengker


Ki Birawa melihat Buto Ijo masih saja sujud di depan Aria, kemudian bergerak menghampiri bersama Wulan.


“Ada apa Aria! Kau kenal dengan Buto Ijo? Tanya Ki Birawa.


“Aku baru pertama kali keluar dari lembah Ki, nama Buto Ijo juga baru pertama kali aku dengar,” jawab Aria.


“Mana mungkin Buto Ijo kenal dengan si Buta,” Wulan menimpali perkataan Kakeknya.


Buto Ijo langsung berdiri, ketika mendengar Wulan menyebut Buta.


“Sekali lagi kau menyebut buta kepada Raden, akan ku hancurkan kepalamu,” ucap Buto Ijo.


“Raden! Siapa yang kau sebut Raden? Tanya Wulan.


“Ini adalah Raden Aria, junjungan kami.”


“Aku dengar tadi, kau juga panggil buta,” ucap Wulan sambil menatap Buto Ijo, tetapi ketika melihat ke bawah, pandangan Wulan melihat ke arah Cawat yang di pakai oleh Buto Ijo.


Saat Wulan melihat, cawat Buto Ijo tampak bergerak gerak, raut wajah Wulan langsung berubah merah, tanpa berkata gadis itu balik dan pergi ke dalam rumah.


“Jadi Buto Ijo adalah anak buah mu Aria? Tanya Ki Birawa sambil menatap dengan heran ke arah Aria.


“Bukan Ki, baru bertemu di sini dan belum kenal,” jawab Aria.


“Buto Ijo di suruh Nyi ratu untuk mengawal Raden,” Buto Ijo berkata ketika mendengar bahwa Aria tidak kenal dengan dirinya.


“Nyi Ratu….Siapa lagi Nyi Ratu,” Ki Birawa berkata sambil menatap Buto Ijo.


“Sudahlah Ki tak usah di bahas, kita bicara di dalam saja, mungkin Buto Ijo ada informasi tentang masalah yang terjadi antara Wisanggeni dengan padepokan Tapak Suci.


Ki Birawa mengerti bahwa Aria tidak ingin membicarakan tentang orang yang di panggil Nyi Ratu.


Ketua padepokan Wisanggeni lalu mengajak Aria untuk masuk ke dalam dan membahas masalah Wisanggeni di rumah.


“Jadi benar saudara Buto Ijo tidak kenal dengan Mahesa, ketua padepokan Tapak Suci? Tanya Ki Birawa setelah mereka berada di dalam rumah.


“Aku tidak pernah membunuh orang yang tidak aku kenal! Buto Ijo menjawab perkataan Ki Birawa sambil menatap, seakan memastikan apa yang sudah ia ucapkan.


“Jadi kau hanya membunuh orang yang sudah kau kenal? Tanya Wulan saat mendengar perkataan Buto Ijo.


“Ya,” jawab Buto Ijo singkat.


“Kalau kau kesal pada orang dan ingin membunuh orang itu, tetapi kau belum kenal bagaimana? Kembali Wulan bertanya.


“Ya kenalan dulu,” jawab Buto Ijo.


Aria dan Ki Birawa menarik napas mendengar tanya jawab mereka.


Tak lama kemudian Ki Birawa berkata.


“Kalau saja saat itu Mahesa tidak mati, mungkin saat ini kita sudah tahu, siapa saja yang berusaha menghancurkan Wisanggeni,” ucap Ki Birawa.


“Sebelum terkena ranting Buto Ijo, bukankah Mahesa mengatakan sesuatu? Ucap Aria.


“Kau benar! Ki Birawa seperti di ingatkan ketika mendengar perkataan Aria.


“Resi….Resi! Aku hanya mendengar dia mengatakan itu,” ucap Ki Birawa, keningnya tampak berkerut, coba mengingat kembali, perkataan apa saja yang keluar dari mulut Mahesa.


“Buto Ijo! Ketika kau lewat di dekat padepokan Wisanggeni, apa kau melihat ada orang? Tanya Aria.


“Hamba melihat ada dua orang, ketika hamba lewat, mereka berdua langsung pergi,” jawab Buto Ijo.


“Bagaimana ciri orang itu? Tanya Ki Birawa, wajahnya tampak bersemangat mendengar keterangan dari Buto Ijo.


“Bagaimana aku tahu ciri orang itu! Kenal juga tidak,” balas Wisanggeni.


“Dasar tolol,” ucap Wulan mendengar jawaban Buto Ijo.


Mendengar dirinya di sebut tolol, dengan cepat Buto Ijo bergerak ke arah Wulan.


Ki Birawa terkejut, lalu ikut bergerak, tetapi Ki Birawa kalah cepat.


Tangan kanan Buto Ijo terlihat sudah mencengkeram leher Wulan, dan siap mematahkan leher gadis itu.


Sedangkan Wulan yang tak menyangka akan di serang oleh Buto Ijo, wajahnya langsung pucat dan tak berani bergerak.


“Lepaskan!? Teriak Aria dengan nada dingin.


Mendengar teriakan Aria, Buto Ijo lalu melepaskan cengkeramannya, lalu duduk tanpa bicara, matanya masih menyorot tajam ke arah Wulan.


Wulan meraba-raba lehernya yang masih terasa sakit, akibat di cengkeram oleh Buto Ijo.


“Seperti apa orang yang kau lihat? Tanya Aria


“Lelaki kurus, tinggi dan berkepala botak,” jawab Buto Ijo.


“Tetapi yang satu lagi Hamba tidak terlalu jelas,” lanjut perkataan Buto Ijo.


“Kurus, tinggi dan kepalanya botak! Ucap Ki Birawa sambil mengingat ngingat.


“Apa orang itu berpakaian merah? Tanya Ki Birawa.


“Benar! Tetapi yang satu lagi, tidak begitu jelas,” jawab Buto Ijo.


“Sura kendil! Ucap Ki Birawa memastikan dari perkataan Buto Ijo.


“Siapa Sura kendil Ki? Tanya Aria.


“Kenapa Sura Kendil tidak datang bersama anak buahnya untuk membantu Mahesa? Tanya Aria kembali.


“Kalau masalah itu kau jangan tanya padaku, tetapi yang di maksud oleh Mahesa bukan Sura kendil, karena Sura kendil bukan seorang Resi, sepertinya orang yang satu lagi yang di maksud oleh Mahesa.


“Ketika mereka hendak membantu Mahesa mereka melihat Buto Ijo, lalu mereka pergi,” ucap Ki Birawa.


Aria anggukan kepala, dan bisa menerima apa yang di katakan oleh Ki Birawa.


“Lantas! langkah apa selanjutnya yang akan Ki Birawa lakukan? Tanya Aria.


“Aku akan ke Wengker untuk membebaskan Wisesa, dan berusaha mencari tahu, siapa orang yang berusaha menghancurkan Wisanggeni,” Jawab Ki Birawa.


“Aku akan ikut denganmu ke Wengker Ki,” ucap Aria.


“Terima kasih Aria, aku memang sangat berharap kau bisa membantuku,” balas Ki Birawa.


“Kau juga ikut? tanya Wulan sambil melirik ke arah Buto Ijo.


“Aku ikut kemanapun Raden pergi,” jawab Buto Ijo.


“Ke Wengker seperti itu? Kembali Wulan berkata, sambil matanya melirik ke atas dan bawah.


“Memangnya kenapa kalau seperti ini? Tanya Buto Ijo sambil berdiri.


Wulan langsung menutup kedua matanya dengan tangan, melihat Buto Ijo berdiri.


“Aria! Jika Buto Ijo ikut dengan kita ke Wengker, sebaiknya penampilannya di rubah terlebih dahulu,” bisik Ki Birawa.


“Memangnya kenapa penampilan Buto Ijo Ki,” balas Aria.


Ki Birawa lalu berbisik di telinga Aria, memberitahu bentuk tubuh, wajah dan apa yang di pakai oleh Buto Ijo.


Kening Aria berkerut saat mendengar, lalu membayangkan, apa yang Ki Birawa gambarkan, kemudian berkata.


“Buto Ijo! jika kau ingin ikut aku ke Wengker kau harus berubah penampilanmu dan menuruti apa yang di katakan oleh Ki Birawa.


“Baik Raden! Balas Buto Ijo.


“Tentu saja harus berubah, apa tidak malu jika di lihat orang,” ucap Wulan.


“Kenapa aku harus malu? Malah orang yang malu, kalau melihatku,” balas Buto Ijo.


“Mereka bukannya malu, tapi risih melihat dandananmu,” ucap Wulan.


***


Setelah istirahat satu hari untuk membuat baju dan mencukur rambut Buto Ijo yang gimbal.


Pagi-pagi di hari kedua.


2 ekor kuda keluar dari padepokan Wisanggeni, Ki Birawa berkuda seorang diri, sementara Wulan berkuda bersama dengan Aria, sedangkan Buto Ijo lebih memilih berlari daripada naik kuda, mereka berangkat menuju Wengker.


Dari padepokan Wisanggeni, Wengker dapat di tempuh dalam waktu 1 hari berkuda tanpa henti.


Ki Birawa tersenyum melihat Aria terus memeluk pinggang Wulan, Ki Birawa memang sengaja menyuruh Wulan membonceng Aria, karena Ki Birawa ingin mereka berdua bisa lebih dekat lagi.


Sebentar-sebentar Wulan berkuda sambil melirik ke samping kiri, karena di sebelah mereka Buto Ijo lari seperti sedang mengawal mereka.


“Kau tidak capai? Tanya Wulan.


“Tidak,” jawab Buto Ijo


“Kalau capai, kau bisa ikut bersama kakek,” lanjut perkataan Wulan.


“Lebih baik lari, daripada naik kuda,” jawab Buto Ijo.


Wulan tak membalas perkataan Buto Ijo.


Tiba-tiba Raut wajah Wulan merah, ketika matanya menatap ke bawah, Wulan melihat tangan Aria tengah erat memeluk pinggangnya.


“Jika kau takut, peluk saja yang erat! Bisik Wulan.


“Aku belum pernah naik kuda, jika aku bisa memilih, aku lebih memilih di gendong, daripada naik kuda,” ucap Aria.


“Kau ingin di gendong? Tanya Wulan, entah kenapa kalau setiap mendengar kata gendong, hati Wulan selalu kesal.


Aria langsung anggukan kepala, mendengar perkataan Wulan.


Wulan langsung menarik tali kekang kuda, Kuda langsung berhenti, Ki Birawa serta Buto Ijo ikut berhenti, melihat Wulan berhenti.


“Ada apa Wulan? Tanya Ki Birawa.


“Aria ingin di gendong kek! Dia takut naik kuda,” ucap Wulan sambil tersenyum penuh arti.


“Oh begitu! Ya sudah gendong saja,” balas Ki Birawa sambil tersenyum senang.


Aria langsung mengangguk mendengar perkataan Ki Birawa, terbayang oleh Aria saat ia di gendong oleh wulan, tangannya memeluk pinggang terkadang dada gadis itu, kepala bersender di punggung, sambil mencium wangi rambut seorang gadis, lamunan Aria terhenti saat mendengar perkataan Wulan.


Wulan sambil tersenyum, lalu berkata.


“Buto Ijo, Raden takut naik kuda, ia minta kau gendong.”


Buto Ijo mendengar perkataan wulan, langsung duduk, kemudian tangannya menepak-nepak bahu.


“Silahkan naik Raden!