Iblis Buta

Iblis Buta
Akhir Dari Sebuah Ambisi


Aria tidak tahu, Ki Banyu alas memegang senjata berupa tombak pendek berwarna putih, sebatang pusaka yang tidak memiliki pancaran aura sehingga Aria tak bisa melihat senjata yang di pegang oleh Ki Banyu Alas.


Buwana Dewi perlahan membuka mata, melihat Ayah dan suaminya tengah berhadapan, Buwana Dewi berdiri dan melangkah mendekat.


“Ayah! Buwana Dewi berkata untuk yang terakhir kalinya, apa ayah masih juga tidak mau menyadari kesalahan dan bertobat? Tanya Buwana Dewi sambil kucurkan air mata.


“Lebih baik kau diam dan saksikan pertempuran dari jarak jauh, agar tidak terkena salah sasaran, sebab senjata tidak bermata,” balas sang Ayah.


“Kau mundurlah! Hati ayahmu sudah membeku, percuma kau memberi nasehat terhadap orang yang hatinya sudah menjadi batu,” Aria ikut bicara.


“Diam kau iblis buta! Ini percakapan antara ayah dan anak, kau tidak usah ikut campur,” Ki Banyu Alas berkata.


“Aku berhak ikut campur, karena Buwana Dewi adalah istriku,” ucap Aria.


Phuih!


“Kau pasti memakai Aji pengasihan untuk memelet putriku, kalau tidak di guna-guna, mana mungkin putri ku mau menikah dengan orang buta,” Ki Banyu Alas langsung membalas perkataan Aria.


Raut wajah Aria sangat kelam mendengar perkataan Ki Banyu Alas, tanpa berkata lagi, Aria dengan jurus tongkat Seda gitik langsung menyerang Ki Banyu Alas, tongkatnya menyambar ke arah kepala.


Ki Banyu Alas angkat tombak untuk menahan serangan tongkat Aria.


Trang!


Aria terkejut setelah tongkatnya terpental kembali, setelah menghantam benda keras.


Aria lompat mundur, dia memegang senjata, tetapi biasanya senjata pusaka mempunyai aura, dan aku bisa melihat aura yang keluar, tetapi kenapa senjata yang di pegang Ki Banyu Alas tidak memiliki aura, apa ini adalah tombak gading kencana yang di maksud oleh Ratu Laut utara,” batin Aria.


Sementara di sisi lain, Buto Ijo terus mengamuk di bantu oleh Wangsa, Darmawangsa di keroyok dua, tetapi masih sanggup mengimbangi keduanya, tanda Darmawangsa bukan tokoh sembarangan.


Gerakan Darmawangsa sangat cepat, dan bisa mengimbangi Wangsa yang sudah memakai ajian Macan putih dan sudah merubah setengah wujudnya.


Darmawangsa menggunakan jurus Segoro Bayu, kaki Darmawangsa seperti tidak menginjak tanah saking cepatnya.


Buto Ijo yang menyerang secara serabutan, paling sering terkena hantaman Darmawangsa, tetapi yang membuat heran pria itu, Buto Ijo setelah terkena pukulannya langsung bangkit dan menyerang kembali.


“Apa siluman itu kebal pukulan,” batin Darmawangsa.


Suketi melihat suaminya menjadi bulan-bulanan Darmawangsa tak bisa menahan nafsunya, tubuhnya perlahan membesar.


Saat Darmawangsa lewat dekat tempat Suketi, tangan Suketi langsung menyambar kaki, dan langsung membanting Darmawangsa.


Buk!


Darmawangsa terkejut dan tak menyangka, tubuhnya berguling di tanah setelah melihat dari atas Wangsa melesat sambil cakarnya menghantam.


Bret!


Tanah berhamburan, terkena cakaran Wangsa karena musuh sudah tidak ada di tempatnya.


Darmawangsa melesat sesudah berguling di tanah, setelah melihat orang yang membokongnya.


Darmawangsa langsung menyerang Suketi.


Buto Ijo melihat Suketi di serang tampak cemas, sambil melesat berusaha membantu, tetapi terlambat.


Suketi melihat dirinya di serang, tangannya menghantam ke arah kepala.


Darmawangsa tundukkan tubuh dan kepala menghindari serangan, kemudian telapak kanannya menghantam dada Suketi tanpa dapat di tahan.


Buk!


Suketi langsung terpental, dari mulutnya menyembur darah segar.


Buto Ijo langsung memburu ke arah istrinya.


Suketi….Suketi! Teriak Buto Ijo dengan nada cemas.


Buto Ijo merobek baju, lalu mengelap mulut Suketi yang penuh darah.


“Suketi! Seru Buto Ijo.


Tetapi Suketi tak menjawab seruan Buto Ijo, perlahan matanya terpejam dan kepalanya terkulai di pangkuan Buto Ijo.


“Suketi….!? Teriak Buto Ijo.


Mereka yang bertempur langsung berhenti mendengar teriakan histeris Buto Ijo.


“Ku bunuh kau….ku bunuh kau,” teriak Buto Ijo sambil melesat ke arah Darmawangsa, tangan kanan menghantam ke arah dada.


Darmawangsa tersenyum dingin, telapak kanannya terbuka dan menangkap tinju Buto Ijo, kemudian tangan kiri balas menghantam balik ke arah dada Buto Ijo, sambil melepas tinju musuh yang ia pegang.


Buk!


Buto Ijo terpental sambil menyemburkan darah segar, tapi Buto Ijo bangkit kembali, sambil teriak menyebut-nyebut nama sang Istri.


“Suketi….Suketi!? Teriak Buto Ijo histeris.


Saking marahnya, tanpa terasa kekuatan Buto Ijo yang terkunci dalam tubuh oleh batu hijau yang melebur di dalam tubuhnya terbuka.


Perlahan tubuh Buto Ijo membesar dan berubah menjadi Naga Hijau, matanya menatap ganas dengan hawa pembunuh ke arah Darmawangsa.


Putra Resi Sapta Darma mundur, melihat perubahan yang terjadi pada Buto Ijo.


Melihat sahabatnya sudah berubah menjadi Naga, Wangsa langsung melesat ke arah Suketi.


Wangsa yang sudah berubah kembali menjadi manusia, lalu memeriksa nadi suketi.


“Masih hidup,” batin Wangsa, “tetapi kenapa si Jo, marah sekali seperti kehilangan Suketi.”


“Bangun….bangun! Bisik Buto Ijo.


Perlahan mata Suketi terbuka, lalu bertanya, “sudah berubah apa belum? Tanya Suketi.


“Berubah apa? Tanya Wangsa tak mengerti.


“Kakang Buto Ijo sudah berubah apa belum? Kembali Suketi bertanya.


“Sudah! Kau lihat saja,” jawab Wangsa.


Suketi melihat Naga besar berwarna hijau, bibirnya tersenyum dan perlahan tubuhnya mengecil, lalu bergerak ke arah bahu Wangsa dan berkata.


“Kalau tidak pura-pura mati, bagaimana kakang Buto Ijo bisa berubah wujud dan kita bisa memenangkan pertarungan ini.”


Ha Ha Ha


“Kau memang cerdik Suketi,” balas Wangsa sambil tertawa.


Naga Hijau terus menyerang, sedangkan Darmawangsa terus mundur, hatinya mulai merasa takut melihat keganasan Buto Ijo.


Buto Ijo tidak hanya menyerang Darmawangsa, tetapi juga memakan siluman-siluman anak buah Ki Banyu alas yang ada di dekatnya, pohon-pohon bertumbangan terkena amukan Naga hijau.


Darmawangsa yang ketakutan, dengan ajian Segoro Angin langsung melarikan diri.


Buto Ijo melihat musuh yang ia cari tidak ada, mengamuk dengan memakan dan membunuh siluman-siluman Anak Buah Ki Banyu Alas.


Ki Banyu Alas melihat anak buahnya banyak yang tewas dan sebagian kocar kacir, hatinya sangat marah dan kemarahannya ia lampiaskan kepada Aria Pilong.


Serangan serangan Ki Banyu alas semakin ganas.


Sinar putih dari pusaka tombak gading kencana, terus mengincar bagian tubuh mematikan dari Aria.


Aria dengan insting dan pendengaran serta penciumannya yang tajam selalu berhasil menghindari serangan, dan itu yang membuat Ki Banyu Alas semakin murka.


Serangannya semakin semakin cepat.


Trang!


Tongkat menangkis tusukan pusaka Tombak gading kencana, setelah serangannya di tangkis, Tombak bergeser dan menyambar ke arah paha Aria.


Bret!


Aria lompat mundur, setelah merasakan sakit di pahanya.


Pahanya robek terkena pusaka Tombak gading kencana.


Darah mengucur deras, membasahi kaki Aria.


Buwana Dewi terkejut melihat luka Aria yang biasanya langsung rapat dan sembuh kembali seperti semula, tetapi luka sang Suami tetap mengucurkan darah.


“Kakang….luka Kakang! Seru Buwana Dewi.


“Ayahmu menggunakan tombak gading kencana, Ratu laut utara sudah memberitahu aku, bahwa kelemahan Ajian Pancasona terletak pada gading atau tulang suci, lukaku ini akan sembuh, tetapi membutuhkan proses tidak seperti biasanya,” Bisik Aria.


Hmm!


Buwana Dewi langsung maju dan berdiri di depan Aria, kedua tangan ia rentangkan dan perlahan matanya berubah menjadi biru, tanda amarahnya mulai memuncak.


“Jangan ganggu suamiku, atau aku tidak akan segan lagi,” Buwana Dewi berkata dengan nada dingin.


“Minggir!? Teriak Ki Banyu Alas dengan nada gusar.


“Tidak,” balas Buwana Dewi.


Aria sambil merasakan sakit di paha, kemudian teringat akan ucapan Ratu Laut utara, “tanah adalah sahabat, sedangkan ruang hampa adalah tempat yang cocok untuk istirahat.”


Setelah berpikir sebentar, Bibir Aria tersenyum karena mengerti maksud ucapan Ratu Laut utara.


Mata Aria menatap pohon besar, yang diameter batangnya sangat besar.


Lalu memberitahu Wangsa dengan suara jarak jauh, agar membuat lubang di batang pohon dan mencari batang kayu lain, untuk membuat semacam peti.


Wangsa anggukan kepala, lalu mengajak ujang Beurit untuk melaksanakan perintah sang Ketua.


Ki Banyu Alas melihat sang putri tidak mau mundur, kemudian melesat sambil tangannya mengibas dengan Ajian kilat Bayu.


Blar!


Buwana Dewi terpental, dari mulutnya menyembur darah segar.


Mendengar suara jeritan sang istri, kemarahan Aria tidak terbendung lagi, kaki Aria langsung pasang kuda-kuda, menunggu datangnya serangan.


Ki Banyu Alas setelah putri nya terlempar, tombak ia tusukan ke dada Aria.


Aria memutar tongkat menahan tusukan tombak.


Trang!


Lalu tangan kiri menghantam perut Ki Banyu Alas dengan ajian Cakra Candhikalla.


Whut!


Ki Banyu Alas berkelit ke samping kanan, menghindari serangan, lalu tombak menyabet ke arah bahu.


Sret!


Bahu Aria terkena sabetan tombak, darah mengucur membasahi baju.


Ki Banyu Alas semakin ganas menyerang, melihat musuh sudah dua kali terluka, bibirnya tersenyum penuh kemenangan.


“Kau pikir, untuk apa aku susah-susah membujuk Darmawangsa dan mau mendidik Sentanu, kalau bukan tombak pusaka ini, karena tombak ini yang bisa membuat orang yang memiliki ajian pancasona bisa mampus,” Ki Banyu Alas berkata dalam hati.


“Ketua! Sudah selesai,” teriak Wangsa memberitahu, bahwa tugas yang di berikan sudah ia lakukan, dengan ajian macan putih, batang pohon besar di cakar dan membentuk satu lobang yang cukup untuk satu orang.


“Bagaimana caranya, agar aku bisa memenggal kepala Ki Banyu Alas,” batin Aria setelah mendengar teriakan Wangsa.


Belum sempat berpikir lebih jauh, Ki Banyu Alas melesat kembali menyerang, kali ini sinar merah dari ajian Lahar bumi melesat ke arah Aria.


Dengan Ajian Cakra Candhikkala, Aria menahan serangan Ki Banyu Alas.


Blam!


Ledakan keras terdengar, Aria terpental sambil muntahkan darah segar.


Melihat musuh terpental, Ki Banyu Alas tersenyum dingin, tubuhnya lalu melesat sambil tombaknya menuju ke arah kepala Aria Pilong.


Di saat genting, Buto Ijo yang sudah tidak ada lawan, melihat majikannya di serang, buntut Naga Hijau melesat, kemudian membelit tubuh Ki Banyu Alas.


Sret!


Ki Banyu Alas terkejut, saat tubuhnya di belit oleh Buto Ijo, Ki Banyu Alas berusaha melepaskan diri, tetapi belitan Buto Ijo semakin kencang.


Tombak pusaka gading kencana, di tusukan ke arah buntut Buto Ijo.


Crep!


Raungan panjang terdengar dari mulut Buto Ijo, karena merasakan sakit, akibat terkena tusukan tombak pusaka gading kencana.


Belitan Buto Ijo semakin kencang, jeritan terdengar dari mulut Ki Banyu Alas


Aria tak mau membuang kesempatan setelah mendengar teriakan Ki Banyu Alas, Aria melesat sambil menyabet ke arah Leher Ki Banyu Alas.


Crash!


Kepala Ki Banyu Alas terlepas.


Aria langsung menyambar tanduk yang ada di kepala Ki Banyu Alas, sebelum kepala kerbau jatuh ke tanah.


“Mana peti,” teriak Aria.


Wangsa langsung memberikan peti yang sudah ia buat.


Aria langsung memasukan kepala Ki Banyu Alas ke dalam peti kayu.


Setelah kepala Ki Banyu Alas masuk ke dalam peti kayu, Buto Ijo melepaskan belitannya.


Tubuh Ki Banyu Alas setelah terlepas dari belitan, melangkah kesana kemari mencari kepalanya yang terpisah.


Wangsa mengambil tombak gading kencana dari tangan Ki Banyu Alas, kemudian membawa tubuh Ki Banyu Alas kedalam lobang batang kayu yang ia buat atas perintah Aria.


“Bagaimana dengan kepalanya Ketua? Tanya Wangsa.


“Cari tempat yang tidak ada tanah sebutir pun, kemudian taruh di sana,” balas Aria.


Kalau begitu, kita buat saja lubang di dalam pohon seperti tadi, kita taruh disana dan biarkan pohon itu tumbuh besar.


Aria hanya anggukan kepala.


“Adik Dewi, bagaimana menurutmu?


“Aku menuruti apa perkataan Kakang Aria,” jawab Buwana Dewi.


Aria memberi isyarat kepada Wangsa agar melakukan apa yang tadi sudah ia katakan.


Wangsa kemudian membuat lubang di pohon berbeda, kemudian memasukan peti kayu ke perut pohon, sama seperti dengan badan Ki Banyu Alas yang sekarang tertanam di perut pohon Besar.


Semua anggota Jagad Buwana bersorak kencang, setelah mereka berhasil mengalahkan Ki Banyu Alas.


Hanya Buto ijo yang terlihat sedih setelah kembali ke wujud aslinya.


“Kenapa kau, Jo? Tanya Wangsa.


“Suketi mati, So! Jawab Buto ijo.


“Mati! Masa sih,” jawab Wangsa, “belum lama aku bicara sama Suketi sewaktu kau berubah menjadi naga.”


Whut!


Buto ijo melesat, dan tangannya sudah mencekal leher Wangsa.


“Jangan bercanda denganku, kupatahkan batang lehermu nanti,” ucap Buto Ijo dengan nada bengis.


“Bercanda apa! Itu Suketi sedang duduk di ranting pohon sambil menatap Ke arah kita,” balas Wangsa.


Buto ijo mengikuti jari Wangsa yang menunjuk batang pohon, dan memang tampak Suketi tengah duduk di ranting.


Buto ijo melepaskan cekalan, kemudian berlari, sambil teriak.


“Sayaaang….kau tak jadi mati! Ucap Buto ijo sambil tersenyum.


Plak!


Suketi menampar pipi Buto Ijo, setelah sang suami sampai.


“Kau ingin aku mati? Tanya Suketi.


“Tidak….tidak! Aku tadi salah bicara,” jawab Buto ijo.


Semua tertawa mendengar perkataan sepasang pengantin baru itu.


Sebelum rombongan kembali ke kapal, Buwana Dewi menyembah dua batang pohon besar, di mana tersimpan jasad ayahnya.


Setelah memberi hormat, mereka lalu kembali.


Dimana I Gusti Wardana menunggu dengan cemas, karena rombongan Jagad Buwana belum kembali.


Dan senyum terlihat dari bibir Panglima laut kerajaan Bali, setelah melihat beberapa perahu kecil bergerak dari bibir pantai Tegaldlimo, menuju ke arah kapalnya.


“Akhirnya mereka kembali.”