
Resi Jayaprana yang tak bisa menahan Buto Ijo, terus menahan Aria agar tidak keluar dari rumah tempat berdiam.
“Tuan muda tunggu dulu, orang-orang dari padepokan Jagad Buwana sudah berkumpul, kalau kita salah langkah, nanti kita yang akan habis oleh mereka,” ucap Resi Jayaprana.
“Apa resi takut terhadap mereka? Tanya Aria.
“Aku tidak takut tuan Aria, tetapi setiap langkah harus kita atur dan susun kalau bertemu musuh,” jawab Resi Jayaprana.
“Memangnya resi musuh Jagad Buwana? Tanya Aria.
“Bukan aku! Tetapi tuan Aria yang akan menjadi musuh Jagad Buwana, kalau tidak sabar dan ingin cepat keluar dari sini,” jawab Resi Jayaprana.
“Aku yang akan melindungi Resi, kalau padepokan Jagad Buwana akan mengganggu,” balas Aria.
Resi Jayaprana akhirnya mengalah dan membiarkan Aria membuka pintu rumah, kemudian melangkah keluar di ikuti olehnya.
Sesampai nya Aria di depan rumah, beberapa bayangan melesat dengan sangat cepat menuju Aria Pilong.
Whut….Whut….Whut!
Singabarong, Nyai Kidung kencana, Wangsanaya, Raden untung serta Selamet, sudah berdiri di depan Aria.
Resi Jayaprana sangat terkejut melihat kecepatan orang-orang dari padepokan Jagad Buwana, kemudian menarik bahu Aria agar mundur menjauh.
“Mau apa kau? Singabarong langsung melesat, kemudian menghantam ke arah Resi Jayaprana, Raden untung, serta Selamet ikut melesat, mengepung resi Jayaprana.
“Singabarong! Kau kenal padaku tidak? Tanya Resi Jayaprana.
“Kau adalah penguasa gunung batok, jangan pikir bisa keluar dari sini hidup-hidup jika kau menyakiti ketua, padepokan Jagad Buwana,” Singabarong berkata.
Belum sempat Resi Jayaprana berkata,
Anggota padepokan Jagad Buwana memberi hormat kepada Aria, sambil berkata.
“Salam hormat buat ketua Padepokan Jagad Buwana.”
Resi Jayaprana kerutkan keningnya.
“Jadi….jadi tuan Aria adalah ketua padepokan Jagad Buwana? Tanya Resi Jayaprana, seperti tak percaya.
“Benar! Ketua baru turun dari tempatnya bertapa,” Jawab Singabarong.
“Kami juga tidak menyangka bisa bertemu ketua di Ranu pani, tadinya kami berpikir akan berjumpa ketua di pertemuan gunung Bromo,” lanjut perkataan Singabarong.
Resi Jayaprana anggukan kepala mendengar perkataan Singabarong.
Matanya lalu menatap ke arah Raden Kusumo, kedua muridnya, serta Bayusena yang diam mematung seperti tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Selamet setelah memberi hormat, kemudian berkata kepada Aria.
“Maaf ketua! Selamet ada urusan sebentar dengan seseorang,” setelah berkata, tubuh Selamet langsung lenyap dan berubah menjadi asap, kemudian bergerak menuju ke arah Raden Kusumo.
Resi Jayaprana langsung memburu Selamet yang pastinya hendak berbuat sesuatu kepada Raden Kusumo.
Perkiraan sang resi benar, Selamet sudah tampak berdiri di belakang Raden Kusumo, sambil kerisnya melesat hendak menusuk kepala sang Raden dari belakang.
“Awas! Seru sang Resi sambil menghantam dengan ajian yang mengeluarkan angin besar dari tangan sang resi.
Serangkum angin besar keluar dari kedua tangan resi Jayaprana, Raden Kusumo terkejut, tubuhnya langsung terpental terkena ajian dari resi Jayaprana, tetapi Raden Kusumo selamat, Karena tusukan Selamet jadi tak mengenai sasaran.
Melihat serangannya meleset, Carik bayangan menghilang kembali, kemudian tubuh Selamet sudah berdiri di depan Raden Kusumo, keris Selamet meluncur ke arah dada, tanpa dapat di tahan oleh Raden Kusumo.
“Tahan! Teriak Aria, setelah mendengar jeritan Anjani.
Tangan Selamet langsung berhenti, mendengar suara Teriakan Aria.
“Raden Kusumo berniat hendak membunuh ketua,” ucap Selamet.
Beberapa bayangan langsung melesat ke arah Raden Kusumo setelah mendengar perkataan Selamet.
Hmm!
“Apa benar perkataan Selamet? Tanya Singabarong.
“Sudah….sudah! Biar aku yang atasi masalah ini,” ucap Aria.
Kakang! Ucap Anjani sambil menuju ke arah Aria.
Sret!
“Satu pedang menahan tubuh Anjani agar tidak melangkah mendekati Aria, “mau apa kau? Tanya Andini dengan raut wajah cemeberut.
“Aku….aku mau bicara dengan kakang Aria,” ucap Anjani.
“Ketua! Bukan kakang,” Andini berkata dengan nada sinis.
“Ketua! Anjani mohon, tolong lepaskan kakek,” ucap Anjani sambil jongkok di hadapan Aria.
“Sudahlah! Aku sudah mengampuni kakekmu,” balas Aria.
“Tetapi aku berharap, Raden Kusumo agar berhati hati jika bicara, sebab tidak semua orang rendah dimata orang lain,” lanjut perkataan Aria.
Sedangkan Andini serta Andira terus menatap Anjani.
“Raden! Sekarang Raden pikirkan kembali jika ingin bergabung, Jagad Buwana tidak akan memaksa atau mengambil kesempatan jika ada yang mau bergabung, tetapi jika sudah bergabung, kita adalah saudara dan saudara tidak pernah mau berkhianat terhadap saudaranya sendiri, cam kan itu baik-baik,” ucap Aria.
Aria lalu di tuntun oleh Andini serta Andira masuk ke dalam penginapan.
Raden Kusumo di bantu oleh resi Jayaprana berdiri.
“Maafkan aku Jayaprana, beginilah nasib orang yang tak mendengar nasihat sahabatnya,” ucap Raden Kusumo dengan nada sedih.
“Kini aku sadar! Aku berjanji tidak akan merendahkan orang lain lagi.”
Anjani langsung memeluk setelah mendengar perkataan sang kakek.
“Maafkan kakek, Anjani! Gara-gara kakek semua yang sudah di atur oleh gurumu jadi berantakan,” ucap Raden Kusumo sambil mengelus kepala sang cucu tercinta, hati raden Kusumo sangat menyesal atas kekerasan hatinya selama ini, ternyata orang yang selama ini dia anggap tembaga, ternyata adalah sebongkah permata.
“Sudahlah, kek! Semua yang sudah terjadi jangan di bicarakan lagi, lebih baik kakek ambil sikap sekarang, apa yang kakek hendak lakukan? Menerima tawaran kakang Aria atau tidak, kakek yang putuskan sendiri,” Anjani berkata.
Resi Jayaprana tersenyum mendengar perkataan Anjani.
Raden Kusumo menatap ke arah Resi Jayaprana, lalu berkata.
“Mari kita ke dalam! Seru Raden Kusumo.
Resi Jayaprana anggukan kepala, Bayusena serta ketiga muridnya ikut dengan sang resi, karena tak tahu keputusan apa yang akan mereka ambil.
“Di dalam ruangan, Aria tengah berbincang-bincang dengan anggota perguruan Jagad Buwana.
Saat mendengar perkataan Wangsa yang mempersilahkan Raden Kusumo serta resi Jayaprana duduk.
Aria tersenyum.
“Ketua! Aku sudah memutuskan akan bergabung dengan Jagad Buwana, kali ini niatku bergabung tulus dari dasar hati, karena melihat kebaikan ketua padepokan Jagad Buwana,” ucap Raden Kusumo.
“Terima kasih jika Raden mau bergabung dengan kami, para pengurus akan mengadakan upacara sumpah untuk raden Kusumo, jika hendak bergabung dengan Jagad Buwana,” lanjut perkataan Aria.
Raden Kusumo setuju, Rama serta Anjani serta Resi Jayaprana akhirnya memutuskan bergabung, begitupula dengan Bayusena yang akhirnya ikut bergabung.
Suasana di dalam ruangan langsung ceria, sorak sorai dari anggota padepokan Jagad Buwana bergemuruh di dalam ruangan, mendapat tambahan orang-orang hebat, khususnya Raden Kusumo yang sukses dalam menjalani usaha dagangnya.
Raden Kusumo sangat terharu dengan anggota Jagad Buwana, ia sudah terus terang berniat buruk terhadap sang ketua, tetapi mereka masih mau menerimanya.
Anjani hanya menatap iri ke arah Andini serta Andira yang selalu berada ide samping Aria, sejak peristiwa yang terjadi antara kakeknya dengan Aria, Anjani merasa ada jarak diantara mereka, apalagi setelah melihat Aria seperti yang acuh, Anjani hanya bisa menarik napas dan merenungi nasibnya yang kurang beruntung.
“Saat duduk di meja, Buto Ijo perlahan tangannya naik, kemudian mencengkeram leher Selamet.
Tap!
“Sekarang kau masih mau bilang Selamet? Tanya Buto Ijo sambil menyeringai.
“Memang namaku Selamet,” jawab Carik Bayangan.
“Kalau ku patahkan lehermu, kau bukan Selamet lagi,” ucap Buto Ijo.
Tangan Buto Ijo yang sedang mencengkeram, tiba-tiba pangkal lengannya di cekal oleh, Raden Untung yang berkumis tebal.
“Kita adalah kawan! Untuk apa melakukan hal seperti itu? Tanya Raden Untung sambil menatap Buto Ijo.
“Kau jangan ikut campur urusanku! Seru Buto Ijo, tangan kirinya berusaha menarik tangan Raden Untung yang sedang mencekal lengannya.
“Apa perlu aku bilang pada ketua! Bahwa kau hendak mencelakai aku? Tanya Selamet.
Phuih!
“Apa-apa main lapor,” ucap Buto Ijo sambil melepaskan cekalan di tengkuk Selamet.
“Jo! Kamu pasti penasaran dengan namanya kan? Ki Selamet sedangkan satu lagi adalah sahabatnya, Raden Untung, Carik dan Senopati bayangan, dahulu mereka berdua sangat terkenal di tanah Jawa bagian tengah, tapi keduanya lama menghilang dan akhirnya mereka sekarang mau menjadi anggota Jagad Buwana,”
“Aku hanya penasaran, apa benar dia Selamet terus,” jawab Buto Ijo.
“Ketua! Raden Kusumo berkata.
“Menurut keterangan anak buahku yang berdagang di berbagai kota, Jagad Buwana, padepokan Elang emas, serta partai Matahari, menjadi tiga perkumpulan yang sedang di bicarakan.
“Padepokan Elang emas sudah besar dari sejak lama, sehingga orang tidak begitu tertarik, tetapi Jagad Buwana dan Partai Matahari yang sedang menjadi sorotan.
“Karena kedua padepokan baru muncul, tetapi mempunyai orang-orang hebat di dalamnya,” Raden Kusumo bercerita.
Aria sangat antusias mendengar perkataan Raden Kusumo.
“Apa Raden tahu, siapa ketua dari partai matahari? Tanya Aria.
“Itu masih menjadi misteri, seperti halnya Jagad Buwana. Kepastian ketuanya bisa terjawab di pertemuan nanti,” jawab Raden Kusumo.
Saat tengah mendengar cerita Raden Kusumo, Aria kerutkan kening karena batinnya merasakan ada satu kekuatan besar yang tengah mendekat, ke arah penginapan.
Aria langsung berdiri dan berkata kepada anak buahnya.
“Kita kedatangan tamu.”