Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 63 : Penjaga Wilayah Barat


Mata Sarka tampak liar, menoleh ke kanan dan kiri mencari orang yang bicara.


“Dasar tolol! Cepat bikeun kujang pusaka macan putih, keburu paeh anak batur.”


“Guru….guru benar ada di sini? Tanya sarka.


Plak!


Tiba-tiba kepala Sarka di tepak dari belakang.


Ketika berbalik, Sarka melihat seorang kakek berkumis di tutupi berewok lebat dengan rambut riap riap an, semua bulu yang ada di kepalanya berwarna putih, dengan bentuk hidungnya yang lebar, wajah kakek itu jadi mirip seperti wajah singa, Resi Maung Bodas guru Sarka alias Jaka Samudera.


Sarka membaca mantra dalam hati, tak lama kemudian di tangannya tampak kujang berwarna putih, dengan ujung gagang terbuat dari gading berkepala macan yang juga berwarna putih.


Saat Sarka hendak melemparkan kujang, bayangan putih melesat dengan cepat menyambar kujang di tangan Sarka, kemudian bayangan itu putih melesat ke arah arena.


Begitu pula Buto Ijo, langsung bergerak ke arah Aria.


Aria menyabetkan tongkatnya, setelah merasakan satu kekuatan mendekat.


Resi Maung Bodas menangkap tongkat Aria.


Tap!


“Siapa kau Mbah? Tanya Buto Ijo melihat kakek serba putih di depannya.


“Mbah kepalamu! Ucap resi Maung Bodas, membalas perkataan Buto Ijo.


“Bangsat! Di tanya benar malah marah,” ucap Buto Ijo.


“Memangnya aku Mbahmu? Balas resi Maung Bodas sambil melotot.


Buto Ijo diam setelah melihat isyarat dari Aria.


Setelah Buto Ijo diam, Resi Maung Bodas bicara.


“Aku gurunya jaka Samudera! Gunakan kujang macan putih ini untuk melawan panglima hitam,” ucap sang Resi sambil tangannya menyodorkan kujang ke tangan kiri Aria.


Aria mengambil kujang pemberian dari resi Maung Bodas, hawa dingin langsung masuk kedalam tubuh, setelah Aria menggenggam kujang.


“Benar-benar senjata luar biasa,” batin Aria, setelah berkata. Aria langsung melesat menyambar ke arah badan Panglima hitam.


Shing!


Sinar putih melesat menghantam badan panglima hitam.


Tangan panglima hitam menyambar, sinar hitam juga keluar dan menahan serangan Aria.


Blam!


Aria mundur dua langkah, dadanya terasa sesak.


Panglima hitam dengan wujud macan hitam mengaum dengan suara menggelegar.


“Naha kitu, make eta kujang? Ucap Resi Maung Bodas.


“Keluarkan mahluk penghuni kujang pusaka! Kau tidak akan menang melawan panglima hitam, jika kujang macan putih di gunakan seperti senjata biasa,” setelah berkata, resi Maung Bodas mengibaskan tangan ke atas, aura berwarna putih berbentuk seperti bola angin, ajian Benteng angin, kemudian sinar putih mengelingi seperti melindungi Aria, Buto Ijo dan resi Maung Bodas.


Buto Ijo melihat di sekelilingnya seperti ada bayangan awan yang bergerak, kemudian memegang, tangannya bergetar setelah memegang dinding ajian benteng angin.


“Cicing sia kokod teh, kehed! Tong di cabakan ae, hayang bitu,” bentak resi Maung Bodas melihat Buto Ijo terus memegang megang benteng angin yang ia ciptakan.


Buto Ijo sampai jingkrak mendengar bentakan resi Maung Bodas, Buto Ijo langsung diam, tetapi matanya langsung melirik resi Maung Bodas dengan tatapan geram “Kalau Raden bilang bunuh, akan ku patahkan batang lehernya,” batin Buto Ijo.


“Kenapa dari tadi kau tidak memberitahu cara menggunakan kujang ini? Ucap Aria setengah menggerutu.


“Memangnya kau tanya? Di kasih kujang, langsung blesat,” balas resi maung Bodas.


Blam….Blam!


Macan hitam menghantam ke arah Aria, tetapi hantaman macan hitam hanya menghantam pelindung buatan resi Maung bodas.


“Salurkan tenaga dalammu ke kujang macan putih, lalu tarik kekuatan yang ada di dalam kujang dengan tenaga dalammu itu, sambil membaca mantra yang aku berikan untuk membuka kunci kekuatan kujang,” bibir resi Maung Bodas tampak bergerak gerak, memberi tahu mantra pembuka kunci kujang pusaka macan putih.


Aria mendengarkan perkataan resi Maung Bodas yang di kirimkan memakai tenaga batin, sehingga hanya Aria yang bisa mendengar.


“Phuih….dasar tolol, otak udang! Sudah dua kali aku memberitahu, masih saja tidak ingat, keburu Ajian benteng angin milikku jebol sama panglima hitam,” gerutu resi Maung Bodas dengan nada kesal.


“Mantra mu itu yang bikin aku pusing, memangnya tidak bisa kalau pakai bahasa dari daerah sini? Sudah bahasanya aneh, kau berkata cepat sekali, bagaimana aku bisa ingat? Balas Aria, dengan nada kesal karena di sebut otak udang.


“Pusaka dari Pasundan, ya harus pakai mantra bahasa Pasundan, tolol,” ucap resi Maung Bodas.


Blam!


Kembali macan hitam menghantam, kali ini dinding Aji benteng angin mulai bergetar.


“Cepat ingat-ingat mantra itu, sebelum ajian benteng angin jebol oleh serangan panglima hitam,” resi Maung bodas berkata kembali.


“Beritahu sekali lagi! Tetapi bicaranya pelan-pelan saja, biar aku ingat,” ucap Aria.


Resi Maung bodas kembali memberitahu Aria, mantra untuk membuka kunci kekuatan kujang pusaka macan putih, kali ini resi Maung bodas memberitahu aria perlahan lahan, agar Aria ingat.


Setelah hapal mantra pembuka kunci, Aria duduk bersila di lantai arena, sambil meletakan tongkat di depannya.


Tangan kiri meletakan kujang di depan dada, lalu telapak tangan kanan menahan kujang di bawah gagang kepala macan, dengan tenaga dalam kujang berdiri tanpa di pegang, kemudian tangan kiri aria ikut membantu menyalurkan tenaga dalam dari atas.


Kujang berputar di depan dada aria, semakin lama putaran kujang semakin cepat.


Sambil membaca mantra pembuka kunci, Aria terus menyalurkan tenaga dalam, ke kujang pusaka macan putih.


Shing!


Kujang melesat, kemudian asap tebal berwarna putih keluar dari badan kujang, semakin lama asap putih semakin banyak dan menutup kujang.


Blam!


Perlahan asap putih berubah menjadi macan berwarna putih, dengan loreng ke emasan menghiasi tubuhnya.


Setelah kujang berubah, macan hitam berhasil menghancurkan Aji benteng angin milik resi Maung bodas.


Blar!


Macan putih yang bertubuh sama besar dengan macan hitam berdiri berhadapan, mata macan putih yang berwarna sama dengan Aria menatap tajam ke arah macan hitam.


Aria mendengar ketika mendengar mahluk yang keluar dari kujang itu bicara.


“Kenapa kau masih suka mencampuri urusan manusia? Tanya macan putih.


“Kau jangan ikut campur urusanku, ini Jawa bukan Pasundan,” jawab macan hitam.


“Pasundan atau Jawa aku tidak peduli, kita ber empat sudah sepakat sebagai penjaga.


Macan putih sebagai penjaga wilayah barat, sedangkan kau panglima hitam penjaga wliayah tengah menggantikan Naga langit yang mengundurkan diri, Larang tapa penjaga wilayah timur dan Resi Lanang jagad sebagai penjaga semua wilayah.


“Jadi ada batasan kita untuk tidak terlalu dalam ikut campur urusan manusia,” macan putih dengan loreng berwarna ke emasan berkata sambil menatap Panglima hitam.


“Aku hanya membantu manusia untuk mewujudkan rasa serakah mereka akan kekuasaan,” balas macan hitam.


Macan putih setelah mendengar perkataan macan hitam langsung melesat, mulut macan putih terbuka memperlihatkan taring panjang, lalu menerkam macan hitam.


Kedua cakar macan hitam menangkap leher macan putih, kuku macan hitam mencengkeram, tapi leher macan hitam tidak terlindung dan langsung di gigit oleh macan putih.


Dua taring menancap di leher, asap hitam keluar dan mengepul dari lobang yang terkena gigit macan putih.


Macan hitam berusaha melepaskan diri dengan menarik kedua kaki depannya yang tengah mencengkeram, tetapi kedua kaki depan macan putih mencengkeram punggung panglima hitam, membuat panglima hitam tak bisa bergerak, asap hitam yang keluar dari gigitan macan putih semakin banyak.


Perlahan tubuh macan hitam perwujudan panglima hitam memudar dan berubah menjadi asap hitam dan kembali ke keris berwarna hitam yang berada di depan Senopati Singalodra.


Tring!


Keris hitam hancur berkeping keping, sedangkan Senopati Singalodra yang tengah duduk sila, langsung terpental dan memuntahkan darah segar.


Melihat Senopati Singalodra terpental, Buto Ijo langsung melesat ke arah sang Senopati.


Tumenggung Wirabumi melihat Buto Ijo bergerak, langsung teriak dengan wajah pucat.


“Jangan bunuh utusan kerajaan!? Teriak Tumenggung Wirabumi sambil melesat ke arena sayembara.


Prak!


Kepala Senopati Singalodra hancur terkena tendangan Buto Ijo, tubuh Senopati Singalodra yang sudah tanpa kepala menggelepar gelepar, kemudian diam tak bergerak.


Tumenggung Wirabumi menarik napas dalam-dalam setelah sampai di dekat Aria, ia datang terlambat.


Buto Ijo setelah menendang kepala Senopati Singalodra, lalu menghampiri Aria.


“Utusan kerajaan tidak boleh dibunuh,” ucap Tumenggung Wirabumi sambil menarik napas panjang, setelah Buto Ijo berada di dekatnya.


Buto Ijo anggukan kepala mendengar perkataan Tumenggung Wirabumi, kemudian membalas.


“Kau tunjukan saja orangnya! Biar aku tidak salah tangan.”