
Selamet ketika mendengar perkataan Wangsa, dengan Aji Halimun langsung bergerak menuju dapur istana, sementara Wangsa menjaga Buto Ijo.
Sementara Aria berjaga di depan Buwana Dewi sambil berkata.
“Kau lihat pergerakan Suketi dan beritahu aku, jangan sampai ada korban jiwa, karena kita belum tahu siapa dalang di balik semua rencana keji terhadap kita.”
“Baik kakang,” balas Buwana Dewi.
Mendengar suara jerit para penduduk, Geraman terdengar dari mulut Suketi, kemudian tangannya menghantam ke arah penduduk yang berusaha melarikan diri.
“Awas! Teriak Buwana Dewi memberitahu penduduk untuk segera menghindar.
Seorang penduduk berhasil menghindar, tanpa menengok kebelakang, penduduk yang beruntung itu langsung melarikan diri.
Tangan Suketi tidak mengenai penduduk, tetapi malah menghantam Arca batu.
Whut….Blar!
Arca batu berbentuk raksasa dengan ukuran besar, hancur di hantam Suketi.
Iblis Kawi setelah memberitahu anak buahnya untuk berjaga, kemudian melesat ke arah panggung upacara pernikahan yang sudah hancur, akibat amukan Suketi.
“Tahan emosi, Suketi! Atur kekuatanmu dan kendalikan, jangan sampai kau yang di kendalikan kekuatan mu sampai kau tidak tahu siapa dirimu sendiri,” teriak Iblis Kawi yang sudah berada di depan Suketi.
Suketi menatap kera yang bertubuh setinggi pinggang berada di hadapannya.
Ggggrrrrr!
Suara geraman Suketi menggelegar, tetapi diam tidak menyerang, Suketi hanya menatap Iblis Kawi.
“Kendalikan dirimu,” kembali Iblis Kawi teriak untuk mengingatkan.
Selamet yang melesat setelah mendengar cerita Wangsa langsung membuat dapur istana geger, jerit ketakutan terdengar saat melihat Selamet masuk, sambil memegang keris berwarna hitam yang mengeluarkan asap dari badan keris.
“Siapa yang memberikan air untuk siraman pengantin? Tanya Selamet dengan tatapan dingin.
Para pelayan di dapur tidak tahu kerusuhan yang terjadi di alun-alun istana, karena mereka sibuk menyiapkan hidangan yang akan di santap oleh Prabu Anak Wungsu.
Para pelayan dapur istana hanya saling pandang mendengar pertanyaan Selamet.
Seorang wanita paruh baya yang tak lain kepala pelayan dapur langsung maju dan berkata.
“Hamba yang memberikan air suci untuk siraman kepada seorang Resi, tuan.”
Selamet menatap wanita paruh baya yang ada di hadapannya.
“Siapa kau? Tanya Selamet.
“Hamba kepala pelayan bagian dapur,” jawab Wanita itu, raut wajah kepala pelayan tampak tenang menjawab pertanyaan Selamet.
“Siapa yang menyuruh kau menaruh racun kedalam gentong air untuk siraman? Tanya Selamet.
Suasana dapur istana langsung gempar, mereka saling tatap dan tanya, tidak percaya dengan perkataan Selamet.
“Maaf tuan, tidak ada racun di dalam gentong air yang sudah di berkati, air dalam gentong sebenarnya bukan untuk siraman, tetapi untuk memasak makanan keluarga kerajaan,” jawab kepala pelayan bagian dapur, kali ini raut wajahnya tidak setenang tadi, kepala pelayan cemas terhadap tuduhan Selamet, karena ia tidak tahu menahu tentang racun.
“Kawanku yang tengah menikah belum di ketahui hidup matinya, terkena air mengandung racun yang kau berikan.
“Cepat katakan! Siapa yang menyuruhmu menaruh racun? Tanya Selamet sambil melesat, lalu tangan kiri mencekik leher kepala pelayan dapur istana, sedangkan tangan kanan sudah bergerak siap menusuk tubuh kepala pelayan dapur istana dengan keris pusaka Naga hitam.
“Hamba tidak tahu, tuan! Hamba benar-benar tidak tahu,” jawab kepala pelayan bagian dapur kemudian lanjut berkata dengan raut wajah pucat pasi, “jika benar air yang berada di dalam gentong beracun dan di pakai masak, pasti semua keluarga kerajaan dan Prabu Anak Wungsu akan tewas keracunan.”
“Aku sekarang ingat! Tadi kepala dapur istana, Nyi Kilani menanyakan gentong berpita merah dan marah padaku, setelah tahu aku memberikan gentong itu untuk acara siraman untuk tamu Prabu Anak Wungsu.
“Mana Nyi Kilani? Tanya Selamet.
Kepala pelayan dapur gelengkan kepala, kemudian menjawab.
“Sejak aku bilang gentong air di pakai, baru sekali ia ke sini, kemudian pergi lagi entah kemana.”
Hmm!
“Sepertinya Kilani patut di curigai, dia bermaksud meracuni Prabu Anak Wungsu serta anggota kerajaan, tetapi air yang sudah di beri racun tanpa sengaja terbawa oleh tetua Wangsa,” batin Selamet.
Setelah menanyakan ciri-ciri perempuan bernama Kilani, Selamet melesat keluar dari dapur istana untuk mencari Kilani.
Kilani sangat takut dan bergegas keluar menjauh dari dapur istana.
Ketika berjalan cepat, wanita bertubuh gempal itu di tarik oleh seseorang.
Aaauuuww!
Kilani menjerit saking takut saat tangannya ada yang menarik.
Ssssttt!
Tampak Senopati Gala yang menyamar menjadi penduduk, tempelkan jarinya di bibir, memberi isyarat agar perempuan yang ia tarik tangannya tidak mengeluarkan suara.
“Senopati Gala bikin kaget aku saja,” gerutu Kilani sambil mengusap dada, jantungnya masih berdetak cepat karena kaget.
“Patih Nyoman Sidharta menanyakan mu,” Senopati Gala berkata.
“Aku juga mau menemui Paman patih,” balas Kilani.
“Mari ikuti aku,” ucap Senopati Gala.
Senopati Gala kemudian membawa Kilani ke tempat di mana Nyoman Sidharta tengah menunggu.
Di utara kerajaan ada taman yang tidak terawat karena jarang di kunjungi, Nyoman Sidharta menunggu Senopati Gala di taman itu.
Melihat kedatangan Senopati Gala dan Kilani, wajah Nyoman Sidharta yang tadinya tegang, perlahan mulai tenang.
“Kilani….Kilani bagaimana tugasmu? Tanya Nyoman Sidharta.
“Gagal….gagal paman patih,” jawab Kilani.
“Bagaimana bisa gagal? Kau orang yang berkuasa di dapur istana.
“Tidak ada orang yang akan curiga jika kau menaruh sesuatu di makanan anggota kerajaan,” balas Nyoman Sidharta mendengar jawaban Kilani.
“Paman patih benar, aku sudah mencampur racun yang paman berikan ke dalam air yang di pakai untuk memasak.”
“Bagus….itu bagus, Kilani! Seru Nyoman Sidharta memotong perkataan Kilani.
Perempuan bertubuh gempal, gelengkan kepala mendengar perkataan Nyoman Sidharta, kemudian berkata.
“Tetapi sayang, air yang di pakai untuk memasak di ambil oleh tamu Prabu Anak Wungsu, kemudian air itu di pakai untuk upacara penyiraman pengantin tamu Prabu Anak Wungsu.”
“Itu juga bagus…..biar mereka semua mampus,” ucap Nyoman Sidharta dengan nada geram.
Kilani lanjut berkata dengan raut wajah takut, setelah mendengar perkataan Nyoman Sidharta.
“Aku menaruh semua racun yang di berikan paman patih ke dalam gentong air, jadi aku tidak bisa meracuni makanan Prabu Anak Wungsu.
“Guoblok….dasar guoblok! Bukan saja tubuhmu seperti kerbau, tetapi otakmu juga,” Nyoman Sidharta berkata dengan nada geram setelah mendengar cerita Kilani.
“Itu adalah racun yang sangat keras, sedikit saja tercampur air bisa membunuh ratusan orang, sebanyak itu racun yang aku berikan, tetapi kau habiskan hanya di satu tempat, dasar perempuan guoblok! Nyoman Sidharta berkata dengan nada kesal.
“Mata Nyoman Sidharta menatap dingin ke arah Kilani, kemudian bertanya.
“Apa sudah ada orang yang curiga terhadapmu?
“Ada, paman patih! Sepertinya seorang pria berpakaian rapih yang memakai blangkon di kepalanya curiga kepadaku,” jawab Kilani.
Hmm!
“Sepertinya kau harus bersembunyi terlebih dahulu,” suara dengusan keluar dari hidung Nyoman Sidharta, kemudian lanjut berkata, sambil tangan kanan diam-diam menuju ke arah belakang pinggang, dimana terselip keris pusaka milik Nyoman Sidharta, lalu perlahan mencabutnya.
“Aku tahu tempat yang cocok untuk mu bersembunyi,” ucap Nyoman Sidharta dengan pandangan berkilat ke arah Kilani.
“Terima kasih paman patih! Sepertinya Kilani memang harus bersembunyi terlebih dahulu.
Lanjut perkataan Kilani, “dimana tempat bersembunyi yang paman maksud? Tanya Kilani.
Nyoman Sidharta tersenyum dingin, kemudian menjawab, sambil kerisnya menusuk ke arah perut Kilani beberapa kali.
Crep….Crep….Crep!
“Ke Neraka”