Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 41 : Kupikir Hebat, Ternyata?


“Apa Raden tidak mau membantu mereka? Tanya Sarka yang kali ini memanggil Raden kepada Aria.


“Kau saja yang bantu! Bukankah kau sangat benci pada Tumenggung Adiguna? Balas Aria.


Sarka langsung diam mendengar perkataan Aria.


Sedangkan Buto Ijo langsung angkat jempol mendengar perkataan Aria.


“Aku yang bertempur, kau yang ikut makan enak,” ucap Buto Ijo.


Aji gatra bersiap begitu pula gurunya Resi Sarpa kencana, sementara Tumenggung Wirabumi juga bersiap di samping putrinya.


“Jika terjadi hal yang tak di inginkan, tinggalkan Daha dan pergi kemana saja menjauh dari kerajaan Kadiri,” ucap Wirabumi kepada putrinya, Rara Ayu.


Rara Ayu tak menjawab, hanya matanya terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan sang ayah.


Tetapi sesekali matanya melirik ke arah Rombongan Aria yang duduk di bawah pohon beringin, yang tengah menatap ke arah halaman.


“Apa mereka bisa membantu ayah? Batin Rara Ayu.


Orang yang menangkis serangan Aji gatra maju, dengan tongkatnya ia menunjuk.


“Kau sudah pesan tempat untuk mengubur mayatmu? Tanya orang itu.


“Tongkat sakti! Jangan banyak bicara, cepat habisi,” ucap Tumenggung Adiguna dengan nada dingin.


“Tenang saja Tumenggung! Orang ini tidak akan hidup sampai esok hari,” balas orang yang di sebut Tongkat sakti.


Sedangkan Resi Sarpa berhadapan dengan seorang bertubuh besar, perawakannya hampir mirip dengan Buto Ijo.


Orang itu bernama Bargo, salah satu pendekar terkenal dari kerajaan Kahuripan.


Seorang begal tunggal yang menguasai daerah sekitar gunung Bromo.


“Rupanya Iblis Bromo! Sejak kapan kau mau di perintah orang? Tanya Resi Sarpa.


“Sejak Tumenggung Adiguna menyediakan segala yang aku inginkan,” balas Bargo sambil tertawa.


Tongkat berputar-putar di tangan Tongkat sakti, bersiap menghadapi Aji gatra yang sudah mencabut keris yang terselip di belakang tubuh.


Sarka melihat orang ber tongkat yang menurutnya sangat sombong, langsung meludah.


Phuih!


Tanpa sadar Sarka berkata dengan nada kesal, “Belum tua sudah bawa-bawa tongkat, seperti orang buta saja,” ucap Sarka.


Baru saja Sarka berkata.


Plak!


Pipi Sarka terkena tamparan keras dan tubuhnya langsung terpelanting.


Buto Ijo lalu menatap Sarka.


“Barusan kau bilang apa? Tanya Buto Ijo sambil tangannya mencengkeram leher Sarka.


Sarka menyadari kesalahannya, saat mendengar perkataan Buto Ijo, “maaf-maaf aku tidak bermaksud menyinggung Raden,” jawab Sarka sambil mengelap bibirnya yang pecah akibat tamparan Buto Ijo.


Setelah melihat isyarat Aria untuk diam, Buto Ijo mendengus, sambil melepaskan cengkeraman tangannya di leher Sarka.


“Bicara lagi yang menyinggung Raden, ku patahkan batang lehermu,” ucap Buto Ijo.


Sarka dengan cepat langsung anggukan kepala sambil memegangi lehernya yang masih terasa sakit, akibat cengkeraman Buto Ijo.


Tongkat sakti merupakan salah satu kawan Bargo, mereka berdua adalah pendekar dari kerajaan Kahuripan yang berhasil di bujuk oleh Tumenggung Adiguna untuk bergabung.


Tongkat sakti berdiam di Tumapel, rencana penyerangan Tumenggung Adiguna ke wilayah Tumapel, karena selalu di kompori oleh Tongkat sakti.


Tongkat berputar mengeluarkan suara angin menderu, debu beterbangan di sekitar tempat Tongkat sakti dan Aji gatra.


Trak….trak!


Suara benturan antara Tongkat dan keris Aji gatra terdengar, ketika tongkat menyerang ke arah tubuh Aji gatra.


Senopati muda itu, dengan lincah menangkis tongkat yang berusaha menyerang tubuhnya.


Semakin lama tongkat yang terus berputar-putar sebelum menyerang, semakin cepat, Tongkat sakti terlihat seperti berubah menjadi puluhan, saking cepatnya putaran tongkat yang di gerakan oleh si tongkat sakti.


Aji gatra matanya tajam mengawasi pergerakan tongkat, badannya meliak liuk seperti badan ular menghindari serangan Tongkat yang tak bisa di tangkis oleh kerisnya.


Guru Aji gatra memang di sebut sebagai Dewa ular oleh kalangan dunia persilatan, jurus silatnya di ambil dari pergerakan ular dalam bertahan maupun menyerang.


Tongkat melesat ke arah dada Aji gatra, Senopati muda itu langsung berguling di tanah menghindari serangan tongkat, kemudian sambil berguling, kerisnya menyambar ke arah kaki Tongkat sakti.


Tongkat sakti lompat menghindari serangan, kemudian dari atas tongkatnya memukul ke arah kepala Aji gatra.


Tubuh Aji gatra menggeliat layaknya seperti se ekor ular, lalu melenting menghindari serangan Tongkat sakti yang langsung menghantam tanah.


Blar!


Debu beterbangan setelah tongkat menghantam tanah,


“Kalau begini terus aku akan kehabisan tenaga sebelum bisa merubuhkan lawan,” batin Aji gatra karena perbedaan ukuran senjata mereka sangat jauh, apalagi tongkat sakti selalu menjaga jarak dengan Aji gatra.


Ini semua berkat kecerdikan Tumenggung Adiguna, ia tahu ilmu yang di miliki oleh Senopati Aji gatra, sehingga menyuruh Tongkat sakti untuk melawan Senopati bawahan Tumenggung Wirabumi.


Karena ular sangat takut dengan tongkat, jadi pendekar yang memiliki ilmu tongkat seperti Tongkat sakti, pasti bisa mengatasi pendekar yang menggunakan jurus ular.


Dan itulah yang terjadi saat ini, tongkat sakti terus mendesak Aji gatra.


Wirabumi melihat anak buahnya mulai terdesak, hatinya khawatir sambil terus memperhatikan ke arah Aji gatra.


Sementara itu, Buto Ijo duduk bersama Sarka sambil menikmati makanan kecil yang masih sempat ia bawa ketika meninggalkan pendopo.


Mereka berdua asyik menyantap makanan, sambil menyaksikan pertempuran antara Tongkat sakti dengan Aji gatra, keduanya seperti tengah berwisata sambil menikmati pemandangan.


Mendengar suara gerakan dari mereka yang bertempur, Aria dapat memastikan bahwa Aji gatra tidak akan bertahan lama melawan Tongkat sakti.


Dan tebakan Aria tidak meleset, saat Aji gatra berusaha memaksakan diri mendekat, berusaha menyerang Tongkat sakti.


Tongkat sakti mundur melihat Aji gatra menyerang dengan menyabetkan kerisnya.


Whut!


Keris Aji gatra lewat tanpa mengenai perut Tongkat sakti.


Setelah Tongkat sakti mundur, tubuhnya bergerak ke kiri, kemudian tongkatnya melesat menghantam pergelangan tangan Aji gatra yang memegang keris.


Plak….Trang!


Keris terlepas dari gengaman Aji gatra, setelah pergelangan tangannya terkena hantaman tongkat, sebelum Aji gatra mengambil kerisnya yang terjatuh, batang tongkat terlebih dahulu menghantam perut Aji gatra.


Buk!


Senopati muda yang sombong itu terpental, dari mulutnya menyembur darah segar, tanda luka dalam telah di derita oleh Aji gatra akibat hantaman Tongkat sakti.


Melihat Aji gatra terpental sambil muntahkan darah segar, Buto Ijo dan Sarka langsung sorak, sambil mulut mereka mencaci Aji gatra.


“Mampus kau! Teriak Buto Ijo dengan nada geram, melihat Aji gatra muntah darah.


“Benar! Jelema ( orang ) sombong pantas di gebuk,” ucap Sarka sambil mengambil satu-satunya makanan yang tersisa di sisi Buto Ijo, kemudian memasukan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Mata Buto Ijo terus melihat ke arah Aji gatra, Ketika tangan Buto Ijo meraba-raba makanan yang ia bawa, dan melihat makanannya sudah tidak ada, dengan kesal Buto Ijo menendang Sarka yang berada di depannya, membuat Sarka langsung tersungkur.


“Aku yang bawa, tetapi kau yang habiskan, dasar keparat! Teriak Buto Ijo dengan nada gusar.


“Dasar Buta gelo, sok main tajong ae bujur batur! Ucap Sarka dengan nada kesal.


“Ngomong apa kau? Tanya Buto Ijo sambil melotot.


“Tidak….tidak! Ucap Sarka sambil goyangkan tangannya.


Resi Sarpa kencana terkejut, melihat muridnya terluka oleh Tongkat sakti.


Resi Sarpa kencana menjauh dari Bargo, lalu mendekati Aji gatra.


Setelah memeriksa sang murid, Resi Sarpa kencana lalu memberi muridnya obat pulung, untuk meringankan luka dalam sang murid, beberapa prajurit langsung membawa Aji gatra menjauh dari arena pertempuran.


Resi Sarpa kencana menatap tajam Tumenggung Adiguna, wajah Sang Resi tampak kelam.


Resi Sarpa kencana, menancapkan tongkat kepala ular di tanah, kemudian duduk bersila sambil meloloskan kalung dari lehernya.


Kalung yang berbentuk seperti suling kecil sudah berada di mulut Resi Sarpa kencana.


Tumenggung Adiguna langsung mundur melihat mulut Resi Sarpa kencana terdapat suling.


“Awas hati-hati, Ki Sarpa sedang memanggil ular ghaib peliharaannya,” teriak Tumenggung Adiguna yang tahu kemampuan dari Resi Sarpa kencana.


Tongkat sakti, Bargo serta dua pendekar lain langsung mundur mengikuti Tumenggung Adiguna setelah mendengar suara melengking lengking keluar dari suara suling Resi Sarpa kencana.


Tongkat kayu cendana milik Aria bergerak, mendengar suara suling Resi Sarpa kencana, Nyi Selasih yang sedang bersemadi membuka mata mendengar suara suling pemanggil ular ghaib.


Mata Nyi Selasih kemudian terpejam kembali, tetapi mulutnya kali ini tampak berkomat kamit seperti sedang membaca mantra.


Tiba-tiba angin berhembus mengiringi suara suling Ki Sarpa, dan entah dari mana datangnya, perlahan muncul ular-ular beracun di halaman rumah Tumenggung Wirabumi.


Rara Ayu menatap ngeri ke arah puluhan ular dengan berbagai bentuk, yang sudah berada di halaman rumahnya, Tumenggung Wirabumi langsung menarik tangan Rara Ayu untuk mundur.


Tetapi keanehan terjadi setelah ular-ular ghaib itu muncul, ular-ular itu perlahan bergerak bersama sama tidak ke arah Tumenggung Wirabumi, tetapi ular-ular itu malah bergerak ke arah tempat Aria berkumpul, lalu ular-ular ghaib yang di panggil oleh Ki Sarpa mengelilingi rombongan Aria yang tengah duduk di bawah pohon beringin.


Ki Sarpa melihat keanehan yang terjadi dan setelah mengerahkan mata batinnya untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan ular-ular ghaib miliknya.


Resi Sarpa kencana lalu berdiri dan memakai kalungnya, sambil menatap ke arah rombongan Aria yang kini di kelilingi oleh ratusan ular ghaib yang berhasil ia panggil.


“Apa yang terjadi yang mulia Resi? Tanya Tumenggung Wirabumi.


Resi Sarpa kencana menjawab sambil menatap ke arah rombongan Aria


“Nyi Ratu ada di sini.”