Iblis Buta

Iblis Buta
Tewasnya Iwa Brengos


“Kisanak! Apa dia mampu melawan orang-orang Iwa Brengos? Tanya Ki Moro


“Kalau tidak mampu, ya tewas, Ki! Jawab Wangsa.


“Aneh! Siapa mereka, nyawa sepertinya dianggap mainan,” batin Ki Moro.


Sementara itu, Iwa Brengos menatap Buto Ijo dengan pandangan penuh nafsu membunuh.


“Siapa kau dan dari padepokan mana? Tanya Iwa Brengos, ketika bicara terlihat kumisnya yang besar bergerak-gerak.


Buto Ijo tidak memperdulikan pertanyaan Iwa Brengos, tetapi Buto Ijo malah menatap tubuh Iwa Brengos dari bawah sampai atas.


Buto Ijo tertarik setelah melihat kaki kanan Musuh terbuat dari kayu.


“Wak! Kakimu kenapa? Tanya Buto Ijo.


“Lebih baik kau khawatirkan dirimu, dari pada kau mengkhawatirkan kaki ku yang akan menghancurkan batok kepalamu itu,” Iwa Brengos berkata dingin ketika ia di panggil Iwak.


“Memang aneh kalau Iwak punya kaki, apalagi di pakai untuk membunuh segala, memangnya bisa? Tanya Buto Ijo.


“Bangsat! Serang dan cingcang tubuhnya untuk makanan ikan.


Hmm!


“Kau ingin memakan dagingku? Mimpi,” ucap Buto Ijo sambil berkata dengan nada dingin.


Puluhan anggota padepokan Elang emas yang merupakan bekas bajak laut, langsung mencabut senjata dan menyerang Buto Ijo.


Sriiing….Whut….Whut!


Golok, tombak cagak serta pedang melesat menyerang Buto Ijo dari berbagai arah.


“Berikan pikulanmu! Wangsa berkata, sambil menarik pikulan yang terbuat dari bambu dari tangan Ki Moro, lalu di lemparkan ke arah Buto Ijo.


Shing!


“Pakai ini, Jo! Teriak Wangsa.


Tap!


Buto Ijo menangkap pikulan dari Bambu milik Ki Moro, kemuddian pikulan menyambar ke arah kepala seorang, yang hendak menusuknya dengan pedang.


Plak!


Kepala anak buah Ki Iwa, mengeluarkan darah setelah terkena hantaman Buto Ijo.


Pikulan terus bergerak menghantam satu persatu anak buah Ki Iwa.


“Memakai senjata malah lama, musuh tidak mati-mati,” ucap Buto Ijo sambil melemparkan bekas pikulan ke arah anak buah Ki Iwa.


Plak!


Warna merah sebesar tiga jari terlihat di wajah musuh, setelah terkena lemparan pikulan bambu, yang di lakukan oleh Buto Ijo.


Setelah tidak memegang apa-apa, gerak Buto Ijo semakin leluasa, tinju serta tendangannya lebih mematikan karena mengandung ajian Brajamusti, daripada memukul dengan pikulan.


Whut….Whut!


Iwa Brengos memutar mutar senjatanya yang aneh, berupa jaring untuk menangkap ikan, di jaring milik Iwa Brengos terdapat banyak mata kail yang ujungnya sudah di beri racun.


Whut!


Jaring melebar berusaha menelungkup Buto Ijo, tetapi sang raksasa melihat benda mirip Jamur besar melesat, langsung menghindar, pohon Kecil yang ada di dekat Buto Ijo, langsung terabut bersama akar setelah masuk ke dalam jaring.


“Serang! Seru pemimpin Mereka, melihat Buto Ijo mundur.


Beberapa orang anak buah Iwa Brengos ada juga yang memakai jaring sebagai senjata, tetapi jaring yang mereka pakai, lebih pendek dan kecil daripada milik sang pemimpin.


Tali penghubung jaring di ikatkan di pergelangan tangan, sehingga si pemilik jaring tinggal melempar dan menarik jaring untuk menyerang musuh.


Jika jaring terbuka dan berhasil menjaring musuh, tangan langsung memelintir jaring sehingga mengerucut, agar musuh yang terkena jaring tewas seperti di sayat oleh benang-benang jaring, serta mata kail yang banyak terdapat di jaring.


Buto Ijo terus menghindari serangan Jaring musuh, apalagi jaring Iwa Brengos yang lebih panjang.


Bangsat!


“Senjata mereka susah di hadapi,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal, sambil terus menghindari serangan musuh.


Tetapi sambil bergerak, Buto Ijo mendekati anak buah Iwa Brengos, yang memakai senjata selain jaring.


Tombak cagak menusuk dada, tetapi Buto Ijo dengan sigap bergerak ke samping kiri, tubuhnya melesat dan berhasil meraih tangan si pemegang tombak.


Krek!


Pergelangan tangan yang memegang tombak langsung di patahkan oleh Buto Ijo, lalu mengambil tombak berlagak, dan mulai menyerang musuh yang memegang jaring.


“Bangsat! Teriak salah seorang murid Iwa Brengos saat tombak yang di pegang Buto Ijo masuk ke dalam jaring, setelah berada di dalam jaring, tombak di putar oleh Buto Ijo, kemudian tombak ia tarik sekuat tenaga.


Bret!


Tali-tali senar jaring rampung, terkena putaran tombak cagak, kini pergelangan tangan murid Iwa Brengos ikut berputar, karena ia berusaha menahan jaringnya agar tidak lepas dari tangan.


Krek!


Suara tulang patah terdengar, murid Iwa Brengos baru sadar, mempertahankan jaring adalah sebuah kesalahan, kemudian ia berusaha melepaskan tali yang terikat di pergelangan tangan.


Tapi terlambat, tangan yang memegang jaring langsung putus, urat di tangan tampang memancarkan darah segar.


Melihat musuh berteriak-teriak kesakitan, Buto Ijo langsung menusukan tombaknya ke perut musuh.


Bles!


Tak ada jeritan dari mulut Anak buah Iwa Brengos, saat tubuhnya terkena tombak cagak yang kini menjadi senjata Buto Ijo.


Wangsa tertawa melihat anak buah Iwa Brengos langsung melepaskan tali yang terhubung dengan jaring dari pergelangan tangan mereka.


Diam-diam Iwa Brengos juga melakukan hal yang sama.


Mereka baru sadar, senjata jaring yang mereka andalkan selama ini, jika berhadapan dengan tombak bercagak, kehebatan jaring akan sia-sia.


“Cepat bereskan, sebelum kita menyebrang ke Bali! Seru Aria.


Setelah mendengar teriakan Aria, Wangsa langsung mengambil tombak cagak milik anak buah Iwa Brengos yang tewas, kemudian melesat ke arah Anak buah Iwa Brengos yang tersisa.


Tombak yang di pakai Wangsa mulai berputar putar mencari sasaran, begitu pula dengan tombak Buto Ijo.


Iwa Brengos melesat ke arah Buto Ijo, kakinya yang terbuat dari kayu besi yang keras menghantam ke arah perut Buto Ijo.


Plak!


Jaring yang belum terbuka meluncur ke arah Kepala Buto Ijo.


Sang raksasa miringkan kepala menghindari serangan jaring musuh, kemudian tangan kiri Buto Ijo menghantam pergelangan tangan Iwa Brengos.


Karena tak mau tangannya patah, Iwak Brengos tarik tangannya, lalu tangan kiri menghantam dengan ilmu angin Laut memecah ombak.


Blar!


Buto Ijo yang posisinya dekat tak bisa menghindar, tubuhnya terpental seperti terseret oleh angin besar yang keluar dari tangan kiri Iwa Brengos.


“Mampus! Teriak Ketua cabang padepokan Elang emas, melihat Buto Ijo terpental.


Baju Buto Ijo robek di beberapa bagian, capingnya juga lepas akibat kerasnya dorongan angin yang berasal dari tangan kiri Iwa Brengos.


Iwa Brengos terkesiap melihat wajah Buto Ijo, ia teringat dengan keterangan anak buahnya tentang Buto Ijo yang sudah membunuh Sang ketua, si Elang betina.


“Kau….kau Buto Ijo? Tanya Iwa Brengos sambil tubuhnya bergerak mundur.


“Kau sudah tahu namaku,” jawab Buto Ijo.


“Celaka! Batin Iwa Brengos, mengetahui orang Jagad Buwana yang Paling di benci oleh Elang jantan ada di depannya.


Buto Ijo tak mau menunggu lama, apalagi Perlahan tapi pasti, anak buah Iwa Brengos satu persatu tewas oleh Wangsa.


“Rene, Ngos! Seru Buto Ijo sambil bibirnya menyeringai.


“Keparat! Ketua sudah bersiap untuk menghadapi kalian, tidak di sangka kalian malah datang sendiri kesini,” Iwa Brengos berkata.


“Mau datang atau tidak, nyawa Elang jantan hanya menunggu waktu, kalau benar ia mau membalas dendam kematian istrinya, kenapa ia tidak pernah muncul? Hanya bicara sana sini, janji pati.


Phuih!


Buto Ijo meludah, kemudian lanjut berkata.


“Sekarang kau bersiaplah!


Buto Ijo melemparkan tombak cagak ke arah Ki Iwa, mantan bajak laut tersebut menekan kaki kayunya ke tanah, tubuhnya setelah terdorong oleh kaki, kemudian melesat menghindari serangan, setelah berada di atas, jaring terbuka menuju ke arah Buto Ijo.


“Celaka! Tombaknya sudah aku lemparkan,” batin Buto Ijo.


Wangsa melihat jaring yang terbuka mulai meluncur ke arah Buto Ijo, langsung melemparkan tombak yang ia pegang ke arah Jaring.


Whut….Sret!


Tombak cagak menembus jaring dan berhenti setelah berada di tengah jaring yang terbuka.


Buto Ijo tersenyum ke arah Wangsa yang sudah menolongnya.


Tangan Buto Ijo meraih batang tombak, kemudian tombak di putar.


“Keparat! Batin Iwa Brengos saat menarik jaring agar menutup, tetapi terhalang oleh tombak Wangsa.


Buto Ijo mengerahkan tenaganya sambil memutar tombak, kemudian menarik tombak sekuat tenaga.


Bret!


Sebagian tali jaring jebol oleh tombak, Iwa Brengos langsung melepaskan tali jaring, kemudian lompat mundur.


Buto Ijo melemparkan kembali tombak berikut jaring yang tersangkut tombak ke arah Iwa Brengos.


Whut!


Iwa Brengos lompat sambil kakinya yang terbuat dari kayu berputar, kemudian menangkis tombak yang di lemparkan Buto Ijo.


Trak!


Tombak terpental, tetapi beberapa tali-tali jaring kusut, menyangkut di kaki Iwa Brengos yang terbuat dari kayu.


Iwa Brengos berusaha membersihkan kaki kayunya dari tali jaring, Buto Ijo melihat musuhnya lengah, mengambil tali jaring yang ada di dekatnya, lalu menarik tali terebut.


Iwa Brengos terkejut, saat tubuhnya seperti di tarik oleh kekuatan besar, bahkan beberapa mata kail menancap di kaki Iwa Brengos.


Buto Ijo lalu memutar jaring yang sebagian besar talinya ia pegang, tubuh Iwa Brengos ikut berputar.


Brak!


Tubuh mantan bajak laut itu terhempas ke tanah, saat Buto Ijo menghempaskan jaring ke arah tanah, kemudian melemparkan Jaring ke tubuh Iwa Brengos.


Wajah ketua cabang padepokan Elang emas semakin pucat, saat tali jaring membelit sebagian tubuhnya, berikut mata kail yang menancap.


Buto Ijo meraih kayu pendayung, kemudian menghampiri Iwa Brengos yang terus berusaha melepaskan jaring dari tubuhnya.


Plak….plak….plak!


Buto Ijo terus memukuli tubuh Iwa Brengos memakai kayu pendayung, sampai tubuhnya tak bergerak dan diam untuk selamanya.


Nelayan Kalipuro langsung sorak, setelah melihat Iwa Brengos tewas.


Mereka berebut menyalami dan memberi hormat kepada Buto Ijo dan Wangsa serta Aria yang mendekat bersama Suketi.


“Sekarang kalian bebas melaut, tanpa harus takut hasil tangkapan kalian di rebut oleh orang dari padepokan Elang emas,” Wangsa berkata di sambut oleh sorak sorai suara para nelayan.


“Jika orang-orang padepokan Elang emas ada yang bertanya, kalian katakan bahwa orang dari padepokan Jagad Buwana yang sudah membunuh Iwa Brengos,” ucap Wangsa.


“Hidup Jagad Buwana….Hidup Jagad Buwana,” teriak nelayan meng elu-elukan.


Buto Ijo, wangsa dan Aria kembali ke penginapan, karena di sana Selamet dan Ujang Beurit sudah menunggu dan bersiap.


Karena Aria memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, ke Tegaldlimo melalui Bali.


***


Di sisi pantai utara di daerah Banyuputih, seorang gadis tengah berdiri sambil menatap ke arah Laut.


Airmata sang gadis bercucuran membasahi pipi.


Sri Buwana Dewi menatap Ke arah laut dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepala, memikirkan perkataan sang kekasih.


Sri Buwana Dewi berteriak kencang sambil matanya menatap ke arah laut.


“Ibu! Berikan petunjuk untuk anakmu.”