
Pranaya, Andini serta Andira terkejut mendengar perkataan Aria.
“Mem….membunuh Tumenggung Wirayuda? Tanya Pranaya, seperti tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.
“Kenapa wajahmu? Tak percaya kami sanggup membunuh Tumenggung Wirayuda?
“Percaya….percaya tuan! Tetapi,” Pranaya tidak melanjutkan perkataannya.
“Tetapi apa? Tanya Buto Ijo.
“Tumenggung Wirayuda bukan orang sembarangan, selain ribuan prajurit setia yang berada di sampingnya, Tumenggung Wirayuda juga terkenal akan kesaktiannya,” jawab Pranaya.
“Kau kenal dengan Samarawijaya? Tanya Buto Ijo.
“Itu….itu kan Raja Kadiri! Jawab Pranaya.
“Besar mana kekuasaan Samarawijaya dengan Wirayuda? Tanya Buto Ijo.
“Tentu saja besar Prabu Samarawijaya, bahkan kekuasaan raja Mapanji Garasakan belum sanggup menyamai kerajaan Kadiri.
“Jadi apa hebatnya dengan Wirayuda? Ucap Buto Ijo.
Pranaya kerutkan kening mendengar perkataan Buto Ijo, “apa hubungannya dia membandingkan kekuasaan Prabu Samarawijaya dengan Tumenggung Wirayuda,” batin Pranaya.
“Kau pasti bingung dengan perkataan Buto Ijo,” Wangsa berkata, setelah melihat Pranaya seperti sedang berpikir.
Pranaya anggukan kepala mendengar perkataan Wangsa.
“Kami di Daha sudah membunuh Senopati Singalodra dari Kahuripan dan Tumenggung Adiguna dari Kadiri, kalau tidak melihat muka Tumenggung Wirabumi, sepertinya Prabu Samarawijaya juga sudah kami bunuh,” ucap Wangsa, sambil melirik ke arah Aria Pilong.
Wajah Pranaya, Andini serta Andira langsung pias mendengar ucapan Wangsa, tetapi dalam hati mereka, mereka tidak percaya dengan perkataan Wangsa.
Karena kerajaan memiliki ratusan ribu prajurit dan puluhan orang-orang sakti, jadi perkataan Wangsa dianggap sebagai bualan sang resi saja.
“Kapan kisanak akan melanjutkan perjalanan, setahu aku, sebelum sampai di Tumapel, harus melewati gunung Kawi.
“Gunung Kawi adalah tempat menyeramkan, begal, rampok dan mahluk halus disana terkenal kejam, terkadang para pedagang dan pelancong lebih memilih memutar ke arah Bromo jika hendak menuju Kahuripan,” Pranaya berkata.
Phuih!
“Apa yang di takuti di gunung Kawi? Semua yang mengganggu perjalanan kami, ya habisi,” Buto Ijo membalas perkataan Pranaya.
Pranaya akhirnya menarik napas panjang mendengar perkataan Buto Ijo, kemudian menatap Andira dan bertanya.
“Kau benar ingin ikut dengan mereka?
“Iya, ayah! Ada bibi bersamaku, ayah tidak usah khawatir,” jawab Andira.
“Baiklah, kalau keputusanmu sudah bulat,” balas Pranaya.
***
Satu hari mereka menginap di kediaman keluarga Kemala, sambil menunggu bilamana ada serangan susulan dari para perampok yang hendak mengambil alih gunung Kelud dari keluarga Kemala, tetapi para perampok yang di khawatirkan tidak muncul.
Aria lalu memutuskan besok mereka akan melanjutkan perjalanan.
Setelah berdebat panjang antara Buto Ijo dengan Wangsa, akhirnya mereka memutuskan naik kuda, Wangsa menemani Aria, Andini serta Andira masing-masing memakai kuda sendiri.
Pagi-pagi 3 ekor kuda melesat turun dari lereng gunung kelud.
Andini serta Andira hanya bisa gelengkan kepala melihat Buto Ijo terus berlari mengikuti mereka yang berkuda, walau kuda di pecut dan lari seperti di kejar setan, tetapi Buto Ijo tetap berlari di samping kuda yang di tunggangi Wangsa.
Andini tahu jalan yang menuju arah Tumapel sehingga mereka tidak salah jalan, tetapi melewati gunung Kawi memang satu tantangan tersendiri, karena semakin mereka naik, hutan yang mereka masuki semakin lebat.
Melihat ada kali kecil dengan air jernih dan batu-batu kecil dan besar di tengah kali, Wangsa memutuskan untuk istirahat, di dekat batu besar yang di belakang batu terdapat pohon rindang sehingga mereka terhindar dari terik panas matahari.
Seperti hari-hari kemarin, setelah memutuskan istirahat, Andini serta Andira membersihkan lokasi yang akan menjadi tempat mereka duduk dan istirahat.
Setelah tempat bersih, Andini langsung membentangkan kain, untuk menaruh makanan, sedangkan Andira mengisi wadah air, untuk mereka minum.
Andini dan Andira menyiapkan makan, buah serta air untuk minum.
Aria berdiri lalu melangkah ke arah kali kecil yang ada di depan mereka.
Andini mengikuti Aria, “kakak ketiga! Apa kakak ingin mandi atau membasuh wajah? Biar Andini bantu,” Andini berkata.
“Tidak usah! Aku bisa sendiri,” jawab Aria tanpa menoleh.
Andini kembali ketempat istirahat setelah mendengar perkataan Aria, raut wajahnya tampak kecewa.
Aria membuka caping, perlahan mengambil air dengan kedua tangan lalu mulai membasuh wajahnya.
Andira langsung menepak tangan Andini, melihat caping Aria berada di sisi pemuda itu.
“Bi, coba lihat! kakak ketiga membuka capingnya,” bisik Andira.
Andini anggukan kepala mendengar bisikan Andira.
Kedua gadis itu sangat penasaran, mereka yakin orang yang mereka panggil kakak ketiga masih berusia muda, tetapi wajahnya sangat susah untuk di lihat karena selalu tertutup caping, jika caping kakak ketiga hendak di buka, kedua gadis selalu di suruh menjauh dari Aria.
“Ada apa kalian bisik-bisik? Tanya Buto Ijo sambil menatap tajam ke arah Andira.
“Kami ingin membantu kakak ketiga, tetapi kakak ketiga selalu menolak,” jawab Andira.
“Kenapa kalian harus bingung, bukankah itu lebih baik! Jadi kalian tidak perlu repot lagi,” Wangsa ikut bicara setelah mendengar perkataan Andira.
Semuanya diam setelah melihat Aria datang dan duduk.
Andini langsung memberikan cangkir air dari bambu kepada Aria, sedangkan Andira menyodorkan buah-buah an.
Tetapi Aria diam dan tak mengambil pemberian kedua gadis itu.
“Apa kita sudah berada di daerah gunung Kawi? Tanya Aria.
“Kakak ketiga benar! Kita sudah berada di gunung kawi, setelah melewati lereng timur, kemudian turun gunung, akan ada jalan yang menuju Tumapel,” jawab Andini.
Aria anggukan kepala mendengar jawaban Andini.
“Kau sudah pulih sayang? Ucap Aria.
“Apa dia berkata kepadaku? Andini bertanya tanya dalam hati.
Andini sangat terkejut, sampai lompat mundur melihat asap hijau keluar dari tubuh Aria.
“Bi! Asap apa itu? Tanya Andira.
“Aku juga tidak tahu, tadi kakak ketiga bilang, “kau sudah pulih sayang,” tiba-tiba asap muncul dari tubuh kakak ketiga,” jawab Andini.
“Mungkin kakak ketiga suka sama bibi, asap itu muncul dari rasa suka kakak ketiga,” Andira membalas perkataan sang Bibi.
“Jangan suka ngaco,” balas Andini.
Raut wajah keduanya semakin kaget setelah melihat asap hijau mulai membentuk seperti tubuh wanita berparas sangat cantik, dengan memakai kebaya hijau, di kepala wanita itu tampak sebuah mahkota bertahtakan mutiara.
“Hormat Buto Ijo untuk Nyi Selasih,” ucap Buto Ijo.
Nyi Selasih anggukan kepala melihat Buto Ijo.
Wangsa juga memberi hormat, karena ia pernah di beritahu siapa Nyi Selasih, oleh penjaga barat.
Nyi Selasih tersenyum sambil anggukan kepala.
“Selamat bertemu Resi Wangsanaya,” ucap Nyi Selasih.
“Salam hormat Wangsa untuk Nyi Ratu, penguasa gunung Lawu,” balas Wangsa.
Nyi Selasih tertawa pelan mendengar perkataan Wangsa, memperlihatkan giginya yang putih dan berbaris rapi di balik bibir dan senyuman indah Nyi Selasih.
“Aku sudah bukan penguasa gunung Lawu, Resi, Raden lah yang menjadi raja dari semua mahluk di gunung Lawu,” Nyi Selasih membalas perkataan Wangsa.
“Jadi ini adik ke empat dan adik kelima? Tanya Nyi Selasih sambil menatap Andini dan Andira.
“Be….Benar Nyi Ratu,” jawab Andini dengan nada takut melihat Nyi Selasih.
Sedangkan Andira tidak berani menatap Nyi Selasih, kepalanya selalu menunduk.
“Kalian tidak usah takut kepadaku, selama beberapa hari ini aku istirahat untuk memulihkan tenaga, setelah tenagaku pulih, baru bisa keluar dan berkenalan dengan kalian,” Nyi Selasih berkata setelah melihat kedua gadis seperti takut kepadanya.
Nyi Selasih lalu berkata kembali, kali ini sambil menggenggam tangan Aria Pilong, dari nada suaranya, Nyi Selasih tampak cemas, ketika berkata.
“Suami harus hati-hati! Di gunung Kawi ada satu mahluk yang suka usil dan selalu saja mengganggu manusia, mahluk itu di sebut Iblis Kawi.”
Andini dan Andira kejut bukan kepalang mendengar perkataan Nyi Selasih, bukan tentang Iblis Kawi yang membuat mereka terkejut, tetapi saat Nyi Selasih menyebut Aria dengan sebutan Suami.
Andini sampai menatap ke arah Nyi Selasih, seperti tak percaya mendengar perkataan Mahluk tak kasat mata itu.
Tanpa berpikir, tiba-tiba Andira berkata.
“Nyi Ratu tidak usah khawatir, ada kakak pertama dan kedua yang akan melindungi kakak ketiga,” Andira berkata.
Nyi Selasih tertawa, tangan kanan sampai menutup mulutnya yang terbuka, mendengar perkataan Andira.
“Adik kelima benar! Masih ada kakak kedua dan pertama, karena suamiku buta jadi tidak memiliki kemampuan untuk melawan musuh,” Nyi Selasih membalas perkataan Andira.
“Jangan bicara sembarangan,” ucap Buto Ijo membentak Andira.
Andira diam mendengar bentakan Buto Ijo, tubuhnya langsung merapat ke tubuh sang Bibi.
“Iblis Kawi adalah Raja kera yang merajai kawasan gunung Kawi, sipatnya mau menang sendiri, apapun yang ia inginkan harus terlaksana, jika tidak di gubris! dia akan mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ia lihat,” lanjut perkataan Nyi Selasih.
“Tetapi ada satu kelemahan Iblis Kawi, dia selalu menuruti apapun keinginan anak semata wayangnya itu, dahulu aku pernah bertemu dengan anaknya, waktu itu anak iblis Kawi masih kecil, tetapi sekarang pasti sudah besar.”
“Kapan Nyi Ratu bertemu dengan anak Iblis Kawi? Tanya Wangsa.
“Sekitar 200 tahun lalu,” jawab Nyi Selasih.
Andini serta Andira kaget mendengar ucapan 200 tahun, entah berapa usia Nyi Selasih sekarang ini, pikir mereka berdua.
Setelah memberi gambaran tentang iblis Kawi.
Nyi Selasih lalu berbisik kepada Aria.
“Suami aku rindu padamu.”
“Aku juga rindu padamu, Nyi,” balas Aria.
Perlahan tubuh Nyi Selasih memudar dan masuk ke tubuh Aria Pilong, setelah mengucapkan kata-kata mesra di telinga suaminya.
Setelah Nyi Selasih menghilang, Aria lalu berdiri, kemudian berkata.
“Aku ada urusan sebentar! Kalian tunggu aku di sini, jangan kemana-mana,” ucap Aria.
“Silahkan Raden,” balas Buto Ijo.
Setelah berkata, Aria di bantu tongkatnya lalu melangkah pergi.
Setelah Aria pergi, Wangsa berkata kepada Buto Ijo.
“Kau tidak ikut? Tanya Wangsa.
“Untuk apa? Buto Ijo balik bertanya.
“Bukankah kau ingin tahu cara bikin anak? Ucap Wangsa.
Rona wajah Andini dan Andira berubah merah, mendengar perkataan Wangsa.
“Kau saja! Aku tidak mau mati,” jawab Buto Ijo.
Sementara itu, ratusan tombak di atas gunung Kawi.
Se ekor kera besar berwarna hitam, bermata merah, tampak menyeringai mempelihatkan gigi taring panjang di sisi kiri dan kanan mulutnya.
Hidung kera besar itu mengendus endus bau angin yang baru saja melewati hidungnya.
Hmm!
“Ada bau Manusia.”