Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 73 : Perjodohan Masa Lalu


“Raden Aria Pilong, tetapi kalian memanggil dia Kakak ketiga,” ucap Buto Ijo.


Hati kedua gadis itu entah kenapa berdebar debar setelah melihat Aria tanpa menggunakan caping.


“Bi! Ternyata kakak ketiga sangat tampan,” bisik Andira.


Rona wajah Andini merah mendengar perkataan Andira.


Wangsa dan Iblis Kawi sama-sama duduk sila untuk memulihkan tenaga dalam mereka yang terkuras.


Kera kecil tampak berdiri di dekat Iblis Kawi, raut wajah dan mata kera itu tampak cemas melihat keadaan Iblis Kawi.


Aria jalan menghampiri Buto Ijo, lalu bertanya.


“Apa yang terjadi? Tanya Aria.


“Kera itu marah-marah, karena anaknya sudah di ganggu oleh Wangsa,” ucap Buto Ijo.


Setelah berkata Buto Ijo menoleh kepada Andini.


“Cepat ambil baju untuk Raden.”


Kembali wajah Andini dan Andira merah, karena dari tadi mereka terus menatap Aria yang bertelanjang dada, tanpa berpikir mengambil baju untuk mengganti baju Aria yang hancur akibat hawa tenaga dalam.


Mereka berdua lalu mencari buntelan yang berisi pakaian, dan ternyata barang-barang yang mereka taruh kini sudah tidak ada di tempat, menghilang akibat pertempuran antara Wangsa dengan Iblis Kawi.


“Perbekalan kita hilang entah kemana,” ucap Andini.


“Kalian cari, jangan diam saja,” ucap Buto Ijo.


“Sudahlah, nanti kita cari! Lebih baik kalian berdua periksa kakak pertama, luka dalamnya parah atau tidak,” Aria ikut bicara.


Andini dan Andira hendak menghampiri Wangsa, tetapi sang Resi sudah berdiri, begitu pula dengan Iblis Kawi.


Wajah iblis Kawi tetap kelam, begitu pula dengan Wangsa, keduanya saling tatap dengan pandangan mata penuh nafsu membunuh.


Nyi Selasih keluar dari tubuh Aria, lalu menatap tajam ke arah Iblis Kawi.


Sebelum Nyi Selasih bicara, kera kecil lompat-lompat sambil menari lalu berlari dan lompat ke arah Nyi Selasih.


Nyi Selasih tersenyum, Kera kecil lalu memeluk tubuh Nyi Selasih.


“Kau masih ingat padaku Suketi? Tanya Nyi Selasih.


“Tentu saja Suketi ingat sama Nyi ratu,” balas kera kecil yang di panggil Suketi.


“Kau turun dulu sebentar, aku mau bicara dengan ayahmu.


Suketi dari tubuh Nyi Selasih lompat ke arah Buto Ijo, lalu nangkring di bahu Buto Ijo.


Saat tangan Buto Ijo bergerak hendak menangkap Suketi, Nyi Selasih terlebih dahulu berkata kepada Buto Ijo.


“Jangan ganggu dia.”


Buto Ijo langsung diam dan membiarkan Suketi duduk di bahu Buto Ijo.


“Iblis Kawi! Sipat mu banyak berubah dan tidak seperti dulu, kalau kau seperti ini terus, dengan terpaksa aku akan menyuruh suamiku untuk memusnahkan kau untuk selamanya, karena kau sudah sering mengganggu manusia dan bertindak semaumu,” Nyi Selasih berkata dengan nada suara dingin, sambil menatap tajam ke arah Iblis Kawi.


“Aku terpaksa melakukan ini Nyi, karena aku di ancam, jika tidak mengganggu orang yang melintas di gunung Kawi, Suketi akan di bunuh oleh mereka,” balas Iblis Kawi.


“Apa Larang tapa yang sudah mengancam mu? Tanya Nyi Selasih.


“Benar Nyi,” balas Iblis Kawi sambil menarik napas panjang.


“Aku tahu kau sangat sayang dengan Suketi, tetapi ini seperti pisau bermata dua untukmu dan Larang tapa tahu kelemahanmu itu, sehingga dia mengancam kau melalui Suketi, agar kau mau menuruti keinginannya.


“Jadi apa yang harus kulakukan Nyi? Tanya Iblis Kawi.


“Kau harus merelakan Suketi, agar kau bisa melawan musuh yang hendak mengobrak abrik gunung Kawi, karena gunung Kawi merupakan pintu masuk dari timur menuju barat, karena untuk ke depannya pirasatku mengatakan, mahluk ghaib dari wilayah timur akan banyak menyebrang ke daerah barat,” ucap Nyi Selasih.


Raut wajah Iblis Kawi berubah mendengar perkataan Nyi Selasih.


“Jadi benar pertemuan besar yang diadakan oleh resi Lanang jagad sewaktu berkumpul di gunung Lawu, tentang kekacauan yang terjadi di tanah Jawa? Tanya Iblis Kawi.


“Benar! Kekacauan itu bukan saja terjadi di dunia manusia, tetapi dunia kita juga sudah di acak-acak oleh mereka, kini panglima hitam sudah bergabung dengan Larang tapa, sementara penjaga barat bergabung dengan suamiku.


“Loreng geni juga sudah tewas oleh suamiku, tetapi sayang Larang tapa berhasil melarikan diri, dan kini ia berlindung di bawah naungan Kahuripan.


“Kami sekarang hendak ke gunung Semeru menemui eyang Lanang jagad untuk meminta petunjuk, langkah apa yang harus kami tempuh untuk mengatasi masalah ini,” lanjut perkataan Nyi Selasih.


Iblis Kawi anggukan kepala, dari mata pemuda yang sudah memisahkan dirinya ketika ia beradu tenaga dalam dengan Wangsa, Iblis Kawi tahu bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan dan keyakinannya terbukti, setelah mendengar cerita Nyi Selasih.


“Tetapi Suketi adalah satu-satunya putri dan penerusku Nyi, bagaimana bisa aku harus merelakan Suketi,” balas Iblis Kawi.


“Relakan Suketi untuk ikut bersama kami, agar kau bisa lebih kosentrasi untuk mempertahankan kerajaan mu ini, karena aku lihat Suketi sudah menemukan jodoh yang cocok untuknya, ucap Nyi Selasih sambil melirik ke arah Buto Ijo.


Mendengar perkataan Nyi Selasih, Raut wajah Suketi tampak gembira, begitu pula dengan Iblis Kawi, karena dari dulu ia ingin mencari jodoh yang tepat untuk putrinya, tetapi belum ada jodoh yang tepat, cocok dan di sukai oleh Suketi.


“Bagaimana? Tanya Nyi Selasih sambil tersenyum.


Gunung Kawi serta ribuan kera siluman siap menerima perintah dari gunung Lawu, jika Nyi Selasih mau mencarikan jodoh yang tepat untuk putriku.


Suketi anggukan kepala mendengar perkataan Nyi selasih.


“jika aku mempunyai seorang putra, putraku akan aku jodohkan denganmu,” Ucap Suketi.


Nyi Selasih anggukan kepala mendengar perkataan Suketi, lalu bertanya, “seperti apa warna kulit orang yang bicara padamu? Tanya Nyi Selasih.


Suketi yang duduk di bahu Buto Ijo lalu menarik kulit leher raksasa bertubuh hijau itu.


“Diam kau! Ucap Buto Ijo, ketika kulit lehernya di tarik-tarik oleh Suketi.


Nyi Selasih tersenyum, kemudian berkata kembali, kini kau sedang duduk di bahu putra orang gagah itu.”


Suketi langsung jingkrak, tubuhnya lompat jungkir balik di bahu Buto Ijo, tangan kecilnya langsung memeluk leher Buto Ijo, lalu bibir kera kecil berbulu hitam bernama Suketi, langsung mencium pipi Buto Ijo.


“Bangsat! Apa yang kau lakukan? Ucap Buto Ijo sambil tangannya mendorong tubuh Suketi.


Suketi langsung terpental, terkena dorongan tangan Buto Ijo.


“Buto Ijo! Kau berjodoh dengan Suketi, Naga hijau sudah meramalkan akan terjadi hari ini, sehingga waktu itu dia bicara dengan Suketi, tentang perjodohan kalian.


“Jadi….jadi ini adalah putra Naga hijau? Tanya Iblis Kawi.


“Benar! Jawab Nyi Selasih.


Wangsa mendengus mendengar perkataan Nyi Selasih, lalu ikut bicara.


“Pantas saja kalau begitu, dia yang mengganggu Suketi, tetapi aku yang malah di salahkan olehnya,” ucap Wangsa dengan nada kesal.


“Diam kau! Teriak Buto Ijo, kemudian berkata kembali


“Jadi….jadi aku di jodohkan dengan kera oleh si tua bangka? Tanya Buto Ijo.


“Yang sopan ke orang tua, Jo! Seru Wangsa.


“Diam kau! Ucap Buto Ijo sambil menunjuk Wangsa.


Setelah membentak Wangsa, Buto Ijo kembali menatap Nyi Selasih.


“Nyi Ratu! Aku tidak bisa menerima perjodohan ini,” ucap Buto Ijo.


“Apa alasanmu? Tanya Nyi Selasih.


“Dia….dia, monyet sebesar ini,” ucap Buto Ijo sambil memperlihatkan kelingkingnya, “sedangkan aku besar.”


“aku manusia sedangkan dia kera, ini tidak mungkin,” jawab Buto Ijo.


“Coba saja dulu,” Wangsa ikut bicara.


“Diam kau! Aku tidak mau coba-coba, Kalau mulutmu tidak bisa diam, nanti ku pecahkan batok kepalamu,” ucap Buto Ijo, kali ini nadanya penuh hawa amarah.


“Kenapa tidak mungkin! Kau manusia setengah siluman,” balas Nyi Selasih.


“Aku siluman, bisa menikah dengan Raden! Lantas kenapa kau tidak bisa? Lanjut perkataan Nyi Selasih.


“Tapi….tapi dia! Ucap Buto Ijo sambil menunjuk Suketi, “Monyet”


Wangsa sampai membalikkan tubuh, tak kuat menahan tawa mendengar dan melihat ekspresi wajah Buto Ijo ketika menunjuk Suketi.


Suketi tundukkan kepalanya mendengar perkataan Buto Ijo, airmatanya menetes keluar dari dua matanya yang bulat.


Perlahan tubuhnya membesar dan berubah menjadi seorang gadis berkulit kecoklatan, rambut gadis itu panjang dan menutupi wajahnya yang tengah menunduk.


Iblis Kawi menatap sedih ke arah putrinya.


Buto Ijo terkejut melihat perubahan wujud Suketi.


“Berdiri dan lihat calon jodohmu! Apa benar Buto Ijo tega menolak gadis secantik mu,” Nyi Selasih berkata sambil tersenyum.


Suketi menuruti perkataan Nyi selasih, Suketi berdiri dengan memakai kebaya hitam menempel ketat tubuh Suketi yang berisi, wajah hitam manis dengan mata bulat dan bibir yang indah, tampak menatap Buto Ijo.


“Bagaimana Buto Ijo? Tanya Nyi Selasih.


Mendengar tak ada jawaban, dari Buto Ijo yang tengah menatap Suketi tanpa berkedip.


Nyi Selasih berkata kembali.


“Kau dengar tidak perkataanku?


“Apa….Nyi Ratu berkata apa? Tanya Buto Ijo dengan suara gugup.


“Kau setuju tidak perjodohan ini? Tanya Nyi Selasih.


“Aku….Aku coba dulu,” jawab Buto Ijo.


Wangsa tertawa mendengar perkataan Buto Ijo, kemudian ikut Bicara


“Nikah dulu, tolol! baru kau coba.”