
Semua langsung bersiap setelah mendengar perkataan Aria.
Buto Ijo langsung lari keluar, lalu berdiri di depan penginapan sambil menatap seorang kakek tua setengah bungkuk, tangannya memegang tongkat dengan ujungnya ada hiasan kepala tengkorak kecil.
Raut wajah kakek itu terlihat bengis dan keseraman si kakek bertambah dengan tampilannya yang serba merah, dari warna kulit, rambut, jenggot serta kumis dan juga mata semuanya berwarna merah, itu yang membuat Buto Ijo tertegun setelah berada di luar.
Aria tak lama kemudian berdiri di sisi Buto Ijo, sedangkan Singabarong raut wajahnya berubah pucat setelah melihat siapa yang datang, begitu pula dengan penguasa gunung Batok, Resi Jayaprana.
“Tak kusangka! Rupanya kau yang berada di balik padepokan Jagad Buwana,” kakek serba merah berkata, sambil menatap tajam ke arah Singabarong.
“Memangnya kenapa? Aku sudah bukan murid Kalasrenggi,” balas Singabarong.
“Jadi kau ketua Jagad Buwana? Tanya Kakek serba merah dengan tatapan tajam.
Buto Ijo sangat kesal karena merasa tak di anggap, sudah berdiri di depan si kakek, tetapi si kakek malah bicara dengan Singabarong yang ada di belakangnya.
Buto Ijo tanpa berkata langsung lari, kemudian memukul ke arah tubuh Kakek serba merah.
Tangan Kakek serba merah, bergerak memutar di depan dada, bulatan sinar berwarna merah tampak di depan dada yang akan di hantam oleh Buto Ijo.
Blam!
Ledakan keras terdengar, Buto Ijo sampai mundur dua langkah, setelah menghantam sinar merah yang keluar dari tangan si kakek.
“Hebat juga kau! Ucap Buto Ijo sambil menyeringai, raut wajah Buto Ijo tampak penasaran karena si kakek bisa membuatnya mundur.
“Mundur, Jo! Seru Wangsa.
Diam kau! Seru Buto Ijo mendengar perkataan wangsa.
Aria memberi isyarat tangan kepada Buto Ijo untuk mundur.
Setelah melihat isyarat tangan Aria, Buto Ijo lalu mundur.
“Aku bukan ketua Jagad Buwana,” Singabarong menjawab pertanyaan yang tadi tertunda oleh serangan Buto Ijo.
“Mana ketua Jagad Buwana? aku mewakili partai Matahari ingin salam kenal,”
“Kalabenda! Kalau kau mewakili partai Matahari, Itu artinya Kalasrenggi adalah ketua partai Matahari? Tanya Singabarong.
“Aku tak ada urusan dengan bawahan,” jawab Kalabenda dengan nada dingin.
“Bangsat!? Teriak Singabarong
Singabarong hendak melesat, tetapi tangannya sudah di cekal oleh Nyai Kidung kencana.
Aria maju selangkah di bantu tongkatnya dan berdiri di depan Kalabenda.
Kalabenda kerutkan keningnya melihat Aria berada di depannya.
“Siapa kau? Tanya Kalabenda.
“Aku ketua Jagad Buwana,” jawab Aria dengan nada dingin, kemudian balik bertanya.
“Ada apa kau mencari ku?
Kalabenda menatap Aria dari bawah sampai atas, lalu tongkat yang di pegang Aria.
Hmm!
“Rupanya Kau yang akhir-akhir ini menggemparkan tanah Jawa! Apa kau yang di sebut Iblis Buta? Kalabenda balik bertanya.
“Kalau sudah tahu, untuk apa kau bertanya,” jawab Aria.
Di sisi Lain, Raden Kusumo sangat terkejut mendengar sebutan Iblis buta, yang menurut keterangan anak buahnya sudah menggemparkan tanah Jawa, karena membunuh beberapa tokoh kerajaan.
Raden Kusumo tidak terlalu menanggapi, karena ia pikir itu adalah guyonan anak buahnya saja, mana ada orang buta, sakti?
Tetapi setelah Raden Kusumo mendapat berita dari sahabatnya di kerajaan Kadiri, bahwa Raja Samarawijaya pernah mau di bunuh oleh si Iblis buta, baru Raden Kusumo percaya.
“Tolol….dasar tolol! Kenapa aku tidak ingat dengan cerita anak buahku tentang iblis buta. Kalau saja aku tahu dari awal, Aria adalah si iblis buta. Aku pasti setuju Anjani menikah dengan ketua,” batin Raden Kusumo sambil menyesali kebodohannya sendiri.
“Aku ingin menawarkan kerja sama dengan Jagad Buwana,” ucap Kalabenda kepada Aria.
“Aku tidak mau membicarakan kerjasama dengan bawahan! Balas Aria dengan nada dingin.
Hmm!
“Sombong sekali! Apa kau mengandalkan orang-orang di belakangmu untuk menghadapi partai Matahari dan padepokan Elang emas? Kau mimpi,” Kalabenda berkata, membalas perkataan Aria.
“Mereka memang sudah mempunyai nama, tetapi bagi kami dari partai Matahari, mereka seperti telur hendak melawan batu,” lanjut perkataan Kalabenda.
“Orang yang banyak bicara, biasanya tak ada isi,” balas Aria.
“Bangsat! Kalabenda tidak dapat menahan emosi mendengar ejekan Aria.
Tongkat merahnya menyambar ke arah kepala Aria dari samping.
Whut….Trak!
Aria menangkis serangan Tongkat Kalabenda.
Kedua tongkat beradu, telapak kiri Kalabenda menghantam ke arah dada Aria.
Aria melihat telapak tangan kiri musuh bergerak, telapak kirinya balas menghantam.
Blam!
Suara ledakan tenaga dalam terdengar setelah telapak mereka bertemu, keduanya mundur selangkah, lalu tongkat kembali melesat saling sambar.
“Benar-benar iblis buta, kemana saja aku pergi, dia seperti dapat melihatku,” batin Kalabenda.
Kalabenda yang terkenal dengan panggilan iblis merah karena sipatnya yang kejam, menyerang semakin cepat.
Aria dengan ilmu tongkat Sedhagitik terus melayani serangan tongkat tengkorak.
Tongkat terus menyambar nyambar, tetapi Aria dengan jurus tongkatnya balik menyerang.
Tongkat menusuk perut, tetapi Kalabenda menangkis tongkat dari samping.
Trak!
Tangan kiri Aria langsung menghantam ke arah perut, ajian Mawageni menghantam kepala.
Kalabenda bergerak ke kanan menghindari serangan Aria.
Blam!
Suara Ajian Mawageni menghantam tanah terdengar, saat pukulan Aria tidak menemui sasaran.
Kalabenda mundur, lalu menancapkan tongkatnya.
Kedua tangan Kalabenda setelah berputar di depan dada, setelah tercipta bulatan sinar merah menyala, Kalabenda kemudian langsung mendorong ke arah Aria.
Shing!
Ajian Bola Matahari melesat, sinar merah berbentuk bulat menyambar ke arah Aria Pilong.
Aria menancapkan tongkat, lalu menarik tangan dari atas, berusaha menyedot hawa Alam, setelah kedua tangan berputar di depan dada, sinar berbentuk bulat seperti cakra, tercipta. Aria lalu mendorong ajian Cakra Candhikkala ke arah pukulan Kalabenda.
Blam!
Suara ledakan terdengar, dua sinar merah bertemu dan saling dorong.
Sinar merah api berwarna bulat dengan warna merah seperti warna lembayung, dengan bulatan berbentuk Cakra bertemu dan saling dorong.
Aria terus menahan, saat ajian musuh terus mendesak!
Begitu pula dengan Kalabenda yang terus mendorong ajian Bola Matahari dengan sekuat tenaga, menurut keterangan sang majikan, Iblis buta masih berusia muda sudah pasti tenaga dalamnya belum terlalu tinggi dan berada di bawahnya.
Tetapi keringat sudah mengucur dari wajah Kalabenda, ajian Bola Matahari masih belum bisa mendesak ajian Cakra Candhikkala milik musuh.
“Kurang ajar! Tenaga serta ajian yang dia miliki sanggup menahan Ajian Bola Matahari milikku,” batin Kalabenda.
Kaki kanan Kalabenda menjejak tanah, berusaha menambah tenaga dalam ke dalam Ajian Bola Matahari,
Ajian berbentuk bulat semakin besar dan hawa panas yang di hasilkan semakin lama semakin bertambah.
Orang-orang Jagad Buwana mulai menjauh, karena dari kedua ajian yang saling dorong hawa panas membakar apa saja yang berada di dekatnya.
Pohon-pohon kecil mulai terbakar, batu kerikil yang kuat bertahan berubah menjadi merah membara, yang tidak kuat menahan panas langsung hancur jadi debu.
Perlahan bola matahari milik Kalabenda mulai mendesak Ajian Cakra Candhikkala.
Aria yang bisa melihat aura tenaga dalam musuh memang sengaja melepaskan tangan kirinya yang ikut mendorong, kemudian dengan satu tangan kanan berusaha menahan, itu sebabnya bola matahari milik Kalabenda terus mendesak ajian Cakra Candhikkala.
Aria dengan tangan kiri merapalkan ajian Rengkah gunung, lalu telapak kirinya menghantam ke tanah.
Brak!
Bayangan putih melesat keluar dari tubuh Aria dan bergerak cepat menuju ke arah Kalabenda.
Kalabenda terkejut, setelah sisi matanya melihat bayangan putih mendekat.
Bayangan putih merupakan Sukma Aria yang hendak menghantam dengan ajian Rengkah gunung.
Kepalan tangan dari Sukma Aria berubah merah, kemudian menghantam kepala Kalabenda dari sisi kanan.
Kalabenda terkejut, kemudian melepaskan dorongan tangan kanan yang mulai berhasil mendorong ajian Cakra Candhikkala milik Aria Pilong.
Tangan kiri Kalabenda menangkis serangan Ajian Rengkah gunung.
Blam!
Tubuh Kalabenda bergoyang, dadanya terasa panas seperti di himpit gunung besar, dari mulutnya tampak lelehan darah segar.
Kosentrasi nya langsung buyar.
Aria setelah melihat Aura tenaga dalam Kalabenda mulai menurun tidak seperti sewaktu pertama kali datang.
Kaki kanan Menghentak tanah.
Teriakan kencang keluar dari mulut Aria, setelah selesai teriak, perlahan tangan kirinya di tarik, kemudian langsung mendorong berusaha memberi tambahan tenaga dalam dan tekanan lebih besar kepada ajian Cakra Candhikkala.
Sret!
Bola cakra dari Ajian Cakra Candhikkala langsung mendesak Ajian Bola matahari milik Kalabenda.
Kalabenda terkejut, saat melihat kedua ajian berhawa panas berbalik menghantam ke arah dirinya.
Untuk menghindar dirinya sudah terluka dalam akibat himpitan ajian Rengkah gunung, kakinya serasa di paku dan tubuhnya tak bisa bergerak.
Kalabenda hanya bisa pasrah, melihat dua sinar melesat menghantam dirinya.
Blam!
Satu bola berbentuk merah menghantam ke arah Ajian Cakra Candhikkala, kedua sinar merah yang hendak menghantam tubuh Kalabenda berbelok setelah di hantam sinar merah.
Satu rumah kecil langsung hancur berantakan, terkena ajian yang melenceng dari sasaran.
Aria terkejut karena, saat matanya berusaha melihat aura yang sudah menolong Kalabenda.
Bola kecil berwarna merah melesat ke arah tangan kanan kiri Aria Pilong yang sedang menggunakan ajian Rengkah gunung.
Shing….Blam!
Jerit tertahan terdengar dari mulut anggota Jagad Buwana melihat tangan kiri Aria sebatas siku hancur.
Wangsa, Singabarong, Buto Ijo, langsung melesat ke arah Aria.
Tetapi suara Aria terdengar, sangat dingin ketika memerintahkan anak buahnya mundur.
“Mundur! Ini bukan urusan kalian,” ucap Aria, wajahnya tampak berkerut menahan sakit, akibat tangan kirinya hancur terkena bola kecil berwarna merah dari ajian Bola matahari.
Aria melihat Kalabenda tengah sujud di depan seorang Pria berkepala botak, dengan telinga runcing dan hidung bengkok ke bawah seperti paruh burung, dagu runcing dengan sorot mata tajam, jika menyeringai gigi taringnya terlihat lebih panjang dari manusia pada umumnya, membuat orang yang di pandang oleh pria yang semuanya serba merah, tidak berani lama-lama balas menatap pria itu.
Raut wajah Singabarong berubah pucat setelah melihat siapa yang datang menyelamatkan Kalabenda.
“Akhirnya dia datang juga,” batin Singabarong.
Pria serba merah kedua selain Kalabenda, menatap tajam Aria Pilong.
Dahi pria serba merah berkerut, melihat hancuran daging tangan Aria yang sudah menjadi menjadi serpihan, perlahan bergerak dan berkumpul menjadi satu.
Setelah daging menyatu dan membentuk tangan.
Tangan kiri Aria yang putus dan berada di tanah bergerak-gerak, kemudian melesat ke arah lengan kiri di badan yang putus, kemudian menyambung kembali.
Hmm!
“Ajian Pancasona,” desis lirih keluar dari mulut pria serba merah, setelah melihat tangan Aria yang hancur sudah kembali seperti semula.
Setelah berhasil menenangkan hatinya yang terkejut melihat Aria memiliki ajian pancasona, Pria serba merah yang terlihat seperti bukan manusia, kemudian berkata kepada Aria Pilong.
“Aku Kalasrenggi! Pemimpin partai Matahari.”