
Kurang lebih satu tahun telah berlalu sejak pertarungan di Alas Purwo.
Padepokan Jagad Buwana berdiri megah dan namanya terkenal serta di takuti karena sudah berhasil menumpas Penguasa Siluman Alas Purwo.
Padepokan Jagad Buwana membuat markas mereka di kaki gunung Lawu dan membuka hutan serta membuat kota kecil untuk di jadikan pusat padepokan Jagad Buwana.
Aria tidak mau mengganggu Istana kali mati di puncak gunung Lawu, karena istana kali mati adalah tempat istirahat buat Nyi Selasih.
Kota kecil yang lumayan megah, karena di biayai oleh harta yang terdapat di gunung Kawi, sedangkan Raden Kusumo mendatangkan tukang ahli bangunan terbaik dari berbagai Kota.
Kini pusat padepokan Jagad Buwana berdiri megah, sedang menyiapkan pesta perayaan untuk meresmikan pusat padepokan Jagad Buwana, tetapi bukan hanya itu saja,
Jagad Buwana juga merayakan syukuran atas putra pertama Aria Pilong Yang Lahir dari istri pertamanya, Nyi Selasih, sang Bayi yang baru ber umur beberapa bulan.
Sedangkan Buwana Dewi, istri kedua Aria tengah mengandung.
Begitu pula dengan Suketi yang tengah mengandung.
Umbul-umbul di pasang sepanjang jalan menuju pusat padepokan, rumah dan gedung markas pusat padepokan Jagad Buwana di hias dengan sangat indah, janur-janur kelapa di buat dengan berbagai bentuk untuk menambah indah serta semarak acara yang akan di adakan hari ini.
Ketika semua orang sedang sibuk, seorang pengemis dengan pakaian compang-camping hanya duduk sambil matanya menatap hilir mudik orang-orang padepokan Jagad Buwana.
Rambutnya yang sebagian memutih, sebagian menutupi wajah si pengemis yang kotor oleh debu.
Batok kelapa yang biasa di pakai olehnya untuk meminta-minta di taruh di depan tempat ia duduk, batok kelapa sudah mulai terisi oleh orang yang merasa iba melihat pengemis tua tersebut.
Kalau orang memperhatikan, pasti ada keanehan pada pengemis itu, si pengemis duduk tidak pernah di lain tempat, tetapi selalu tak jauh dari gedung utama markas padepokan Jagad Buwana, si pengemis juga tidak meminta uang dari orang yang lewat.
Hanya menaruh Batok kelapa di depannya, tampak sang pengemis juga seperti tak peduli ada yang memberi uang atau tidak, matanya terus menatap ke arah gedung padepokan Jagad Buwana.
Para tamu undangan mulai berdatangan.
Anggota Jagad Buwana memberi tahu, ada kereta mewah datang mendekat.
Aria Pilong, Buwana Dewi, Wangsa, Buto Ijo, Singabarong bersama istri, Raden Kusumo, Selamet serta Ujang Beurit, menunggu kedatangan kereta mewah tersebut, karena mereka ingin tahu siapa yang datang.
Setelah dua Kereta kuda sampai, seorang bertubuh gemuk dan bermata sipit, dengan kulit putih turun dari kereta kuda, bibirnya tersenyum setelah melihat orang yang dulu pernah menyematkannya sehingga ia bisa kembali ke negeri asal.
“Eh….Eh! Bukan kah orang itu adalah pedagang dari negeri seberang, kalau ada yang menyerang selalu pura-pura tak sadarkan diri,” ucap Buto Ijo.
“Kau benar, Jo! Seru Wangsa, “aku lupa lagi namanya,” lanjut perkataan Wangsa.
“Apa maksud kalian adalah Saudagar Ming dari negeri Tiongkok? Tanya Aria setelah mendengar perkataan Buto Ijo dan Wangsa.
“Ah….benar itu yang di katakan oleh Raden, Saudagar Ming,” ucap Buto Ijo.
Saudagar Ming setelah kembali ke negeri asal, ia di panggil oleh kaisar Yongle, serta di tanya tentang daerah yang sudah ia datangi.
Kaisar Yongle memang selalu menyebar anak buahnya ke segala penjuru dunia, setelah membetulkan kanal besar yang bisa di lalui kapal besar dan bisa mempersingkat waktu tempuh.
Saudagar Ming lalu menceritakan ke adaan di tanah Jawa serta para pendekar yang mendiami tanah Jawa serta kerajaan-kerajaan yang ada, kepada Kaisar Yongle.
Kaisar Yongle sangat tertarik mendengar cerita Saudagar Ming, kemudian memerintahkan Saudagar Ming untuk kembali ke tanah Jawa, tetapi Saudagar Ming keberatan, karena ia masih merasa takut dengan keganasan para pendekar di tanah Jawa, pengawal pribadi yang di bawa saudagar Ming bernama Li Ho dan Li Mei masih belum cukup untuk menandingi para pendekar di tanah Jawa.
Setelah mendengar cerita Saudagar Ming, Kaisar Yongle anggukan kepala dan mengerti, kemudian kaisar Yongle meminta tolong kepada orang yang ia percaya, untuk mengawal Saudagar Ming Ke tanah Jawa.
Pendekar muda yang dimintai tolong akhirnya menyanggupi setelah pengawalnya di perbolehkan ikut serta.
Pengawalan ini hanya bersipat sementara, sambil mengawal, ia di suruh oleh kaisar Yongle untuk melihat situasi tempat yang ia kunjungi dan memberi laporan setelah balik ke negeri Tiongkok.
“Selamat bertemu kembali tuan Aria Pilong, hamba adalah saudagar Ming yang baru saja datang dari Tiongkok, setelah sampai Kadiri dan mendengar tuan Aria hendak mengadakan acara cukuran, hamba langsung datang kemari, untuk mempersembahkan kain sutra serta keramik berkualitas tinggi untuk hadiah Padepokan Jagad Buwana.
Aria belum menjawab, sudah di dahului oleh Buto Ijo.
“Syukuran, tolol! Bukan cukuran,” balas Buto Ijo.
“Iya….iya! Syukuran, Maaf….maaf,” ucap Saudagar Ming sambil meminta maaf karena sudah salah bicara, wajah saudagar Ming langsung menunduk setelah Buto Ijo terus menatap ke arahnya.
Ketika keduanya tengah bercakap-cakap, seorang pemuda tampan mendekat, sementara di belakang si pemuda, dua orang tua tampak berjalan mengikuti.
“Kemana Li Ho? Tanya Aria.
“Li Ho tidak ikut karena ingin mendirikan perguruan, tetapi aku bersama seorang pendekar yang terkenal di negeri kami,” jawab Saudagar Ming.
“Kami merasa terhormat menerima tamu pendekar dari negeri seberang,” balas Aria.
Pemuda tampan tersenyum, kemudian balas memberi hormat, sambil memperkenalkan diri, dengan bahasa yang kaku, karena belum banyak belajar setelah sampai pulau Jawa.
“Aku adalah Mo Kwi, senang bertemu tuan Aria,” ucap pemuda tampan tersebut sambil tersenyum, sang pemuda sangat senang dengan keramahan para pendekar yang ia temui.
Buto Ijo dan Wangsa merasa tertarik dengan dua orang tua yang berada di belakang si pemuda, kemudian mendekat.
Buto Ijo menatap lelaki tua yang kulit wajahnya berwarna merah, sedangkan Wangsa menatap lelaki tua satu lagi, yang seluruh rambut di kepalanya sudah berubah putih.
“Aku Ijo, sedangkan kau Abang ( merah ) siapa namamu? Tanya Buto Ijo.
Suara dengusan terdengar dari hidung lelaki tua tersebut, seperti enggan menjawab pertanyaan Buto Ijo.
Mo Kwi tersenyum kemudian dengan bahasa Tiongkok memberitahu lelaki tua tersebut untuk memperkenalkan diri, karena mereka sedang di negara orang.
Buto Ijo mendengar ucapan aneh dari mulut Mo Kwi kemudian berkata.
“Artinya, Jang! Seru Buto Ijo.
Tetapi Ujang Beurit tidak menjawab, Buto Ijo lalu menoleh ke arah ujang, karena tidak mendengar suara dari mulut Si Beurit.
“Artinya, Jang! Kembali Buto Ijo berkata.
“Tidak tahu, paman! Jawab Buto Ijo.
“Aku Cuma bertanya nama, masa dia tidak tahu nama sendiri, Jang? Tanya Buto Ijo.
“Si ujang tidak tahu artinya, tolol! Seru Wangsa kepada Buto Ijo.
Tak lama setelah si pemuda bicara, keluar suara dari lelaki tua berkulit wajah merah.
“Aku Pedang gila,” jawab Lelaki tua tersebut.
“Pedang gila! Seru Buto Ijo sambil raut wajahnya seperti sedang berpikir.
Orang tua di samping Pedang gila kemudian berkata memperkenalkan diri, “Aku Dewa Langit.”
Phuih!
Hmm!
Wangsa mendengus mendengar perkataan Buto Ijo.
“Dasar, tolol! Ucap Wangsa.
Mo Kwi meminta maaf dengan tingkah pengawalnya, Mo Kwi lalu memberitahu Aria, bahwa kedua pengawalnya memang mempunyai sipat yang aneh, dan jarang bicara.
Aria tertawa mendengar perkataan Mo Kwi dan mengucapkan hal yang sama.
Suasana berubah hangat, dan perhatian hampir semua orang terpusat dengan keberadaan Saudagar Ming dan Aria.
Tanpa di sadari oleh mereka.
Pengemis yang duduk dan selalu memperhatikan, setelah melihat Anggota Padepokan Jagad Buwana sibuk menyambut tamu dari seberang.
Tubuhnya lalu bangkit dan bergerak ke arah belakang gedung.
Setelah berada di dekat jendela kamar di samping taman, perlahan pengemis tua mengintip jendela kamar, melihat seorang bayi yang tengah di tunggui oleh seorang Dayang, bibir si pengemis tersenyum.
Kreeek!
Perlahan jendela di buka oleh si pengemis tua, tubuhnya langsung melesat, sang dayang terkejut melihat ada seorang pengemis yang tidak ia kenal berada di dalam kamar, saat mulutnya hendak teriak, tangan si pengemis dengan cepat langsung bergerak ke arah leher si dayang.
Tap….Krek!
Dayang langsung terkulai dengan tulang leher patah.
Pengemis tua menatap bayi yang berada dalam kamar, setelah menatap bayi yang matanya juga tengah menatap si pengemis, mulut si pengemis langsung meludahi wajah si bayi yang tak lain putra Aria.
Cuh!
“Dasar keparat! masih bayi sudah berani melotot kepadaku,” ucap pengemis tua.
Saat wajahnya penuh dengan ludah si pengemis, sang bayi seperti tahu bahwa ada bahaya mengancam, suara tangis langsung terdengar.
Ketika hendak mencekik leher bayi, si pengemis tertegun melihat perubahan yang terjadi pada si bayi.
Perlahan kulit di tubuh si bayi mulai di tumbuhi sisik hitam, sisik yang menyerupai sisik ular.
Phuih!
“Bapaknya Iblis, anaknya pasti Siluman,” si pengemis berkata dalam hati.
Mendengar suara tangis bayi semakin kencang, Si pengemis langsung menyambar bayi dan melesat pergi keluar dari jendela kamar.
Si pengemis terus berlari sambil menggendong si bayi, gerakan si pengemis sangat cepat.
Setelah berlari tak berhenti selama satu hari satu malam, akhirnya pengemis tersebut sampai di bibir pantai.
Setelah mengambil perahu kecil, Si pengemis naik, dan mulai mendayung menjauh dari pantai.
Siang hari di tengah laut, suara tawa terdengar dari mulut seorang pengemis yang tengah menggendong seorang Bayi mungil yang usianya baru beberapa bulan.
Ha Ha Ha
“Aria Pilong! Aku ingin kau juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan seorang putra,” teriak pengemis tersebut sambil tertawa terbahak bahak seperti orang gila.
Tangannya lalu mencekal badan si bayi dan hendak di lemparkan ke laut, tetapi begitu melihat si bayi tersenyum, pengemis itu langsung membatalkan niatnya melempar si Bayi.
“Mau mampus, masih saja tersenyum! dasar anak siluman,” teriak pengemis tersebut.
Tiba-tiba terlintas satu pemikiran lain di otak si pengemis, kemudian si pengemis mendayung perahunya dengan tenaga dalam tinggi ke arah utara.
Setelah melakukan perjalanan selama setengah hari, akhirnya bibir si pengemis tersenyum, melihat pulau kecil yang berada di tengah laut.
Setelah menambatkan perahu, pengemis itu lalu membawa bayi dan melesat cepat ke arah tengah pulau, setelah sampai di sebuah goa.
Si Pengemis meletakan bayi di depan goa, kemudian sujud di depan goa sambil teriak.
“Ayah, Aku datang! aku menyesali apa yang telah aku perbuat, dan akan menuruti perintah ayah untuk bertapa menyucikan diri dan merenungi dosa-dosa yang telah aku perbuat,” teriak si pengemis.
Mendengar tak ada jawaban dari dalam goa, pengemis tersebut lalu teriak kembali.
“Ayah, Aku pergi! Tetapi aku mohon kepada ayah untuk mendidik muridku, selama lima belas tahun aku bertapa.
“Setelah lima belas tahun, aku akan datang menjemput muridku,” ucap si pengemis yang tak lain adalah Darmawangsa.
Setelah berkata, Darmawangsa lalu pergi dengan perahu kecil menuju Alas Purwo.
Sesampainya di Alas Purwo, kembali Darmawangsa tertawa terbahak bahak.
“Iblis Buta, kebencianku terhadapmu sampai merasuki tulang, aku akan balas dengan menanam kebencian kepada putramu, setelah ia besar dan mendapat pelajaran dari ayahku, jangankan kau, seluruh orang Jagad Buwana bisa ia bunuh.
Ha Ha Ha
“Aku akan mendidik anakmu, agar ia bisa membunuh ayahnya sendiri.”
Setelah teriak dan menyampaikan isi hati dan rencananya kedepan, Darmawangsa kembali tertawa terbahak bahak dan berkata.
Ha Ha Ha
“Tunggu Pembalasanku.”
( End )
—————————————————-
Terima kasih kawan-kawan yang sudah memberi, suport dan dukungan untuk novel Iblis Buta, dan saya juga sangat berterima kasih kepada kawan kawan yang sudah mengingatkan dan memberi tahu typo dari novel saya ( karena memang banyak Typo )
Lanjutan Iblis Buta yang berjudul “Pendekar Siluman,” akan segera realese bulan ini ( jika saya lanjut menulis Di Noveltoon ) informasi mengenai novel, Bisa Dm Saya via IG, Jack_Mad 76, saya juga akan kasih info terbaru melalui postingan Via Instagram, dimana Novel akan Realese jika tidak di NovelToon, tetapi saya akan berusaha untuk memilih Platfform yang tidak memberatkan para reader ( tidak berbayar ) Selain Mo Cian.
Terima kasih
Mohon maaf lahir batin, maafkan segala kekurangan, kesalahan dan perkataan saya yang menyinggung kawan semua.
Adios, Amigos and Permios 🙏
iblis buta part 2 only At NovelToon