
Setelah berhasil menewaskan Ki Loreng geni, Aria, Wulan serta Buto Ijo kembali ke tempat di mana mereka meninggalkan kuda.
Ketika melewati tempat pertempuran, Buto Ijo lari mendului Aria dan Wulan.
Buto Ijo melihat Suto Abang hanya tersisa tulang belulangnya saja, daging sampai darah Suto Abang habis di makan semut api nyaris tak tersisa.
Buto Ijo langsung menendang tengkorak Suto Abang, saat mendengar langkah kaki Aria dan Wulan.
“Sedang apa kau? Tanya Wulan.
“Aku sedang memeriksa tempat ini, siapa tahu ada musuh yang bersembunyi,” jawab Buto Ijo.
“Kemana Suto Abang? Tadi tubuhnya di sini,” ucap Wulan sambil matanya mencari-cari tubuh Suto Abang, tetapi Wulan tak melihat, hanya ada beberapa semut api bergerak ke arah sarangnya yang hancur, dan berkumpul disana.
“Mungkin dia sudah pergi,” Buto Ijo membalas perkataan Wulan.
“Pergi! Apa masih bisa pergi dengan keadaan seperti itu? Tanya Wulan.
“Aku mana tahu! Coba kau tanyakan nanti, kalau bertemu Suto Abang,” jawab Buto Ijo sambil melotot, kumisnya tampak bergerak-gerak menahan marah, karena Wulan terus saja bicara.
Cis!
“Untuk apa aku tanya dia,” ucap Wulan dengan nada ketus.
“Sudah….sudah! Mungkin dia di selamatkan oleh anak buahnya, biarkan saja karena aku sudah membebaskan dia,” Aria berkata seakan menengahi percakapan antara Wulan dengan Buto Ijo.
“Raden memang bijaksana, semoga Suto Abang tenang di alam sana,” balas Buto Ijo.
Mendengar perkataan Buto Ijo, Aria langsung menoleh lalu anggukan kepala dan berkata.
“Kau benar.”
Setelah sampai di tempat pertama mereka istirahat, tampak kuda milik Wulan masih berada di tempat itu.
Aria duduk di bawah pohon besar sambil di temani Wulan, sementara Buto Ijo duduk tidak jauh dari mereka.
Angin malam mulai terasa dingin setelah mereka duduk.
“Buto Ijo! Mana kayu keringnya? Tanya Aria, saat tubuh merasakan dinginnya angin malam.
“Tadi aku tinggalkan di tempat pertempuran, tunggu sebentar Raden! aku ambil kayunya,” Ucap Buto Ijo.
Tak lama kemudian, api mulai menerangi tempat mereka istirahat.
Aria bersandar di batang pohon besar, begitu pula dengan Wulan, hawa di sekitar mereka mulai hangat, setelah api membesar.
Perlahan tubuh Wulan bergeser mendekati Aria.
“Ada apa Wulan? Tanya Aria saat merasakan kepala Wulan bersandar di bahunya.
“Aku takut kakang Aria! Kita belum setengah perjalanan, tetapi bahaya sudah menghadang,” jawab Wulan.
“Kenapa harus takut? Kita semua baik-baik saja,” balas Aria.
“Mungkin hari ini kita baik-baik saja, tetapi kita tidak tahu buat ke depannya apa masih bisa baik-baik? Tanya Wulan.
“Pulang saja kalau takut,” Buto Ijo yang duduk tidak jauh membalas perkataan Wulan.
“Diam kau! Aku tidak bicara denganmu,” ucap Wulan dengan nada kesal.
“Kakang Aria jangan tinggalkan aku,” Wulan berkata kembali, kali ini kepala Wulan pindah bersandar di dada Aria.
Mendengar perkataan Wulan, tongkat Aria yang terdapat Nyi Selasih di dalamnya, tampak bergerak-gerak di samping Aria.
“Kau tenang saja kita akan selalu bersama,” ucap Aria polos, tanpa ada maksud apa-apa di balik perkataannya.
Tetapi tanggapan Wulan mendengar perkataan Aria berbeda.
Setelah mendengar perkataan Aria, Wulan menyangka Aria senang bersama dirinya.
Wulan langsung memeluk Aria, lalu berbisik di telinga pemuda itu.
“Terima kasih kakang! Kalau kakang mau tidur bareng, Wulan siap! Setelah berkata raut wajah wulan berubah merah.
Tongkat langsung bergerak ke arah kaki Wulan, kemudian badan tongkat memukul betis Wulan.
Plak….Auw!
Wulan menjerit saat kakinya terpukul tongkat.
“Kenapa kau? Tanya Aria.
“Nyi Ratu kesal dengan ucapanmu,” Buto Ijo berkata sewaktu mendengar ucapan Wulan.
Karena terbawa suasana, Wulan baru sadar bahwa Nyi Selasih diam di dalam tongkat Aria, setelah ia mendengar perkataan Buto Ijo.
Wulan langsung diam.
Perlahan asap berwarna hijau keluar dari dalam tongkat, asap lalu berubah menjadi seorang gadis cantik berkebaya hijau dengan kepala di hiasi oleh mahkota, Nyi Selasih lalu duduk di samping Aria, di sisi lain dari tempat Wulan.
Aria kini di apit oleh 2 orang gadis cantik.
“Hati-hati kalau bicara! Aku lebih dulu kenal dan mengabdi kepada Raden, daripada dirimu? Ucap Nyi Selasih.
“Nyi Selasih benar! Tetapi Kakang Aria juga sudah berjanji kepada ayah untuk menjaga serta melindungi aku,” balas Wulan tidak mau kalah.
“Aku akan menyuruh Buto Ijo untuk menjagamu, tidak perlu Raden,” ucap Nyi Selasih tidak mau kalah, mendengar perkataan Wulan.
“Aku tidak mau! Balas Wulan.
Phuih!
“Kau pikir aku mau,” Buto Ijo berkata sambil meludah mendengar perkataan Wulan.
“Nyi! Kang mas Aria berbeda dengan Nyi Selasih, benar apa yang dikatakan oleh Ki Loreng geni, kalian berbeda alam, tidak mungkin bisa bersatu,” ucap Wulan.
“Kau….kau! Lancang sekali mulutmu, biar aku makan kau,” setelah berkata, Nyi Selasih berubah Wujud menjadi ular hijau dan siap menerkam ke arah Wulan.
“Ada apa dengan kalian berdua? Tanya Aria dengan nada dingin, setelah mendengar percakapan mereka berdua berubah menjadi panas.
Nyi Selasih diam, begit pula dengan Wulan, sementara Buto Ijo seperti tak peduli, ia terus menambahkan kayu kering ke api yang semakin besar.
“Nyi Selasih berjanji untuk mengabdi dan bersedia melayani ku, apa benar seperti itu? Tanya Aria.
“Tak ada keraguan di hati Hamba untuk melayani dan mengabdi kepada Raden,” jawab Nyi Selasih.
“Dan kau Wulan! Sewaktu meminta aku untuk mengajakmu, kau bilang jika kita jalan bersama kau bersedia tidur denganku, benar begitu? Tanya Aria kepada Wulan.
“Kapanpun aku bersedia,” jawab Wulan sambil tundukkan kepala.
“Kalau kalian berdua sudah bersedia, kenapa kalian bertengkar? Tanya Aria.
“Dia yang mulai terlebih dahulu,” jawab Nyi Selasih.
“Kapan aku memulai pertengkaran Nyi? Tanya Wulan.
“Kalian berdua diam! Seru Aria.
“Aku tidak pernah memaksa kalian untuk ikut bersamaku, jika kalian keberatan untuk jalan bersama, kalian bebas untuk pergi,” ucap Aria dengan suara tegas.
“Nah! kau dengar sendiri, Silahkan kau perg jika tak suka,” ucap Nyi Selasih kepada Wulan, setelah mendengar perkataan Aria.
“Ini berlaku juga untuk Nyi Selasih dan Buto Ijo,” Aria berkata.
“Nah! Kau dengar sendiri,” Wulan berkata, seperti yang di ucapkan oleh Nyi Selasih.
“Kalian berdua pikir apa yang ku katakan tadi,” ucap Aria sambil berdiri.
“Kakang….Raden,” mau kemana? Tanya Wulan dan Nyi Selasih bersamaan melihat Aria berdiri dan melihat sekeliling, sambil memegang tongkatnya.
“Jika kalian masih saja bertengkar, lebih baik aku yang pergi,” jawab Aria sambil menarik napas panjang, perlahan Aria mulai melangkah.
Nyi Selasih dan Wulan saling tatap melihat Aria pergi, keduanya merasa sangat menyesal.
Nyi Selasih dan Wulan langsung memburu Aria bersamaan, keduanya memeluk Aria dari sisi yang berbeda.
“Kami berdua minta maaf,” ucap Nyi Selasih sambil menatap Wulan dan anggukan kepala.
“Benar kakang! Kami berjanji untuk tidak bertengkar lagi,” Wulan ikut berkata sambil menatap Nyi Selasih yang anggukan kepala, melihat tatapan Wulan.
“Lepaskan pelukan kalian,” ucap Aria.
Keduanya lalu melepaskan pelukan mereka, tetapi melihat Aria tetap melangkah, keduanya menatap cemas.
“Kakang mau kemana? Tanya Wulan dengan nada cemas matanya berkaca-kaca, melihat Aria tetap melangkah pergi.
“Perutku sakit, mau buang hajat,” jawab Aria.
“Kalian berdua mau ikut?