
“Ternyata berdagang jauh dari kampung halaman tidak mengenakan,” batin Saudagar Ming, mendengar pilihan kerja sama dengan Aria yang penuh risiko.
Setelah melihat Li Ho anggukan kepala, akhirnya saudagar Ming menyetujui kerjasama dengan Aria Pilong.
“Kalau kami boleh tahu, kenapa tuan Aria hendak membunuh Tumenggung Wirayuda? Tanya Li Ho.
“Karena dia orang yang kejam,” jawab Aria.
“Apa yang bisa kami lakukan, tuan? sebab jika tuan meminta bantuan tenaga, kami dari sekarang angkat tangan,” ucap Li Ho, di balas oleh anggukan Ming Tao Lim.
“Kalian hanya mendekatkan aku kepada Tumenggung Wirayuda, selebihnya aku yang akan membunuhnya,” ucap Aria.
“Tetapi jika tuan Aria tidak berhasil, bukankah itu akan membunuh kami semua, sebab kami yang sudah membawa tuan Aria bertemu dengan Tumenggung Wirayuda,” saudagar Ming berkata.
“Kalian tidak usah memperkenalkan aku, tunjukan saja kepadaku sosok Tumenggung Wirayuda, nanti sisanya biar aku yang selesaikan,” ucap Aria Pilong.
“Kalau begitu, kami terima tawaran kerja sama ini,” balas saudagar Ming.
“Kakak pertama, Kakak kedua serta adik kelima menunggu di desa jatijajar sementara aku dan Andini yang akan ikut menuju Tumapel bersama rombongan saudagar Ming.
“Tidak bisa! Aku harus mengawal Raden,” ucap Buto Ijo setelah mendengar perkataan Aria.
“Kalau kau ikut denganku, penyamaranku pasti terbongkar karena kau terkenal sampai Kahuripan.
“Jarak dari sini menuju Tumapel Cuma satu hari, setelah lewat satu hari kalian bisa pergi dari desa ini dan menunggu aku ke arah jalan yang menuju gunung Semeru, aku akan menyusul kalian bersama Andini,” ucap Aria.
“Tapi….tapi! Buto Ijo saat hendak berkata, langsung di potong oleh Aria.
“Tidak ada tapi tapi an,” balas Aria mendengar perkataan Buto Ijo.
“Turuti perkataanku, dan kalian di sini juga harus mengawasi penduduk desa jatijajar, jangan sampai mereka ada yang keluar dari desa dan memberi kabar ke Tumapel.
“Bukankah kau juga harus menunggui Suketi disini, karena Suketi sampai saat ini masih saja belum sadar,” lanjut perkataan Aria.
Buto Ijo akhirnya anggukan kepala mendengar perintah Aria.
Setelah sepakat, mereka lalu menyantap makanan yang tersedia, sementara Buto Ijo yang cemas melihat Suketi masih saja terlentang, perlahan mulut Buto Ijo terus meniup ke arah wajah Suketi, berusaha menyadarkan Suketi, yang menurut Li Mei kera itu mabuk karena terlalu banyak minum arak buah yang mereka bawa.
***
Pagi hari, iring-iringan rombongan kereta saudagar Ming bergerak menuju Tumapel.
Saudagar Ming terlihat tegang saat duduk di kereta kuda miliknya.
Sedangkan Li Ho serta Li Mei satu kereta dengan Aria dan Andini.
Aria dan Andini memakai baju pemberian Li Ho, karena menurut Li Ho jika Aria memakai baju yang berbeda dengan mereka, akan menimbulkan kecurigaan Tumenggung Wirayuda.
“Kenapa tuan Aria tidak mengajak mereka untuk bersama? Tanya Li Ho, karena Li Ho agak heran dengan keputusan Aria.
“Aku sendiri masih sanggup untuk menghabisi Tumenggung Wirabumi, jika mereka berdua ikut dan bertengkar di depan Tumenggung Wirayuda, usahaku akan sia-sia, Tumenggung Wirayuda akan lebih waspada dan semakin susah untuk membunuhnya,” Aria menjawab pertanyaan Li Ho.
“Maaf, satu lagi pertanyaan ku tuan Aria, kenapa tuan selalu memakai caping, bukankah dengan memakai caping akan membuat orang lebih curiga kepada tuan? Kembali Li Ho bertanya.
“Aku ini orang buta tuan Li, memakai caping atau tidak, tidak ada bedanya untukku, tetapi jika aku memakai caping, orang tidak akan jijik jika berbicara denganku, seperti kita sekarang ini,” jawab Aria.
“Aku tidak tidak jijik walau kakak ketiga membuka caping,” Andini ikut bicara.
Li Ho dan Li Mei saling pandang.
“Maaf tuan Aria! Kalau boleh aku ingin memberi saran,” ucap Li Mei setelah sang kakak mengedipkan matanya, mereka berdua sebenarnya merasa penasaran dengan wajah Aria yang selalu memakai caping.
“Katakan saja! Seru Aria mendengar perkataan Li Mei.
“Yang kami dengar, Tumenggung Wirayuda sangat licik dan selalu berhati-hati dengan segala urusan, untuk itu kami menyuruh tuan Aria memakai pakaian dari negeri kami.
“Tetapi walau tuan Aria memakai pakaian dari kami tetapi tidak membuka caping, menurutku Tumenggung Wirayuda akan curiga dan itu bisa menghambat tujuan tuan Aria untuk membunuh Tumenggung Wirayuda.
Aria diam mendengar perkataan Li Mei, tetapi memang Aria akui, bahwa apa yang di katakan oleh Li Mei memang benar.
“Nona benar! Nanti, setelah dekat kota Tumapel aku akan membuka capingku ini.
Li Mei tersenyum mendengar perkataan Aria, sedangkan Andini cemberut mendengar perkataan Li Mei, lalu ikut bicara.
“Nona juga memakai cadar! Bukankah itu sama, bisa menimbulkan kecurigaan penguasa Tumapel? Tanya Andini.
“Masalah ini berbeda, nona. Aku memakai cadar karena ini memang ciri khas berpakaian dari negara kami,” jawab Li Mei.
Andini langsung diam mendengar perkataan Li Mei.
Karena membawa bekal yang cukup, kereta tidak berhenti dan terus bergerak menuju Tumapel.
Saat hari menjelang sore, semakin lama jalan yang mereka lewati semakin besar dan bagus, rumah-rumah penduduk juga mulai terlihat di kiri kanan jalan, serta lalu lalang orang yang berjalan kaki atau menunggang kuda semakin banyak terlihat.
“Kita sudah hampir sampai di Tumapel,” bisik Andini kepada Aria.
Aria anggukan kepala mendengar bisikan Andini.
Perlahan Aria membuka capingnya, sambil berkata kepada Andini.
Andini langsung mengeluarkan sisir dari balik baju setelah mendengar perkataan Aria, lalu perlahan dengan lemah lembut, Andini mulai merapihkan rambut Aria Pilong.
Sedangkan Li Ho dan Li Mei terkejut melihat wajah Aria serta matanya yang aneh, merek sama sekali tidak menduga bahwa Aria ternyata seorang pemuda tampan, tidak seperti yang mereka duga selamat ini, bahwa pemuda itu memiliki wajah yang kurang sedap di pandang, karena selalu memakai caping.
“Ternyata tuan Aria masih muda dan sangat tampan,” ucap Li Ho.
“Terima kasih tuan Li! Aku sendiri belum tahu aku ini tampan atau tidak, karena aku belum pernah melihat wajah sendiri,” balas Aria sambil tersenyum kecut.
Tidak terasa mereka bercakap cakap, rombongan kereta saudagar Ming sampai di gerbang kota Tumapel.
Setelah memberitahu penjaga dan memberi sedikit uang, rombongan kereta kuda saudagar Ming langsung di kawal oleh puluhan prajurit, mereka langsung menuju tempat kediaman Tumenggung Wirayuda.
Hari mulai berganti malam saat mereka masuk ke dalam kota Tumapel.
Iring-iringan rombongan saudagar Ming berhenti tepat di depan rumah kediaman Tumenggung Wirayuda.
Seorang prajurit langsung melapor ke dalam rumah, untuk memberitahu kedatangan tamu yang sudah di tunggu-tunggu oleh Tumenggung.
Tak lama kemudian, seorang gagah yang berkumis tebal melangkah keluar di iringi oleh beberapa orang prajurit.
Saudagar Ming turun setelah pintu kereta yang ia taiki di buka oleh prajurit anak buah Tumenggung Wirayuda.
Begitupula dengan kereta yang di tumpangi Aria, mereka turun dari kereta setelah Prajurit membuka pintu kereta, kemudian melangkah dan berdiri di belakang saudagar Ming.
“Salam hormat kami untuk Tumenggung Wirayuda, perkenalkan! Aku Ming Tao Lim pedagang dari negeri Tiongkok.
Ha Ha Ha
“Selamat datang tuan Ming! Maaf sudah merepotkan tuan Ming, karena sudah susah payah datang ke kota terpencil seperti Tumapel ini untuk menemuiku,” balas Tumenggung Wirayuda sambil tertawa.
“Kami yang merasa terhormat karena sudah mendapat undangan dari Tumenggung Wirayuda,” balas saudagar Ming.
Tumenggung Wirayuda tersenyum mendengar perkataan saudagar Ming, kemudian membalas perkataan sang saudagar.
“Kalau tuan Ming merasa terhormat menerima undanganku, kenapa tuan Ming menghianati aku? Tanya Tumenggung Wirayuda.
Raut wajah Ming Tao Lim, Li Ho dan Li Mei berubah mendengar perkataan Tumenggung Wirayuda.
“Apa….apa maksud dari perkataan tuan Tumenggung? Tanya saudagar Ming dengan wajah tampak pucat.
“Kau bekerja sama dengan Buto Ijo, membunuh anak murid padepokan Gajahwungkur.
“Tidak usah dusta, karena anak buahku sendiri yang melihat, Buto Ijo ikut bersama rombongan kalian, membunuh pengawal yang aku kirim.
“Pengawal yang tuan Tumenggung kirim berselisih paham dengan beberapa pendekar, kami tidak tahu siapa pendekar itu, setelah membunuh semua pengawal tuan Tumenggung mereka lalu pergi meninggalkan kami,” ucap Li Ho.
“Siapa kau? Tanya Tumenggung Wirayuda sambil menatap tajam ke arah Li Ho.
“Aku Li Ho! Pengawal pribadi saudagar Ming Tao Lim,” balas Li Ho.
“Periksa semua kereta kuda! Apa ada musuh yang bersembunyi di dalam kereta,” ucap Tumenggung Wirayuda.
Prajurit Tumapel langsung memeriksa kereta kuda saudagar Ming, setelah tidak ada yang mereka temukan, prajurit itu lalu melapor kepada Tumenggung Wirayuda.
“Tidak ada yang bersembunyi, Tumenggung! Semuanya sudah turun dari kereta,” ucap Prajurit setelah memeriksa kereta saudagar Ming.
“Bawa kereta kuda ke gudang dan jebloskan mereka semua ke penjara, jika ada satu orang yang melawan, habisi mereka semua,” Tumenggung Wirabumi berkata.
Aria yang hendak bergerak, terpaksa ikut diam setelah mendengar ancaman Wirayuda.
Akhirnya mereka di gelandang oleh prajurit menuju penjara, yang letaknya berada di pinggir rumah kediaman, Tumenggung Wirayuda.
Sementara itu di desa Jatijajar.
Buto Ijo terus melangkah mondar mandir di temani oleh Suketi yang sudah sadar, di depan gerbang desa Jatijajar.
“Kenapa kau mondar mandir dari tadi? Tanya Wangsa.
“Sekarang sudah satu hari, aku akan pergi ke Tumapel,” jawab Buto Ijo.
“Kau tidak dengar perkataan adik ketiga? Setelah satu hari, baru kita pergi dari desa ini, mereka baru saja pergi tadi pagi, jadi kita akan ke Tumapel esok pagi,” Ucap Wangsa berusaha menasihati Buto Ijo.
“Resi tolol! Kau dengar baik-baik perkataanku,” balas Buto Ijo.
“Dari sini ke Tumapel memakan waktu setengah hari, kalau kita berangkat sekarang, besok kita sampai Tumapel, bukankah sudah pas 1 hari,” lanjut perkataan Buto Ijo.
Wangsa diam sambil termenung mendengar perkataan Buto Ijo.
Melihat Wangsa tidak bicara.
Buto Ijo langsung lari mengikuti jalan yang menuju Tumapel.
Wangsa gelengkan kepala melihat Buto Ijo.
“Apa boleh buat kalau begitu,” batin Wangsa, lalu menatap Andira dan berkata.
“Ambil kuda! Sekarang juga kita ke Tumapel.”