
Semua yang mendengar, anggukan kepala setelah tahu keinginan Aria adalah ingin melihat kembali, tapi apa bisa manusia terkutuk yang di sebut oleh Pengiwa mengabulkan permintaan Aria? Itu yang menjadi pertanyaan di benak anak buah Aria dan Kalasrenggi.
“Raden! Aku akan berusaha mencari manusia terkutuk, agar Raden bisa melihat kembali,” ucap Buto Ijo.
“Terima kasih, Jo! Seru Aria sambil tersenyum, ia merasa terharu dengan perkataan Buto Ijo.
“Aku sebenarnya tidak percaya dengan perkataan Pengiwa, bahwa manusia terkutuk yang di sebut bisa mengabulkan apapun keinginan kita,” lanjut perkataan Aria.
“Biarpun ketua mempunyai keyakinan seperti itu, tetapi kita harus cari tahu siapa manusia terkutuk dan kenapa bisa seperti itu? Wangsa ikut bicara.
Aria anggukan kepala mendengar perkataan Wangsa, karena ia memang berpikir, pasti ada satu rahasia di balik sebutan manusia terkutuk.
“Cari tahu di sekitar hutan ini, apa benar ada telaga seperti yang di ceritakan oleh Pengiwa,” Kalasrenggi ikut bicara.
Phuih!
“Siapa kau berani-beraninya memerintah kami? Tanya Buto Ijo.
“Aku berkata untuk ketuamu, bukan untuk diriku,” jawab Kalasrenggi sambil melotot.
“Kalau kau tidak memakan Pengiwa, dia pasti sudah memberitahu dimana telaga berada,” balas Buto Ijo.
“Memangnya kau tidak dengar dengan ucapan mahluk itu, bahwa dia juga sedang mencari telaga? Tanya Kalasrenggi, nada bicaranya mulai meninggi.
“Lantas kau percaya dan lalu langsung memakannya? Tanya Buto Ijo dengan nada tinggi.
“Percaya atau tidak! Dia tidak akan berbohong, karena nyawanya yang menjadi taruhan,” balas Kalasrenggi.
“Ketua sudah membebaskan, tetapi kan kau yang membunuhnya,” ucap Buto Ijo dengan nada dingin.
“Lantas kau mau apa? Tanya Kalasrenggi mulai berdiri.
“Kau tanya saja kepada Pengiwa benar tidaknya informasi yang dia berikan, toh dia ada di dalam tubuhmu,” jawab Buto Ijo.
“Pengiwa sudah mati, Jo! Seru Wangsa.
Buto Ijo diam mendengar perkataan Wangsa.
“Sudahlah paman Jo! Biar aku yang akan mencari sumber air di sekitar hutan ini,” Jang Beurit ikut bicara.
Buto Ijo tersenyum kemudian berkata sambil menatap sahabat mudanya itu.
“Kau memang bisa di andalkan,” balas Buto Ijo.
Jang Beurit setelah perutnya kenyang, kemudian tubuhnya melesat masuk ke dalam tanah, mencari sumber air di sekitar hutan.
“Hebat….Jang Beurit benar-benar hebat! Seru Buto Ijo melihat Pemuda itu masuk kedalam tanah.
“So! Sepertinya dia juga sering tidur di dalam tanah,” Buto Ijo berkata kepada Wansa.
“Menurutku! Kalau tidur ya di atas tanah, sebab yang tidur di dalam tanah, jarang ada yang bisa bangun lagi.” Balas Wangsa.
Hmm!
Dengus Buto Ijo, setelah mendengar perkataan Wangsa.
Hari menjelang pagi, tetapi Jang Beurit belum juga datang.
Buto Ijo mondar mandir, sambil matanya menatap ke arah sekeliling.
“Cari siapa, saudara Buto Ijo? Tanya Raden Untung.
“Jang Beurit belum juga datang, dari semalam dia pergi,” jawab Buto Ijo.
“Lantas tuan mencari siapa, terus menatap hutan,” balas Raden Untung.
“Untuk apa aku mencari mu? Tentu saja melihat pemuda itu, sudah datang atau belum.
“Percuma! saudara Buto melihat ujang kesana sini, dia kan masuk kedalam tanah,” jawab Raden Untung.
“Itu dia….dia sudah kembali! Seru Buto Ijo, setelah melihat seorang pemuda yang kepalanya menunduk kebawah sambil berjalan, dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.
“Bagaimana, Jang! Apa ada telaga di sekitar sini? Tanya Buto Ijo.
“Di hutan ini tidak ada telaga, paman! tetapi di timur hutan ini, ada tebing yang tinggi dan dari atas tebing ada air terjun yang jatuh ke sebuah kolam kecil,” jawab Ujang.
“Pasti itu tempatnya,” ucap Buto Ijo.
“Mari kita kesana! Seru Buto Ijo sambil menarik tangan Si Beurit.
“Tunggu dulu paman! Belum tentu tempatnya di sana,” ucap pemuda bermata sayu itu.
“Maksudmu bukan di air terjun? Tanya Buto Ijo.
“Pelanginya belum muncul, jadi kita tidak tahu di sana tempatnya atau bukan,” jawab Si Beurit.
Buto Ijo serta yang lain, terus menatap ke arah langit agar bisa melihat pelangi.
Cuaca pagi sangat cerah karena kemarin turun hujan, burung berkicau di hutan menyambut suasana pagi, binatang-binatang kecil berlarian menyambut cerahnya hari.
“Ada pelangi….ada pelangi! Seru Raden Untung sambil jarinya menunjuk ke arah pelangi yang perlahan mulai terlihat.
“Coba lihat! Kemana arah ujung pelangi itu,” Wangsa berkata.
“Sepertinya ujung pelangi menuju ke arah air terjun yang di ceritakan oleh Jang Beurit,” balas Selamet.
“Mari kita kesana! Seru Buto Ijo.
“Kita bersama-sama kesana dengan ketua,” balas Wangsa.
Aria setelah mendapat laporan, lalu menuju ke arah air terjun yang di temui oleh Anak buahnya.
Kalasrenggi angkat tangan memberi isyarat agar berhenti, ketika batinnya merasakan dan hidungnya mencium bau mahluk ghaib.
“Sepertinya bukan kita saja yang sedang menunggu manusia terkutuk itu,” ucap Kalasrenggi kepada Aria yang berada di sebelahnya.
“Aku juga mendengar banyak gerakan di depan sana,” balas Aria.
Hmm!
“Kata Pengiwa ini adalah rahasia! Tetapi kenapa banyak orang yang datang? Buto Ijo ikut bicara setelah mendengar perkataan Aria dan Kalasrenggi.
“Tak ada yang benar-benar rahasia, kalau sudah menyangkut Mustika yang menggemparkan dunia persilatan,” Wangsa ikut bicara.
Aria membenarkan perkataan Wangsa.
“Selamet! cari tempat agar kita bisa melihat dari dekat, apa yang terjadi setelah ujung pelangi berada di air terjun.
Selamet langsung bergerak setelah mendengar perintah Wangsa.
Setelah menunggu, akhirnya Selamet datang dan memberi kabar yang mengejutkan, bahwa di sekitar air terjun sudah ada ratusan orang yang tengah mengamati dan menunggu kedatangan Manusia terkutuk yang di ceritakan oleh Pengiwa.
“Ratusan orang! Seru Buto Ijo.
“Raden! Apa perlu di bunuh semua orang orang itu? Tanya Buto Ijo.
“Mereka semua pasti bersembunyi, karena aku yakin jika ada keributan. Manusia terkutuk yang di maksud tidak akan muncul, jangan bertindak sebelum jelas permasalahan yang kita hadapi,” Aria menjawab pertanyaan Buto Ijo.
“Ketua benar! Ada beberapa kelompok dan per orangan yang aku lihat, tetapi semuanya bersembunyi, mereka hanya menatap ke arah Air terjun, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
“Apa ada tempat yang aman untuk melihat lebih dekat ke arah Air terjun? Tanya Wangsa.
“Di sebelah barat ada tebing curam yang menjorok ke arah Lingkungan air terjun,”
“Ada salah satu batu besar yang rata dan bisa untuk kita mengamati langsung ke arah air terjun,” Ucap Selamet.
“Mari kita kesana! Ajak Selamet.
Rombongan bergerak mengikuti Selamet Menuju ke arah barat dekat lokasi air terjun, jalan yang menuju ke sana memang sedikit curam, sehingga Aria harus di gendong oleh Buto Ijo agar cepat sampai di lokasi yang di maksud oleh Selamet.
Rombongan berkumpul di atas batu besar dan menatap ke arah air terjun yang di sekeliling air terjun, banyak terdapat batu batu besar dan kecil di sekitar kolam yang tidak terlalu besar, tempat menampung air terjun yang langsung mengalir menuju aliran kali kecil yang ada di dekat air terjun.
Pelangi masih terlihat di dekat air terjun.
Tak lama kemudian terdengar suara alunan suara suling yang sangat merdu.
Aria sangat terpesona dengan suara suling itu dan terus mendengarkan, begitu pula mereka yang memandang ke arah air terjun.
Mereka terpesona dengan suara seruling dan juga orang yang meniupnya, karena mereka yang tengah mengamati ke arah air terjun tidak melihat datangnya orang yang sedang meniup seruling itu.
Seorang wanita yang sangat cantik terus meniup seruling, sambil matanya menatap ke arah air terjun.
Puluhan orang mulai keluar dari tempat persembunyiannya, begitu melihat gadis itu.
Pandangan mereka liar dan buas, seperti tengah memandang mangsa buruan yang akan mereka tangkap.
Sang gadis yang tengah meniup suling belum menyadari bahwa di belakangnya sudah banyak orang dan terus asyik meniup sulingnya.
Nada suara suling seperti sedang menggambarkan kekaguman terhadap keindahan alam yang ia lihat.
Beberapa orang tampak mengeluarkan tambang, kemudian memutar tambang sambil mata tak berkedip melihat gadis itu.
Rombongan Aria yang berkumpul di barat air terjun, bisa melihat wajah gadis itu dan semua terpesona melihat kecantikan gadis itu.
Whut….Whut….Whut!
Tambang berputar putar di tangan beberapa orang.
Tak lama kemudian, beberapa tambang yang di lempar, melesat ke arah si gadis dari belakang.
Shing….Shing….Shing!
Aria yang dari kecil berlatih di air terjun, sangat hapal dan memisah suara yang masuk ke dalam telinganya.
Mendengar banyak suara melesat ke arah si gadis,
Aria dari tempat persembunyiannya melesat menyambar tubuh gadis itu, sebelum tambang yang di lempar membelit sang gadis dari belakang.
Whut….tap!
Aria berhasil meraih pinggang si gadis.
Gadis yang meniup suling sangat terkejut, saat tubuhnya melesat dan pinggangnya di peluk oleh seseorang.
“Lepaskan aku! Seru si gadis sambil tangannya menampar pipi Aria.
Plak!
Merasakan pipinya panas dan Aria tidak bisa mengetahui dimana tempat ia akan turun.
Keduanya lalu meluncur turun dengan cepat menuju kolam tempat menampung air terjun.
Byur!
Melihat orang yang tengah mereka incar di sambar oleh orang bercaping, Ratusan orang langsung memburu ke arah Aria dan si gadis, yang masih berada di dalam kolam.
Mereka berdiri dengan senjata di tangan dan menunggu di pinggiran kolam.
Menunggu kedua orang yang tercebur naik dari kolam.
Buto Ijo, Kalasrenggi, Selamet, Raden untung, ujang Beurit dan Wangsa melihat Aria sudah di tunggu oleh ratusan orang, langsung melesat ke arah kolam.
Salah seorang melempar tali, yang ujungnya sudah dipasang mata tombak ke arah Aria.
Tetapi sebelum tali sampai, tubuh orang itu seperti di tarik masuk ke dalam tanah sebatas dada.
Si pelempar tali terkejut, belum hilang rasa kejutnya, pisau kecil menyambar ke arah leher dari samping tubuhnya.
Sret!
Tampak satu garis tipis di leher, yang perlahan mulai keluar darah segar dari kulit leher yang merekah terkena sabetan pisau Si Beurit.
Setelah musuh menggelepar meregang nyawa akibat lehernya seperti di sembelih.
Ujang Beurit mengambil tali dari tangan orang itu, lalu melempar tali ke arah Aria sambil berkata
“Ketua! Ambil tali yang aku lemparkan,” ucap Ujang.
Aria meraih tali yang menuju ke arahnya, sambil memeluk gadis yang meniup suling, Aria melesat naik setelah meraih tali yang di lemparkan Ujang.
Puluhan orang langsung memburu ke arah Si Beurit! Setelah melihat pemuda itu menolong dua orang yang tercebur kedalam kolam.
Tetapi langkah mereka terhenti setelah melihat, di belakang pemuda yang menolong, berdiri 5 orang seperti melindungi pemuda itu.
Buto Ijo, Kalasrenggi, Wangsa, Selamet dan Raden Untung.
Buto Ijo menatap tajam ke arah puluhan orang yang tadi bergerak, sambil bertanya dengan nada penuh ancaman, setelah melihat rambut puluhan orang itu berwarna ke emasan.
“Kalian dari padepokan Emas?