Iblis Buta

Iblis Buta
Bab 91 : Kesepakatan Bersama


Setelah mendengar anjuran Wangsa, akhirnya Aria mengampuni, Nyai Kidung kencana dan Singabarong.


Aria berkata kepada kedua orang yang masih bersujud, “Bangkitlah,” ucap Aria kepada Nyai Kidung Kencana dan Singabarong.


“Aku baru tahu, ternyata kalian sudah menjadi suami istri! Ucap Wangsa yang masih tak percaya dengan perkataan Kidung kencana.


“Begitulah Resi! Selama aku di tawan, kakang Singabarong memberlakukan aku dengan baik, sehingga timbul benih cinta diantara kami,” balas Kidung kencana.


“Lantas kalau kalian sudah menjadi suami istri, kenapa kau tidak memberitahu muridmu? sehingga ia susah payah terus mencari siluman, untuk di hisap oleh Singabarong,” Tanya Wangsa dengan raut wajah tak mengerti.


“Kakang Singabarong ingin hidup kekal karena ingin melawan Kalasrenggi yang terus mencari aku, untuk membantunya menundukkan siluman-siluman yang ada di daerah Bromo,” jawab Nyai Kidung kencana.


“Aku pernah di tawan oleh Kalasrenggi, tetapi berhasil di bebaskan oleh kakang Singabarong, sejak itu kami bersembunyi di sini,” lanjut perkataan Nyai Kidung kencana.


“Jadi kau di tawan hanya pura-pura saja? Tanya Wangsa.


Nyai Kidung kencana anggukan kepala.


“Untuk apa Kalasrenggi hendak menundukkan siluman-siluman? Tanya Aria.


“Semua padepokan di tanah Jawa Setiap 10 tahun sekali selalu mengadakan pertemuan, dalam pertemuan itu mereka akan memilih lima padepokan terhebat untuk di jadikan pelindung dari semua perguruan yang ada di tanah Jawa.


“Kelima padepokan bukan saja harus melindungi, tetapi mereka juga mempunyai kuasa untuk memerintah padepokan lain yang berada di bawah kekuasaan kelima padepokan.


Kalasrenggi ingin membantu satu padepokan dengan siluman-siluman yang ia miliki, jika berhasil dan padepokan itu terpilih menjadi nomor satu, ia akan bertindak sesuka hati dan rencananya untuk menguasai tanah Jawa akan dengan mudah terlaksana.


“Itu bukan rencana Kalasrenggi! Tetapi rencana yang sudah di susun sedemikian rapi oleh Resi Larang tapa,” tiba-tiba Nyi Selasih berkata.


Nyai Kidung kencana terkejut mendengar perkataan Nyi Selasih.


“Siluman merah ( Kalasrenggi ) memang pernah berkata, bahwa ia bersama kedua temannya hendak menaklukkan tanah Jawa,” ucap Nyi Kidung Kencana.


“Apa tokoh per orang ngan tidak bisa ikut dalam pertemuan itu? Tanya Aria.


“Hanya ketua padepokan dan muridnya yang boleh hadir di pertemuan itu,” jawab Singabarong.


Aria yang dapat melihat Nyi Selasih lalu menatap sang istri, kemudian bertanya.


“Menurutmu! Langkah Apa yang harus kulakukan untuk menghadapi ini? Tanya Aria.


“Semua yang terjadi berawal dari Larang tapa, hanya membunuh Larang tapa bencana yang terjadi akan bisa di atasi.


“Jika larang tapa, Panglima hitam serta siluman merah berkumpul di acara ini, kita harus datang dan menghabisi mereka bertiga,” jawab Nyi Selasih.


“Itu artinya kita harus membuat padepokan agar bisa menghadiri acara di gunung Bromo? Tanya Aria.


“Suami benar! Jawab Nyi Selasih sambil tersenyum.


“Bagaimana menurutmu? Tanya Aria kepada Wangsa.


“Menurutku, perkataan Nyi Selasih benar, tetapi membuat padepokan tidak hanya membutuhkan anggota, tetapi juga biaya yang besar, karena kita harus punya wilayah dan rumah tetap sebagai markas padepokan,” ucap Wangsa.


“Apa kalian berdua bisa membantu kakak pertama untuk membuat padepokan? Tanya Aria kepada Nyi Kidung kencana dan Singabarong.


“Apapun perintah Raden akan kami laksanakan,” ucap Singabarong.


“Tunggu dulu! Aku harus ke gunung Semeru untuk bertemu dengan Resi Lanang jagad,” ucap Wangsa sambil menatap Aria.


“Masalah ini sangat mendesak! Kakak pertama bisa sampaikan padaku, apa yang hendak paman bicarakan kepada Resi Lanang jagad,” balas Aria.


“Berapa lama lagi acara pertemuan di gunung Bromo? Tanya Wangsa kepada Nyi Kidung kencana.


“Kalau tidak salah, acara akan diadakan 6 Purnama lagi dari sekarang,” ucap Singabarong.


Wangsa menarik napas mendengar perkataan Singabarong, kemudian berkata.


“Apa boleh buat kalau sudah begini.”


“Apa yang harus aku lakukan? Tanya Wangsa.


“Kalian bertiga membuat padepokan agar bisa menghadiri pertemuan di gunung Bromo.


“Ajak para pendekar yang punya kemampuan untuk bergabung dengan kita, semakin banyak pendekar bergabung semakin bagus, tetapi juga harus di ingat! Mereka yang bergabung dengan kita, harus benar-benar di telusuri asal-usulnya, jangan sampai ada penyusup,” ucap Aria.


“Maaf Raden! Untuk Masalah itu, Raden jangan khawatir, kami banyak teman, pasti mereka mau bergabung dengan kita,” ucap Singabarong.


“Tetapi markas kita berada di mana? Serta biaya untuk mendirikan padepokan apa sudah ada? Tanya Singabarong.


“Apa iblis kawi akan memberi, kalau kita minta padanya? Tanya Nyi Kidung kencana.


“Suketi! Kau bicarakan masalah ini kepada Ayahmu,” ucap Aria.


Suketi anggukan kepala mendengar perkataan Aria.


“Kalian tinggal minta sama iblis kawi, berapapun yang kalian butuhkan.


“Setelah bertemu dengan resi Lanang jagad, aku akan langsung ke gunung Bromo untuk menghadiri pertemuan itu,” ucap Aria.


Aria menyuruh mereka membuka padepokan di gunung Kelud, karena di sana ada keluarga Kemala, serta Naga hijau yang bisa melindungi padepokan yang baru didirikan, bila ada yang hendak mengacau.


“Baiklah kalau begitu! Seru Wangsa, tetapi siapa ketua padepokan dan apa nama dari padepokan kita yang baru? Tanya Wangsa.


“Tentu saja Raden ketuanya! Memangnya siapa yang pantas menjadi ketua? Tanya Buto Ijo.


“Baik! Aku setuju dengan usulmu,” balas Wangsa.


“Sekarang kita pikirkan nama padepokan kita,” lanjut perkataan Wangsa.


Semuanya diam seperti tengah berpikir.


“Apa kalian sudah ada nama untuk padepokan kita? Tanya Aria.


“Bagaimana kalau padepokan pendekar bercaping! Ucap Wangsa, karena kita selalu memakai caping,” lanjut perkataan Wangsa.


“Bagus! Balas Aria sambil tersenyum, setelah menerima masukan dari Wangsa.


Phuih!


“Kalau tidak memakai caping, itu artinya bukan orang-orang dari padepokan kita? Tanya Buto Ijo.


“Bagaimana kalau ada yang memakai caping lalu merampok? Lanjut pertanyaan Buto Ijo, karena belum mendapat jawaban dari Wangsa.


“Aku tidak setuju! Seru Buto Ijo.


“Coba sebutkan, apa nama yang kau punya? Aku ingin dengar,” ucap Wangsa.


“Aku hanya berpikir dengan sebutan 2 dunia,” ucap Buto Ijo.


“Dua dunia? Tanya Aria.


“Benar Raden! Aku campuran, begitupula singa jadi-jadian ini, Wongso dan Raden serta Nyi Kidung juga manusia, sedangkan Nyi Selasih, Suketi berasal dari alam lain, jadi padepokan kita mempunyai anggota dari dua dunia,” ucap Buto ijo.


He He He


“Tumben kau pintar, Jo! Ucap Wangsa sambil tersenyum.


“Tetapi kalau memakai nama dua dunia, Larang tapa pasti curiga kepada kita, karena hanya kita yang mampu menghadapi mereka di dunia manusia dan dunia mahluk ghaib,” Aria ikut bicara.


“Apa yang di katakan oleh ketua benar sekali! Nama Dua Dunia menurutku belum tepat,” ucap Nyai Kidung kencana.


“Bagaimana kalau padepokan itu kita beri nama Jagad Buwana? Nyi Selasih ikut bicara.


Jagad adalah Dunia dan Buwana Adalah Alam, jadi artinya Alam yang ada di dunia ini bermacam macam, ada alam manusia dan alam ghaib.


“Aku setuju dengan nama itu! Seru Aria sambil menatap sang istri.


“Aku juga setuju dengan Nyi Ratu,” Buto Ijo ikut bicara.


“Bagaimana dengan kalian? Tanya Nyi Selasih kepada Wangsa, Nyai Kidung kencana serta Singabarong.


“Kami Setuju! Menurutku nama Jagad Buwana paling pas untuk padepokan yang akan kita dirikan,” Nyi kidung kencana berkata.


“Resi keberatan dengan nama itu? Tanya Nyi Selasih saat melihat Wangsa diam.


“Aku setuju! Itu nama yang bagus,” jawab Wangsa.


Aria tersenyum setelah semuanya sepakat, kemudian berkata.


“Baiklah kita sudah sepakat, nama padepokan kita adalah.


“Padepokan Jagad Buwana.”