Iblis Buta

Iblis Buta
Jangan Membuatku Curiga


“Aku disini karena melihat ketua dan kau melesat dari jendela kamar penginapan, melihat ketua mengejar Siluman Api, lalu aku mengambil jalan lain untuk mencegatnya, itu kenapa aku berada di sini,” Kalasrenggi berkata menjawab pertanyaan Buto Ijo.


“Sudahlah! Mari kita kembali ke penginapan,” ucap Aria.


Ketiganya lalu kembali ke penginapan.


Setibanya Aria di kamar, Selamet, Wangsa, Raden Untung serta Si Beurit sudah menunggu di dalam kamar sang ketua.


“Bagaimana! Siapa yang kalian kejar dan mana orangnya? Wangsa terus bertanya, sambil menatap Aria dan Buto Ijo.


“Siluman api bukan orang, dan dia sudah mampus,” ucap Buto Ijo.


“Siluman api,” Wangsa berkata sambil kerutkan keningnya, kemudian bertanya.


“Kenapa siluman api bisa berada di sini?


“Kau tanyakan saja sana, kenapa tanya aku,” ucap Buto Ijo.


“Kalau sudah mati, bagaimana dia bisa jawab, tolol,” balas Wangsa dengan nada kesal dan lanjut berkata.


“Kau kan yang membunuhnya?


“Kalasrenggi yang membunuhnya,” jawab Buto Ijo.


“Kalasrenggi,” ucap Wangsa dengan kening berkerut.


“Sudahlah! Kalian kembali ke kamar masing-masing,” Aria berkata.


Aria setelah anak buahnya balik ke kamar masing-masing, kembali duduk sila sambil menenangkan diri dan berpikir langkah yang akan ia ambil untuk ke depannya.


Masih teringat perkataan Mpu Barada, “jangan kau pertahankan kendi ini, satukan darah Suketi dan darah Buto Ijo yang sudah tercampur Mustika naga hijau, hanya itu yang bisa membuka kutukan anak gadis Ki Banyu alas.


“Jangan pertahankan kendi.”


“Apa ada yang akan merebut kendi yang kini berada di tanganku?


“Aku tahu orangnya,” Aria berkata dalam hati, kemudian mulai memejamkan mata.


Pagi-pagi Ujang Beurit sudah pergi untuk melihat situasi.


Selamet menyiapkan teh panas dan makanan ringan untuk Aria.


Sedangkan Raden Untung berdiri di depan halaman Penginapan, matanya terus menatap ke atas mencari pelangi dimana pelangi akan muncul.


Matahari yang bersinar lembut, pasti akan di iringi oleh sinar pelangi.


Wangsa membuka jendela membiarkan matahari pagi masuk kamar.


Buto Ijo duduk di kursi, sedangkan Suketi duduk di atas meja.


“Apa kau mau mandi? Tanya Buto Ijo kepada Suketi, “Kalau kau mau mandi! Aku akan menyiapkan air panas untukmu,” Buto Ijo berkata.


“Air hangat, Jo! Apa kau mau merebus Suketi? mandi pakai air panas,” ucap Wangsa.


Suketi mendengar perkataan Wangsa langsung menatap tajam ke arah Buto Ijo, lalu bertanya.


“Kakang Buto mau merebus aku?


Sebutir kacang lalu melesat dan menghantam kening Buto Ijo.


Plak!


“Bangsat kau resi palsu! Siapa yang bilang aku akan merebus Suketi,” Buto Ijo langsung berdiri dan menunjuk Wangsa.


“Kau memang tidak bilang akan merebus, lantas air panas untuk apa? Tanya Wangsa.


“Tentu saja untuk mandi Suketi,” Jawab Buto Ijo.


“Memangnya kau pikir Suketi kuat, mandi pakai air panas? Kembali Wangsa bertanya.


“Sudah di campur air dingin, airnya jadi hangat, tolol,” ucap Buto Ijo dengan nada kesal.


“Kan tadi, aku bilang begitu. Air hangat, Jo! Lalu kenapa kau marah? Tanya Wangsa.


Phuih!


Buto Ijo meludah mendengar perkataan Wangsa.


Lalu pergi keluar kamar karena kesal.


Sementara Raden Untung yang sedang di luar penginapan masih terus menatap langit.


Dua orang murid padepokan Srigunting yang berpakaian hitam menatap Raden Untung.


“Hai, orang tua. Apa yang kau cari di atas sana? Tanya salah seorang murid padepokan Srigunting.


“Bukan urusanmu,” jawab Raden Untung.


“Keparat! Sombong sekali kau pak tua, jangan mentang-mentang punya tubuh dan kumis besar, kau pikir kami takut padamu? setelah berkata, murid padepokan Srigunting langsung meludah.


Phuih!


Tangan Raden Untung, langsung melesat ke arah leher murid padepokan Srigunting yang baru saja meludah.


Crep!


Setelah mencengkeram, jari tangan Raden untung langsung mematahkan leher, pemuda naas tersebut.


Krak!


Setelah mematahkan leher, Raden Untung melotot ke arah mayat murid padepokan Srigunting dan berkata.


“Aku, Untung, sedangkan kau tidak.”


“Dasar iblis! Kau sungguh kejam,” teriak murid padepokan Srigunting, melihat kawannya tewas mengenaskan.


“Raden Untung langsung menendang kaki kanan murid padepokan Srigunting, setelah mendengar dirinya di maki.


Krak!


Suara patahan tulang kaki terdengar, murid padepokan Srigunting langsung menjerit kesakitan, setelah kakinya patah, tubuhnya langsung membungkuk, berusaha menahan sakit, sambil menjerit.


Melihat kepala orang yang memaki ada di depan dadanya, tangan kanan Raden Untung langsung menghantam kepala orang itu.


Prak!


Suara jeritan langsung berhenti, bersama nyawanya yang pergi,


Lima orang berpakaian hitam melesat keluar.


Melihat 2 orang kawan mereka tewas.


Mereka langsung mencabut sepasang pedang pendek dan menyerang Raden Untung.


Satu bayangan hitam dengan sepasang pedang pendek, layaknya gunting menyambar ke arah kepala Raden Untung.


Raden Untung membungkuk kan badannya, bayangan hitam dengan sangat cepat lewat di atas kepala Raden Untung.


Setelah berhasil menghindar, Raden Untung angkat kaki kanan, setelah melihat sepasang pedang menyambar ke arah kakinya.


Setelah berhasil menghindari tebasan di kakinya, Raden Untung langsung salto ke belakang, saat melihat dua orang murid padepokan Srigunting hendak menyerangnya.


Setelah agak jauh dari musuh, Raden Untung langsung pasang kuda-kuda, kemudian merapalkan Aji Banteng Wulung.


Raden Untung pejamkan mata, setelah merasakan urat di tubuh menegang dan perlahan membesar, begitu pula dengan otot yang ada di tubuh Raden Untung.


Tubuh Raden Untung menjadi padat berisi, layaknya seorang atlet binaraga.


Kelima orang murid padepokan Srigunting melihat perubahan yang terjadi, tampak ragu hendak menyerang Raden Untung, mereka hanya saling pandang antar kawan sendiri.


Salah seorang menatap langit, lalu berbisik.


“Lihat ke atas! Pelangi sudah tampak kan diri, mari kita pergi,” ucap salah seorang murid Srigunting yang melihat pelangi muncul bersama mentari pagi.


“Ketua pasti sudah berada di sana, Mari kita pergi,” setelah berkata, mereka langsung melesat meninggalkan Raden Untung yang tengah memejamkan mata,


Lima bayangan melesat ke arah pelangi, yang tempatnya sudah mereka yakini, yakni Telaga warna.


Buto Ijo yang kesal dengan Wangsa, setelah keluar kamar langsung bergerak keluar dari penginapan, Buto Ijo kerutkan keningnya setelah keluar dari pintu dan melihat mayat dua orang pria berpakaian hitam di halaman penginapan.


Tak jauh dari mayat kedua pria berpakaian hitam, tampak Raden Untung sudah berubah menjadi besar, dengan posisi tengah memasang kuda-kuda siap tempur, tetapi matanya terpejam


Hmm!


Buto Ijo mendengus melihat Raden Untung.


Raden Untung mendengar suara dengusan, langsung membuka mata. Tampak mata Raden Untung sudah berubah merah menyala, tanda Ajian Banteng Wulung siap di gunakan.


Raden Untung setelah membuka mata, melihat Buto Ijo berdiri satu tombak di depannya sambil bertolak pinggang.


“Sedang apa kau? Tanya Buto Ijo.


“Bertempur melawan musuh,” jawab Raden Untung.


“Mana musuhmu? Kembali Buto Ijo bertanya, kali ini nadanya mulai kesal.


Raden Untung melihat ke belakang Buto Ijo, kemudian matanya mulai keliling mencari 5 orang murid padepokan Srigunting, yang tadi menyerangnya.


“Tadi ada di sana,” ucap Raden Untung setelah tidak melihat kelima murid padepokan Srigunting, sambil menunjuk ke arah tempat Buto Ijo berdiri.


“Jadi aku ini musuhmu? Tanya Buto Ijo, raut wajahnya mulai berubah geram ketika berkata.


“Tidak….tidak,” ucap Raden Untung, perlahan tubuhnya berubah kembali ke asal.


“Ada pelangi! Seru Raden Untung setelah melihat ke atas, Raden Untung langsung melesat ke dalam Penginapan.


“Untung ada pelangi,” batin Raden Untung, setelah berada di dalam penginapan.


Buto Ijo mendengus sambil melangkah ke penginapan, raksasa bertubuh hijau sambil jalan, terus saja menggerutu.


“Entah kenapa dengan hari ini? semuanya membuat aku kesal,” batin Buto Ijo.


“Di dalam Ada Resi palsu.


“Setelah keluar! Ada Raden tak waras.”