Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 78 Membutuhkan


Diana merasa dia hampir menabrak sesuatu, dia segera keluar dari mobil, memeriksa keadaan di depan mobil yang dia kemudikan. Diana membungkuk, membantu wanita itu untuk bangkit.


Di dalam mobil.


Karena guncangan efek rem mendadak yang Diana lakukan, hal itu mengembalikan sedikit kesadaran Ivan. Dia segera keluar dari mobil. Di depannya ada seorang petugas kebersihan yang di bantu Diana.


“Ada yang terluka?” tanya Ivan pada petugas kebersihan.


“Saya tidak apa-apa, Nona ini mengerem saat yang tepat. Saya tidak apa-apa.”


“Yakin?” Ivan sangat khawatir.


“Saya tidak terluka, Tuan.”


“Lebih baik Anda kami bawa ke Rumah Sakit saja, kita pastikan sama-sama,” bujuk Ivan.


“Saya benar-benar tidak apa-apa, Tuan.” Petugas kebersihan itu menoleh kearah Diana. “Maafkan saya, karena menyeberang jalan tidak hati-hati."


Diana mengetik ….


*Maafkan kami juga bu.


Melihat keadaan wanita itu baik-baik saja, Diana dan Ivan kembali ke dalam mobil, mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Sedang petugas kebersihan itu juga melanjutkan pekerjaannya, saat dia menyeberang jalan ….


Brakkkkk!


Tiba-tiba sebuah mobil yang baru saja melintas menabraknya.


***


Diana melajukan mobil yang dia kemudikan dengan hati-hati, sesekali dia mengawasi Ivan. Terlihat Ivan lagi-lagi kehilangan kesadarannya, dia terus meracau, menyebut bermacam kata yang tidak dimengerti oleh Diana. Tiba-tiba Ivan melepaskan seatbeltnya, lalu mendekatkan wajahnya kearah Diana. Sambil memerhatikan Jalan, Diana berusaha menahan badan Ivan dengan sebelah tangannya agar tidak terlalu dekat dengannya, tidak tahan dengan kelakuan Ivan, Diana menepikan mobilnya, dia mendorong Ivan, hingga punggung Ivan terhempas pada sandaran mobilnya. Ivan berusaha mendekati Diana lagi, tapi Diana tengah mengetik kata secepat yang dia bisa dengan huruf Kapital.


*TOLONG JAGA BATASAN ANDA!!!


Antara sadar dan tidak setelah membaca tulisan itu, Ivan seperti anak yang penurut, dia kembali membenarkan posisi duduknya, lalu menyadarkan punggungnya di sandaran kursi. Melihat Ivan yang mulai tenang, Diana kembali meneruskan perjalannnya menuju Apartemen.


Sesampai di Apartemen, Diana menghembuskan napasnya, sangat lega akhirnya perjuangan mengemudikan mobil berakhir juga. Melihat Ivan tidak sadar, Diana menelungkupkan wajahnya pada setiran mobil, perjuangannya masih berlanjut, Diana terus memapah Ivan menuju Apartemen mereka, setelah sampai di dalam Apartemen, Diana merebahkan Ivan di sofa Panjang, dia segera membuat minuman hangat buat Ivan dan membantu Ivan untuk meminumnya.


Waktu terus berlalu, tidak terasa malam menyapa kota itu. Terlihat Ivan mulai lebih baik, dia duduk bersandar di sofa sambil memijat tengkuknya. Diana mendekati Ivan, dan memperlihatkan layar handphonenya.


*Aku ada tugas, bolehkah aku kembali ke asrama? Aku ingin meminjam beberapa buku dari perpustakaan kampus.


“Buku apa yang kamu perlukan?"


Diana menuliskan beberapa buku yang dia butuhkan.


“Hanya itu?”


Diana menganggukkan kepalanya.


“Kalau hanya itu, aku punya.” Ivan berjalan menuju sebuah ruangan, saat pintu ruangan itu terbuka, mata Diana disuguhi bermacam-macam buku yang tersusun rapi pada tempatnya.


“Silakan masuk, dan lakukan apa yang kamu mau.”


Diana segera masuk dan mengambil beberapa buku yang dia butuhkan, dengan nyamannya dia menghempaskan bobot tubuhnya pada kursi baca yang ada di ruangan itu. Ivan pergi meninggalkan Diana dengan urusannya, sedang dia menuju kamarnya.


Saat selesai makan malam, Diana kembali lagi ke perpustakaan Ivan, dia bekerja keras melakukan semua tugasnya di sana. Melihat Diana begitu serius, Ivan bingung menyapa atau tidak, saat Ivan menegakkan wajahnya lagi, ternyata tatapan mata Diana tertuju padanya. Diana sudah menyadari keberadaannya.


“Kalau tugasmu masih banyak, sebaiknya kamu tidur di sini saja, kalau kamu ngantuk kamu tingal rebahan, di pojok sana ada bantal dan selimut tebal. Jadi kalau kamu terbangun lagi, kamu bisa melanjutkan tugasmu.”


Diana hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Kalau perlu sesuatu, panggil aku. Malam ini aku lembur, aku mengerjakan semua pekerjaanku di ruang tamu.” Tanpa menunggu respon Diana, Ivan segera pergi dan melanjutkan pekerjaannya.


***


“Diana, bagaimana? Apa hal yang kamu butuhkan ada?”


Pertanyaan Ivan seketika membuat Diana tersentak dan menyadari kenyataan, dia berhenti mengagumi garis wajah tampan itu. Diana hanya menganggukkan kepalanya.


“Segarkan tubuhmu, aku akan siapkan sarapan untuk kita berdua.”


Diana kembali mengangguk, dan langsung menuju kamarnya.


Setelah keduanya selesai sarapan, Ivan mengantar Diana menuju kampus, selama perjalanan sesekali Ivan melirik kearah Diana. Wajah Diana terlihat begitu Lelah. “Diana, sebaiknya kamu pindah ke belakang, berbaring di sana, dan tidurlah. Lihat, jalanan macet.” Ivan mengisyarat keadaan jalanan yang di depannya.


Saat Ivan menepikan mobilnya, Diana segera menuju kursi belakang, Saat dia keluar dari mobil, dari kejauhan Diana melihat dua orang gadis yang dia kenali, keduanya berdiri di tepi jalan. Diana segera masuk ke dalam mobil.


Dia memperlihatkan layar handphonenya pada Ivan.


*Bisa kan Anda berhenti di dekat dua gadis yang ada di depan sana?


Ivan mencoba melihat dua gadis yang dimaksud Diana. Ivan mengenali salah satunya, dia adalah Saras. “Tentu saja.” Ivan mengerti apa niat Diana.


Saat mobil Ivan berhenti di dekat dua gadis yang dimaksud Diana, perlahan Diana menurunkan kaca mobilnya, dia memberi isyarat pada Saras dan Syila agar masuk ke dalam mobil.


“Apa boleh?” Saras terlihat ragu.


Perlahan kaca depan mobil bagian samping turun, tampaklah wajah Ivan. “Tentu saja. Ayo masuk.”


Syila terpana melihat ketampanan laki-laki yang mengemudikan mobil itu, saat Saras sudah masuk ke dalam mobil, Syila masih mematung di posisinya.


“Syila ayo cepat!” panggil Saras.


Kesadaran Syila kembali, dia segera masuk kedalam mobil. Sepanjang perjalanan, Syila tidak bisa mengalihkan pandangannya, dia terus memandangi wajah tampan Ivan yang begitu mengagumkan.


Setelah Ivan memarkirkan mobilnya di parkiran Universitas, Saras menepuk Syila yang sepanjang perjalanan hanya melamun.


“Sudah sampai!”


Syila segera keluar dari mobil, kemudian di susul Saras.


“Diana, bisa bicara sebentar?” tanya Ivan.


Pergerakan Diana terhenti, dia memberi isyarat pada Ivan kalau kedua temannya menunggunya. Ivan faham.


“Hei kalian berdua.”


Saras dan Syila lansung menoleh pada Ivan.


“Kalian duluan saja, aku ada perlu dengan Diana sebentar,” ucap Ivan.


“Baiklah, terima kasih atas tumpangannya, Tuan.” Ucap Saras. Saras menutup kembali pintu mobil yang terbuka, dan menarik Syila agar pergi dari sana.


Di dalam mobil hanya ada Diana dan Ivan. Ivan meraih sesuatu dari sakunya. “Ini untukmu.” Ivan memberikan kartu pada Diana.


“Ini kartu VIP di sebuah Clubhouse yang ada di dekat sini. Untuk beberapa waktu aku tidak berada di dekatmu, aku tidak tahu harus memberimu apa. Aku hanya ingin memberikan kartu ini untukmu. Terimalah Diana.”


Diana langsung menerima kartu pemberia Ivan, lalu dia membuka tasnya, Diana mengambil seikat uang dollar dengan pecahan $100, dan memberikannya pada Ivan.


“Apa maksudmu?” Ivan sangat bingung karena Diana memberinya uang dollar Amerika.


*Aku tidak ingin memanfaatkan kamu. Kamu pergi ke luar negri, kamu memberikan ini.


Diana meperlihatkan kartu yang Ivan berikan padanya.


*Aku di sini memerlukan ini, dan kamu di sana membutuhkan itu.


Tanpa menunggu jawaban Ivan, Diana segera keluar dari mobil Ivan. Ivan sangat marah dengan sikap Diana, rasanya dia ingin melempar seikat uang dollar yang ada di tangannya.