Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 253


Aridya kembali diam. Dia tidak tahu harus mulai bicara dari mana.


"Mama ... kenapa mama sangat sedih, seharusnya mama bahagia, kami selamat," ucap Nazif.


"Kalian tahu siapa dokter yang menyelamatkan nyawa kalian?" tanya Aridya.


Nazif dan Agis menggeleng pelan.


"Yang menyelamatkan kalian adalah dokter hebat misterius yang dijuluki dokter kemampuan Dewa." Aridya berusaha mengatur napasnya yang mulai terasa berat, "dan dokter itu adalah Diana."


Duggggg!


Agis dan Nazif seketika membisu menyadari sosok yang selama ini mereka jahati malah menyelamatkan mereka dari kematian.


"Kalian tahu apa yang Diana katakan pada mama?" Aridya memandangi kedua anaknya bergantian, "Dia menyelamatkan kalian demi cintanya pada kedua orang tuanya, tidak seperti mama yang merenggut nyawa ibunya demi cinta mama pada Ayahnya." Aridya menunduk berusaha menahan isak tangis yang ingin meledak lagi.


"Sakit! Mama tidak tahu mengumpamakan penderitaan mama saat melihat kalian berdua sekarat."


Agis dan Nazif menyadari apa kesedihan ibunya. Mereka berdua langsung memeluk Aridya.


"Aku berjanji, aku akan mengabdikan sisa hidupku untuk menolong Diana, bahkan aku rela memberikan hidupku untuknya," ucap Agis.


"Aku juga," sela Nazif.


"Setelah kita keluar dari tempat ini, kita pikirkan lewat mana kita bisa membantu Diana. Yah ... walau mama yakin Diana tidak butuh pertolongan kita, dia memiliki segalanya."


***


Di tempat lain.


Diana masih berada di dalam taksi, suara deringan handphonenya menyita perhatiannya. Saat Diana mengambil handphonenya, ternyata itu adalah Ivan.


"Sudah sampai?" tanya Diana.


"Baru saja. Kamu di mana?"


"Di jalan, tadi pegawai catatan pernikahan memintaku menemuinya, dokumen nikah kita sudah aku terima, simpan di mana dokumen ini?"


"Antar ke televisi swasta, biar mereka menyiarkan pernikahan kita. Agar seluruh dunia tahu kalau aku laki-laki beruntung yang memiliki permata terindah di dunia ini."


"Yang ada ibumu langsung stroke!" Diana tertawa membayangkan bagaimana kemarahan Rani kalau Rani tahu dia dan Ivan sudah menikah.


"Ku rasa kamu tidak akan membiarkan ibuku begitu saja, sejahat apapun orang padamu, terkadang kamu tetap menolong mereka."


"Rencana apa yang akan kalian lakukan di sana?" Diana merubah arah pembicaraan mereka.


"Niatnya aku dan Yudha akan melakukan transaksi dengan harga murah. Saat ini Dillah mengatur pertemuan dengan salah satu pembeli di sini. Kamu sendiri sekarang mau kemana?"


"Kamu akan memenuhi undangan yang mana?"


"Kalau bisa tidak satupun, aku hanya Mahasiswi Universitas Bina Jaya. Andai ada undangan yang harus aku penuhi, ya undangan yang bertuliskan Tuan Ivan dan Istri, baru aku memenuhinya."


"Ya sudah, selesaikan urusanmu permataku."


"Semoga urusanmu di sana, lancar. Suamiku," ucap Diana.


Keduanya sama-sama menyudahi sambungan telepon mereka.


*


Universitas Bina Jaya.


Dari salah satu kaca jendela Gedung, sepasang mata terus mengamati Diana yang berjalan memasuki Area Universitas.


“Berhenti mengaguminya, selain dia tidak pantas untukmu, Diana juga sudah bertunangan dengan pemilik Universitas ini.”


“Kenapa Ayah tidak memberiku kesempatan untuk membuktikan diri? Aku akan buktikan pada Ayah kalau aku pantas untuk Diana!”


“Buka matamu, Thabby! Kamu lupa siapa Diana?”


“Aku tahu, sebab itu aku menyukainya, andai saja Ayah memasukanku pada kouta pertukaran pelajar, aku dan Diana pasti bisa lebih dekat!”


“Aku harus membeli cermin sebesar apa Thaby? Agar kamu bisa melihat perbandinganmu dengan Diana?”


Thaby sangat kesal. Ayahnya selalu mengatakan dirinya tidak pantas untuk Diana, Thaby pergi begitu saja dari ruangan Ayahnya.


Abimayu memandang kepergian putranya. “Jika kamu bertindak aneh-aneh untuk mendekati Diana, aku sendiri yang akan menghukummu, Thaby.”


Abimayu memahami mengapa putranya menyukai Diana, siapa saja yang melihat betapa istimewanya Diana, tentu akan jatuh cinta. Tapi Abimayu hanya ingin putranya siap kecewa, sekeras apapun perjuangannya meraih tangan Diana, semua itu tidak akan berhasil.


Di Lorong.


Diana tetap fokus dengan tujuannya, dia tidak perduli topik apa yang dibahas oleh teman-teman kuliahnya.


“Diana!”


Panggilan itu membuat Diana menghentikan langkahnya. “Iya, ada apa?”


“Diana, aku penasaran, apa sih kehebatan kamu, ku dengar namamu salah satu tamu saat Seminar nanti berlangsung.”


“Apa? Maaf, apa aku tidak salah dengar?” Diana sangat terkejut dengan kabar itu, sebisanya dia bersikap bodoh.