Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 232 Akan Ada Hujan Bintang


Setelah selesai sarapan, mereka berempat bersantai di teras rumah. Tiba-tiba wajah Anton berubah saat membaca pesan masuk. Diana menyadari perubahan wajah Anton.


"Ada apa, Anton?" tanya Diana.


"Ada seminar yang harus aku hadiri." Anton memperlihatkan jadwalnya pada Diana. "Bagaimana ini? Mereka sudah mengundangku sejak 3 bulan lalu, sebab ini juga aku datang ke kota ini."


Anton memberi kode pada Diana, kalau seminarnya berkaitan dengan mimpi Diana. "Setelah seminar ini selesai, akan ada hujan bintang-bintang di langit siang.


Ivan tidak mengerti maksud Anton, tapi dia yakin ini penting bagi Diana. "Kalau begitu kita kembali ke kota sekarang," ucap Ivan.


"Aku tidak bisa, aku harus menghadiri konfrensi pers di klinik yang ada di pulau ini, kemaren aku sudah berjanji akan hadir," ucap Diana.


"Aku saja yang pulang ke kota, bisa?" tanya Anton.


"Begini saja, Aku akan menemani Anton pulang, sedang Dillah tetap di sini menemani permataku," ucap Ivan.


Mereka semua setuju. Ivan menoleh pada Diana, rasanya dia sangat berat meninggalkan Diana di sini.


"Apa aku saja yang menemanimu di sini?" tawar Ivan.


"Percayakan aku pada Dillah, Dillah adalah pengawal yang bisa ku ajak kerjasama untuk menipumu," sahut Diana.


"Kau?" Ivan kesal dengan jawaban Diana.


"Pergi sana, selesaikan semua pekerjaanmu, aku tidak sabar mengajakmu pulang bertemu Nenek dan Guru besarku."


Ivan meraih tangan Diana dan mencium punggung telapak tangan itu. "Baiklah permataku, jaga dirimu. Ingat ada yang sangat membutuhkanmu di dunia ini, yaitu aku."


Melihat Anton keluar dari rumah, mereka berdua segera masuk kedalam hellychopter dan meninggalkan pulau itu.


Perjalanan Ivan dan Anton.


"Ku dengar kamu akan ikut ke desa bersama Diana." Anton membuka pembicaraan mereka.


"Iya, Dia ingin mengenalkanku pada orang-orang yang berharga dalam hidupnya," sahut Ivan.


"Desa kami punya adat yang harus di patuhi, mengingat Diana sangat istimewa di desa kami, kemungkinan sebelum masuk desa kamu akan di uji."


"Ujian apa?"


"Bela diri, kamu akan bertarung melawan jagoan di desa kami, dan memanah. Lawan tergantung bunga desa yang akan di persunting, mengingat istrimu adalah Diana, pastinya lawanmu adalah mereka yang terhebat, memastikan apakah kamu layak mendapatkan Diana, juga apakah kamu bisa melindunginya."


"Aku baru tahu kalau ada ujian semacam itu."


"Aku sudah menawarkan bantuan untukmu pada Diana, tapi dia tidak mengiyakan tawaranku," ucap Anton.


"Dia tidak menerima bantuanmu, berarti Diana yakin dengan kemampuanku."


Anton melamun, pikirannya melayang memikirkan Ivan, apa Ivan sanggup melawan jagoan desa mereka. Sedang Ivan, dia hanya berharap, semoga dia bisa melewati semua ujian nanti.


Kamu adalah permata paling indah di dunia, seberat apapun ujian nanti, aku akan berusaha keras membuktikan kalau aku pantas memilikimu, batin Ivan.


"Hujan bintang di langit siang, apa maksudnya?" Ivan berusaha merubah pembicaraan mereka.


"Nanti Anda akan melihat sendiri." Anton tersenyum melihat rasa penasaran Ivan.


Di pulau.


Diana dan Dillah bersiap menuju tempat acara. Saat mereka keluar dari batas kawasan pribadi yang di jaga ketat, lumayan jauh dari batas aman, tiba-tiba mobil yang Dillah kemudikan dihadang beberapa mobil lain.


"Nona, kita harus bagaimana?" Dillah sangat ketakutan.


"Tenang saja, mereka tidak akan menyakiti selama kita menurut."


Saat yang sama seorang pria botak mengetuk jendela mobil di sisi Diana. Dia memberi isyarat agar Diana membuka kaca mobilnya.


"Jangan di buka Nona," pinta Dillah.


"Tenang saja." Diana tetap membuka kaca mobilnya. "Ada apa?" tanya Diana dingin.


"Jika ingin selamat, ikut kami!"


"Aku siap ikut kalian, tapi salah satu dari kalian harus ke klinik, katakan pada mereka Dokter Rahma sudah meninggalkan pulau karena ada operasi darurat."


Permintaan Diana langsung mereka setujui, salah satunya langsung menelepon pihak klinik, dan mengatakan seperti apa yang Diana minta.


Saat Diana bernegoisasi dengan preman-preman itu, Dillah berusaha mengirim pesan pada Ivan.


*Tuan Ivan, saat ini kami dihadang, dan mereka memaksa kami untuk mengikuti mereka, Nona tidak melawan malah setuju. Di mana posisi kami, lacak saja alat pelacak yang selalu aku bawa, Tuan.


Melihat preman yang lain mengetuk kaca mobil di sampingnya, Dillah langsung menghapus pesan yang dia kirim, dan menyembunyikan handphonenya. Perlahan Dillah membuka pintu mobilnya.


"Keluar! Kamu juga ikut kami!"


Saaat Dillah keluar dari mobil, preman itu menggeledah tubuhnya, dan menemukan handphone, preman itu menyita handphone Dillah, dan memasukannya kedalam tas Diana yang mereka ambil.


"Sudah aman, ayo bawa mereka!"


Diana duduk di tengah diapit kedua preman, sedang Dillah mereka masukan dalam bagasi mobil.


***


Di belahan lain.


Nizam bersiap menghadiri rapat perusahaan Ayahnya yang lain, deringan handphone membuat Nizam menghentikan kegiatannya. Saat membaca pesan masuk dari Dillah, Nizam segera membukanya.


*Tuan Ivan, saat ini kami dihadang, dan mereka memaksa kami untuk mengikuti mereka, Nona tidak melawan malah setuju. Di mana posisi kami, lacak saja alat pelacak yang selalu aku bawa, Tuan.


Nizam sangat kaget mengetahui hal itu, dia tahu kalau Dillah bersama Diana, tapi dia belum tahu apa Diana sudah kembali ke tanah air atau belum. Nizam menelepon anak buahnya untuk membatalkan rapat, sedang dia langsung menuju kantor Agung Jaya


Sepanjang perjalanan Nizam berusaha menghubungi Ivan, tapi panggilannya tidak kunjung tersambung.


"Ayolah Ivan ... Angkat teleponmu!"


Tidak terhitung berapa kali Nizam menelepon Ivan, saat mobilnya sampai di parkiran Agung Jaya, saat yang sama dia melihat Ivan melambaikan tangannya pada sebuah taksi yang perlahan melaju meninggalkan Kantor Agung Jaya.


Nizam berlari cepat kearah Ivan. "Seberapa penting orang dalam taksi itu sehingga kamu mengabaikan panggilan dariku!"


Ivan tidak mengerti kepanikan Nizam, dia segera memeriksa handphonenya, ternyata ada ratusan panggilan tidak terjawab di sana.


"Kenapa kamu meneleponku sebanyak ini? Ada apa?" tanya Ivan.


"Diana di culik! Sekretarismu yang bodoh itu beruntung salah kirim pesan, andai dia mengirim padamu, sampai sekarang kamu tidak menyadari kalau Diana dalam bahaya!" Wajah Nizam memerah menahan luapan kemarahannya.


Nizam memperlihatkan pesan Dillah yang salah kirim hingga masuk ke handphonenya.


Membaca pesan Dillah, Ivan langsung menghubungi Narendra, dia meminta Narendra melacak alat pelacak Dillah.


"Nona ada di kota ini, Tuan. Dia berada di bagian barat." Narendra mengirimkan titik posisi Diana.


"Ayo ke arah barat!" ucap Ivan.


"Diana sudah kembali?" tanya Nizam.


"Sudah kembali beberapa hari yang lalu, ayo selamatkan dia!"


Ivan dan Nizam berlari cepat kearah mobil Nizam.


Di dalam gedung Agung Jaya.


Yudha bingung melihat Narendra sangat tegang memandangi layar laptopnya.


"Ada apa Narendra?"


"Nona di culik, saat ini aku berusaha melacak posisi mereka, karena jauh rada sulit melacak posisi pasti."


"Bawa laptopmu, kita dekati titik posisi itu," usul Yudha.


Narendra setuju, dia dan Yudha segera meninggalkan gedung Agung Jaya. Yudha menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil mendengari arahan Narendra. Sedang Narendra terus berbicara dengan Ivan memberitahu titik persis posisi Dillah.


**


Di sisi lain.


Mobil yang membawa Diana memasuki kawasan pabrik Tua. Diana berusaha mengamati keadaan, sangat banyak preman bersenjata di sana. Diana diminta turun, dengan santai Diana keluar dari mobil, dan preman yang satunya mengeluarkan Dillah dari bagasi.


"Selama kalian menurut, kalian tidak akan kami sakiti," ucap salah satu preman.


"Dari awal kalian mencegat kami, adakah kami protes?" tanya Diana balik.


Para preman itu memasukan handphone Diana dan Dillah ke salah satu kotak, Diana tahu, kotak itu adalah pengacau signal, di mana handphone mereka tidak akan berfungsi selama berada dalam kotak itu.


Diana dan Dillah digiring memasuki pabrik tua itu.