Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 51 Terpesona


Sedari tadi Yudha terus tersenyum, melihat kakek Agung yang terlihat sangat bahagia karena bisa berkumpul bersama anak dan cucunya.


"Nak Angga, akhirnya kamu pulang," seorang wanita langsung memeluk Angga.


"Tentu aku pulang tante, demi kakek. Tante Wilda dan Qiara apa kabar?"


"Aku baik kak," sela seorang gadis manis yang berdiri di samping ibunya.


"Iya, aku dan Qiara, baik nak Angga."


"Kakek, kakak-kakak, om tante, aku permisi dulu ya," pamit Qiara.


Pandangan mata Yudha tertuju kearah wanita yang di susul Qiara, rasanya seketika moodnya memburuk melihat wanita itu ada di pesta ulang tahun kakek Agung.


Potongan buah yang sebelumnya terasa manis dan menyegarkan, saat ini tidak ada rasanya lagi di mulut Yudha, kala dia melihat Veronica ada di sini. Tapi Yudha terus memasukkan satu per satu potongan buah yang ada dalam piringnya, berusaha tampak baik-baik saja, walau saat ini perasaannya sangat kesal.


"Maaf, apakah kami terlambat?"


Yudha sangat malas menoleh kearah suara itu berasal, namun saat dia menoleh, kedua matanya disambut oleh keajaiban dunia yang ada di depan matanya, seketika dia terpana.


Pluk!


Potongan buah yang sedari tadi masuk kedalam mulut Yudha seketika jatuh ke lantai, mulut laki-laki itu terbuka lebar saat dia melihat sosok Wanita cantik yang baru datang. Bukan hanya Yudha, tapi tamu undangan yang lain juga terpesona melihat sosok cantik itu.


Diana, kamu sangat luar biasa, cantik, tangguh dan sangat istimewa, Ivan sangat beruntung memiliki kamu. Tanpa polesan apapun kamu sudah terlihat sangat cantik, sekarang kamu semakin terlihat sempurna.


Yudha tidak bisa merubah perhatiannya, pandangan matanya terus tertuju pada Diana.


Seorang gadis dengan dress sederhananya menjadi pusat perhatian para tamu, Rambutnya yang di tata, juga polesan make up tipis yang menriasi wajahnya, sungguh membuat Diana menjadi Wanita tercantik hari ini.


“Apa ku bilang, membungkam mereka agar tidak merendahkanmu cukup kamu dengan sedikit berdandan, maka mereka bisa melihat betapa indahnya Mutiara dari desa ini,” ucap Nizam pelan.


Ivan mematung melihat Diana terlihat secantik ini, tatapan tidak sukanya terus tertuju pada Diana. Rasanya ingin sekali menarik Diana ke suatu tempat dan mengurungnya di sana, agar semua mata yang saat ini tertuju pada Diana tidak bisa lagi mengagumi kecantikan itu.


"Huhhhh!" Ivan menghempas napasnya, dan berusaha terlihat tidak peduli pada kehadiran Diana, walau dirinya ingin sekali menarik Diana agar tidak dekat dengan pengacara itu.


Mereka berdua berjalan mendekati kakek Agung. Diana tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya, memberi salam pada kakek Agung. Diana memberikan kartu ucapan selamat ulang Tahun yang dia siapkan sebelumnya.


Kakek Agung tersenyum membaca kartu ucapan dari Diana. “Terima kasih, nak.”


Diana kembali menganggukkan kepalanya.


Wilda merasa aneh dengan Wanita cantik yang berdiri di dekat Ayahnya.


“Oh ya Diana, perkenalkan ini Wilda anak bungsuku, dan ini Angga, kakak Ivan. Beberapa tahun terakhir ini, Angga menetap di luar negri,” terang kakek Agung.


Sesaat perhatian kakek Agung tertuju pada Wilda dan Angga. “Wilda, Angga. Perkenalkan, ini Diana, dia tunangan Ivan.”


Angga langsung mengulurkan tangannya kearah Diana, untuk memperkenalkan diri. “Perkenalkan, saya Angga.”


Namun uluran tangan Angga disambut oleh Ivan. “Namanya Diana, maaf kak, tangan Diana terluka, dia tidak bisa sembarangan bersalaman atau menggunakan tangannya, karena lukanya belum sembuh total, dia melepaskan perbannya, agar tidak mengganggu penampilannya.”


“Kenapa dia sedari tadi hanya diam, hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya?” sela Wilda.


“Karena dia bisu!” ucap Rani sinis.


“Apa?!”


Suara Wilda menarik perhatian para tamu yang ada, termasuk Sofian yang sedari tadi asyik berbincang dengan para sepupunya. Sofian pun langsung mendekat kearah anak dan istrinya.


“Kenapa Ayah menjodohkan Ivan dengan seorang gadis bisu?!” Sesaat perhatian Wilda tertuju pada Rani. “Apa dia Wanita desa yang bodoh dan bisu yang Ayah jodohkan dengan Ivan?”


Rani menganggukkan kepalanya.


“Ayah …, kenapa Ayah melakukan ini? Apa Ayah tidak melihat kenyataan ini? Wanita ini tidak pantas menjadi istri Ivan!”


“Wilda, bisa kamu jaga bicaramu? Kamu sedang berbicara dengan Ayahmu,” sela keluarga yang lain.


“Ini ulang tahun paman, harusnya kamu memberi kebahagiaan padanya.”


“Tentang Diana, dia adalah pilihan Ayah. Bagaimana pun Diana, kami menerimanya dan kami menghormatinya, apa yang Ayah pilih itu harus dihormati,” sela Sofian.


Wilda memandang sinis anggota keluarga yang menyalahkan dirinya "Yang kalian bela saat ini orang lain! Kenapa kalian lebih membela orang lain daripada saudara sendiri?!”


“Memang tante tidak salah,” sela Ivan. “Tapi, tolong hormati keputusan kakek, tante. Aku menerima perjodohan ini, karena aku menghormati pilihan kakek. Dengan tante menghina Diana, sama saja tante menghina pilihan kakek, menghina pilihannya sama saja menghina kakek, dengan tante merendahkan Diana, sama saja tante merendahkan keputusan kakek.” Ucap Ivan begitu mantap.


“Wilda, sepertinya hanya umurmu saja yang dewasa, tapi pemikiranmu masih cetek, sebaiknya kamu belajar dulu pada keponakanmu,” ucap kakek Agung.


“Ayah—” Wilda tidak melanjutkan protesnya, saat sebuah lengan mengait pergelangan tangannya.


“Tante ... temani aku berkekeliling rumah ini, aku sangat rindu suasana rumah ini, tan.”


“Angga ….”


“Tante ….”


Wilda tidak bisa menolak permintaan Angga, dia dan Angga pun pergi ke tempat lain bersama Angga.


“Maafkan semua atas ketegangan ini,” sesal kakek Agung.


Ivan mengajak pengacara Nizam bergabung dengannya dan Yudha, sedang Sofian kembali melanjutkan obrolannya bersama sepupu-sepupunya, sedang Diana berjalan mengikuti kakek Agung. Diana mendengarkan semua ucapan kakek Agung, yang memperkenalkan anggota-anggota keluarganya pada Diana, sambil menunjuk orang yang dia maksud satu per satu. Diana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi cerita kakek Agung.


“Permisi kakek, ada tamu yang mencari kakek,” sela pelayan.


“Oh iya, baiklah.” Kakek Agung menoleh pada Diana. “Diana, apa kamu tidak apa kakek tinggal?”


Diana mengetik jawabannya.


*Tidak apa-apa, kakek. Di sini banyak orang aku tidak sendirian.


Kakek Agung melemparkan senyumannya, dia pun pergi bersama pelayan yang tadi menghampirinya.


“EHM!” suara dehaman itu menarik perhatian Diana.


Diana menoleh kearah Ivan, dia menaikkan  sebelah alisnya, menanyakan Ivan ada perlu apa dengannya.


Ivan berdiri di samping Diana dengan gaya dinginya, pandangan matanya lurus kedepan, tidak memandang kearah Diana. “Jangan membuat masalah, Diana.” Ucapnya dingin.


Diana hanya membuang napasnya, dia pikir ada hal yang penting.


“Diana.”


Panggilan itu, membuat Diana menoleh kearah suara itu berasal.


*****


Flash Back Diana dan pengacara Nizam.


Diana masih betah mempelajari tentang calon pasiennya.


“Diana, sudah setengah sembilan, ayo kita bersiap ke acara ulang tahun kakek Agung.”


“Iya sebentar lagi, lagian aku sudah bawa gaun kemaren, tinggal pakai saja.”


“Tapi kamu harus ikut aku ke suatu tempat, sebelum menuju kediaman kakek Agung, ayo ganti bajumu dulu.”


Diana segera berdiri dan meminjam kamar kecil di rumah pengacara Nizam untuk ganti pakaian. Setelah Diana selesai, Pengacara Nizam membawa Diana ke sebuah salon ke cantikan.


“Kenapa membawaku ke sini?”


“Ayolah Diana, bungkam nyinyiran mereka dengan pesonamu.”


Diana pun pasrah mengikuti rencana Nizam. Saat pekerja salon selesai mengayunkan semua kuas ajaibnya, pengacara Nizam pun terpesona dengan sosok Diana yang ada di depan matanya saat ini. Dia sangat bangga berhasil membujuk Diana agar mau ke butik bersamanya kemaren, juga merias wajahnya untuk hadir di acara ulang tahun kakek Agung.


Flash back off


***


Panjang atau pendek bab yang aku tulis, sesuai dengan kerangka yang aku terima. Aku nulis ini mengikuti kerangka, karena syarat awal, tidak boleh mengubah alur dari kerangka yang diterima. Terima kasih semua, sampai saat ini, kalian setia berjuang bersamaku.