
Ruang perawatannya terasa sangat sepi, Qiara mengubah-ubah chanel televisi, tetap saja sangat membosankan, ibunya tidak ada, pelayan yang menjaganya juga dia minta untuk membeli jajanan. Qiara meraih handphonenya, untuk menghilangkan kejenuhannya. Saat layar handphone terbuka, kedua mata Qiara terbelalak melihat sangat banyak pesan pribadi yang masuk di handphonenya. Qiara membuka salah satunya.
*Dasar manusia sampah! Harusnya spesies seperti kamu dimusnahkan dari muka bumi ini, kamu lebih hina dari binantang! Binatang saja habis ditolong mengerti balas budi, kamu habis di tolong malah menikam yang nolong.
Ngeeekkk!
Qiara menelan salivanya membaca salah satu pesan. Qiara membuka pesan yang lain, ternyata isinya sama saja, isinya adalah hinaan dan hujatan pada dirinya, karena menampar pelayan dan memojokkan Diana dengan memposting video palsu, seolah dirinya adalah korban. Qiara langsung meraih laptopnya, dia ingin menghapus video yang dia unggah tadi malam dari internet.
“Kenapa tidak bisa dihapus ….” Qiara sangat panik, dan terus berusaha menghapus videonya. Tapi tetap tidak bisa menghapusnya sama sekali.
Nizam A—mengirimkan sesuatu ke Linimasa Agung Jaya.
Membaca notifikasi itu, Qiara langsung membuka kiriman pengacara Nizam ke laman perusahaan Agung Jaya.
*Yang terhormat Nona Veronica Kesuma dan Nona Qiara, untuk Nona Veronica ... saya pikir setelah kasus yang masih berjalan di pengadilan, Anda ingin memperbaiki kesalahan Anda, ternyata Anda malah menambah masalah dengan klien saya. Keluarga Besar Agung Jaya yang terhormat, apakah kalian semua diam saja atas ulah generasi muda kalian?
Sekarang Nona Qiara, cucu dari Agung Jaya juga berulah, apakah hidup kalian terlalu damai hingga ingin menciptakan kegaduhan?
Bermacam bukti kejahatan Veronica dan Qiara sengaja diposting pengacara Nizam.
Saat yang sama, Veronica juga membaca semua postingan pengacara Nizam, rasanya kebebasannya benar-benar dibunuh oleh pengacara Nizam. Rasanya dia tidak berani menampakkan wajahnya kedepan umum karena postingan pengacara Nizam, Veronica geram, dia bersiap menuju Rumah Sakit untuk menemui Qiara.
“Mau kemana kamu!”
Pertanyaan itu menghentikan langkah Veronica. “Mau menjenguk Qiara, pah ….”
“Setelah semua yang kamu lakukan, kamu masih punya wajah untuk menghadapi semua orang? Di mana rasa malu kamu, Veronica!”
“Saat pesta, papa memintamu untuk berdamai, agar proses hukum ini berjalan lebih mudah, tapi kau selalu mempersulitnya.”
“Papa ….”
“Kamu tidak boleh kemana pun!”
“Papa ….”
“Veronica!”
Veronica terperanjat, dia pun membisu di depan Ayahnya.
***
Tidak terasa, waktu terus berlalu. Malam pun tiba menyapa kota itu. Diana memenuhi janjinya pada Wilda, kalau dia menemui kakek Agung malam ini. Semua keluarga Agung Jaya berkumpul di kediaman Kakek Agung. Termasuk Ivan. Semua masih diam melihat video yang Diana Posting.
*Tante, aku sudah menjelaskan semuanya pada kalian semua. Ini bukti kalau aku dan Saras tidak bersalah atas kejadian yang menimpa Qiara. Bisakah tante lepaskan Saras?
Kakek Agung semakin murka pada anak bungsunya, saat dia tahu kalau Wilda menyekap teman kampus Diana. “Kamu keterlaluan Wilda! Diana belum tentu bersalah kamu sudah keterlaluan menghukum dia seperti ini, kamu nekad menyekapnya kemaren, dan ternyata kamu juga masih menyandra teman Diana!?”
Wilda hanya diam, dia sangat geram pada Diana, dia pikir Wanita itu datang seperti apa yang dia perintahkan, ternyata dia datang menjelaskan semua kejadian pada kakek Agung.
“Wilda … lepaskan teman Diana.”
“Jemput saja dia sendiri.” Wilda melemparkan buku kecil kearah Diana. "Itu alamatnya."
Buku kecil itu mendarat di kaki Diana, Diana segera memungutnya. Saat dia membuka buku itu, pada lembaran paling depan bertuliskan sebuah alamat. Diana pun mengetik kata baru, yang berisi kalau dia izin pamit pada semua orang, untuk menjemput Saras.
“Kita jemput temanmu bersama,” sela Ivan.
Diana menggelengkan kepalanya, lalu memperlihatkan sebuah kata.
*Terima kasih, tapi percayalah aku bisa sendiri, lebih baik Anda temani kakek, lihat kakek begitu Lelah dan tertekan.
*Setelah mejemput Saras, aku akan kembali ke sini secepatnya.
Ivan sejenak memandang kearah kakeknya, penilaian Diana benar, walau tidak rela mengizinkan Diana pergi sendiri, mau tak mau dia harus memberi izin. Karena Wanita itu tidak mau dia temani. Diana pergi seorang diri dengan menumpangi sebuah taksi.
Di rumah itu seketika keadaan menjadi sedikit tenang.
“Kakek, lebih baik kakek istirahat dulu,” pinta Ivan. "Bukankah masih ada acara lagi nanti?"
Kakek Agung pun kembali ke kamarnya dibantu oleh Sofian dan Rani. Di ruang tamu hanya tersisa Wilda dan Ivan.
“Apakah kami mengganggu?”
Sontak Ivan dan Wilda menoleh kearah pintu masuk. Terlihat Veronica datang bersama Ayahnya.
“Ivan, tolong om nak ….” Pinta Danu. “Veronica tidak punya masa depan lagi jika kasus ini terus berlanjut.” Danu memelas, berharap Ivan mau membujuk Diana agar kasus yang menyeret Veronica ditutup.
Wilda mendengar jelas semuanya. Dia pun mencibir, pandangan matanya tertuju pada Veronica. “Ternyata, kamu yang paling bahagia saat aku ingin menghukum Diana.” Ucap Wilda sinis. "Sok jadi pahlawan kamu! Padahal kamu lebih berambisi!"
“Dillah!”
“Iya, Tuan Ivan.”
“Kamu hubungi pengacara Nizam. Pastikan tidak ada campur tangan yang berusaha menunda-nunda sidang berikutnya. Juga pastikan! Tuntutan kita bertambah!”