Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 38 Seujung Kuku


Pak Abimayu tersenyum melihat Diana mau memenuhi undangannya untuk makan siang. "Terima kasih, Nona Diana. Telah berkenan menerima undangan makan siang dari saya."  Senyuman ramah Pak Abi terus menghiasi wajahnya.


Diana meraih handphonenya, seperti biasa mulai mengetikan kata di sana.


^^^Jangan seperti ini Pak, bersikap seperti biasa, dan panggil saya seperti biasa Anda memanggil saya.^^^


Diana mengetikkan kata yang baru.


^^^Maafkan saya Pak, bukan maksud saya membohongi semua orang, saya memang bisa bicara, tapi ada hal yang tidak bisa saya katakan pada siapa pun, bahkan Anda sekali pun, kenapa saya selama ini berpura-pura bisu dan menutupi identitas saya.^^^


Pak Abi terhenyak membaca tulisan Diana. "Iya nak, Bapak memakluminya, dan itu adalah hak kamu. Toh selama ini kamu tidak memanfaatkan hal itu untuk menarik simpatik dari orang lain, atau menipu orang dalam kategori merugikan."


Diana tersenyum, dan mengetikkan kata 'Terima kasih' karena Pak Abi tidak kecewa padanya, karena dirinya selama ini berpura-pura bisu.


"Mari kita masuk kedalam saja nak Diana, kita tunggu pengacara Nizam di dalam saja."


Diana dan Pak Abi melangkah bersama masuk kedalam Restoran. Sedang di sisi lain di area luar Restoran, sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu utama Restoran. Di dalam mobil ada Aridya dan putranya Nazif. Aridya dan Nazif terus memandangi Diana, Aridya sangat penasaran dengan laki-laki yang menyambut Diana.


"Entah bagaimana jalan kehidupan anak itu, di sekelilingnya banyak orang-orang dari kalangan Elit, sebelumnya, pengacara Nizam. Sekarang dia bersama seorang tokoh, dan aku yakin orang yang menyambut Diana adalah tokoh yang sangat penting," gerutu Aridya.


Perlahan Aridya membuka pintu mobilnya, dengan gaya anggunnya dia turun dari mobil. Melihat ibunya sudah turun, Nazif langsung menyusul ibunya, dan berdiri di samping ibunya. Dia ingin mencari tahu, siapa laki-laki yang menyambut Diana sebelumnya.


Aridya mendekati security yang berjaga di depan pintu. "Apa saya boleh tau, siapa laki-laki yang masuk dengan wanita muda tadi?"


"Maaf Nyonya, kami tidak diizinkan memberitahu identitas tamu-tamu kami pada orang yang tidak berekepentingan.


Aridya sangat kesal dan menruntuki kebodohanya, Restoran ini selain mewah juga sangat menjaga privasi. Aridya terus memikirkan Diana dan orang yang dia duga itu tokoh penting. "Melihat bagaimana lingkungan Diana, dan orang-orang penting yang ada disekitar dia, sepertinya masa depan kamu terjamin, sayang," ucap Aridya.


"Itu lingkungan dia mama, tidak ada hubungannya dengan kita, andai mama meminta bantuan Diana agar aku bisa bekerja di salah satu Perusahaan Agung Jaya, Diana tidak akan mendengarkan permintaan mama."


Aridya menatap putranya dengan sorot mata yang begitu tajam. "Aku akan membuatnya menuruti segala perkataanku!"


Nazif tersenyum, dia menertawakan kepercayaan diri ibunya yang terlalu tinggi. Bagaimana Diana tunduk padanya, bahkan Diana tidak merasa takut pada ibunya walau hanya seujung kuku.


"Ayo kita makan siang," ajak Aridya.


Ibu dan anak itu masuk ke dalam Restoran bersama-sama. Tapi di dalam Restoran, mereka tidak menemukan Diana. Aridya memandangi kesetiap sudut yang ada dalam Restoran. Nazif tersenyum melihat ibunya terus menyisiri setiap sudut yang mampu terjangkau oleh pandangan matanya.


"Mama mencari Diana?" Nazif terkekeh. "Mama lupa, siapa yang bersama Diana? Itu orang penting mama, so pasti mereka makan siang di ruangan VIP Restoran ini."


Aridya menghempas napasnya begitu kasar, karena ucapan putranya sangat benar. Aridya segera mencari meja yang dia mau, dan menempatinya. Melupakan Diana untuk sejenak.


****


Di sebuah ruangan VIP Restauran.


Pak Abimayu menuangkan teh hangat ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Diana.


"Maafkan saya Pak Abi, saya terlambat." Dengan napas yang masih tidak beraturan, Nizam menarik salah satu kursi yang ada tepat di samping Diana.


"Tidak apa-apa Nak Nizam. Dokter Diana juga baru sampai." Pak Abimayu mengisi gelas kosong yang lain dengan teh hangat, dan memberikannya pada pengacara Nizam.


Nizam dan Diana perlahan menyesap teh mereka. Pandangan Pak Abi tertuju pada pada tangan Diana yang memegang gelas teh, balutan perban itu sangat menyesakan hati Pak Abi. Sedetik kemudian pandangan matanya tertuju pada tangan Diana yang satunya. Pak Abi tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, raut wajahnya seketika memerah melihat balutan perban di kedua tangan Diana. Dia terbayang cerita pengacara Nizam, dan beberapa tim medis yang ada di tempat kejadian, saat tragedi itu terjadi.


Perlahan Diana meletakkan gelas tehnya. Diana bisa melihat kemarahan yang berkobar dalam diri Pak Abi. "Luka saya tidak parah Pak, sebentar lagi pasti sembuh," ucap Diana.


"Tapi aku tetap tidak bisa memaafkan perbuatan mereka!" Pak Abi berusaha mengatur nada bicaranya, rasanya ingin sekali berteriak menyuarakan kemarahannya. "Aku meminta pengacara Nizam, untuk menyeret mereka ke pengadilan, mereka harus membayar semua perbuatan mereka!" Geramnya.


"Semua berkas laporan juga sudah ku lengkapi, bahkan pihak kepolisian mulai mengintrogasi mereka, tapi ... lagi-lagi Veronica bisa bebas sementara karena jaminan dari ibunya." sela Pengacara Nizam. "Kali ini, dia hanya bisa bebas sementara, aku tidak akan membiarkan mereka lolos!"


Pengacara Nizam bahagia, karena kali ini Diana sejalan dengannya untuk memenjarakan Veronica dan komplotannya.


Diana meraih sesuatu dari dalam tasnya. "Aku punya sesuatu untuk kalian." Diana memberikan buku kecil pada pengacara Nizam dan Pak Abimayu.


Perlahan pengacara Nizam membuka buku yang Diana berikan padanya. Di sana tertulis beberapa nama dalam sebuah daftar. Membaca deretan nama yang tertulis Pengacara Nizam dan Pak Abi seketika bungkam. Tidak tahu harus bertanya atau berkomentar apa lagi.


*****


Dari belahan Negara yang lain. Danu menginstruksikan pada timnya, agar segera bersiap kembali. Pesawat yang membawa mereka tiba di Bandara, jam baru menunjukan pukul enam pagi, tapi raut wajah seorang Danu Kesuma mengalahkan teriknya matahari yang bersinar saat tengah hari. Tim berusaha menjaga sikap mereka, melihat aura kekesalan dan kemarahan yang menyelimuti bos mereka, rasanya napas pun ingin mereka tahan. Jika bos mereka dalam keadaan ini, salah sedikit saja akibatnya sangat fatal.


Dari Bandara, Danu langsung pulang ke kediamannya. 


Keadaan Rumah Danu.


Veronica sangat ketakutan mendengar segala tuntutan Pengacara Nizam padanya, bahkan tuntutan mereka disertai dengan bukti yang sangat kuat. "Mama harus membebaskan aku sepenuhnya, mama ...."


Mayesta memahami ketakutan putrinya, dia menarik Veronica ke dalam pelukannya. "Jangan takut sayang, papa akan segera pulang, jika papa kembali semua masalah akan selesai seketika. Kamu pun sepenuhnya vbebas."


Suara langkah kaki yang terdengar dari arah pintu utama, membuat Mayesta menoleh kesana. Terlihat suaminya sudah sampai di kediaman mereka. "Papa datang sayang," ucapnya.


"Ada apalagi ini?!" Tanya Danu.


"Biasa pah, orang-orang yang tidak suka pada Veronica, mereka bikin ulah," adu Mayesta.


"Mana copyan berkas tuntutan mereka?"


Seorang laki-laki yang sedari tadi menunduk, segera menegakkan wajahnya, dan memberikan berkas yang diminta. "Ini Tuan."


Danu dengan cermat membaca semua tuntutan yang akan ditujukan pada putrinya. Kemarahannya semakin berkobar. "Berani-beraninya Rumah Sakit Healthy And Spirit, dan Universitas Bina Jaya menuntut putriku!" Berkas yang dia pegang dihempaskan begitu kasar ke lantai. "Pak Yosh!" Teriakannya menggema di ruangan itu.


"Iya Tuan …." Seorang laki-laki berseragam supir langsung mendekati Pak Danu.


"Siapkan mobil! Sekarang juga antar saya ke Fakultas Bina Jaya! Pak Abi sepertinya lupa siapa Aku!"


Mobil yang membawa Pak Danu melaju begitu kencang membelah lalu lintas yang mulai lengang, hingga mobil itu parkir sempurna di halamam sebuah gedung, di depan gedung itu terpampang jelas sebuah nama "Universitas Bina Jaya"


Brakkk! Pintu mobil Danu hempaskan sangat keras, sedang dirinya memacu cepat langkahnya langsung menuju kantor Rektor Fakultas Bina Jaya. Melihat api kemarahan yang berkobar dari Danu, tidak seorang pun berani menyapanya, walau sangat mengenali sosok pengusaha itu.


Brak!


Tanpa mengetuk lebih dahulu, Danu membuka pintu ruangan Abimayu dan membanting pintu itu dengan sangat kerashh, membuat tubuh laki-laki yang berada di dalam ruangan terperanjat, karen suara bantingan yang sangat keras mengagetkan dia.


"Berani-beraninya Anda melaporkan putriku ke polisi karena masalah yang ada di Rumah Sakit! Apa tidak bisa membicarakannya denganku lebih dulu!" Teriak Danu.


Melihat siapa yang datang, Pak Abi memasang wajah tegasnya. "Tentu saja saya berani! Karena perbuatan Veronica suatu kejahatan yang luar biasa. Dia tidak hanya melakukan malpraktek, dia juga menyalahi kode etik keodokteran! Seorang dokter Intern yang melewati batas kapasitasnya, dia juga telah menyuruh orang untuk menggalkan operasi dokter DRAB! Siapa DRAB? Dia adalah dokter bedah yang sangat hebat. Bukan hanya berusaha menggagalkan, dampak dari perbuatan Veronica, membuat kedua telapak tangan yang selalu menolong orang, terluka."


"Perbuatan Veronica sangat-sangat kelewatan!"


"Perbuatannya kali ini telah menghancurkan masa depannya sendiri. Veronica sudah kehilangan masa depannya, karena dia sendiri yabg menghancurkannya semua masa depannya!"


"Veronica tidak akan bisa menghindar dari kasus ini, dia memang bisa keluar dari jeruji besi, tapi dia tidak bisa lolos dari jerat hukum! Aku sendiri yang akan pastikan semua itu! Tunggulah, proses kehancuran Veronica terus berjalan!"


"Proses kehancuran Veronica terus berproses, tidak ada jalan untuk menyelamatkannya, Tuan. Masa depan Veronica adalah menetap lama di hotel dengan pagar jeruji besi. Hotel itu sangat menanti kedatangan Veronica."


****


Jangan tanya nama siapa saja yang ada dalam daftar buku Diana, Othor gak tau. Yang Tahu hanya Tim Editor Misi Kepenulisan Noveltoon. Kita sama-sama bersabar menunggu setiap babnya, sambil nahan kesel. 🤭🤭🤭