
Nizam tertawa mendengar jawaban Diana. “Aku mengenal siapa kamu, Diana. Aku bukan orang umum yang tidak tahu siapa kamu.”
Nizam terus menggelengkan kepalanya, “kalau orang-orang yang tidak tahu siapa dirimu, mereka pasti percaya kalau kamu adalah seorang gadis desa miskin dan bodoh, mendekati seorang Ivan hanyalah demi harta dan tahta."
"Apalagi mereka hanya tahu kamu anak dari hubungan gelap Charlie dengan wanita desa yang bernama Alinka Yolanda, mereka tidak pernah tahu kalau Alinka adalah istri sah Charlie, hanya saja tidak diterima oleh keluarga besar Bramantyo. Yang dipercaya masyarakat, hanyalah berita-berita yang berseliweran, apalagi Nenekmu memilih diam dan menghilang, kabar itu semakin menguat."
"Nenekku malas berurusan dengan keluarga Bramantyo," sahut Diana.
"Ya, aku tahu. semua orang semakin mengucilkanmu, karena saat Charlie meninggal keluarga Bramantyo tidak memberikan sepeserpun padamu, dan orang-orang hanya tahu kamu gadis desa yang miskin dan anak seorang pelakor.”
Nizam terkekeh jika mengingat bagaimana pandangan masyarakat pada Diana. “Tapi aku bukan orang umum yang buta, aku sangat tahu kebenaran tentang dirimu, kamu adalah pewaris tunggal kekayaan Bramantyo, bahkan anggota keluarga Bramantyo tidak bisa menggerakan harta Charlie tanpa persetujuanmu, kekayaanmu dan kekayaan Ivan sangat imbang, belum lagi kalau ditambah aset Nenekmu, kamu lebih kaya dari Ivan, bagaimana aku bisa percaya kamu menikahi Ivan karena uang?”
Diana menghempas napasnya kasar, dia sangat malas bicara banyak hal pada Nizam, "Aku hanya ingin menikah, dan aku tidak memiliki alasan, karena aku melakukan apa saja yang aku mau."
“Aku di sini, karena mengurus perceraian gurumu. Lihat, seorang Tuan Muda AA yang sangat hebat dikhianati istrinya sendiri, kamu yakin Ivan orang yang tepat untuk Pelabuhan hidupmu?”
Nizam menatap Diana dengan tatapan yang sangat serius. “Ivan itu seleranya rendah, dia menyukai gadis-gadis cantik yang memamerkan keindahan tubuhnya, tapi tidak punya otak seperti kakak tirimu Wagiswari Wulandari itu.”
“Kamu keliru, Nizam. Ivan tidak pernah menyukai Agis. Dia mendekati Agis karena memandang Agis sebagai keluargaku, Ivan mencintaiku, dan dia memperlakukan orang-orang yang memiliki ikatan denganku dengan begitu hormat.”
“Sebelum aku bertunangan dengan Ivan, Agis sudah lama mengenal Ivan, tapi Ivan tidak pernah melihat Agis. Saat dia mencintaiku, dia mulai peduli pada Agis sebagai pandangan keluarga.”
"Kamu lupa tujuan kamu masuk kedalam keluarga Agung Jaya?" Nizam sangat tidak mengerti melihat Diana yang sangat santai, bukan Diana yang penuh dengan kewaspadaan.
“Masalah pengkhianatan? Tenang Nizam, semua itu sudah berakhir, terbukti jelas kalau keluarga Agung Jaya tidak terlibat dalam kematian Ayahku, Rani ada di tempat kejadian, tapi dia mengalami kecelakaan sebelum mobil Ayahku kecelakaan, dan saat itu Rani hanya sebatas pemberi informasi. Aku tidak menyalahkan dia atas kematian papaku."
"Kamu tahu kenapa Tuan Muda Archer sangat mengingkan perpisahan?"
"Karena pengkhianatan istrinya di Organisasi yang dia jaga dengan nyawanya."
Nizam menggelengkan kepalanya, "itu hanya peledak masalah, masalah sebelumnya, Archer kecewa karena Arli menikah dengannya ada tujuan lain. Ya ... mungkin mirip sepertimu yang masuk kedalam keluarga Agung Jaya untuk mencari tahu sebab kematian papamu."
Nizam mematung mendengar penjelasan Diana, sedang Diana segera pergi dari tempat itu.
***
Di tempat lain.
Mendengar laporan anak buahnya, kalau Diana menyelamatkan Agis dan Nazif. Fredy hanya bisa bertepuk tangan, bagaimana sadisnya Diana, dia masih memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.
"Diana memaaafkan hama itu, jadi lepaskan mereka. Tidak perlu mata-matai mereka lagi."
Sedang di Rumah Sakit.
Rasanya air mata Aridya seperti lautan yang tidak ada habisnya, dia terus tenggelam dalam tangisnya.
Aku harus berbuat sesuatu untuk menolong Diana, Diana telah memberiku kesempatan untuk hidup bahagia dengan Anak-Anakku, andai Agis dan Nazif pergi, aku tidak punya semangat lagi untuk meneruskan hidup.
Membuka jasa besar Alinka, ku rasa ini bisa aku lakukan sebagai rasa terima kasihku pada Diana. Biar semua orang tahu siapa pahlawan yang berjuang saat mereka semua lelap dalam mimpi indah mereka.
"Permisi, Nyonya Aridya. Kedua Anak Anda sudah sadar, mereka menanyakan Anda," ucap seorang perawat.
"Terima kasih, Suster. Baik saya akan kesana." Aridya segera menuju ruangan kedua anaknya.
Setelah sampai di sana, Aridya tidak bisa berkata, dia memeluk kedua anaknya bergantian sambil menangis.
"Mama, tenang ma. Kami berdua kini sudah baik-baik saja."
Aridya tetap tenggelam dalam tangisnya.
"Mama ...." Agis berusaha menenangkan Aridya.