Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 23 Tidak Menyadari


Melihat seorang perawat yang berjalan kearah mereka, Yudha berusaha berhenti tertawa, kesadarannya perlahan kembali, kalau dirinya tengah berada di Rumah Sakit, bukan tempat teater.


Perawat itu memberi hormat pada Kepala Rumah Sakit. “Nyonya Rani sudah kami pindahkan ke kamar perawatan, barangkali pihak keluarga ingin menemani beliau,” ucapnya.


“Untuk malam ini, biar aku saja yang menemani mama, papa sama sama kakek istirahat saja, besok nanti papa yang menjaga mama, bagaimana?” usul Ivan.


“Diana?” Kakek mempertanyakan bagaimana dengan Diana.


“Kalau Diana tidak keberatan, biar dia menemaniku menjaga mama di sini,” sahut Ivan.


Diana mulai mengetik. *Aku tidak keberatan.


“Kalau begitu kakek pulang dulu.”


“Papa juga pulang, kalau ada sesuatu, tolong kabari papa, Ivan.”


“Iya pasti.”


Sofian dan kakek Agung pun pergi dari Rumah Sakit, hanya tinggal Diana, Ivan, dan Yudha.


“Aku ada urusan sedikit sama Pak Abi, kalian langsung saja ke kamar tante Rani,” usul Yudha.


Yudha dan Pak Abi berjalan bersama menuju tempat lain, sedang Ivan dan Diana segera menuju kamar perawatan Rani.


Sesampai di kamar perawatan Rani, Ivan duduk di salah satu kursi yang ada di dekat ranjang ibunya. Sedang Diana menghempaskan tubuhnya di sofa Panjang yang empuk, sambil memainkan handphonenya. Keduanya saling diam, Ivan hanya bisa memandangi ibunya yang belum sadar dari pengaruh obat bius, Diana juga asyik dengan handponenya.


Detik demi detik berlalu, jarum menit pun terus berputar, keduanya masih diam. Melihat Diana asyik dengan handphonenya, Ivan pun kepo.


“Kenapa kau sangat betahmemandangi handphonemu sepanjang waktu?”


Diana membalas tatapan mata Ivan, rasanya dia ingin menjawab ‘jangan campuri urusanku’


“Ku lihat kau setiap saat membawa dua handphone, apa satu handphone masih tidak cukup?”


Diana memperlihatkan layar handphonenya pada Ivan, terlihat tampilan game online di layar handphone Diana. Tangan Diana yang satunya meraih handphone yang lain.


“Kalau habis batrai yang satu, tinggal aku main dengan handphone yang lain. Ada masalah?


“Dasar anak pecandu game!” dumel Ivan.


Ting!


Ting!


Ting!


Berulang kali handphone Diana berdering.


“Kenapa kamu biarkan?”


Diana mengetik lagi. “Paling notifikasi game yang aku mainkan.


Ting!


Ting!


“Hufttt! Pasti itu notifikasi game!” Ivan kembali duduk di kursi yang sebelumnya dia tempati. Sedang Diana kembali duduk santai sambil fokus pada layar handphonennya. Keduanya pun saling diam kembali. Ivan menautkan jemari tangannya, dan menjadikannya sebagai tumpuan wajahnya. Matanya masih memandangi wajah ibunya.


Ceklak!


Mendengar suara pintu terbuka, pandangan Ivan dan Diana pun tertuju kearah pintu. Terlihat Yudha dengan raut wajah bahagianya. Dia segera mendekati Ivan sambil membawa tab yang menyala di tangannya.


“Ivan, lihat ini.” Yudha memperlihatkan tayangan video yang bermain pada tab nya.


“Ini video operasi tante Rani tadi.”


Keduanya sangat fokus dengan tayangan video tersebut.


“Itu pasti dia,” ucap Ivan, senyuman kebahagiaan menghiasi wajahnya.


“Pastinya,” sahut Yudha.


Ivan segera meraih handphonenya. “Aku ingin menelepon dokter hebat itu, aku ingin berterima kasih secara langsung padanya.”


Ivan menempelkan handphonenya di sisi daun telinganya, bunyi ‘Tuttt’ pun mulai terdengar.


Tutttt ….


Ting!


Ting!


Saat yang sama handphone Diana juga berdering.


“Ck!” Ivan berdecak, karena pikirnya itu notifikasi game Diana seperti sebelumnya. Melihat Yudha yang terheran, Ivan memberi isyarat kalau dia akan menjelaskan nanti.


Berulang kali bunyi Tutt namun sambungan teleponnya tidak kunjung diangkat oleh dokter hebat. Ivan pun menoleh pada Yudha yang masih memperhatikan Diana. “Dia anak gamers, punya dua handphone demi kelancaran gamenya, bahkan setiap saat handphonenya terus berdering karena notifikasi game.”


“Owh ….” Yudha pun mulai mengerti.


“Ide bagus.”


Ivan pun segera mengirimkan uang ke rekening dokter hebat yang telah menolong ibunya. Sesaat kemudian handphone Diana berdering lagi. Tapi Ivan dan Yudha sama sekali tidak menyadari kalau yang ingin mereka hubungi ada di dekat mereka.


Sedari tadi Diana diam, dia hanya fokus pada handphone yang ada di tangannya, dan mengabaikan deringan handphone khusus urusan kodekteran yang ada dalam tasnya. Dia sudah tau kalau itu dari Ivan.


“Bagaimana?” Yudha memastikan.


“Sudah, semua lancar.


“Kalau begitu aku pulang dulu, kalau aku menginap, aku malas tidur di lantai. Sofa Panjang hanya ada dua.”


“Iya, makasih banyak Yudha.”


Sepulang Yudha, hanya tinggal Diana dan Ivan lagi, namun keduanya tetap saling diam. Merasa Lelah, Ivan pun menghempaskan tubuhnya pada Sofa Panjang yang ada di dekat Diana.


****


Malam berlalu begitu saja, perlahan matahari mulai menampakkan cahayanya, Ivan dan Diana sudah bangun, keduanya masih tidak saling bicara.


Tok! Tok! Tok!


Perlahan pintu terbuka, terlihat sosok Sofian diantara pintu. “Diana pasti harus kuliah, dan kamu Ivan. Kamu harus bekerja bukan?”


“Iya papa, kami pergi ya.”


Ivan dan Diana pergi, giliran Sofian yang menjaga Rani.


40 menit berlalu, perlahan Rani membuka matanya. Samar dia melihat sosok suaminya ada di dekatnya. “Papa …..” ucapnya parau.


Melihat istrinya sadar, Sofian segera naik ke sisi tempat tidur Rani. “Bagaimana keadaan mama?”


“Entahlah ….”


“Tapi papa sangat bahagia, operasi mama berjalan lancar.”


“Tapi mama tidak akan memaafkan Diana!”


“Diana?” Sofian tersenyum mendengar Rani menyalahkan Diana.


“Iya, Diana yang membuat mama begini.”


“Mama salah, semua bukti jelas, Veronica yang melakukan semua ini.”


“Kenapa papa membela Diana?!” Rani memaksakan dirinya berteriak, walau sebenarnya dia masih merasa lemas.


“Papa bukan membela, tapi inilah kenyataanya. Yang mencelakai mama itu Lussy, sahabat Veronica, semua bukti juga sangat jelas, Lussy juga mengaku, kalau dia melakukan itu karena permintaan Veronica.”


“Veronica tidak seperti itu! Dia hanya ingin membantu kita papa!”


“Membantu dari mana?” Sofian bingung melihat Rani begitu membela Veronica dan membenci Diana.


“Apakah dengan mencelakaimu suatu bantuan?”


“Yang Verinoca lakukan hanya membantu kita semua!”


“Salah Diana padamu apa?! Kenapa kamu sangan membenci di—”


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukkan pintu membuat Sofian menahan ucapannya. “Masuk,” ucap Sofian.


Terlihat seorang peawat diantara daun pintu yang perlahan terbuka. “Pemisi Tuan. Di luar ada seorang Wanita yang ingin mengunjungi Nyonya Rani. Katanya beliau besan Tuan dan Nyonya.”


“Saya tidak punya besan, tolong usir saja!” sahut Rani.


“Owh, kalau begitu saya permisi.” Perawat itu pun pergi.


Di luar ruangan Rani.


Melihat seorang perawat keluar dari salah satu Lorong, membuat kepercayaan diri Aridya semakin meningkat. “Bagaimana? Apa saya boleh segera menemui besan saya?”


“Maaf sekali Nyonya, tadi Nyonya Rani bilang, mereka tidak mempunyai besan, dan Anda tidak diizinkan untuk menengok Nyonya Rani,” sahut perawat itu lembut.


“Apa?!” Aridya tidak percaya dengan hal yang barusan dia dengar.


“Maaf Nyonya, silakan pergi, karena pasien tidak mau menerima tamu.”


Aridya ingin memaksakan keinginannya, namum melihat security yang semakin mendekat, dia segera pergi dari sana.


“Kenapa keluarga Agung tidak merasa memiliki besan? Apa Diana tidak diterima oleh keluarga Agung?


Aridya masih larut dalam pemikirannya, kakinya terus melangkah menuju pintu keluar. Tapi, pemandangan di salah satu sudut Rumah Sakit itu membuat niatnya untuk pergi tertunda, Terlihat di depan ruangan, Diana tengah berbicara dengan seorang laki-laki yang mengenakan jas dokter. Diana dan laki-laki itu perlahan berjalan bersama sambil mendiskusikan sesuatu.


Aridya melihat-lihat keadaan sekitar, merasa aman, dia segera membuntuti Diana.