Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 154 Tepislah


Diana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar ucapan Ivan, dia mulai curiga kalau Ivan sudah tahu banyak tentangnya, karena Ivan terus mencari tahu informasi tentang masa lalunya. Tapi, Diana tidak menyangka Ivan berani mengatakan langsung di depannya tentang ketua IMO yang sesungguhnya. Ivan menatap Diana begitu dalam.


Ayo Diana, tepis semua tuduhanku dengan kecerdasanmu. Katakan kalau tuduhanku tidak berdasar.


Ayo Diana katakan kalau kamu bukan ketua IMO


*Katakan kalau kamu tidak tahu apa itu IMO.


Ayo Diana, ingkari semua tuduhanku, aku akan membenarkan pembelaan dirimu*.


Ivan hanya menjerit dalam hati.


Harapan Ivan berbeda jauh dengan kenyataan, Diana hanya diam seolah membenarkan semua yang Ivan katakan.


Ivan berusaha memasang wajah dinginnya. “Tidak usah terkejut, Diana. Tenang saja aku tidak akan menyakitimu atau Anggota IMO yang lain, walau aku sudah tahu tentang IMO.”


“Apa aku terlihat seperti orang yang ketakutan?” tantang Diana.


“Kamu pasti tidak takut tentang dirimu, tapi aku yakin kamu mengkhawatirkan semua Anggotamu. Aku berjanji padamu aku tidak akan menyebar informasi ini,” ucap Ivan.


“Walau kamu menyebarkan semua identitas kami, aku tidak peduli. Kami semua sudah terlatih, andai data diri kami diretas, dengan mudah kami menghilang.”


“Aku tahu, tapi pasti kamu orang yang mementingkan keselamatan orang lain, aku yakin kamu akan melakukan berbagai cara untuk anggotamu dulu, baru dirimu.” Ivan terus menatap Diana.


“Sekarang kamu sudah menemukan ketua IMO yang selama ini kamu cari, terus kamu mau apa?” tanya Diana.


“Tidak ada, aku hanya ingin terus memandanginya.” Ivan menatap Diana semakin dalam.


“Terus apa tujuanmu membuat iklan di website dan menawarkan Bounty yang besar hanya untuk identitas ketua IMO?” tanya Diana.


“Karena aku hanya mempunyai satu tujuan,” ucap Ivan.


"Apa ya ... mau tau apa mau tau banget," goda Ivan.


Diana memasang wajah yang serius, dia tidak menanggapi candaan Ivan. “Langsung saja katakan apa mau mu, tidak usah berbelit-belit!" ucap Diana tegas.


"Sabar, aku tengah berpikir. Mencari dirimu saja aku menawarkan Bounty 500 Triliyun, setelah menemukan sang ketua, tentunya aku mempunyai tujuan dan keinginan khusus.


Diana tidak bereaksi. Tatapan dingin itu terus tertuju pada Ivan. "Kemaren kamu merubah Bounty, apa karena kamu sudah tahu?"


"Aku tahu sebelum aku merubah Bounty, bahkan aku menutupi informasi tentang Ketua IMO dari Yudha dan Dillah."


"Waw, aneh sekali. Bukannya kamu sangat menginginkan Ketua IMO?"


Wajah Diana yang dingin dan judes sangat menggemaskan bagi Ivan, sekuatnya Ivan berusaha menahan senyumannya.


"Ya, aku sangat berambisi. Seperti yang aku katakan, aku mempunyai tujuan khusus untuk ketua IMO. Emmm bisa dikatakan keinginan khusus."


Diana berdiri, dan melipat tangan di depan dadanya. "Tidak usah basa-basi, Ivan. Katakan apa yang kamu mau?"


"Sabar Diana, aku saja bisa sabar menantikan hal ini, di mana aku bisa berhadapan langsung de ha Ketua IMO."


Kesabaran Diana habis, rasa kantuk yang tadi menderanya seketika sirna. "Katakan langsung padaku, kamu ingin nyawaku atau hartaku?” tanya Diana. "Masih kurang?"


"Kamu kerja keras mencari informasi tentangku, pastinya kamu tahu nyawaku lumayan berharga."


Diana membungkukkan badannya, kedua tangannya yang mendarat di atas meja menjadi tumpuan untuk menahan bobot tubuhnya. "Ayo katakan, apa kamu ingin keduanya?"


***


Kerangka Bab ini pendek banget, aku cuma dapat ngetik 200 kata semula, maaf ya.