
Rani masih sangat sibuk menjamu tamu-tamu penting yang berdatangan, saat Rani selesai menyapa tamu yang baru saja dia sambut, pemandangan di depan matanya membuat senyuman ramah yang selalu menghiasi wajah Rani seketika lenyap. Saat ini wajah Rani terlihat masam melihat sosok yang baru saja memasuki hotel bintang 5 milik Agung Jaya.
Rani berjalan terburu-buru menghampiri sosok itu, dia menarik orang itu kesamping yang jauh dari para petugas keamanan yang berjaga. "Kenapa kamu datang ke sini, gembel!?"
Sosok itu tersenyum melihat kebencian yang terpancar dari wajah Rani.
"Sebelum kamu ku permalukan dengan dilempar dari sini, sebaiknya kamu pergi saat ini juga!" ancam Rani.
"Kita lihat, siapa yang dilempar dari tempat ini," tantangnya.
"Maaf, selamat siang." sela salah satu petugas keamanan, "Apa ada masalah? Kenapa Nona Jennifer di tahan di sini?"
"Tidak usah seformal itu dengan gembel ini! Tugas kalian itu menjaga, agar tamu-tamu penting ini tidak terganggu! Kalian malah membiarkan gembel ini masuk!" omel Rani.
"Tanpa mengurangi rasa hormat kami, sebaiknya Nyonya Rani jaga bicara Anda, tugas kami di sini memastikan keamanan dan rasa nyaman para tamu, Tuan Sofian Hadi memerintahkan pada kami untuk tujuan itu, jika ada yang mengganggu, kami berhak mengusir, bahkan jika pengganggu itu bagian Agung jaya sendiri."
"Bagus! Sekarang usir gembel ini!" perintah Rani.
"Maaf, yang tercatat sebagai tamu yang harus kami lindungi adalah CEO Widori Group, dan dia adalah Nona Jennifer. Jadi pengganggu di sini adalah Anda, Nyonya Rani. Sesuai perintah Tuan Sofian, dengan sangat terpaksa saya meminta Anda meninggalkan hotel ini."
Rani sangat tidak percaya dengan yang dia dengar, seorang warga Negaranya yang hidupnya jadi gelandangan di Jerman, malah dilindungi, sedang dirinya adalah Nyonya Agung Jaya malah diusir.
"Kalian jangan mau dibodohi, mana mungkin dia CEO Widori Group!" maki Rani.
"Jennifer sayang, kenapa belum ke kamar? Istirahat dulu sayang."
Sapaan itu menyita perhatian Rani, dan itu adalah pemimpin Widori Group, Rani sangat syok mendengar pemimpin Widori Group itu memanggil Jennifer dengan sebutan sayang.
"Iya papa, sebentar lagi. Tadi Tante Rani mengajakku bicara, dia pikir aku datang kesini sebagai menantunya, katanya beberapa hari kedepan hotel ini hanya melayani tamu penting," sahut Jennifer.
"Untuk urusan pribadi, bicarakan nanti Nyonya Rani. Saat ini anakku datang sebagai tamu dari Widori group," ucap Ayah Jennifer.
Rani mematung menyadari siapa Jennifer. Dia kembali teringat perbincangannya dengan Angga, di mana Angga sangat santai saat dirinya meminta Angga untuk menikahi perempuan yang sederajat dengan mereka.
"Sekali lagi Anda membuat kekacauan, saya tidak akan memandang Anda siapa, karena saat ini tugas saya melakukan perintah," ucap petugas.
Rani kembali memandang kearah Jennifer, terlihat pemimpun Widori Group yang berjalan dengan Jennifer begitu menyayangi gadis itu. Rani tidak punya kekuatan untutap berdiri di sana, dia memilih segera pulang ke kediaman Agung Jaya.
Sofian baru menuruni tangga, dia heran melihat istrinya begitu tertekan. Perlahan Sofian menghampiri Rani. "Mama sakit?"
"Aku sangat syok mengetahui calon istri Angga ternyata CEO Widori Group." Rani masih memejamkan kedua matanya. Berharap denyutan yang sangat menyiksanya ini segera hilang.
Sofian tertawa mendengar ucapan Rani. "Siapa pun Jennifer, siapa pun Diana, aku menerima mereka sebagai menantuku, karena kebahagiaan Ivan dan Angga lebih utama dari apapun."
"Mengetahui siapa Jennifer saja kamu sudah syok seperti ini, bagaimana jika kamu tahu siapa sesungguhnya Diana," sela Kakek Agung.
"Diana hanyalah anak simpanan Charlie, dia bukan penerus keluarga Bramantyo," sahut Rani.
Yup! Seperti janji kami kemaren, kami akan mewawancarai istri dan anak dari mendiang Charlie Bramantyo. Inilah mereka, Wagiswari Wulandari, Nazif Bramantyo, dan Aridya Helmina.
Mendengar suara pembawa acara, Rani memimta para pelayan untuk berhenti memijatnya. Dia fokus pada layar televisi.
"Ah, saya jadi malu kalau menyematkan nama Bramantyo di nama saya, karena saya bukan anak biologis beliau. Anak kandung Charlie Bramantyo hanyalah Diana," ucap Nazif.
"Saya juga malu mengaku sebagai istri mendiang, karena istri sah beliau hanyalah Alinka Yolanda," Aridya menambahi.
"Tunggu-tunggu, bukannya Aridya hanyalah pelakor dalam pernikahan kalian?" sela o
pembawa acara.
"Yang pelakor itu saya, karena keluarga besar Bramantyo tidak menyukai Alinka, mereka hanya mengakui saya sebagai menantu, saya masuk kedalam rumah Charlie, saat Charlie dan Alinka sudah memiliki anak." Aridya menceritakan aibnya. Tidak ada lagi rasa malu, dia hanya ingin nama Diana bersih dari tuduhan anak haram Charlie.
"Kalian tentu sudah tahu bagaimana keluarga Bramantyo. Nah mereka dari dulu berhati iblis, ingin menguasai harta Charlie, dan ingin membunuh Diana. Tapi Tuhan selalu melindungi orang baik, Alinka orang baik, Diana orang baik, kebaikan mereka persis seperti sang Legenda dokter Zelin, dokter hebat pada masanya."
"Lihat, Istri kedua Charlie saja mengatakan Diana bukan anak simpanan. Diana hanya korban keadaan, dan kamu terhasut dengan berit miring tentang Diana. Setelah keputusan pengadilan selesai. Dian pemilik sah semua Aset keluarga Bramantyo. Kalau aku boleh berbicara kasar, Diana lebih kata darimu," ucap Sofian.
"Walau dia lebih kaya, Ivanku tetap tidak pantas dia miliki!" sahut Rani.
"Ingat kata-kataku kemaren Rani? Jika ada wanita yang lebih hebat dari Diana dalam hal apa saja, maka kamu boleh singkirkan Diana, tapi jika mereka jauh di bawah Diana, kamu harus menerima Diana!" ucap Kakek Agung.
"Oke! Akan aku buktikan, saat Acara besar di Universitas nanti, aku akan menemuka wanita hebat yang pantas bersanding dengan Ivan!" ucap Rani.
Kakek Agung dan Sofian memilih pergi meninggalkan Rani.