
Ivan tidak mempedulikan obrolan Yudha, Nicholas, dan Kakaknya, melihat Angga membaik Ivan sangat lega, dia menarik tangan Diana dan pergi dari sana.
“Mau ke mana mereka?” tanya Nizam.
“Entahlah, yang pasti jauh dari kita agar si bucin itu bisa mengeluarkan jurusnya,” sahut Yudha.
Nizam masih memandang kearah Ivan dan Diana.
“Tenang saja dokter, adikku tidak akan berani macam-macam dengan Diana,” sela Angga.
Walau masih penasaran, tapi Nizam segera bergabung dengan Yudha, Angga, dan Nicholas.
“Kemana Dillah?” tanya Angga.
“Entahlah, yang jelas tu orang Ajaib, dia datang begitu saja pada detik-detik Diana atau Ivan butuh pertolongannya,” sahut Yudha.
**
Setelah keluar dari kastil, Ivan dan Diana masuk ke dalam mobil, mobil yang Ivan kemudikan terus menyusuri jalanan, cukup jauh jarak yang telah mereka tempuh, hingga akhirnya mobil yang membawa Ivan dan Diana berhenti di suatu tempat.
Diana dan Ivan berdiri di depan pintu utama sebuah bangunan. Samar terdengar suara pukulan dan teriakan dari arah dalam, rasanya Diana tidak asing dengan tempat apa yang dia datangi saat ini. Kala pintu terbuka, kedua mata Diana melihat jelas keadaan dalam bangunan itu, persis seperti pemikirannya, tempat ini adalah tempat Latihan bela diri.
“Ivan.” Seorang laki-laki dengan tubuh kekarnya berjalan mendekati Ivan.
“Apa kabar kak Ho,” sapa Ivan.
“Aku baik.” Laki-laki yang Bernama Ho itu menoleh kearah Diana. “Wah, kamu datang bersama tunanganmu, hai Diana.”
Diana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Diana, perkenalkan dia kak Horliz, dia juga bagian dari keluarga Agung jaya,” jelas Ivan.
“Keluarga jauh tepatnya,” sela Horliz.
“Kak Ho ....” ucap Ivan.
“Jauh atau dekat tidak masalah, yang penting nyaman, iya kan Van?” Ho menepuk pundak Ivan, membuat Ivan berusaha menahan suara ringisannya.
“Kak Ho tau kalau kita bertunangan, sebab saat pesta pertunangan, Kak Ho juga hadir,” jelas Ivan. “Kak Ho adalah penanggung jawab tempat bela diri di sini, Kakek mempercayakan tempat ini pada Kak Ho.”
“Tempat ini berdiri untuk melatih semua anggota keluarga Agung Jaya, mau dia laki-laki atau perempuan, semua wajib memiliki dasar ilmu bela diri, sebab itu keluarga Agung Jaya jarang membawa banyak bodyguard, karena mereka memiliki ilmu bela diri sendiri,” terang Horliz.
Horliz mengamati penampilan Diana, di dalam hatinya dia menyimpulkan Ivan sengaja mengajak Diana ke tempat ini untuk melatih tunangannya, dari penampilan Diana dan tubuh kecil Diana, dia menyimpulkan tunangan Ivan wanita yang sangat lemah, dan dia berpikir Ivan ingin memberi bekal bela diri untuk tunangannya.
“Lebih baik, kita berbicara sambil berkeliling,” usul Horliz.
Mereka bertiga berkeliling bangunan itu, terdapat banyak macam pelatihan bela diri di sana, dari karate, tinju, dan yang lainnya. Melihat tatapan mengucilkan dari kedua mata Holiz, Diana sengaja memasang wajah lelahnya.
“Waduh Van, tuanganmu lemah sekali, baru berkeliling beberapa tempat saja dia kelelahan seperti ini,” ucap Horliz.
Ivan langsung mendekati Diana. “Kamu Lelah?”
Diana menganggukan kepalanya pelan.
“Kalau begitu kita istirahat dulu.” Ivan mengamati keadaan di dekatnya. “Kita ke sana.” Ivan menunjuk salah satu tempat. “Kamu duduk di situ dan aku mau Latihan menembak di sana.”
Saat sampai di sana, Ivan sangat kesal karena Dillah juga ada di sana. “Kau mengikuti kami?” tanya Ivan pada Dillah.
“Tuan, harusnya Anda tanya Tuan Ho, lebih dulu Tuan apa aku yang sampai di sini,” protes Dillah.
Ho menertawakan perdebatan kecil Ivan dan Dillah. "Dillah lebih dulu tiba di sini daripada kamu, Van." ucap Ho.
Diana segera duduk di kursi yang Ivan tunjuk, sedang Ivan mulai Latihan menembak, dengan percaya dirinya Ivan terus menembak target latihannya.
Diana fokus bermain game, walau suara tembakan terus terdengar, tidak mengusik kenyamannya memainkan game online.
Dor!
Dor!
Dor!
Phakkkk!
Ivan sangat puas, akhirnya tembakannya kena.
Diana menggelengkan kepalanya. “Tembakan Ivan memang bagus, tapi dia terlalu boros menggunakan Amunisi.” Pandangan mata Diana tetap tertuju pada layar handphonenya, dia berkomentar hanya dengan penilaian lewat pendengarannya.
Ivan menghentikan kegiatan menembaknya. “Bagaimana kalau kamu contohkan cara menembak yang tidak boros?” tawar Ivan.
Diana bangkit dan menyimpan kembali handphonenya. “Boleh, tapi kamu yang berdiri di sana sebagai target menembakku.” Diana menunjuk kearah papan Target.
“Apa maksud Anda Nona?” Dillah terlihat sangat panik.
Diana mengambil 3 biji apel dan memberikannya pada Ivan. “Targetku adalah apel ini, terserah kamu mau memegang apel ini bagaimana,” ucap Diana.
"Nona, jangan main-main." Dillah terus memohon.
"Berani? Kalau berani aku akan memperlihatkan kemampuanku, kalau tidak berani, ya sudah." Diana ingin mengembalikan tiga apel yang dia ambil, tiba-tiba Ivan menahannya.
"Ayo lakukan." Ivan langsung mengambil tiga biji apel yang Diana berikan dan berjalan menuju tempat target. Dia menaruh satu apel diatas kepalanya, dan apel yang lain di tangan kiri dan kanannya.
Dillah kembali menghiba pada Diana. “Nona … Nona yakin dengan hal ini? Tolong Nona, salah satu mili saja Tuan bisa kehilangan tangannya.”
“Kalau kau mengganggu konsentrasiku, Ivan bukan hanya kehilangan tangannya, tapi kehilangan nyawanya,” ucap Diana tegas.
Saat Diana mulai mengarahkan senjata api kearah Ivan, saat itu juga Dillah menahan napas dan kemejamkan kedua matanya.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan tiga kali beruntun membuat Dillah langsung membuka kedua matanya, dia sangat syok melihat Ivan tampak kacau terkena pecahan buah, buah yang Ivan pegang sebelumnya hancur terkena peluru yang Diana tembakan.
Ivan berjalan kearah Diana, dia mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan wajah dan kedua tangannya. “Lumayan juga,” ucap Ivan.
Apa lumayan?
Dillah sangat tidak terima dengan komentar Ivan. Tapi dia hanya berani protes dalam hati.
“Targetmu itu sasaran yang diam, bagaimana kalau sasaranmu hal yang bergerak?" tantang Ivan.
"Apa maksudmu?" tanya Diana.
"Bagaimana kalau targetmu sesuatu yang bergerak, seperti itu." Ivan menunjuk kearah ayam-ayam yang berkeliaran di lapangan hijau. "Tembak semua ayam itu. Kalau kamu bisa menembak semua ayam itu, maka malam ini kita akan makan ayam bakar.”
“Untuk makhluk yang akan kita nikmati, aku lebih suka dengan panah, apa kamu keberatan jika aku memakai panah?”
“Tidak sama sekali, silakan.” Ucap Ivan.
Diana segera mengambil busur panah dan 20 anak panah. Dia sangat bersemangat, dia segera membidikan busur panah yang dia pegang kearah ayam-ayam itu.
Shuts! Shustt! Shuts!
20 anak panah melesat cepat dari busur yang Diana pegang, dan di sana 20 ayam dewasa bernasib malang karena terkena anak panah yang Diana tembakan. Hanya tersisa anak-anak ayam saja yang ada di sana.
“Aku hanya mentarget ayam dewasa, biarkan yang kecil itu tetap hidup,” ucap Diana.
Tidak ada yang mampu berkata, semua bungkam melihat kemampuan Diana memanah.
Ya Tuhan, bagaimana bisa seorang gadis kecil menembakan 20 anak panah hanya dengan beberapa detik, dan semua target kena sempurna, ini lebih hebat dari keahianku, batin Horliz.
Ya ampun, aku sama sekali tidak menyangka kalau kemampuan Diana menembak dan memanah Diana sehebat ini, padahal tadi aku hanya ingin mengetes kemampuannya saja. Mulut Ivan masih terbuka lebar melihat ayam-ayam yang kena tembak. Ivan takjub dengan kemampuan Diana.
Ivan berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. “Dillah, antar semua ayam-ayam itu ke kastil, dan pinta semua pelayan di sana untuk memasaknya.”
“Baik Tuan.” Dillah segera pergi dari sana.
“Nona muda, saya undur diri dulu,” ucap Holiz, kepercayaan dirinya seketika ciut setelah melihat kemampuan Diana yang sebelumnya dia pandang wanita lemah.
Diana heran, karena tiba-tiba Horliz memanggilnya sebagai Nona muda.
“Diana, kamu tunggu aku di mobil, kita akan kembali ke kastil,” ucap Ivan.
Diana tidak menjawab, tapi dia segera melangkah menuju mobil. Melihat Diana sudah pergi, Ivan segera menghubungi seseorang via telepon.
“Halo, aku ingin merubah Bounty penangkapan ketua IMO.”