Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 30 Hentikan!


Setelah selesai makan siang, mereka semua kembali berkumpul di depan pintu ruangan operasi, berharap mendapat berita baik dari dalam sana.


"Kakek, mama, tante Desy, lebih baik kalian istirahat dulu di ruangan khusus," usul Ivan.


"Iya kek, mama, tante Rani. Sebaiknya kalian istirahat, biar aku dan Ivan yang menunggu di sini." Tambah Yudha.


Keadaan kembali hening. Melihat bagaimana kerja keras semua tim medis, membuat Veronica sangat khawatir, kalau kerja keras dokter hebat itu membuahkan hasil, maka semua rencananya yang hampir sempurna terancam gagal. Saat ini harapan Veronica operasi gagal karena gangguan dari luar. Perhatian Veronica tertuju pada Ivan.


"Sampai kapan kita menunggu seperti ini?!" tanya Veronica.


"Sampai semua prosesnya selesai!" Sahut Ivan.


"Kalian tidak ingin mencari tahu atau berusaha lebih keras lagi? Kalian hanya diam saja seperti ini? Ayolah! Kita cari jalan lain ...." usul Veronica.


"Sampai kapan nenek Zunea bisa bertahan? Ini sudah sangat lama!" Veronica memandangi Yudha dan Ivan bergantian.


"Ayo, kita cari jalan lain, agar nenek Zunea selamat!" Veronica berusaha melenyapkan kesabaran Ivan dan Yudha 


"Ayo kita masuk kedalam ruangan operasi! Kita cari tahu sama-sama! Apakah dokter itu benar-benar bekerja di dalam sana untuk nenek, atau hanya duduk santai?"


"Kita sudah 18 jam menunggu di sini tanpa kepastian! Ayo Van, kita masuk dan cari tahu segalanya!" Veronica meraih tangan Ivan dan Yudha, menarik keduanya berjalan menuju pintu operasi.


"Veronica! Cukup!" Ivan sangat emosi menghadapi Veronica, dengan kasar dia menepis tangan Veronica.


"Berapa lama pun kami menunggu, tidak masalah! Aku dan Ivan sangat percaya dengan apa yang dokter itu lakukan!"


"Biarkan dokter itu bekerja, tugas kita menunggu dan berdo'a," kecam Ivan.


Siall! Bagaimana ini? 


Veronica sangat kesal, karena usahanya mengompori Ivan agar emosi dan menghentikan jalannya operasi juga gagal. Ivan dan Yudha sangat percaya dan sangat yakin, kalau dokter itu bisa meng-handle semuanya.


Siall! Siall! Siall!


Kalau nenek Zunea mati, maka Diana jadi tersangka, dan dia tidak akan bisa lolos lagi!


Veronica hanya bisa merunduk dalam hatinya. Rencana yang sudah sangat sempurna terancam gagal, jika nyawa nenek Zunea diselamatkan oleh dokter hebat itu.


Aku harus mencari jalan, untuk menggagalkan operasi dokter itu, agar nenek Zunea tidak bisa diselamatkan.


Veronica terus memaksa otaknya terus bekerja, untuk mencari celah supaya operasi dokter hebat itu gagal. Matanya terus memandangi pintu operasi. Selama operasi berlangsung, tidak terhitung berapa jumlah petugas medis yang keluar masuk dari ruangan itu.


Veronica memperhitungkan putaran shift petugas medis yang bertugas. Dari ujung lorong, terlihat beberapa perawat berjalan kearahnya, kemudian para perawat itu memasuki ruangan operasi. Veronica tersenyum, dia seperti mendapatkan celah, untuk memuluskan rencananya.


"Ivan, Yudha, aku pamit dulu, ada tugas dari kampus."


Ivan dan Yudha tidak menanggapi ucapan Veronica, jika Veronica pergi dari hadapan mereka, itu lebih baik. Sedang Veronica berlari menuju tempat yang hanya bisa dimasuki oleh petugas Rumah Sakit. Dia mencari-cari list petugas yang bertugas di ruang operasi.


****


Di dalam ruangan operasi.


Tim dokter lain yang bertugas membantu Diana sudah berganti Shift, hanya Diana dan Nizam yang tidak meninggalkan ruangan itu.


Diana melihat Nizam kurang fokus, karena sudah hampir 19 jam mereka berdua bekerja keras di ruangan ini.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, Nizam." usul Diana.


"Tapi--" Sangat berat bagi Nizam meninggalkan Diana.


"Kamu rehat di sana, ada sofa dan ranjang, tidak harus keluar dari sini." Diana mengisyarat sisi ruangan operasi yang hanya berbatas kaca bening dari tempatnya saat ini.


"Kamu sangat kelelahan, jadi kamu kurang fokus. Sekarang aku harus melakukan operasi yang sangat penting. Butuh konsentrasi tinggi. Kamu istirahat dulu. Masih ada tim medis lain yang membantuku, tenaga mereka masih penuh."


"Baiklah, aku rehat sebentar."


Diana kembali melanjutkan operasi berikutnya. Diana Perlahan memulainya, seorang perawat yang ditugaskan untuk mengoperasikan gergaji mesin yang akan membedah bagian tengkorak pasien. Perawat itu mulai mengoperasikan gergaji, atas instruksi Diana.


"Aw!" Jeritan halus lolos dari mulut Diana. Tangannya terluka terkena gergaji yang tengah digunakan untuk membedah pasiennya. "Tolong hentikan sebentar, aku ingin mengobati tanganku."


Namun perawat itu tetap membedah pasien, tidak mendengarkan perintah Diana.


"Hei! HENTIKAN!" Suara Diana seakan memenuhi ruangan operasi.


Tindakan perawat itu sangat membahayakan nyawa pasiennya. "Hentikan! Semuanya bantu aku menghentikan dia!" teriak Diana.


Tapi perawat itu terus berusaha mengoperasikan gergaji mesin untuk membelah bagian tengkorak nenek Zunea. Walau beberapa perawat lain sudah berusaha menariknya agar menjauh dari pasien.


Melihat yang dilakukan perawat itu membahayakan pasiennya, Diana dengan berani menjauhkan gergaji mesin yang menyala dari pasiennya dengan tangan kosongnya. "Hentikan!" Teriak Diana.


Shets!


Diana diam, dia berusaha menahan rasa sakit yang mendera tangannya. Tangannya terluka oleh gergaji bedah itu.


"Dokter ...." salah satu perawat sangat cemas melihat luka di telapak tangan Diana.


"Tidak apa-apa, tolong ambilkan sarung tangan baru untuk saya," ucap Diana begitu tenang.


Perawat lain masih cemas, tapi dia segera melakukan permintaan Diana.


Di sisi lain ruang operasi, Nizam terkejut mendengar suara Diana, dia segera berlari kedalam ruangan operasi. Dia melihat darah segar menetes dari tangan Diana. "Ada apa ini?" Nizam sangat geram.


"Dia terus menggergaji tengkorak pasien, dok. Padahal dokter sudah memintanya berhenti," adu perawat yang lain.


"Yang dokter di sini siapa?! Kamu atau dia?!"


"Keluarkan dia dari sini!" Andai tidak dalam keadaan genting ingin rasanya memberi pelajaran untuk perawat itu.


"Sudah-sudah. Mari kita lanjutkan."


"Tangan dokter?" Perawat yang lain masih cemas.


"Tidak apa-apa, mari kita lanjutkan," sahut Diana.


Melihat kekacauan dan kecelakaan ini, Nizam tidak bisa meneruskan istirahatnya. Dia tetap berdiri di samping Diana, dan membantunya. Sedang Diana dengan tenang meneruskan operasi yang dia tangani, mengabaikan luka yang ada pada telapak tangannya.


27 jam berlalu, rasanya orang-orang yang berjuang dalam ruang operasi itu baru merasakan oksigen. Semuanya sangat lega dan bisa bernapas bebas, karena kerja keras mereka semua berbuah manis. Operasi yang mereka lakukan berhasil.


Diana segera menuju ruangan khusus yang masih terhubung dengan ruangan operasi. Ruangan itu memang disiapkan oleh Pak Abimayu untuknya. selama 27 jam dia berjuang di dalam ruang operasi. Diana merehatkan tubuhnya, dan mulai mengetik pesan pada layar handphonenya.


^^^Operasi berjalan lancar.^^^


^^^Maaf Tuan, saya sangat lelah, jadi saya izin pulang duluan.^^^


Pesan terkirim, Diana kembali meletakkan handphonenya.


Tok! Tok!


Pintu ruangan khususnya di ketuk, Diana segera bangkit, dan mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Melihat itu Nizam, dia segera membukakan pintu untuk Nizam.


Nizam masuk kedalam ruangan khusus Diana, matanya tertuju pada tangan Diana yang terluka, darah segar masih menetes dari sana.


Nizam lupa dengan tujuannya menemui Diana, melihat tangan Diana terluka separah itu, kemarahannya kembali menyala, dia meninggalkan Diana begitu saja, dan langsung keluar dari Ruangan operasi.


Sedang di depan ruangan operasi. Yudha dan ibunya berpelukan, mereka sangat bahagia, mendengar kabar kalau operasi neneknya berhasil.


"Kita semua tidak tenang menunggu kabar ini, saatnya kita semua istirahat," usul Ivan.


Mereka semua berjalan menuju ruang tunggu khusus.


"Ivan!"


"Kemari sebentar, kakek ingin bicara." Dari ujung ruangan kakek Agung melambaikan tangannya pada Ivan.


Panggilan kakek Agung membuat Ivan menghentikan langkahnya, dia meminta Yudha, Desy, dan Rani untuk melanjutkan langkah mereka.


Saat Ivan kembali melintas di depan ruang operasi, dia melihat Nizam keluar dari ruangan operasi dengan seragam operasi yang dia kenakan.


Wajah Nizam terlihat sangat marah, dia mendekati Pak Abi dan berbisik di sisi telinga Pak Abi.


"Apa?!"


"Aku akan memberi pelajaran untuknya!"


"Ini sangat keterlaluan! Tindakannya sangat membahayakan nyawa orang lain, dan mempertaruhkan nama baik Rumah Sakit ini!"


"Aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengannya!"


Kedua alis Ivan tertaut, dia tidak pernah melihat kepala Rumah Sakit semarah ini.


Pak Abi dan Nizam pergi dari sana, saat yang sama Yudha melihat Pengacara Nizam mengenakan seragam operasi, berjalan bersama Kepala Rumah Sakit, Pak Abimayu.


Yudha berdiri di samping Ivan. "Apa aku salah lihat?"


"Apa benar itu pengacara Nizam yang sangat terkenal itu"?


"Iya."


"Waw, pengacara hebat, dia keluar dari ruang ajaib yang telah menyelamatkan nenekku. Ini keajaiban, Van."


"Apa dokter bedah yang hebat itu, pengacara Nizam?"


Ivan hanya diam, pandangannya tertuju pada layar handphone, dan membaca pesan yang baru masuk ke handphonenya.