Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 59 Hancur


Veronica menatap Ivan dengan sorot yang sulit diartikan, dia tidak percaya Ivan bersikap seperti ini padanya. “Van, kenapa kamu melakukan semua ini?”


Ivan tidak peduli pada Veronica, dia duduk dengan santai sambil memainkan handphonenya.


“Ivan. Asal kamu tahu, apa yang kamu bela itu penjahat! Saat pesta Diana—” Veronica tidak bisa meneruskan ucapannya, mulutnya di bekap oleh Ayahnya. Danu Pun menarik Veronica meninggalkan kediaman Agung Jaya.


****


Di belahan kota lain ….


Saras di sekap di sebuah kamar yang sempit, dia memejamkan kedua matanya. Dia berpasrah akan nasibnya.


“Aku pasrah Tuhan, jika aku harus mati muda di tempat ini.”


“Tidak semudah itu Nona.”


Saras mendengar jelas suara asisten gogolele yang sangat familiar. Dia segera membuka kedua matanya, saat kedua matanya terbuka, dia melihat Diana di depan matanya.


“Aku kira tu Asisten gogolele sampai di surga dan masih jadi pengisi suara otomatis,” jerit Saras. Dia sangat bahagia melihat Diana yang datang menyelamatkannya. Dia pun langsung memeluk Diana. “Terima kasih Diana."


Diana menepuk lembut punggung Saras, dan melepaskan pelukan mereka. Jemarinya mulai mengetik …


*Maafkan aku, karena membuatmu lama menunggu.


“Tidak apa-apa, aku tahu kamu pasti juga dalam kesulitan. Beginilah nasib orang kecil jika punya masalah dengan anak pejabat.”


Diana hanya tersenyum, dia memberi isyarat agar Saras bersiap meninggalkan tempat ini. Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.


Diana mengantar Saras ke Asrama. Melihat ada beberapa bagian tubuh Saras yang memar, Diana segera menuju kamar miliknya, dia mengambil salap di sana, lalu kembali pada Saras, dan mengoleskan salapnya pada bagian tubuh Saras yang memar.


Melihat Saras sedikit Trauma, Diana merasa bersalah. Karena Saras ikut terseret. Diana mengetik kata ….


*Maafkan aku.


“Jangan meminta maaf, kamu tidak salah Diana. Inilah hukum alam saat ini. Sebagai orang kecil, aku hanya bisa pasrah, melawan juga tidak sanggup.”


*Aku harus kembali, apa kamu bisa sendiri?


“Aku tidak apa-apa Diana, pergilah."


Saras sekali lagi memeluk Diana, dan mengucapkan terima kasih pada temannya. Setelah dari Asrama Saras, Diana kembali menuju kediaman Agung Jaya. Selama dalam perjalanan handphone Diana terus berdering, namun Diana tidak bisa fokus pada handphone yang lain. Salah satu pesan masuk, yang berisi panggilan untuk operasi, namun Diana tidak menyadari hal itu. Dia fokus pada pesan Ivan yang memintanya segera kembali ke rumah kakeknya.


Saat mobil taksi yang mengantar Diana sampai di halaman rumah kakek Agung, saat yang sama  sebuah mobil yang tidak asing bagi Diana juga parkir di halaman rumah kakek Agung.


“Hai Diana, dari mana kamu malam-malam begini sendirian naik taksi?”


Diana hanya tersenyum. Dia meraih handphonenya dan mengirim pesan pada lawan bicaranya.


*Kamu sendiri, kenapa malam-malam begini datang ke sini?


“Nak Nizam, sudah lama sampai?”


Tiba-tiba sapaan itu menghentikan pembicaran Nizam. Dia menoleh kearah suara itu. “Saya baru sampai Nyonya Rani.”


“Ayo masuk nak Nizam, Ayah sudah menunggu Anda di dalam.”


Semua orang berkumpul di meja makan, dan kakek Agung memulai jamuan makan malamnya. Semua berjalan normal, hanya di isi pembicaraan santai Rani, Sofian, kakek Agung, yang bertanya seputar medis pada pengacara Nizam.


Sedang Diana sesekali membalas pesan yang masuk, seseorang yang tidak jauh darinya yang terlihat dingin dan cuek mengiriminya banyak pesan.


*Bagaimana keadaan temanmu?


*Semua lancar?


*Apa kamu tadi berkelahi?


*Kenapa kamu bisa datang bersama pengacara Nizam?


*Apakah kalian pergi bersama menjemput Saras?


Diana mulai membalas satu per satu.


\=Keadaan Saras baik.


\=Iya lancar.


\=Aku tidak berkelahi, sudah tidak ada orang di sana.


\=Aku tidak sengaja bertemu dia di depan.


\=Aku menjemput Saras sendirian menumpangi taksi.


“Diana ….”


Panggilan itu membuat Diana segera menoleh kerah suara itu berasal, dia memandang kearah kakek Agung.


“Diana, apa kamu bersedia menghapus video yang kamu posting? Secara pribadi kakek sangat berharap kamu memaklumi Qiara dan tante Wilda. Kakek akan memberi apapun yang kamu mau, sebagai hadiah pribadi dari kakek.”


“Iya Diana, hapus video itu, dan buat klarifikasi kalau itu hanya kesalah fahaman saja.” Rani menambahi.


“Demi kebaikan nama keluarga Agung, kamu harus membantu kami memperbaiki nama Qiara, karena kejadian itu bisnis endorse Qiara hancur, juga karena postingan itu Qiara sangat dirugikan, Diana.”


Diana mengambil handphone dan mulai mengetik ….


*Maaf kakek, maaf tante Rani, maaf tante Wilda, saya tidak akan menghapus video itu, dan saya tidak akan berbohong, karena itulah kejadian adanya. 'Kan semua ini Qiara yang mulai. Atas semua hal yang terjadi itu ulah Qiara sendiri,dan Qiara sendiri harus bertanggung jawab dengan semua ulahnya.