Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 60 Pergi!


Nizam tersenyum, karena kedua video itu sudah dia amankan, maka tidak ada yang bisa menghapusnya kecuali dirinya atau Diana. Mendengari segala permintaan kakek Agung, Rani, dan Wilda pada Diana, Nizam sedikit geram. “Boleh saya buka suara?” Nizam memandang kakek Agung, meminta persetujuan orang tua itu untuk berkomentar.


“Silakan nak,” sahut kakek Agung.


“Maaf sebelumnya jika saya lancang. Saya sadar diri kalau saya hanya tamu di rumah ini. Begini, tentang masalah yang timbul, dan serangan dari dunia maya yang tertuju pada Qiara, hingga berdampak dengan hancurnya karir Qiara sebagai selebgram semua itu ulah Qiara sendiri. Siapa yang memposting video kebohongan lebih dulu?" Nizam memandangi wajah-wajah keluarga Agung Jaya satu per satu. "Qiara!”


"Karena postingan Qiara, bahkan nama baik Universitas Bina Jaya ikut tercoreng. Ada Qiara memikirkan bagaimana nama baik kampusnya saat dia memposting video palsu itu?"


“Pengguna media sosial sebelumnya tidak tahu mengenai kejadian kemaren kalau Qiara tidak memposting hal itu. Yang dia posting kebohongan, ya ... sekarang dia sudah memanen apa yang dia tanam sebelumnya."


“Apa yang Diana lakukan hanya sebatas membela diri dan membela Fakultas milik Anda, Tuan Agung Jaya.”


“Apakah Diana bersalah jika mengungkap fakta yang sebenarnya pada publik?”


Kakek Agung terdiam, dia tidak tahu harus berkata apalagi.


“Kalian begitu mudah berkata-kata demi ini, demi itu, lalu meminta Diana membersihkan nama Qiara, demi kebaikan Qiara juga demi nama baik keluarga kalian. Tapi apa pernah kalian berpikir apakah semua permintaan kalian ini adil bagi Diana?!”


Nizam mengatur napasnya, hampir saja dia kelepasan berteriak. "Maaf, saya rada emosi ini."


Kakek Agung menunduk, lagi-lagi dia melakukan hal yang menyakiti Diana, dengan mudah dia memohon pada Diana, padahal semua itu ulah cucunya sendiri, dan nama Universitasnya kembali baik karena pembelaan Diana.


Wilda memandang sinis pada Diana. “Dasar munafik! Kau datang ternyata untuk dirimu sendiri!”


Diana memasang wajah dinginnya, seolah dia tidak mengerti apa dari perkataan Wilda.


“Wilda cukup!!” Kakek Agung geram dengan anak bungusnya yang terus menyudutkan Diana.


“Hanya demi gadis bisu, Ayah membentakku.”


“Kamu sangat keterlaluan Wilda!”


“Semua ini terjadi karena keberadaanya.” Telunjuk Wilda mengarah pada Diana. “Kalau dia pergi dari lingkungan kita, masalah ini tidak akan terjadi!”


Diana melipat serbet yang ada di pangkuannya, dan menaruhnya diata meja. Dengan sopan dia berdiri dan izin undur diri.


“Bagus, ternyata kamu peka dan masih sadar diri, pergi sejauh mungkin dari sini!” ucap Wilda.


“Diana, kakek mohon kembali ketempatmu dan jangan pergi.” Kakek Agung memandang sinis kearah putri bungsunya. “Yang seharusnya pergi dari sini, kamu Wilda!”


“Ayah ….”


“Pergi!”


Wilda terperanjat karena kaget, dia pun segera pergi meninggalkan ruang makan. Rani sontak berdiri, dia tidak rela adik iparnya di-usir.


“Sebaiknya kamu bantu Wilda membereskan barang-barangnya, Rani.”


“Ayah ….”


Kakek Agung menatap Rani dengan tatapan peringatan, Rani pun segera menyusul adik iparnya. Semua membisu, tidak ada seorang pun yang membuka suaranya, bahkan saat Wilda melintas di samping mereka dengan menarik 2 koper besarnya, tidak ada juga yang menyapanya. Wilda di bantu para pelayan membawa koper-kopernya menuju mobilnya.


Semua koper Wilda sudah masuk ke dalam mobil, Wilda memandangi bangunan rumah Ayahnya.


“Kenapa tante?”


Suara itu menyadarkan Wilda dari lamunanya.


“Ivan?”


Ivan berjalan mendekati bibinya.


“Masih ada yang kurang? Apa maumu?” tanya Wilda.


Ivan melemparkan handphone kearah Wilda, membuat tubuh Wilda refleks menangkap benda yang Ivan lempar padanya.


“Periksa apa yang ada di dalam handphone itu.”


Wilda pun langsung membuka handphone itu. Seketika dia tegang membaca segala laporan yang tertulis dalam handphone tersebut.


“Aku sudah memeriksa semuanya. Sangat banyak pinjaman om yang mengatas namakan Agung Jaya, padahal pinjaman itu bukan untuk Perusahaan.”


Wilda bungkam, dia tidak menyangka Ivan bisa menemukan semua laporan itu.


“Jika om masih bertindak demikian, maka aku tidak akan memandang dia sebagai keluargaku lagi. Ingat tante, aku adalah pemilik utama saham Agung Jaya.”


“Aku tahu kau adalah pemilik Sebagian besar saham Agung Jaya, sebab itu kamu tidak pantas bersanding dengan si bisu itu!”


“Yang menentukan apa yang pantas dan tidak pantas menjadi istriku hanya aku! Berlanjut atau tidak hubunganku dengan Diana ke jenjang pernikahan, ini juga tergantung keputusanku! Tante tidak berhak menentukan Wanita mana yang menurut tante tepat menjadi istriku! Semua itu aku yang menentukan!”


Ivan mengambil kembali handphone yang sebelumnya dia lempar. “Jangan lupa, setelah Qiara keluar dari Rumah Sakit, bawa dia untuk menemui Diana dan minta maaf pada Diana!”


“Atas dasar apa Qiara harus mengemis maaf pada si bisu?!”


“tante lupa kalau Qiara selamat karena pertolongan Diana.”


“Dia kan sekolah di kedokteran, sebagai calon dokter memang tugas dia menyelamatkan orang!”


“Ada apa ini? Suara tante sangat jelas terdengar dari jauh.”