
Waktu seakan berhenti di titik itu, Diana tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, menatap Ivan sedekat ini sorot mata Ivan seakan menghipnotisnya, hingga dia tidak mengelak dengan keadaan ini, dan diam saja membiarkan dirinya sedekat ini dengan Ivan. Ivan berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Saat ini kelopak matanya sangat susah untuk tetap terbuka, rasanya ada benda ribuan kilo yang dia topang di pelupuk matanya. Ivan tersenyum, sebelah tangannya membelai rambut Diana.
“Kamu sangat cantik.”
Usapan lembut tangan Ivan pada rambutnya membuat hawa panas seketika menjalar keseluruh tubuhnya, Diana merasakan wajahnya seketika terasa hangat.
Ivan tersenyum. “Wajahmu merah seperti udang rebus.”
“Diana … Apa kamu mau menemaniku?”
“Aku butuh dirimu, Diana.”
Ivan merubah posisinya, hingga Diana terbaring di sisi Ivan. Ivan dengan santainya memeluk Diana yang berbaring di sampingnya.
Helaan napas Ivan perlahan terdengar normal, Diana berusaha melepaskan diri dekapan Ivan.
“Kau tidak mau menemaniku?” Ivan semakin meng-eratkan pelukannya.
Diana membuang napasnya kasar, dia pun pasrah diam dalam pelukan Ivan. Tidak bisa dia ingkari, berada dalam pelukan Ivan ada rasa yang sangat menenangkan jiwanya.
****
Diana perlahan mengerjapkan matanya, dia lupa dengan kejadian sebelumnya, hingga dia merasa dia tidur di kamarnya, guling yang dia peluk terasa sangat nyaman dan hangat. Merasa hal ini aneh, sontak Diana membuka kedua matanya. Dia kaget, baru menyadari kalau dia tidur dalam pelukan Ivan. Perlahan Diana melepaskan diri pelukan yang sangat nyaman itu. Setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Ivan Diana langsung menyambar handphonenya yang dia letakkan diatas nakas di dekat gelas minum Ivan. Jam menunjukkan jam 05.45, Diana pun bergegas kembali ke kamarnya.
Diana keluar dari ruang ganti, kini tubuhnya terasa lebih segar setelah selesai mandi.
Tink!
Bunyi handphonenya membuat Diana langsung menyambar benda pipih persegi Panjang itu. Terlihat Guru besarnya, Profesor Hadju yang mengiriminya pesan.
*Diana, kamu bisa menemui Nizam?
*Beberapa orang mengira, Nizam adalah dokter bedah hebat yang selama ini menjadi misteri, hingga ada teman dekat Ayah Nizam yang sakit, dia ingin dokter hebat melakukan operasi padanya, dengan bayaran 3 kali lipat.
*Temui Nizam, dan bicarakan padanya.
Diana menghembuskan napasnya, dia segera bersiap juga memesan taksi untuk menuju kediaman Nizam.
****
Nizam terlihat sibuk dengan segala pekerjaannya, bunyi telepon rumahnya membuat fokus Nizam buyar.
“Selamat pagi Tuan, Nizam.”
“Ada apa Pak”
“Ini ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan.”
Nizam menautkan kedua alisnya, ada yang bertamu sepagi ini ke rumahnya. “Siapa Pak?”
“Seorang gadis bisu, namanya Diana.”
Nizam sangat terkejut mendengar Diana yang datang bertamu. “Langsung antar dia ke depan pintu, Pak.”
Nizam meninggalkan semua berkasnya, dan dia berlari menuju pintu utama. Saat dirinya membuka pintu dia melihat jelas Diana berdiri di sana. “Silakan masuk Diana.”
Diana pun segera masuk ke dalam rumah Nizam.
“Mohon maaf kalau keadaan rumahku berantakan, karena pelayanku cuti, aku malas mencari pelayan sementara, toh mereka juga hanya cuti beberapa hari.”
“Kenapa kau ke rumahku? Ada hal penting? Kenapa kamu tidak ke rumah kakek Agung? Barangkali ada persiapan di sana, ‘kan hari ini acara ulang tahun kakek Agung.”
“Aku tidak mungkin pergi ke rumah kakek sendirian, Ivan masih tidur. Tadi malam dia mabuk.”
“Apa? Mabuk?” Nizam sangat terkejut mendengar seorang Ivan mabuk. “Apa kamu melihat langsung saat Ivan minum minuman keras?”
Diana menggelengkan kepalanya.
“Ivan mabuk, itu sangat tidak mungkin Diana, setahuku seorang Ivan tidak pernah minum minuman yang ber-alkohol dalam jumlah yang banyak. Sangat aneh kalau Ivan mabuk. Ku rasa dia hanya pura-pura mabuk, agar mendapat perhatianmu dan bisa berdekatan denganmu.”
Diana terdiam, dia teringat kejadian tadi malam, hampir semalaman dia tidur dalam pelukan Ivan.
“Kamu harus lebih hati-hati, mungkin saja ini strateginya untuk mendekatimu.”
“Bisa dekat denganmu itu hal yang sangat special Diana, mendekatimu juga sangat sulit, aku yakin Ivan tadi malam tidak mabuk.”
“Kamu ada makanan? Aku sangat lapar." Diana berusaha merubah topik pembicaraan mereka, membahas Ivan, dia teringat kejadian tadi malam.
Nizam langsung meraih handphonenya, dia mengetik sesuatu di sana. “Kamu ingin makan apa?”
“Apa saja.”
“Oke, sebentar aku pesan dulu.” Nizam terlihat sibuk dengan handphonenya, selesai memesan makanan untuk mereka, Nizam kembali memandang kearah Diana. “Maaf Diana, di dapurku tidak ada makanan, makanya aku pesan.”
Saat pesanan mereka datang, Diana dan Nizam langsung menikmati sarapan mereka, kini keduanya duduk santai di ruang tamu.
“Aku datang ke sini, karena Profesor Hadju yang memintaku.”
“Owh, itu. Maafkan aku Diana, aku terpaksa mengakui kalau aku dokter hebat itu, kalau aku mengelak mereka tidak akan percaya sampai mereka mengetahui siapa sebenanrnya dokter hebat itu. Karena dirimu masih menutupi identitasmu, ya aku akui saja.”
“Tapi ada masalah lain timbul, karena Sebagian orang berpikir aku si dokter hebat, banyak orang yang mencariku, salah satunya teman Ayahku. Dia ingin si dokter hebat ini melakukan operasi padanya. Aku tidak mungkin menolak, Diana. Sebab itu aku minta tolong pada Profesor Hadju untuk mencari solusi atas masalah ini.”
“Bisa aku melihat data Riwayat penyakitnya?” tanya Diana.
“Tapi ini bayarannya hanya 3 kali lipat, tidak seperti bayaran yang kamu terima dari keluarga Yudha.”
“Aku bersedia melakuakan operasi pada teman Ayahmu. Tapi aku tidak menerima pembayaran darinya, aku melakukan ini untuk membantumu, kamu sangat sering menolongku, izinkan aku menolongmu kali ini.”
Nizam terdiam. Ingin rasanya memeluk Wanita yang ada di depannya ini karena luapan rasa bahagia Wanita itu mau mengoperasi teman Ayahnya yang sakit.
“Berkasnya?”
Nizam segera mengambil laptopnya dan membiarkan Diana dengan tugasnya. Diana sangat fokus mempelajari Riwayat penyakit pasiennya, hingga dia menghabiskan banyak waktu di rumah Nizam.
****
Di Apartemen Ivan.
Perlahan Ivan membuka kedua matanya, saat mendengar handphonenya yang terus berteriak. Sambil memijat kepalanya yang masih terasa berat, Ivan menyambar handphonenya, dan mengangkat panggilan yang masuk.
“Iya, Dillah?”
“Tuan, saya sedari tadi menunggu Anda di bawah, kata Anda kemaren saya harus menjemput Anda ke Apartemen, lalu menuju Bandara untuk menjemput kakak Anda.”
“Shitt, jam berapa sekarang?”
“Jam 08.45, Tuan.”
Ivan langsung menutup teleponnya, dan dia langsung berlari menuju kamar mandi.
Saat Ivan keluar dari pintu utama, Dillah langsung membukakan pintu mobil bagian belakang, Ivan pun langsung masuk ke mobil, matanya terus tertuju pada layar handphonennya, membaca segala laporan pekerjaan yang masuk.
Tidak menunggu perintah Ivan, Dillah masuk ke bagian depan di samping supir. “Langsung ke Bandara, Pak. Tolong lebih cepat, tapi hati-hati, karena waktu kedatangan Tuan Angga sebentar lagi.”
“Baik Tuan.”
Mobil yang ditumpangi Ivan pun melaju dengan kecepatan tinggi. Ivan terlihat sibuk dengan Handphonenya.
“Dillah, apa benar dokumen perusahaan ada yang hilang?”
Dillah memutar sedikit posisi tubuhnya, ingin menjelaskan dokumen apa yang hilang. "Iya Tuan--"
“Jangan bahas sekarang, sekarang aku ingin fokus pada acara kakekku. Kita bahas setelah acara ulang tahun kakek selesai.”
Dillah pun kembali ke posisinya.
Saat sampai di bandara, Ivan tidak menunggu lama, orang yang dia jemput sudah muncul di pintu kedatangan. Dengan senyuman yang menghiasi wajahnya, dia langsung memeluk kakak laki-lakinya yang beberapa tahun terakhir ini tinggal di luar negri.
“Terima kasih kakak, karena kakak bisa pulang di hari ulang tahun kakek.”
“Aku pasti kosongkan waktuku untuk kakek.”
“Ayo kita langsung pulang, kakek pasti sangat rindu pada kakak.”
Di bagian belakang Ivan duduk bersama kakaknya, hanya pembicaraan santai mewarnai perjalanan mereka menuju rumah Kakek Agung.
***
Di kediaman kakek Agung, terlihat begitu ramai, sahabat Agung jugan kolega-kolega Agung Jaya berkumpul di sana. Sesekali terdengar suara tawa di sela-sela obrolan mereka.
“Kakek ….”
Panggilan itu seketika menyita perhatian kakek Agung, dia menoleh kearah pintu utama. Terlihat Ivan dan Asistennya berdiri di sana dengan senyuman manisnya. Kakek Agung pun tersenyum, namun tiba-tiba Ivan dan Asistennya melangkah ke samping, hingga sangat jelas kakek Agung melihat cucu pertamanya berdiri di depan matanya.
“Angga ….” Kakek Agung sangat bahagia, dia melangkah begitu semangat menyambut cucu pertamanya.
Semua perhatian para tamu yang ada di rumah itu pun tertuju pada sosok tampan dengan setelan jas lengkapnya. Namun ada yang sedikit mengusik penampilan laki-laki itu, karena laki-laki itu berjalan menggunakan tongkat
“Selamat ulang tahun kek,” ucap Angga.
“Terima kasih, kakek sangat bahagia melihat kedatangan kamu.”
"Angga, akhirnya kamu pulang sayang."
Angga menoleh kearah lain, dia tersenyum melihat Rani. "Mama ...." Dengan bantuan tongkatnya, Angga berjalan mendekati Rani, mereka berdua berpelukan.
"Ayo, kita kedalam dulu." Rani menyudahi pelukannya. "Keluarga yang lain, tentunya juga rindu padamu."
Mereka semua berjalan ke tengah ruangan, beberapa kolega Agung Jaya pun menyambut Angga dan Ivan.
Kakek Agung menoleh kearah pintu, dia pikir Diana ada di belakang mereka, namun tidak ada siapa-siapa di sana. “Diana mana, Van?”
“Diana tidak datang?” sela Rani. Senyuman kebahagiaan terukir jelas di wajah Rani. “Baguslah kalau dia tidak datang, setidaknya tidak ada yang merusak suasana.”
“Selamat siang semuanya, apakah kami terlambat?”
Semua perhatian seketika tertuju kearah pintu, ada dua orang yang baru datang, namun perhatian mereka hanya tertuju pada seorang Wanita yang terlihat sangat cantik.