
Rasanya malam itu waktu yang sangat singkat, jam telah menunjukan pukul 02.00, tapi Saras dan Diana masih asyik mengobrol.
"Hei, sudah jam 2 malam, ayo kita tidur," ajak Diana.
"Ha? Jam 2?" Saras tidak menduga kalau sudah lewat tengah malam.
"Lebih baik kamu tidur bersamaku malam ini, andai besok tidak ada ujian, aku rela begadang sampai pagi."
"Ya sudah, markibo," ucap Saras.
"Apa itu?" Diana tidak mengerti ucapan Saras.
"Markibo, mari kita bobo."
"Owh, ayolah, mari kita bobo."
Diana dan Saras menaikan selimut menutupi tubuh mereka. Keduanya perlahan tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing.
***
Keesokan harinya.
Pagi-pagi buta Saras sudah kembali ke kamarnya, dia segera bersiap untuk ke kelas, karena hari ini ada ujian. Saat di kelas dia bertemu Diana, keduanya tidak saling bicara, hanya saling melempar senyum.
Tiba-tiba Lucas melintas di depan Diana. "Lucas, bagaimana keadaan kakimu?" tanya Diana.
"Hei, kamu sudah kembali, aku sangat senang melihatmu," ucap Lucas.
"Bagaimana kakimu?" Diana mengulangi pertanyaannya.
"Kamu lihat sendiri, aku bisa berjalan tanpa bantuan kaki ketiga."
Diana mengamati keadaan Lucas. "Jangan terlalu senang, tetap perhatikan kakimu, itu belum sembuh total."
"Siap!"
"Selamat pagi anak-anak," sapa dosen.
Semua Mahasiswa langsung menempati tempat duduk mereka, saat melihat dosen sudah memasuki kelas. Tidak berselang lama, ujian pun berlangsung.
*
Setelah ujianya selesai Diana segera meraih handphonenya, sedari tadi handphonenya terus bergetar. Melihat pesan dari Ivan yang memberitahunya ada rapat di kantor Agung Jaya, Diana buru-buru meninggalkan kelas.
Kakinya melangkah begitu cepat, jemarinya juga terus menari diatas keayboard handphonenya, Diana memesan taksi online untuk mengantarnya ke Agung Jaya. Saat Diana melewati gedung lain, tiba-tiba ada sebuah lengan yang menariknya. Karena terkejut Diana hampir melukai orang yang menariknya.
"Lucas? Ah hampir saja aku memukulmu."
"Aku sudah siap menerima pukulanmu karena mengejutkanmu."
"Ada apa Lucas?"
"Sebentar lagi kita akan libur panjang, apakah kamu ingin pulang bersamaku?"
"Aku bukan tidak mau pulang bersamamu. Niatku, nanti aku akan pulang bersama Ivan, dan beberapa orang lagi."
"Aku senang mendengar kamu akan pulang, kalau begitu sampai jumpa lagi saat di desa nanti."
"Aku pergi dulu ya." Diana melempar senyuman kecilnya dan segera pergi dari sana.
Saat Diana sampai di depan gerbang Universitas, taksi yang dia order pun sampai. Diana segera masuk dan mengkonfirmasi tujuannya.
*
Mereka semua memberi hormat pada Diana, sedang Diana setelah menyapa mereka dia duduk kursinya sambil memainkan handphonenya.
Ceklak!
Pintu ruangan terbuka, terlihat sosok Dillah muncul diantara pintu, Dillah tersenyum melihat kedatangan Diana.
"Sudah lama menunggu, Nona?" sapa Dillah.
"Aku baru sampai," sahut Diana.
"Nona, apakah Anda sudah membaca berita hari ini?" tanya Dillah.
"Belum."
"Berarti Anda belum membaca berita viral di jagad maya?" sela salah satu pegawai Agung Jaya.
"Apalagi dunia maya, aku tidak pernah peduli," sahut Diana.
"Waktu yang ada saja seakan tidak cukup untuk kehidupan nyataku, bagaimana aku sempat berselancar di dunia maya," ucap Diana.
"Wah ... sayang sekali, andai Anda menjadi selebgram, pasti banyak yang mengincar Anda untuk mengindorse produk mereka, Anda sangat cantik," ucap karyawati Agung Jaya.
"Berita kali ini seru banget, bukan hanya tentang drama artis yang nggak laku cari perhatian agar dapat panggung, seru pokonya." seru Pegawai yang lain.
Diana menoleh pada Dillah. "Memangnya berita tentang apa, Dill?"
"Berita heboh di dunia maya, sebagian besar berita tentang ED Group."
"Memangnya mereka berulah lagi?" tanya Diana.
"ED Group sangat jelas menjatuhkan Perusahaan rivalnya, nah perusahaan yang merasa dirugikan oleh iklan online ED Group, mereka membalas serangan itu, dan Rival ED Group membeberkan kalau sebenarnya ED Group sudah bangkrut sejak 15 tahun yang lalu. Mereka bisa bertahan hingga detik ini, karena hutangnya pada Bramantyo Group yang tidak kunjung di bayar."
"Separah itu?" Diana baru tahu kalau ED Group punya hutang pada Ayahnya.
Selain T779, sepertinya mereka ingin membunuhku agar mereka tidak perlu bayar hutang, aku mati, maka harta Ayahku akan dibagi-bagi, batin Diana.
Dillah meneruskan penjelasanya. "Beberapa perusahaan besar yang bekerja sama dengan ED Group, meminta ED Group membayar semua hutangnya pada ahli waris Charlie Bramantyo. Kalau ED group tidak melunasi hutangnya, maka mereka memutuskan kerjasama."
"Kenapa patner ED Group mendesak ED Group untuk melunasi hutangnya pada Bramantyo? Memangnya mereka akan untung apa?" tanya Diana.
"Sepertinya perusahaan yang mengikat kerjasama dengan ED Group, mereka mempunyai hutang jasa yang cukup besar pada Charlie Bramantyo."
Tidak mudah bagi Diana untuk percaya sepenuhnya pada keterangan Dillah. Diana yakin, Ivan ikut turun tangan demi menuntaskan misinya.
"ED Group sepertinya hanya akan tinggal nama," ucap salah satu pegawai.
Diana penasaran, dia berlari memeriksa komputer pegawai itu. Saat Diana melihat layar komputer, benar saja ada berita yang memuat kabar kebangkrutan ED Group.
"Kasian sekali ED Group, akhirnya ada yang berani juga melawan perusahaan licik itu," ucap Dillah.
Diana selesai membaca berita serangan balik rival ED Group, dia kembali berdiri di samping Dillah.
"Anda tahu seorang hacker hebat?" tanya Dillah.
"Yang dicari Jennifer?" tebak Diana.
"Benar sekali, menurut informasi Hacker handal itu juga turun tangan dalam masalah ini."
"Akankah ini kehancuran bagi ED Group?" tebak Diana.