Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 161 Doar


Melihat Diana keluar dari ruangan yang dia masuki sebelumnya, Tony langsung menegakan tubuhnya.


“Aku mau ke kampusku, ayo ikuti aku,” ajak Diana.


Tanpa bertanya Tony langsung mengikuti Diana, melihat Diana memilih turun lewat tangga bukan lift, Tony tetap mengikutinya. Saat mereka menuruni tangga di bawa sana ada Yudha dan Dillah. Mulanya keduanya terlihat santai, saat melihat Diana keduanya langsung merubah sikap mereka, dan memperlihatkan rasa hormat mereka pada Diana.


Perhatian Yudha tertuju pada laki-laki yang berjalan di belakang Diana. “Diana, siapa dia? Rasanya aku baru melihatnya.”


“Dia Sammy temanku,” sahut Diana.


“Nona selalu berlebihan, aku hanya pelayan Nyonya Zelin. Di desa aku bertugas menjaga domba peliharaan Nyonya Zelin, tepatnya saya hanya seorang penggembala,” sela Tony.


“Yudha, bisakah aku menitipkan sesuatu untuk Ivan?” tanya Diana.


“Selama yang kau titip barang, aku akan sampaikan, aku akan sampaikan, kalau kau titipkan perasaanku, aku takut, karena aku malah membawanya kabur.” Yudha tersenyum berhasil menggoda Diana.


Saat ini perasaan Diana sangat kacau dia tidak meladeni candaan Yudha. “Sam, berikan koper itu padanya.” Diana meminta Tony memberikan koper yang dia pegang pada Yudha.


Tony segera menyerahkan koper itu pada Yudha.


“Berikan itu pada Ivan,” ucap Diana.


“Aku akan berikan pada Ivan,” sahut Yudha.


Diana menoleh kearah Tony, dia memberi isyarat pada Tony agar mengikutinya. Mereka berdua pergi begitu saja dari sana. Yudha dan Dillah terus memperhatikan Diana dan teman laki-lakinya.


“Kalau ku perhatikan, Diana dan temannya sama sekali tidak seperti orang desa,” ucap Yudha.


“Lihat saja penampilan mereka, walau mereka berpenampilan sederhana, tapi apa yang terpancar dari diri mereka berdua, keduanya terlihat seperti seorang yang memiliki kecerdasan yang tinggu, namun tersamarkan dengan penampilan mereka.” Yudha terus menilai Diana dan temannya.


Sedang Dillah larut dalam lamunanya. Walau Diana dan Ivan sudah memaafkan pengkhiantannya, tapi rasa penyesalan itu tetap memenuhi hatinya.


Nona Diana wanita yang sangat luar biasa, aku sangat menyesal karena pernah memandangnya dengan tatapan merendahkan dan menghinakan dia, batin Dillah.


Yudha dan Dillah belum menyadari keberadaan Ivan yang berdiri di samping mereka, Ivan heran melihat Yudha dan Dillah sama-sama memandang kearah pintu keluar. “Apa yang kalian lihat?”


“Amm … ini Diana menitipkan ini untukmu.” Yudha memberikan koper yang Diana titipkan padanya.


“Kenapa dia tidak memberikan padaku langsung?” Ivan mencermati koper itu, seingatnya koper besar itu selalu dibawa teman laki-laki Diana.


“Mungkin saat bertemu denganmu, Samy tidak bersamanya, sedang koper itu di bawa Samy,” sela Dillah.


“Samy?” Ivan terlihat bingung.


“Iya, Samy laki-laki yang terus mengikuti Diana, katanya dia adalah pelayan Nenek Zelin,” sahut Dillah.


"Owh iya, aku lupa, dia salah satu Utusan Nenek Zelin," ucap Ivan.


“Van, aku penasaran dengan isi koper itu, ayo buka,” bujuk Yudha.


“Nanti saja aku membukanya di rumah.”


“Yah … tidak asyik, ayo Van buka di sini, bagaimana kalau sebelum kita bertemu lagi aku malah ketabrak mobil dan mati?” Yudha menaik turunkan alisnya. “Jika aku mati dalam keadaan penasaran ini, orang pertama yang aku datangi adalah kamu, karena jiwaku tidak akan tenang karena aku mati dalam keadaan penasaran.”


Ivan membuang napasnya Kasar, dia menaruh pelan koper itu di lantai, dan perlahan membukanya.


Doarr!


Mereka bertiga dibuat terkejut dengan isi koper itu. Dalam koper itu ada obat yang paling mahal di negara mereka, mendapatkan satu butir saja susah, sedang di sana mereka mendapatkan lumayan banyak obat jenis itu.


“Ivan ….” Mata Yudha berbinar melihat obat yang mereka sebut dengan obat Ajaib. “Van, aku minta satu dosis obat itu untuk Nenekku Van, jika Nenekku diberi obat itu, maka keadaanya semakin membaik.”


Ivan menutup kembali koper itu. “Nenekmu tanpa obat ini, keadaanya juga sudah membaik berkat pertolongan dokter bedah yang hebat itu.”


“Tapi Van, jika dapat maka akan lebih baik lagi.” Yudha berusaha meminta obat itu.


“Lebih baik obat ini aku simpan dulu.” Ivan pergi begitu saja membawa koper yang berisi harta karun itu.