Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 258 MG


Saat Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, dua buah mobil Perusahaan beriringan memasuki wilayah Perusahaan Agung Jaya. Saat yang bersamaan pintu mobil itu terbuka, dari satu mobil tampak sosok Yudha dan Dillah. Sedang di mobil yang lain, tampak sosok Ivan dan Diana.


“Bagaimana surveimu, Yudh?” tanya Ivan.


“Butuh proses Van, tidak seperti makan cabe yang langsung terasa pedasnya.” Sesaat Yudha mencuri pandang kearah Diana, wanita itu sangat fokus dengan layar Handphonenya.


“Bagaimana kunjunganmu, Van?” tanya Yudha.


“Sangat lancar, setelah mengunjungi banyak Sekolah, aku kini memiliki mimpi yang lain.” Ivan memandang kearah Diana.


“Bukannya mimpi Anda tentang permata terindah itu sudah terwujud?” sela Dillah.


“Diana memang impianku yang telah terwujud, tapi darinya aku memiliki mimpi baru,” ucap Ivan.


“Aku kepo, tapi aku tak berani bertanya,” ucap Yudha.


“Mimpiku yang baru, aku ingin menggratiskan biaya Pendidikan. Karena majunya masa depan dimulai dari Pendidikan anak-anak saat ini.” Membayangkan rencana impiannya saja Ivan sangat bahagia, senyuman yang begitu merekah menghiasi wajah tampan itu. “Mimpi Diana, ingin Kesehatan yang mudah dijangkau setiap orang, dan mimpiku Pendidikan yang bisa di nikmati kalangan mana pun. Setelah dari sini, aku akan bicara pada Kakek untuk menggratiskan biaya kuliah bagi siapa saja yang genius.”


“Mimpimu sangat indah, van.” Ucap Diana.


“Mau menjadi patnerku untuk mewujudkannya?”


“Setelah mimpi itu terwujud, kamu mau apalagi coba?” tanya Diana.


“Selama kamu ada bersamaku, aku akan terus merangkai mimpi dan mewujudkannya bersamamu.”


Suasana hangat itu seketika buyar karena teriakan dari handphone Ivan. Sedang Yudha dan Dillah merasa terselamatkan oleh deringan handphone itu, selama Ivan dan Diana saling bicara, mereka berusaha menahan napas agar tidak mengganggu keromantisan itu.


“Mama meneleponku,” ucap Ivan.


“Angkat sana, aku duluan masuk ya,” pamit Diana.


“Kami juga duluan masuk ya Van,” pamit Yudha.


Kini Ivan tertinggal sendirian, dia segera menerima panggilan telepon dari Rani.


“Iya mama?”


“Van, kamu di mana? Kenapa sangat sulit ditemui?”


“Aku sedang di tambang berlian ma. Melakukan survei langsung.”


“Kamu itu CEO Van, Anak buahmu ratusan, dan memiliki ribuan karyawan yang tersebar, kenapa tetap kamu juga yang harus turun tangan langsung? Apa gunanya kamu menggaji tenaga ahli kalau akhirnya kamu juga harus turun langsung ke lapangan?” omel Rani.


“Aku tidak mengambil alih tugas anak buahku, mama. Hanya saja beberapa hal terkadang harus aku sendiri yang turun tangan.”


Ivan berusaha menyudahi bahasan lain, dia malas berdebat dengan ibunya. “Ada hal penting apa ma?”


“Bulan depan, di Universitas Bina Jaya akan mengadakan seminar, dan pesertanya adalah anak-anak bangsa yang berprestasi dan juga beberapa ilmuan negara.”


“Aku membaca dokumen itu, tapi belum memeriksanya,” sahut Ivan.


“Kamu harus datang ke acara itu, di sana sangat banyak wanita beprestasi yang pantas menjadi istrimu, bukan si udik itu!”


“Mama, berhenti menghina Diana.”


“kenapa sekarang kamu jadi bodoh, van? Diana itu menyasarmu karena tidak bisa menguasai harta kekayaan Bramantyo, dan dia mentargetkan hartamu.”


“Aku tidak peduli mah, andai dia mentargetkan untuk membunuh mama, aku akan mendukungnya.”


“Ivan! Sadar dan buka matamu! Kamu tengah berbicara dengan ibumu, Van!” maki Rani.


“Aku sudah lama sadar dan membuka kedua mata lahirku, bahkan membuka mata hatiku. Seharusnya mama yang berusaha membuka kedua mata mama untuk memandang Diana, berhenti memandang Diana dari mata orang lain.”


“Ivan!” Rani sangat marah dengan kerasnya keinginan Ivan.


“Berhenti memikirkan gadis lain untukku, karena di mataku Diana adalah permata paling indah yang tersembunyi di desa. Bagiku, tidak ada kilau permata seindah Diana.” Tanpa menunggu jawaban ibunya, Ivan segera menyudahi panggilan telepon mereka secarara sepihak.


Ivan berusaha memasang wajah tenang dan segera kembali ketempat peristirahatannya dengan Diana.


Setelah berbicara dengan Ivan, Rani langsung memijak pelipisnya yang sangat berdenyut, rasanya tengkuknya juga ikut pegal menahan kemarahan yang seketika meledak mendengar jawaban Ivan.


Rani kembali ke layar handphonenya, dia berusaha mencaritahu gadis-gadis Genius yang akan ada di acara besar nanti. Semua data diri para Genius cantik itu Rani kantongi, hanya saja dia belum tahu siapa tamu yang namanya hanya di isi dengan huruf MG.


Tidak ada keterangan siapa MG, namun inisial itu terdapat di beberapa nama tamu.


"Apa MG Asisten Nizam? Inisial MG juga tertera dalam kolom nama dokter bedah Genius."


Kepala Rani semakin berdenyut memikirkan siapa MG, apakah dia perempuan atau laki-laki. Rani memilih merehatkan tubuhnya, dan mengatur rencana lain untuk menyadarkan Ivan.


**


Di desa Diana.


Setelah membaca laporan dari Tuan Muda Archer, Anton melupakan kebersamaannya dengan keluarga besarnya dan keluarga besar istrinya. Dia langsung berlari menuju kediaman Nenek Zelin.


Anton langsung mendekati salah satu Asisten setia Nenek Zelin. “Bi Makhaya, apakah Nenek ada?”


“Anton? Aku sangat tersanjung kamu mendatangiku, seorang dokter muda berprestasi sepertimu menemuiku.”


Anton menoleh kearah sumber suara itu, terlihat sosok Nenek tua yang asyik membelas seekor anjing Saint Bernard.


“Apa ini Hogu?” tanya Anton.


Guk! Guk!


Anjing itu seolah menjawab pertanyaan Anton.


“Ya … benar sekali, dia Hogu kesayangan Diana.”


Anton ikut membelai dan memijat lembut sisi kepala Anjing kesayangan Diana. “Kau semakin besar, apa kamu merindukan Tuan Putrimu yang selalu sibuk itu?”


Guk! Guk!


Anton dan Nenek Zelin tersenyum dengan jawaban Hogu.


“Kamu bermain dulu sana Hogu, Nenek mau bicara dengan Anton.”


Anjing pintar itu langsung berlari ke pekarangan rumah Nenek Zelin. Sedang Nenek Zelin menatap serius pada Anton.


“Ada hal serius apa sehingga kamu meninggalkan jamuan penyambutanmu hanya untuk menemuiku?”


“Nenek, kilau permata itu telah dilihat banyak orang, sangat mustahil bagi permata itu untuk terus menerus bersembunyi.” Anton memberikan tabletnya pada Nenek Zelin.


Nenek Zelin berusaha membaca setiap tulisan yang ada di layar Tab Anton. Sangat jelas bukti-bukti kalau Diana adalah orang Genius dan dokter bedah yang selama ini misteri.


“Bagaimana ini Nek?” tanya Anton.


“Tenanglah, aku akan membicarakan dengan Diana nanti.”


“Aku tidak bisa berbuat apa-apa Nek, Tuan Muda Archer juga tidak bisa menutupi hal ini, semoga Diana berkenan mempertimbangkan hal ini, demi kebaikan buat semua orang.”


“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, Anton. Aku hanya akan berbicara dengannya.”


“Terima kasih, Nek.”


“Ada kabar apalagi dari kota?” tanya Nenek Zelin.


“Diana menikah—”


“Aku sudah tahu.” Nenek Zelin tersenyum, “Aku sudah tahu Diana memilih jalan itu, dia menanyakan bagaimana perasaanku jika dia memutuskan suatu keputusan besar dalam hidupnya dan saat itu aku tak bersamanya.”


“Owh ….” Anton memahami cerita Nenek Zelin. “Ku dengar, Nyonya Zunea sahabat Anda akan datang ke sini. Diana dan Ivan yang mempersiapkan keberangkatan Nyonya Zunea untuk menemui Anda.”


“Aku turut senang mendengarnya, aku juga sangat merindukan sahabat lamaku itu.”


Berita yang ingin Anton sampaikan, sudah dia katakan pada Nenek Zelin. Anton izin undur diri, karena di rumahnya tengah mengadakan jamuan.