Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 111 Berapa Bahasa?


Setelah urusannya dengan penduduk lokal selesai, Diana segera menuju sebuah Restoran. Jarak restoran tujuan Diana tidak jauh lagi, tapi Diana curiga pada satu mobil mewah yang terus mengikutinya sejak tadi. Mobil yang Diana tumpangi berhenti di Restoran tujuannya, saat Diana masuk ke dalam Restoran mobil mewah itu juga berhenti di depan pintu masuk Restoran. Tidak lama seorang laki-laki dengan setelan jas lengkap turun dari mobil mewah itu, dia segera memacu langkahnya menuju Restoran. Saat hampir mencapai pintu masuk.


Brukkk!


Seorang laki-laki bertubuh tegap mengenakan pakaian lokal, lengkap dengan penutup kepala, menubruknya. Dia menarik pemuda memakai jas itu ke suatu tempat.


“Diana?” Laki-laki memakai jas itu terkejut melihat Diana.


“هل هو الشخص الذي تقصده؟"


hal hu alshakhs aladhi taqsiduhu?


(Apakah dia yang Anda maksud)


“نعم هذا صحيح."


naeam hadha sahihun.


(Ya, benar sekali.)


"ماذا تريد منه أن يفعل؟"


madha turid minh 'an yufeila?


(Mau diapakan dia?)


“فقط اتركه معي."


faqat atrukh maei.


(Tinggalkan saja dia bersamaku.)


“هناك أكثر؟"


hunak 'aktharu?


(Ada lagi?)


Diana menggelengkan kepalanya. "شكرا لك."


(Terima kasih.)


Laki-laki yang memakai pakaian lokal itu segera meninggalkan Diana dengan orang yang dia seret.


Laki-laki yang mengenakan jas lengkap itu menatap Diana dengan tatapan kekaguman. "Kalian komunikasi dengan bahasa apa?"


"Arab," sahut Diana begitu dingin.


“Luar biasa." Dia bertepuk tangan mengagumi kehebatan Diana. "Kamu menguasai berapa Bahasa?”


Diana tidak menghiraukan pujian laki-laki itu padanya. “Andai aku bisa seluruh Bahasa yang ada di dunia ini bukan urusanmu, yang aku mau. Kamu berhenti mengikutiku Tuan Fredy!” kecam Diana.


“Aku mengikutimu hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Diana. Apalagi saat ini kamu berada di negara Asing."


“Justru aku tidak akan baik-baik saja kalau diikuti orang sepertimu!”


Fredy hanya menunduk, dia memaklumi kenapa Diana semarah ini padanya, salahnya sendiri karena dulu menghancurkan kepercayaan Diana padanya.


Brakk!


Tubuh Fredy tersentak mendengar suara bantingan pintu yang begitu keras, saat dia menegakkan kepalanya Diana sudah tidak ada di ruangan itu. “Diana!” Fredy berusaha mengejar Diana.


Saat Fredy sampai dia luar, dia melihat Diana berlari keseberang jalan, di sana terlihat beberapa mobil terlibat kecelakaan. Fredy mengamati seseorang yang Diana dekati dari kejauhan, di sana Diana menghampiri seorang anak kecil korban kecelakaan, menurut perkiraannya umur anak kecil itu berusia sekitar 7 tahun. Fredy juga menyusul Diana dan anak kecil itu.


Anak kecil cantik itu terlihat tenangDiana menyentuh kedua bahu anak kecil itu, dia merasakan ada penyakit dalam yang parah di derita anak kecil itu.


“اختي الجميلة ارجوك امي."


Akhti aljamilat arjuk ami.


(Kakak cantik, tolonglah ibuku.)


Anak kecil itu menunjuk kearah ibunya yang terlibat kecelakaan, dan wanita yang dia tunjuk tidak sadarkan diri.


“ما اسمك يا جميل"


ma asmuk ya jamil


(Siapa namamu, cantik?)


“Zaira.”


Adhhab mae 'ukhtik awlaan , sayusaeid 'aemamak walidatak hunaka.


(Kamu ikut kakak dulu ya, ibumu akan di tolong oleh paman-paman di sana.)


Anak kecil itu menganggukkan kepalanya. Diana menoleh pada Fredy. “Bisa bawa kami ke Rumah Sakit terdekat? Anak ini terluka parah,” ucap Diana.


Fredy mengamati keadaan anak itu. “Dia terlihat baik-baik saja.” Menyadari siapa Diana, Fredy menatap tajam Diana, dia tidak bertanya lagi, dia segera menggendong anak kecil itu dan berlari menuju mobil.


Sedang Diana meminta izin pada petugas medis yang ada di sana, Diana memperlihatkan tanda pengenalnya, petugas medis hanya mengabadikan identitas Diana dengan kamera handphonenya untuk berjaga-jaga.


Fredy meminta supirnya membalap di jalanan, saat yang sama ibu dari anak kecil itu juga di bawa petugas medis menuju Rumah Sakit yang sama dengan tujuan Diana. Sesampai di Rumah Sakit, Fredy masih memeluk anak kecil itu, dia dan Diana berlari menuju UGD. Diana berbicara dengan bahasa Arab, berusaha meminta tenaga medis di sana untuk mengutamakan anak kecil yang dipeluk Fredy, tapi tidak seorang pun yang meghiraukannya.


Diana sangat putus asa, petugas medis di sana sangat sibuk melayani pasien yang lain. Melihat anak itu tampak baik-baik saja, mereka mendahulukan pasien yang lain. Diana memberi penjelasan, tapi tidak di dengar oleh para perawat di UGD. Melihat sebuah pintu khusus, di mana itu adalah tempat pelayanan VIP, Diana langsung berlari kearah pintu itu. “Ikuti aku,” ucap Diana.


Fredy terus mengikuti Diana, saat mereka hampir sampai di sebuah pintu, seorang pria berbadan besar mengenakan seragam keamanan mencegat mereka.


Melihat Diana dan orang yang bersamanya terlihat seperti orang asing, Keamanan itu berbicara dengan bahasa inggris. “Ini khawasan khusus, ingin masuk harus memiliki kartu.”


“Lihat anak kecil ini, dia butuh pertolongan tenaga medis yang ada di dalam,” ucap Diana.


"Semua orang yang datang ke Rumah Sakit ini, mereka juga butuh pertolongan," sahut Kepala Keamanan.


“Mereka yang ada di sini sangat sibuk menangani korban yang lain, sedang anak ini tidak bisa menunggu lagi.”


Petugas keamanan melihat keadaan Zaira. "Dia baik-baik saja."


"Dari luar, di dalam tidak baik-baik saja." Diana berusaha menjelaskan keadaan anak itu.


“Tidak ada kartu, tidak boleh masuk!”


“Diana!” Fredy panik melihat hidung Zaira mengeluarkan darah.


Diana melihat hal ini semakin kesal, dia menatap tajam pada petugas keamanan yang mencegatnya. “Sepenting apa kartu dari nyawa manusia!” maki Diana.


Namun petugas itu tetap mengusir Diana. Diana meraih handphonenya dan menelepon seseorang.


“Ada apa Diana?”


“Prof, ada anak kecil korban kecelakaan terluka parah, aku bawa ke Rumah Sakit terdekat, tapi aku tidak bisa masuk karena di cegat petugas keamanan.”


“Korban kecelakaan yang kamu maksud butuh pertolongan tim?”


“Iya prof.”


Diana terus di desak untuk meninggalkan pintu VIP. Dia sangat geram dan menantang petugas keamanan yang berpostur lebih besar darinya. “Prioritas UGD adalah menyelamatkan orang! Buat apa Rumah Sakit berdiri jika yang kalian utamakan mereka yang mempunyai kartu dan uang?” maki Diana.


Semua orang yang ada di lantai itu bungkam.


“Diana, ada apa?” Tiba-tiba Nizam dan beberapa orang dokter menghampiri Diana.


“Nizam, tolong kamu bayar untuk pengobatan ibu dan anak ini.”


Nizam Tidak menjawab perkataan Diana, Nizam langsung mengurus pembayaran anak dan ibu korban kecelakaan.


Nizam memperlihatkan lembaran kertas yang dia dapat dari petugas administrasi Rumah Sakit pada Satpam yang menghalangi Diana. “Lihat, aku sudah membayar biaya VIP, apakah kami sudah boleh masuk?”


Petugas keamanan itu diam.


“Kalian semua, tolong periksa ibunya.” Perintah Diana pada petugas medis yang bekerja di UGD.


Diana meminta Fredy mengikuti mereka ke lantai khusus. Setelah Diana menghilang di lift bersama Nizam dan Fredy, ibu Zaira sadar. Dia histeris mencari-cari anaknya. Petugas keamanan sangat ingat, kalau wanita ini adalah ibu dari anak kecil yang hidungnya berdarah.


“Bisa lihat foto anak ibu?” tanya petugas keamanan.


Wanita itu segera memperlihatkan foto anaknya yang dia simpan pada liontinnya.


“Anak ibu di bawa orang asing menuju lantai atas, mereka ingin mengoperasi anak ibu”


Ibu tersebut panik. “Anakku tidak apa-apa, mau mereka apakan anakku!”


Tanpa bicara lagi, petugas keamanan mengajak ibu Zaira menuju lantai atas.


***


Bersambung.


***


Sumber: Bahasa Arab. Transclate Goo-gle Indonesia-Arab