
Hellychopter medis pun tiba, wanita yang tak sadarkan diri dibawa dengan tandu, sedang yang satunya di papah petugas medis. Diana mendekati Ivan, dia memegang kedua tangan laki-laki itu.
"Maafkan aku, karena tugasku, aku mengacaukan liburan kita yang hanya sebentar ini."
Ivan mencium punggung telapak tangan Diana. "Lakukan tugasmu permataku, aku di sini menunggumu, jangan kembali kalau tugasmu belum selesai."
Diana memeluk Ivan, dia sangat bahagia memiliki pasangan yang sangat mengerti dengan tugasnya.
Ivan tersenyum dan menepuk lembut punggung Diana. "Pergilah." Dia melepaskan pelukan mereka.
Diana segera masuk kedalam helly, helly itu pun terbang meninggalkan pulau itu. Ivan memandangi hellychopter yang semakin jauh dari pandangan matanya, namun deringan handphone membuat Ivan harus menyudahi pandangannya pada helly yang semakin jauh. Ivan fokus pada layar handphone, di sana terlihat rincian dua wanita yang dia minta.
Di sana jelas data-data diri kedua wanita itu, yang menyita perhatian Ivan, dua wanita itu berasal dari kota yang sama dengan Farhan. Ivan semakin fokus membaca semua informasi itu, hingga dia menemukan rincian transfer yang cukup besar dari dua wanita itu pada Farhan.
"Kita kembali ke rumah di pinggir pantai," ucap Ivan dingin.
Selama perjalanan Ivan ingin memukuli Farhan, tapi dia berusaha menahan diri. Saat mobil berhenti di area pribadi, Ivan langsung menarik Farhan keluar dari mobil dan mendorongnya, hingga Farhan terjungkal ke pasir putih. Dillah dan Anton tidak mengerti, keduanya ingin menahan Ivan, tapi niat mereka tertahan saat Ivan memberi isyarat pada mereka agar jangan mendekat.
"Jangan ada yang berani menahanku, apa yang Farhan lakukan sangat hina!" Teriakan Ivan membuat burung-burung yang bertengger di pepohonan terbang.
"Apa salahku Tuan? Sedikit pun, aku tidak pernah mengkhianati Agung Jaya," ucap Farhan.
Bougttt! Bouggtt! Bouugtt!
Pukulan dan tendangan dari Ivan mendarat sempurna di bagian tubuh Farhan, membuat wajah Farhan babak belur.
"Kamu memang tidak mengkhianatiku, tapi ini!" Ivan melempar handphonenya kearah Farhan.
Farhan memungut Handphone Ivan yang mendarat di atas pasir putih, di sana terlihat laporan transfer 2 wanita yang sakit itu kepadanya.
"Berani-beraninya kamu menjual nama Dianaku! Kamu tahu! Diana tidak pernah mematok biaya operasi untuk orang kelas menengah! Dia hanya mengambil upah yang sangat sedikit! Bahkan sering dia menggratiskannya. Untuk operasi nenek Yudha biaya 100 kali lipat, itu wajar! Karena kami orang kaya! Diana hanya memberi tarif pada mereka yang memiliki kelebihan!"
"Tunggu-tunggu, apa maksud semua ini Van?" sela Anton.
Ivan menjelaskan kelakuan Farhan yang mengambil uang pada dua wanita sakit yang mereka temui, dan Farhan menjanjikan mereka kalau dokter hebat yang akan mengoperasi mereka, sebab itu mereka ada di pulau ini.
Mendengar penjelasan Ivan, Anton dan Dillah sama-sama marah, keduanya ingin melampiaskan kemarahan mereka pada Farhan, namun Ivan menahan keduanya, dan mendorong mereka agar tidak menjauhi Farhan.
"Ini sangat keterlaluan!" maki Anton.
"Jangan ada yang bertindak, hukuman apa yang pantas untuknya, biar Diana yang menentukan."
Ivan meminta pengawalnya untuk mengurung Farhan di suatu tempat. Ivan menoleh pada beberapa pegawainya yang terlihat sangat tegang. "Kalian semua, nikmati waktu kalian, saat hellychopter yang akan menjemput nanti tiba, kalian pulanglah." Ivan langsung masuk kedalam rumah tepi pantai itu sendirian.
Setelah apa yang terjadi, para pegawai Agung Jaya juga tidak bisa bersenang-senang, mereka duduk bersama di pasir putih sambil memandangi hamparan lautan luas.
"Diana tidak pernah memanfaatkan kehebatannya untuk keuntungan pribadi," ucap Anton.
"Bahkan Nona sosok yang sangat sederhana, dia super kaya, tapi dia tidak pernah foya-foya, setiap hari dia lebih suka makan di warung pinggir jalan, padahal dia mampu untuk makan di restoran mewah setiap hari," ucap Dillah.
"Aku sangat sedih mendengar orang lain menarif biaya operasi, padahal belum tentu Diana mengoperasi orang itu."
Kesedihan menyelimuti hati mereka setelah mengetahui kejahatan Farhan.
***
Hari semakin sore, warna gelap mulai menyelimuti langit, pegawai yang lain sudah lama pergi, kini hanya tinggal Dillah, Anton, Ivan, dan Farhan yang saat ini masih di kurung.
Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Dillah dan Anton.
"Diana?" Anton sangat senang melihat Diana.
"Nona, bagaimana operasinya?"
"Lancar, kenapa sepi? Mana yang lain?" tanya Diana.
"Pegawai yang lain sudah diminta Tuan untuk pulang, Tuan ada di dalam, sedang Farhan di kurung?" ucap Dillah.
"Kenapa Farhan di kurung?" tanya Diana.
Dillah mulai menceritakan yang terjadi sebelumnya.
Diana kesal mendengar cerita Dillah, namun dia berusaha menutupinya. "Aku mau menemui Ivan dulu." Diana berjalan kedalam rumah.
Di dalam rumah, terlihat Ivan rebahan di sofa panjang, Diana langsung mendekatinya.
"Maafkan aku, karena pergi terlalu lama."
Ivan tersenyum melihat kedatangan Diana. Dia bangkit dan langsung memeluk Diana. "Bagaimana operasinya?"
Diana melepaskan pelukan Ivan. "Lancar, semoga keadaan keduanya segera membaik." Diana teringat Farhan. "Di mana kamu mengurung Farhan?"
"Seperti biasa, kalau ada orang jahat, aku mengurungnya di gudang."
"Bisa bawa aku ke sana?"
Ivan segera membawa Diana ketempat anak buahnya mengurung Farhan. Melihat dua orang yang datang Farhan langsung berlutut.
"Tuan, Nona, maafkan aku ...."
"Rasanya sulit memberi maaf padamu, impianku, aku ingin memberi pelayanan kesehatan gratis, kamu telah mengotorinya," ucap Diana.
"Mau kamu apakan dia?" tanya Ivan.
Farhan sangat ketakutan, dia terus memohon ampunan pada Diana dan Ivan.
Diana membuka tasnya, dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Kamu tahu, berapa biaya yang aku ambil dari dua pasien tadi?" Diana memperlihatkan beberapa lembar uang dengan nominal kecil. "Ini yang aku terima dari operasi yang aku lakukan."
Farhan sangat malu pada dirinya sendiri, dia menangis dan terus menunduk, Farhan tidak berani menegakan wajahnya.
Diana menoleh pada Ivan. "Aku tidak peduli apa jasa dia pada Agung Jaya, hanya saja aku tidak mau melihat wajahnya lagi!"
Ivan menoleh pada Farhan. "Setelah hellychopter yang membawamu kembali ke kantor, jangan injakan kakimu lagi di Perusahaan Agung Jaya, mulai sekarang kamu bukan bagian Agung Jaya!"
"Tuan ... Nona ... maafkan saya ....." Farhan menghiba memohon ampunan pada Diana dan Ivan.
"Kamu beruntung aku tidak menembak mati dirimu, masalah pesangon, aku akan meminta Dillah menyelesaikannya," ucap Ivan.
Diana membelakangi Farhan, dia paling benci dengan orang yang mengambil manfaat dari sakitnya seseorang. "Aku tidak mau tau bagaimana caranya, kamu harus mengembalikan uang dua wanita itu, tidak kurang sedikitpun. Kalau kamu tidak mengembalikannya, aku tidak segan-segan untuk menghabisimu. Sampah sepertimu dibakar satu tidak membuat dunia ini rugi!" Diana langsung meninggalkan gudang itu.
Ivan menatap sinis pada Farhan. "Kepercayaanku padamu lebih besar dari pada kepercayaanku pada Dillah dan Narendra, kamu malah mengecewakanku." Ivan langsung pergi dari sana dan menyusul Diana.
Farhan hanya bisa menjerit dan memukul-mukul teralis besi yang membatasi pergerakannya.