Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 185 Kakak?


Dillah merasa apa yang dia lihat saat ini adalah mimpi. Dillah menampar pipinya sendiri, memastikan ini bukan mimpi.


"Butuh relawan untuk menampar, Dillah?" goda Diana.


"Kalau Anda yang menamparku, maka hal ini benar-benar jadi mimpi, dan saat bangun aku berada di Rumah Sakit." Dillah kembali menatap sosok yang berada di pintu utama.


“Kakak? Bagaimana bisa Kak Birma ada di sini?”


Laki-laki yang baru membuka pintu itu juga sangat terkejut, melihat adiknya ada di depan matanya. “Harusnya aku bertanya padamu, kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Dia siapa?" tanya Diana pada Dillah.


"Dia Kakakku, keluarga kami mengabdi pada Agung Jaya sejak Kakek kami, kesetiaan kami tidak mereka ragukan." Menatap wajah Diana, Dillah merasa bodoh dengan slogan 'Setia' kebanggaan keluarganya, rasanya dia adalah pengkhianat pertama.


Diana menepuk lembut pundak Dillah. "Lupakan." Diana mengerti Dillah mengingat kembali pengkhianatan itu.


"Ayah kami juga bekerja sebagai Asisten Tuan Sofian." Dillah berusaha membangun perasaannya yang sempat kacau.


"Kamu bisa bercerita padanya nanti, apa kamu tidak rindu pada Kakakmu ini?" ucap Laki-laki itu.


"Kak Birma!" Dillah langsung memeluk Kakaknya.


Birma sangat bahagia, dia menepuk pundak Dillah berulang kali. "Apa kabarmu?"


"Aku baik Kak."


Pertemuan tidak sengaja ini, membuat keduanya lupa dengan keberadaan Diana. Dillah dan Kakaknya masih berpelukan. Karena tugas yang beda Negara, membuat keduanya terpisah. Selama ini Birma selalu setia berada di sisi Angga yang hidup mandiri di luar Negri.


"Barang-barang ini mau saya antar ke dalam?"


Pertanyaan supir membuat Dillah dan Birma menyudahi pelukan mereka.


"Taruh di sini saja Pak," sahut Birma.


"Kalau begitu, saya pergi dulu," pamit supir.


Dillah merasa tidak enak pada Diana, karena melihat Kakaknya, dia melupakan tugasnya. "Maafkan saya, Nona."


"Santai saja, ayo lepas rindu dulu dengan Kakakmu, aku senang melihatnya," sahut Diana.


"Dia siapa?" Tanya Birma.


"Dia Nona Diana, tunangan Tuan Ivan."


Birma tersenyum melihat Diana. "Sepertinya kata Ayah benar adanya, Dillah. Kalau menantu Agung Jaya berikutnya wanita yang menyenangkan dan sangat rendah hati, tidak seperti Nyonya sebelumnya yang sombong, Aww!" Birma menjerit karena tendangan Dillah.


"Jangan sampai Nona muda tahu, kalau calon mertuanya seperti mak lampir yang doyan marah-marah!" bisik Dillah.


Diana tertawa mendengar percakapan Dillah dan Kakaknya. "Walau ibu Ivan seperti Mak Lampir, aku bukan wanita sinetron yang diam saja saat mertua semena-mena padaku, kalau bukan berakhir ke penjara, ya ke Rumah Sakit, jangan harap aku diam saja kalau berani menyentuhku," ucap Diana.


"Aku suka gaya Anda Nona, Anda persis seperti majikan saya," puji Birma.


"Secara tidak langsung, dia memang majikanmu juga!" ucap Dillah.


"Maksudku majikanku yang di sini," protes Birma.


“Aku di sini, karena Ivan mengutusku untuk menemani tunangannya.” Dillah mengisyarat pada Diana dengan Gerakan matanya.


Birma menepuk jidatnya. "Ternyata bukan nasib kita saja yang ditentukan oleh Agung Jaya sebagai pelayan setia, dari Ayah kita yang jadi Asisten setia Pak Sofian, lalu aku jadi Asisten Angga, lalu kamu jadi Asisten Ivan. Kini tugas kita juga sama."


"Kakak ditugaskan Kak Angga menjaga Tunangan Ivan juga?" tanya Dillah.


“Aku di sini karena di tugaskan Angga menjaga kekasihnya, sejak Angga menjalani operasi di dubai, dia memberiku tugas agar menjadi pengawal kekasihnya," jawab Birma.


“Kekasih Angga?” Dillah bingung dengan jawaban Kakaknya.


“Iya, aku ada di sini karena menjaga kekasih bos ku, dia adalah anak dari pemilik konsorsium ini," sahut Birma.


Birma menoleh pada Diana. "Jadi tamu bos saya adalah Anda, tunangan Tuan Ivan?"


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Birma mengulurkan tangannya menyambut Diana. "Sangat senang bisa bertemu Anda, Nona."


"Mana kekasih Tuan Angga?" Dillah mencoba melihat keadaan di dalam bangunan utama.


"Sebentar aku panggil dia." Birma menoleh kebagian dalam bangunan. “Nona Jennifer…, tamu Anda sudah datang.”


“Sebentar ….” suara teriakan wanita samar terdengar dari arah dalam rumah.


Tidak berselang lama, muncul seorang wanita cantik yang mengenakan baju kaos biru dan celana jeans pendeknya.


“Perkenalkan, dia Nona Jennifer kekasih Tuan Angga. Nona Jennifer perkenalkan itu adikku, dia Asisten pribadi calon adik ipar Anda.” Birma menunjuk kearah Dillah. “Adikku ada di sini, katanya dia mengawal kekasih dari bosnya juga, dan itu orangnya, dia Nona—"


“Diana!” Jennifer sangat bahagia melihat Diana. Dia berlari kearah Diana dan langsung memeluknya.


"Aku sangat merindukanmu Diana ...." ucap Jennifer.


"Aku juga merindukanmu." Diana menepuk pelan punggung Jennifer.


Perlahan Jenni melepaskan pelukan mereka. “Mendengar kamu akan datang, aku merasa mimpi, ternyata kamu benar-benar datang ke sini,” ucapnya.


"Iya, aku datang, karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan, makanya aku kemari."


"Semoga pekerjaanmu di negara ini lebih sering, sehingga kita bisa sering bertemu," ucap Jennifer.


"Bagaimana kabarmu Jen?" tanya Diana.


"Aku baik."


"Kenapa tidak diajak masuk saja, Nona?" sela Birma.


"Ya ampun, aku lupa! Ayo kita masuk, sangat banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Diana. Bukan hanya ingin bicara, bahkan banyak hal yang ingin ku lakukan bersamamu."


"Aku ke sini untuk misiku, bukan liburan, Jenni."


"Aku tahu, tapi tidak salahnya di sela-sela pekerjaanmu kita sedikit bersenang-senang," ucap Jennifer.


Dillah dan Kakaknya terlihat heran, bagaimana bisa dua gadis itu sudah saling mengenal bahkan terlihat sangat akrab.