Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 191 Musibah Mebawa Berkah


Yudha membawa laptopnya ke ruangan Ivan, dengan santai dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Yudha berusaha mengamati expresi wajah Ivan saat ini.


“Van?" Yudha bingung melihat Ivan terus melamun, bahkan Ivan tidak menyadari kedatangannya.


"Hmm!" Hanya berdeham, tapi wajahnya masih terlihat kusut.


"Ada masalah perusahaan?"


"Tidak."


Jawaban Ivan terdengar sangat dingin.


"Tapi wajahmu lebih masam dari saat kamu mengalami kerugian, Van."


Ivan kembali tenggelam dalam lamunannya, dia tidak habis pikir kenapa dia sampai bodoh seperti tadi. Bahkan sampai saat ini rasa kesal itu masih menyelimuti hatinya. Dia berlari ke bawah seperti orang gila, dan membuat para Karyawan yang dia lewati kebingungan. Semua itu hanya karena dia mengira Diana sudah kembali dan ingin memberi kejutan padanya.


"Suasana memang masih pagi loh Van, tapi kamu kayak orang begadang sampai subuh dan seperti orang yang nggak tidur seminggu." Yudha memperhatikan Ivan dengan seksama. “Mengapa melamun?” tanya Yudha.


“Tidak, aku hanya tengah berpikir."


"Tentang?" Yudha meninggalkan laptopnya dan berjalan mendekati Ivan.


"ED Group."


Yudha bingung, karena Ivan menyebut ED Group. "Memangnya ada apa dengan ED Group?"


"ED Group sangat menginginkan Diana.”


"Bukankah setiap orang yang mengenal Diana memang sangat menginginkan dia?" goda Yudha.


Ivan membuang napasnya begitu kasar. “Andai mereka menginginkan Diana dan ingin membahagiakannya, aku maklum, tapi mereka ingin mencelakai Diana.”


"Apa? Memangnya apa salah Diana?" Yudha sangat bingung.


"Ini yang aku pikirkan, memangnya apa salah Diana, dan apa yang mereka inginkan dari Diana."


Melihat Yudha ikut berpikir, Ivan berusaha merubah suasana. "Sudahlah, lupakan sejenak tentang ED Group. Kamu, ada perlu apa?"


“Aku mau menanyakan keaaman kita. Keamanan perangkat di perusahaan ini, sudah kamu tingkatkan, Van?” Yudha baru mengingat apa tujuannya, dia ingin mengerjakan sesuatu di sarver aman.


“Sudah,” sahut Ivan.


“Aku hanya trauma, kalau perangkat kita di retas oleh IMO lagi.” Yudha kembali ke sofa dan mulai mengoperasikan laptopnya. Merasa dia di sambungan aman, Yudha langsung membuka email masuk dari Dillah. Di sana Dillah sangat banyak mengirim foto. Saat Yudha melihat foto itu dengan jelas, dia sangat syok melihat foto-foto yang ada.


“Yang aku tahu, Diana sangat kaya sejak lahir, anak yang tercatat dalam pernikahan Charlie Bramantyo, bahkan tanpa kekayaan Ayahnya, kekayaan Nyonya Zelin sudah lebih dari cukup. Tapi Diana kadang terlihat seperti orang yang miskin,” ucap Yudha.


“Apa maksudku mengatakan Dianaku miskin?” maki Ivan.


“Lihat.” Yudha memperlihatkan semua foto yang dia dapat dari Dillah. “Kini aku faham, kenapa Diana terlihat sederhana, sepertinya sebagian besar hartanya dia gunakan untuk Lembaga penelitian obat. Lihat foto-foto spesimen manusia yang Dillah kirim.” Ucapan Yudha terhenti saat dia melihat salah satu foto. “Bukankah itu alat pendeteksi?”


Ivan semakin serius memandangi layar laptop Yudha.


“Lihat foto-foto ini Van. Aku merasa tidak asing dengan beberapa hal yang ada di foto ini.”


“Dari segi postur tubuh, geraknya, Diana sangat persis seperti ketua IMO. Apa--"


"Berhenti menuduh Dianaku Ketua IMO!" potong Ivan.


"Kamu sangat menyukai Diana bukan? Sehingga kamu selalu menuduh Dianaku yang bukan-bukan!" hardik Ivan.


"Maafkan aku, Van."


Yudha kembali fokus pada foto-foto di depan matanya, dia mulai mengaitkan kenapa ED Group sangat menginginkan Diana. "Apa karena Diana memiliki obat yang harusnya menjadi milik ED Group, sebab itu ED Group menargetkan Diana?"


"Aku yakin, Diana memiliki hal yang sangat berharga, sehingg ED Group sangat menginginkan Diana," Yudha berusaha menebak. "Salah satu hal berharga yang Diana miliki adalah T779."


“Sudah-sudah menghayalmu. Obat T779 itu sudah kembali pada kita, aku sudah menyelidiki, Diana mendapat barang itu karena orang yang menitipkan koper itu percaya padanya, orang yang menitipkan obat itu yakin, kalau Diana akan memberikan semuanya padaku."


"Maafkan aku, Ivan." sesal Yudha


"Tentang IMO, kamu tahu kenapa mereka merampokmu? Itu karena IMO ingin menyelamatkan obat itu, kalau obat ini jatuh ke tangan ED Group, maka mereka membisniskan obat ini dan menjualnya dengan harga selangit.”


“Berarti saat itu sebenarnya IMO menyelamatkan kita?”


"Itulah info yang aku dapat," ucap Ivan.


"Kenapa kamu tidak cerita padaku sebelumnya, Ivan?"


"Aku hanya memastikan semua dulu sebelum cerita, agar kamu tidak berpikir hal yang bukan-bukan tentangku."


Yudha masih di posisinya. “Van, apa mungkin virus yang sampai kini masih misteri buatan orang-orang ED Group?”


“Entahlah, aku menahan diri untuk mencari tahu itu, aku malas berurusan dengan ED Group sebelumnya, aku diam saja fitnah yang muncul selalu tertuju pada Agung Jaya. Apalagi kalau aku sampai berurusan dengan ED Group, dengan mudah mereka membuat dunia percaya, kalau Agung Jaya yang membuat virus itu, salah satu tuduhan mereka, Agung Jaya ingin namanya besar mereka memberikan penawar gratis. Dengan buzzer dah politik kotor mereka, maka dalam satu detik kita yang jadi tersangka Yudh, apalagi sampai sekarang siapa pencipta virus itu belum diketahui.”


“Kamu benar Van.”


“Untuk saat ini, aku fokus pada T779. Virus yang mewabah waktu itu, walau korbannya selamat karena Vaksin dari perusahaan kita, tapi Sebagian kecil dampaknya pada otak masih sangat jelas. Sebab itu obat tersebut sangat di butuhkan.”


“Iya, aku mulai faham, jangan-jangan CEO ED Group yang sebelumnya hanya berpura-pura sakit, agar mereka mendapatkan sampel dari obat itu, lalu mereka memproduksi sendiri, secara mereka juga memiliki alat khusus untuk penunjang produksi T779,” tebak Yudha.


“Sepertinya, dan rencana licik mereka untuk menyalah gunakan obat itu, tercium oleh IMO.”


"Ternyata mereka merampok demi menyelamatkan obat itu, bagiku ini suatu musibah yang membawa berkah," ucap Yudha.


"Beruntung aku tidak dendam pada Anggota IMO, aku hanya penasaran." Kedua bola mata Yudha berbinar bahagia mengingat musibah yang dia alami adalah hal baik.


"Andai aku diberi kesempatan untuk mengenal Ketua IMO, aku ingin berterima kasih padanya." Yudha menoleh kearah Ivan. "Apa karena kamu sudah tahu apa tujuan IMO? Sebab ini kamu tidak mencari informasi tentang mereka lagi."


"Tidak juga, tapi ada hal lain yang harus aku utamakan." Ivan memasang wajah dinginnya agar Yudha tidak bertanya lagi.


Masih banyak hal yang ingin Yudha tanyakan, namun melihat Ivan memasang wajah manis itu, Yudha terpaksa menahan pertanyaanya, dia meneruskan pekerjaan yang ingin dia kerjakan sebelumnya.