
Saat setengah perjalanan, entah kenapa Ivan sangat merindukan Diana. Secantik apapun pesona wanita yang dia temui, tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Tapi sejak bersama Diana, Diana benar-benar masuk kedalam hatinya. Jauh sebelum mengetahui siapa Diana sesungguhnya, Diana sangat special baginya, selalu berbuat baik dan tidak menyimpan dendam pada orang-orang yang berbuat jahat padanya. Perasaan itu semakin tumbuh melihat bagaimana sikap Diana. Saat Ivan semakin mengetahui siapa sesungguhnya Diana, Ivan semakin mencintainya.
Ivan merubah tujuannya, dia melajukan mobil menuju Universitas Bina Jaya. Tapi belum sampai dia di Universitas, dia melihat Diana keluar dari sebuah Restoran yang tidak jauh dari Universitas. Ivan segera mencari jalan untuk memutar.
Saat yang sama, Diana merasa mengenali mobil yang barusan melintas. “Sepertinya itu mobil Ivan, aku harus meminta Tony dan Hadhif untuk tidak keluar dari Restoran ini.” Secepat yang dia bisa Diana mengetik pesan yang dia maksud.
Ntin! Ntin!
Suara klakson mobil menyadarkan Diana. Saat melihat itu mobil Ivan, Diana memberikan senyuman kecilnya.
Ternyata benar-benar dia, batin Diana.
Sesaat kemudian Ivan keluar dari mobil dan mendekati Diana. “Baru selesai makan malam?”
Diana mengangguk pelan.
“Kenapa tidak makan malam di kantin? Makanan di sana tidak enak? Kalau tidak enak aku akan mendatangkan penjual makanan yang lain lagi untuk membuka usahanya di sana.”
“Semua makanan di kantin enak, hanya saja aku ingin suasana baru. Apa ini salah?” Diana balik bertanya.
“Tidak ada yang salah, tapi … kamu makan malam dengan siapa?” Ivan memandangi keadaan sekitar, memastikan Diana makan malam sendiri bukan dengan Nizam, Russel, Tonny, atau mahasiswa lain.
“Kau lihat sendiri aku sendirian di sini bukan?” ucap Diana.
“Ya … barangkali kamu makan malam dengan teman-temanmu.”
“Dengan siapa aku makan malam, itu bukan urusanmu. Apa aku pernah mencampuri urusanmu? Atau bertanya dengan siapa kamu pergi, dengan siapa kamu makan malam, dan makan malam di mana?”
Ivan tersenyum melihat aura kemarahan dari wajah Diana.
Apa dia tahu, kalau aku punya janji makan malam dengan Agis? Kan berita mengabarkan hal demikian, artinya ....
Ivan sangat bahagia menyadari Diana cemburu padanya. Ivan berusaha tidak menyadari kecemburuan Diana. “Ya ya ya. Aku percaya padamu. Aku memang pergi makan malam dengan seseorang. Tapi kamu benar tidak ingin tahu aku makan malam dengan siapa? Kalau kamu mau bertanya, aku akan jawab."
“Bukan urusanku,” sahut Diana ketus.
“Mau pulang ke mana malam ini?” tanya Ivan.
“Mungkin—"
“Aku harap kamu pulang ke Apartemenku, aku sangat merindukanmu,” potong Ivan.
Diana membuang napasnya kasar. “Sesekali tidak masalah mengabulkan permintaanmu, sebagai imbalan atas pertolonganmu padaku.” Diana langsung masuk kedalam mobil Ivan.
Ivan sangat bahagia melihat Diana mau pulang bersamanya.
Di sisi yang lain.
Tony baru keluar dari persembunyiannya, dia sengaja bersembunyi untuk menguping pembicaraan Diana dan Ivan. “Dasar buaya! Baru saja makan malam dengan kakaknya, sekarang ingin tidur dengan adiknya!” dumelnya. Dia segera pergi dari sana.
**
Sesampai di Apartemen Ivan, tidak ada obrolan antara Diana dan Ivan. Diana melengos begitu saja menuju kamarnya. Begitu juga Ivan, dia langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah Ivan selesai membersihakan diri, dia mengenakan setelan santainya, dan mengisi waktunya untuk memeriksa beberapa file pekerjaannya.
Malam semakin larut. Di ruang tamu Ivan masih sibuk dengan pekerjaan, sedang Diana sudah lama berlayar ke alam mimpinya. Ivan merasa lelah, dia mematikan laptopnya dan membereskan beberapa dokumen. Setelah semuanya dia taruh ke tempat aman, Ivan berjalan menuju kamar Diana.
Melihat wajah cantik Diana, penat yang bertumpu pada pundak dan otaknya seketika lenyap. Ivan tersenyum memandangi Diana, perlahan dia terus mendekat dan duduk di sisi tempat tidur Diana. Saat melihat Diana semakin dekat senyuman yang sedari tadi menghiasi wajahnya seketika lenyap. Wajah Diana dibasahi keringat yang terus mengucur, Diana juga terlihat sangat gelisah.
Mengingat pamannya mulai berkeliaran di sekitarnya, membuat trauma masa kecil itu hadir lagi, Diana terlihat sangat ketakutan.
Mimpi Diana.
Diana teringat masa kecilnya yang suram, yang selalu dilewati dengan makian, ancaman, dan bermacam hal pahit lainnya.
"Bukankah ibunya mati dengan serum itu? Cepat masukan serum itu dengan dosis agar saat dia menginjak usia 23 tahun nanti, dia mati!"
Saat itu Diana tidak bisa bicara, karena setelah kematian Ayahnya, mereka terus menyuntikan bermacam obat ke tubuhnya, agar pertumbuhan Diana tidak berkembang dengan baik, mereka juga berharap Diana tumbuh menjadi orang yang tidak normal.
Mama ....Papa ... Nenek ... tolong aku ....
Diana hanya menjerit dalam hati saat mereka menyuntikan racun itu.
"Jangan biarkan Zelin mendapatkan cucunya, atau nanti si bisu ini tidak akan mati saat umur 23 tahun nanti, kalau ditemukan Neneknya."
Aaa tolong .....
Mimpi itu seketika berubah saat dia melakukan pelatihan bela diri.
"Nenek ...." Diana kecil menjerit, dia tidak mampu melakukan pelatihan fisik yang diberikan gurunya.
"Jangan pernah meminta tolong pada orang lain! Penolong itu dirimu sendiri!
"Nenek ...."
Semakin kuat Diana menjerit, hukuman dari Masternya semakin berat.
Mimpi itu berganti lagi dengan obrolannya bersama Neneknya.
"Kamu masih kuat menerima kebencian dan hinaan Ivan dan ibunya?"
"Sebesar apapun cintamu pada Ivan, dan cinta Ivan padamu, semua itu tidak cukup untuk mewujudkan sebuah bangunan Rumah Tangga, walau sebagian orang berhasil, hanya saja Nenek tidak rela kalau kamu mengalami nasib yang sama dengan ibumu."
Ucapan Neneknya yang menyebutkan 'ibu' membuat Diana kembali terbayang tentang Ayah dan ibunya.
"Papa ... mama ...."
Diana semakin tenggelam dalam mimpi buruknya, saat ini dia merasa berada di dalam sebuah kotak kaca yang besar dengan tubuh terikat. Tiba-tiba Pamannya muncul di depan matanya.
"Walau racun itu gagal bekerja karena kamu mendapat penawar dari Nenekmu, tapi malaikat mautmu akan melakukan pekerjaannya kapanpun dia mau, saat kau melihatku, artinya kematianmu semakin dekat, Diana."
Diana merasa tabung kaca itu perlahan di penuhi air dan mulai menenggelamkan dirinya. Diana merasa kesulitan bernapas.
****
“Hhhhh!” Tiba-tiba Diana bangun. Mimpi itu sangat buruk baginya.
“Diana kamu bermimpi buruk?” tanya Ivan.
Diana masih syok dengan mimpi yang dia alami. Ivan menariknya kedalam pelukannya.
“Selama aku di sisimu, tidak aku biarkan hal buruk menimpamu.” Ivan mengusap punggung Diana berusaha memberi ketenangan pada Diana. "Kamu tidak sendirian, Diana. Ada aku yang selalu bersamamu."
Diana berusaha mengantur napasnya yang masih ngos-ngosan.
Aku sama sekali tidak takut mati, hanya saja aku ingin membuka misteri kematian kedua orang tuaku sebelum aku mati.
Jerit hati Diana.
Ivan terus mengusap pundak Diana. "Tenanglah Diana, aku akan selalu bersamamu.
***
Di sebuah hotel.
Rani sangat geram dengan kenyataan yang ada, sangat jelas Ivan sangat mencintai Diana.
"Ivan tidak boleh menikah dengan Diana! Atau rahasia yang menyangkut semua rekan Agung Jaya akan terkuak jika Diana menjadi menantu Agung Jaya, jika demikian, dia akan mendapat hak untuk memegang akses menuju penyimpanan dokumen berharga keluarga Agung."
Rani terus mondar mandir di kamar hotelnya. Dia langsung menelepon Danu.
"Iya, Nyonya Rani."
"Sekarang aku harus bagaimana? Karena kebodohan dan kecerobohan putrimu, mustahil bagi dia untuk menjadi istri Ivan. Aku tidak mau tahu, kalian harus mendatangkan perempuan lain untuk Ivan, jika cucu Zelin berhasil menikah dengan Ivan, aku tidak bisa lagi merahasian siapa saja yang bekerja sama waktu itu!"
"Tenang Rani, aku dan Veronica masih merencanakan hal lain."
"Owh, tenyata gadis kampung itu membiarkan kalian?"
"Untuk tuntutan, kami berhasil menunda dan terus menunda, pengacara pembela Diana juga tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ku dengar mereka menarik laporan, mungkin karena bosan dengan penundaan."
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita semua harus bekerja sama untuk menggagalkan pernikahan Ivan dan Diana! Aku tidak takut jika Diana menjadi menantu Agung Jaya, hanya saja dia bukan orang yang bisa kuajak bekerjasama."