
Acara terus berlangsung, Ivan masih berada di tempatnya, pandangan matanya memang tertuju pada Diana. Tapi pikirannya terbang entah kemana. Saat keistimewaan Diana hanya dia yang tahu, Ivan sangat bangga memiliki permata itu. Kini semua orang mengetahui betapa indahnya permata dari desa itu. Dalam diri Ivan muncul rasa tidak percaya diri berada di samping Diana.
Apakah aku pantas memiliki permata terindah itu?
Pertanyaan yang terus berulang dalam diri Ivan. Saat ini pembawa acara menyebut nama Ivan. Ivan berusaha mengumpulkan kesadaraannya yang sempat terburai, dia segera bangkit dan menuju panggung. Ivan berdiri dengan orang-orang hebat yang lain. Seperti Profesor Russel, Nizam, Archer, Jennifer, dan Profesor Hadju. Posisi Ivan saat ini berada tepat di samping Profesor Hadju.
Saat pembawa acara menyebutkan prestasi yang mereka raih, sontak tepukan tangan meriah menggema. Perlahan Profesor Hadju mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Ivan.
"Kamu bisa lihat betapa indah dan specialnya permata itu?" Profesor Hadju mengisyarat pada Diana.
"Aku sudah lama melihat kemilau indah permata itu. Dalam otakku, ada nasihat yang muncul, aku tidak pantas untuk Diana. Dia terlalu berharga."
Profesor Hadju tersenyum mendengar perkataan Ivan. "Bagus, ternyata kamu sadar diri."
"Tapi rasa cintaku menenggelamkan semua pemikiran itu, aku mencintainya. Dalam cinta tidak ada perbedaan, dia mulia atau dia hina. Cinta telah menyatukan hal yang berlawanan. Aku melupakan betapa tidak pantasnya diriku, rasa cintaku menciptakan keinginan, aku ingin membahagiakan Diana, aku ingin menghabiskan sisa umurku dengan mencintainya. Sebab itu aku mantap menikahinya."
Profesor Hadju terdiam mengetahui kalau Diana dan Ivan telah menikah, banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, namun saat ini dia harus maju kedepan untuk memperkenalkan diri dan memberi motivasi pada semua tamu undangan dan seluruh Mahasiswa Universitas Bina Jaya.
Sesi Diana dan Nenek Zelin sudah selesai, saat keduanya turun dari panggung, para wartawan langsung mengerumuni mereka. Banyak pertanyaan yang mereka berikan, namun Nenek Zelin dan Diana kompak hanya memberikan senyuman.
"Setelah acara selesai, temui kami di Balroom Hotel Agung Jaya, di sana kami akan mengadakan jumpa pers, kalian bebas bertanya nanti di sana," ucap salah satu pengawal Nenek Zelin.
Saat Diana melewati area khusus untuk Mahasiswi Universitas Bina Jaya, dia tidak menemukan Saras di sana. Saat Diana menatap kearah itu, banyak Mahasiswa yang sangat antusias menyapanya, padahal sebelumnya mereka selalu menghina dan merendahkannya. Diana hanya memberi senyumannya, dan segera kembali ketempatnya.
***
Jam menunjukan pukul 3 sore, acara besar itu pun selesai, perlahan tamu-tamu VIP acara itu meninggalkan Area Universitas. Beberapa kembali lagi ke hotel, sedang beberapa yang lain langsung pulang ke Negara masing-masing. Acara hari itu meninggalkan kesan tersendiri bagi Mahasiswa Universitas Bina Jaya sendiri.
Di Hotel milik Agung Jaya.
Para awak media sudah mengambil tempat mereka masing-masing, banyak hal yang ingin mereka tanyakan, termasuk pingsannya Rani saat acara berlangsung.
Di sisi lain, Diana masih berusaha menghubungi Ivan, dari 30 menit yang lalu dia sudah meminta Ivan menyusulnya ke Hotel.
"Bagaimana Diana? Apa Ivan bisa datang?" tanya Nenek Zelin.
"Ehtah Nek."
"5 menit lagi Ivan tidak datang, kita akan mulai acara tanpa dia," ucap Nenek Zelin.
"Apa aku terlambat?"
Melihat sosok yang baru datang, seketika paru-paru Diana terasa lega.
"Terima kasih mau datang," ucap Diana.
"Acara apa?" tanya Ivan.
"Acara jumpa pers. Nenek rasa ini waktu yang tepat untuk mengumumkan pernikahan kalian. Apa kamu akan menyembunyikan Diana selamanya?" cecar Nenek Zelin.
"Diumumkan? Aku sangat bahagia Nek. Aku menyembunyikan pernikahan kami, hanya menunggu Diana siap saja."
Tanpa banyak bicara lagi, Nenek Zelin mengisyarat agar mereka segera masuk. Ivan terpukau melihat sosok Nenek Zelin yang tidak berubah, dari dia masih aktif di dunia kedokteran, beliau memang pribadi yang tidak terlalu banyak bicara.
Saat mereka semua mulai memasuki tempat acara, seketika bliz kamera mewarnai ruangan itu. Nenek Zelin, Diana, dan Ivan langsung menempati tempat mereka. Saat yang sama Kakek Agung juga memasuki tempat acara.
Nenek Zelin meraih mic yang ada di depannya. "Tanpa basa-basi lagi, kita langsung ke acara saja. Untuk awak media yang ingin bertanya, silakan bertanya sesuai nomor antrian yang kalian dapatkan."
Salah satu awak media memperlihatkan nomor miliknya, dia adalah urutan pertama. Salah satu petugas keamanan langsung memberikan mic padanya.
"Silakan," sahut Nenek Zelin.
"Saat acara berlangsung, sebagian orang pasti melihat saat Nyonya Rani pingsan, apa penyebab pingsannya Nyonya Rani?"
Nenek Zelin memberi isyarat pada Diana, agar dia menjawab pertanyaan Wartawan.
Diana segera meraih mic, dan mendekatkan mic ke mulutnya. "Nyonya Rani pingsan, beliau hanya terkejut mengetahui kabar pernikahan kami, niatnya kami memberikan kabar bahagia ini saat ulang tahun Ayah suami saya, tapi Nyonya Rani sangat bahagia melihat saya ada di acara itu, dan Tuan Sofian meminta dia untuk menurunkan sedikit semangatnya, karena itu adalah menantunya. Tentu kalian tahu bagaimana syoknya Nyonya Rani mengetahui kabar bahagia ini."
Semua orang yang ada di ruangan itu sangat terkejut mendengar jawaban Diana.
"Kenapa pernikahan kalian dirahasiakan?"
"Ada hal apa sehingga kalian menikah diam-diam?"
"Apakah terhalang Restu, sehingga kalian menikah diam-diam?"
Banyak lagi pertanyaan terlontar, namun melihat isyarat tenang dari petugas keamanan, seketika semuanya diam.
Diana kembali berbicara. "Terima kasih karena mau kembali tenang."
Diana menoleh pada Ivan. "Mau menjawab pertanyaan mereka?"
Ivan tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia segera meraih mic. "Saya akan menjawab pertanyaan yang masih saya ingat saja ya."
"Mengapa pernikahan kami disembunyikan?" Ivan menatap kearah para wartawan. "Kami tidak berniat menikah diam-diam, atau menyembunyikan pernikahan kami. Saat itu kami berlibur di Jerman, hingga kami melihat gereja kecil di st Peter Ording, hingga kami sepakat menikah di sana."
"Kalian semua tahu bagaimana kesibukan kami, acara yang kami siapkan saja bisa batal karena kesibukan kami," sambung Diana.
"Masalah Restu, Ilmiahkan saja kalian adalah orang tua dari laki-laki yang akan menikahi Diana, apa kalian akan menolak gadis luar biasa seperti Diana untuk kalian jadikan menantu?" kakek Agung menambahi.
Acara Jumpa pers itu ditayangkan langsung beberapa televisi swasta. Semua penjuru Negara itu membicarakan betapa serasinya pasangan Ivan dan Diana.
Di kediaman Aridya.
Aridya, Nazif, dan Agis menangis haru mendengar kabar bahagia itu, ketiganya berpelukan ikut bahagia mendengar kebahagiaan Diana.
"Kejahatan Nyonya Rani begitu besar, tapi Diana masih melindungi Nenek Sihir itu," omel Agis.
"Andai aku jadi Diana, aku permalukan itu Nyonya Rani," sambung Nazif.
"Kita main tebak-tebakan," ajak Aridya.
"Tebakan apa, mama?" tanya Agis.
"Nasib Nyonya Rani, bagaimana keadaannya saat ini saat mengetahui siapa Diana?" sahut Aridya.
"Aku lupa, mama Ivan sangat tidak suka Diana." Agis teringat akan tawaran Rani jika dia berhasil menyingkirkan Diana dari sisi Ivan.
"Pastinya beliau tidak ingin bangun dari pingsannya, mama. Karena kenyataan sangat pahit baginya," sahut Nazif.
"Maksudmu?" Aridya tidak mengerti ucapan Nazif.
"Saat acara berlangsung, dan saat Diana menampakan dirinya, Nyonya Rani pingsan," terang Nazif.
"Semoga beliau tidak bangun lagi," sahut Agis.
"Hus! Do'a mu Gis!"