Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 257


Setelah mendapatkan gula kapas yang dia mau, Diana segera ke Restoran tempat Ivan melakukan transaksi. Dengan sikap manjanya Diana langsung duduk di samping Ivan.


“Mana gula kapas yang ingin kamu beli tadi?” tanya Ivan.


“Habis ku makan selama perjalananku.” Saat Diana meraih botol air mineral di depannya, sosok yang berdiri di samping rekan bisnis Ivan sangat tidak asing, dia adalah laki-laki yang mencari masalah sebelumnya.


Diana seolah tidak pernah melihat laki-laki itu. Dia fokus dengan botol air minumnya dan berusaha membukanya. Diana menyerahkan botol mineral yang belum terbuka itu pada Ivan. “Gak bisa … bantu buka ….” Rengeknya.


Sontak hal itu membuat Dillah, Yudha, dan laki-laki yang bertemu dengan Diana sebelumnya sangat syok. Gadis kuat itu saat ini terlihat seperti gadis lemah yang manja. Berbeda jauh dengan Ivan, dia sangat bahagia Diana meminta bantuannya, walau dia tahu Diana bisa melakukan hal itu. Ivan segera membuka botol itu dan memberikan pada Diana.


“Terima kasih.” Diana tersenyum dan segera menegak isi air dalam botol itu.


“Dia siapa? Sangat berani meminya CEO Agung Jaya membukakan botol air minum, ucap salah satu rekan Ivan.


“Dia istriku, ada masalah?” tanya Ivan.


Laki-laki yang bermasalah dengan Diana itu semakin kaget, saat dia mengetahui siapa gadis yang berseteru dengannya sebelumnya. Sebelum kekacauan meluas, dia langsung berlutut di depan Diana.


“Nona muda, maafkan saya.” Ucapnya.


“Ada apa ini?” Ivan sangat kaget melihat anak buah rekannya bersimpuh pada Diana.


“Mungkin dia merasa bersalah, karena merebut gula kapas miliku,” kilah Diana. Diana kembali menoleh pada laki-laki itu. “Hei, bangunlah, aku memaafkanmu, Kalau kamu tidak mau bangun aku akan meminta seseorang untuk menendangmu dan meninjumu.”


Laki-laki itu langsung bangun dan menjauh dari Diana. Sedang Ivan berusaha melupakan kejadian barusan, dia memilih fokus dengan urusan bisnisnya. Transaksi selesai, rekan-rekan Ivan pun pergi meninggalkan Restoran. Sedang Ivan, Diana, Yudha, dan Dillah menikmati makan malam mereka di sana.


Yudha selalu tersenyum mengingat saat Diana berpura-pura lemah. "Yang aku lihat tadu nyata kan, Van? Seorang wanita tangguh tidak mampu membuka tutup botol air mineral." Sulit bagi Yudha untuk berhenti tersenyum.


"Masalah buatmu?"


Pertanyaan Ivan membuat wajah Yudha kaku.


"Bagi dunia, Diana adalah wanita hebat dan kuat, tapi di sisiku, dia adalah wanita lembut dan manja. Aku malah sangat bahagia Diana meminta bantuanku, kamu pikir sendiri, wanita seperti Diana, memang butuh bantuan orang lain?"


Ivan menoleh pada Diana, "Terima kasih, karena membuatku merasa kamu perlukan."


Diana tersenyum dan menepuk lembut punggung Ivan.


Keadaan seketika canggung, sumpah demi apapun, ingin rasanya Yudha menarik kata yang terlanjur dia ucapkan. “Karyawan di tambang nanti sudah di pastikan mereka warga asli sini?” Yudha berusaha mengalihkan bahasan mereka.


“Menurut laporan iya. Tapi tidak salahnya besok kita survey langsung, soalnya sangat sering permainan kepala-kepala bagian yang menerima penerimaan pegawai,” sahut Dillah.


“Yang dewasa kita pastikan mereka juga bisa sejahtera dengan adanya tambang kita, sedang generasi kecilnya, kita pastikan Pendidikan mereka bagus,” ucap Ivan.


“Survei ke bidang ketenaga kerjaan, kamu dan Yudha. Sedang ke sekolah-sekolah, aku akan survei dengan Diana.”


Mereka kembali meneruskan makan malam mereka, setelah selesai makan malam, keempatnya segera kembali ke wilayah Perusahaan. Malam itu berlalu begitu saja, tubuh yang letih karena perjalanan Panjang dan kegiatan yang lumayan padat, membuat Dillah dan Yudha juga langsung terlelap. Tidak berbeda dengan Diana dan Ivan, keduanya juga larut kealam mimpi sambil berpelukan.


Keesokan harinya.


Setelah menikmati sarapan pagi mereka, Yudha dan Dillah segera melakukan tugas mereka, sedang Ivan dan Diana mulai melakukan survei pada Sekolah pertama yang mereka datangi. Saat mobil yang membawa Diana dan Ivan memasuki gerbang kecil sekolah itu, Diana mematung, dia teringat kenangan buruk di tempat ini. Tempat yang mereka datangi saat ini adalah Sekolah pertama Diana setelah dia bersama Neneknya.


Melihat perubahan pada wajah Diana, Ivan khawatir. “Kamu Lelah sayang? Kalau Lelah kamu tunggu di mobil saja.”


“Aku baik-baik saja, ayo kita turun.”


Diana dan Ivan turun dari mobil, dan mereka di sambut oleh pengurus Sekolah itu dan beberapa guru. Diana dan Ivan diajak menuju kantor Kepala Sekolah, untuk membicarakan hal yang lain. Sesampai di Kantor Kepala Sekolah, Ivan tertarik dengan foto-foto murid sekolah itu, pada setiap foto terlihat tahun kelulusan mereka. Hingga perhatian Ivan tertuju pada satu foto. Di mana dari foto terlihat seorang gadis kecil yang sangat terasing.


“Aku merasa aneh dengan foto ini, kenapa foto gadis kecil ini hanya ada satu di sini? Sedang siswa lain aku melihatnya di beberapa Foto,” ucap Ivan.


“Owh, menurut kabar yang beredar, dia satu-satunya siswi yang terbelakang, maaf dalam artian bodoh, dia tidak pernah menjawab soal-soal, di tambah lagi dia bisu. Bahkan menurut lingkup dia tinggal, dia gadis yang rada gila,” terang salah satu guru.


“Kasian sekali anak itu, padahal dia cucu seorang dokter,” sela guru yang lain.


“Bisu, bodoh, dan rada gila, apa dia cucu dokter Zelin?” tebak Ivan.


“Kenapa Anda bisa menebak dengan benar?” ucap salah satu guru.


“Owh … karena dokter Zelin terkenal memiliki cucu yang bodoh dan rada gila,” kilah Ivan, sesaat Ivan melirik kearah Diana.


Diana terlihat sangat santai, seolah bukan dirinya yang Ivan bahas.


Semua orang yang ada di ruangan itu percaya dengan jawaban Ivan. Mereka kembali menceritakan keadaan Sekolah mereka pada CEO Agung Jaya. Diana tidak berexpresi apapun, dia berusaha bersikap dingin, hanya mengikuti kemana Ivan melangkah, hingga kunjungan selesai, Diana dan Ivan kembali ke mobil mereka.


“Ternyata terlalu cerdas malah dianggap orang bodoh dan gila,” gerutu Ivan.


“Bercermin, Tuan. Bukankah Anda dulu juga melihatku seperti itu?” ucap Diana.


“Maafkan aku permataku.” Ivan memeluk Diana begitu erat.


“Hei, lepaskan ada supir di depan,” ucap Diana.


Keduanya kembali bersikap santai, Ivan menitahkan supirnya untuk melanjutkan perjalanan ke Sekolah berikutnya.