
Diana mengambil lap, dan membersihkan mulutnya. Dia menatap dingin kearah Fredy. “Bereskan semua kekacauan ini."
Fredy menganggukkan kepalanya. "Baik, aku akan membereskan semuanya.
Mulut Nazif menganga lebar, dia sangat tidak percaya dengan kejadian yang terjadi di depan matanya. Setahu dirinya CEO Edge Group itu seseorang yang dingin dan kejam. Tapi di depan Diana laki-laki itu terlihat begitu tunduk, patuh, dan sangat lembut pada Diana. Andai kedua tangannya tidak terikat, ingin rasanya Nazif menampar dirinya sendiri. Memastikan yang dia lihat saat ini mimpi atau nyata.
Sesaat Diana melirik jam tangannya. “Sebentar lagi pesawat kami akan berangkat, aku dan Nizam pergi dulu.”
Fredy kembali menganggukkan kepalanya. “Semoga selamat sampai tujuan,” ucapnya lembut. Tapi Diana terus melangkah menuju mobil bersama Nizam.
Di sana hanya tertinggal beberapa pengawal dan penculik yang menyekap Nazif. Fredy menatap tajam kearah para penculik itu. “Kalian ingin bebaskan dia, atau—” Fredy kembali mengarahkan ujung senjata apinya, bersiap untuk menembakkan timah panas ke kepala ketua para penculik itu.
Ketua penculik itu tertawa, dia menertawakan keberanian Fredy. "Hey Tuan! Saat ini Anda sendirian. Ha ha ha--" tawanya seketika terhenti saat kedua matanya melihat banyak laki-laki bertubuh tegap bersenjata lengkap muncul di berbagai arah.
"Lepaskan dia, dan anggap urusan ini selesai, atau--" Fredy sengaja menahan ucapannya, dia yakin lawan bicaranya sangat tahu apa maksudnya.
"Ba-bab-baik, kami anggap urusan ini selesai."
Bos penculik dan anak buahnya langsung melarikan diri dari sana. Keadaan seketika tegang, Nazif hanya bisa menunduk, dia sangat takut pada Fredy.
Fredy menatap Nazif dengan tatapan kemarahan. "Bukankah sudah ku bilang jangan ganggu Diana?!" bentaknya.
"Aku tidak berniat mengganggunya, tadinya aku ingin membantunya, tapi para penculik itu menipuku," rengek Nazif.
**
Diana dan Nizam tiba di bandara tepat waktu, semua barang-barang Nizam dibereskan oleh kedua sekretarisnya, sedang barang-barang Diana dibereskan oleh pegawai profesor Hadju. Mereka semua kini tengah bersantai di ruang tunggu VIP. Nizam masih tidak mengerti, formula apa yang diinginkan para penculik, hingga mereka menahan Nazif putra Aridya.
“Diana, memangnya formula apa yang mereka inginkan?” tanya Nizam.
Diana meraih tabletnya, lalu dia berikan pada Nizam. Tanpa bertanya lagi, Nizam segera membuka tablet Diana, di sana sangat banyak foto-foto Diana mengenakan jas putih, di bagian dada Diana tersemat sebuah flat nama yang bertuliskan dr. R-Bramantyo, hanya itu yang Nizam fahami dari flat nama itu, selain nama Diana, Nizam tidak mengerti tulisan bahasa lain yang ada di bawah nama Diana. Di dekat nama ada sebuah logo perusahaan P Farmasi. Nizam tahu itu adalah sebuah perusahaan penelitian, pengembangan, dan pendistribusi obat-obatan.
Nizam belum sepenuhnya memahami semua foto-foto yang dia lihat, kini Diana memberikan handphone miliknya pada Nizam. Tanpa pikir Panjang, Nizam segera membaca tulisan yang tertera di layar handphone Diana. Nizam menemukan sebuah pesan ancaman yang tertuju pada Diana jika tidak memberikan formula obat yang mereka minta.
“Formula yang mereka minta, adalah obat untuk pasien gangguan otak,” ucap Diana.
“Masalah ini sangat serius Diana, aku akan meminta bantuan Nyonya Gwen untuk mendaftarkan hak paten obat itu," usul Nizam.
“Tidak perlu,” tolak Diana halus.
“Kenapa?” Nizam sangat bingung.
“Hak paten untuk obat ini sudah keluar, dan obat ini resmi milik perusahaan Palopy Farmasi.” Diana menhembuskan napasnya kasar. “Aku mendapat kabar bahwa perusahaan Palopy Farmasi mengalami kekurangan dana, kemungkinan ada permainan di dalam sana, dan aku akan mengusulkan untuk mengadakan lelang untuk hak paten obat itu, dengan memberi harga tinggi, agar perusahaan yang licik tidak mampu membeli hak paten obat itu.”
“Dari mana kamu tahu kalau perusahaan itu kesulitan dana?”
“Profesor Hadju.”
“Kalau Anton Permana cucu Profesor Hadju, kalian masih berhubungan?” Nizam berusaha mencari tahu.
"Kemaren dia mengirim pesan padaku, dia kesulitan dana."
Nizam sangat tidak suka mendengar hal itu. “Dia meminta uang lagi padamu?”
“Dia membutuhkannya, sebab itu aku mengirimkan uang padanya.”
“Anton mendedikasikan ilmunya untuk kepentingan manusia, gelar dan ilmu yang dia dapat, uang yang dia miliki, semua dia kerahkan untuk Rumah Sakit yang dia bangun di pedalaman, dan Rumah Sakit yang dia bangun telah menolong jutaan orang yang tidak mampu. Dia kehabisan uang untuk menjalankan Rumah Sakit gratisnya, Profesor Hadju juga tidak bisa berbuat banyak, kalau dia turun tangan langsung, Anton akan kesulitan, sebab itu dia lebih nyaman minta tolong padaku. Dia beramal untuk banyak orang, jadi apa yang aku bisa aku beri, akan ku berikan padanya.”
Suara pengumuman pesawat mereka akan segera berangkat, membuat pembicaraan Diana dan Nizam berakhir, keduanya segera meraih barang mereka dan berjalan menuju pintu keberangkatan.
**
Penerbangan berlalu begitu saja, kini Diana dan Nizam kembali ke negara mereka. Mereka berempat segera berjalan menuju pintu keluar.
"Kalian duluan, aku mau ke kamar kecil." Diana berlari mengikuti petunjuk arah yang menuju toilet.
Nizam memandangi 2 sekretarisnya. "Kalian pulang duluan, bawa semua barangku bersama kalian, dan tinggalkan barang-barang Diana bersamaku."
Mila segera mengambil ransel dan koper Diana, lalu menyerahkannya pada Nizam. Sedang dia dan rekannya Nayla, langsung berjalan keluar dari Bandara.
Nizam menunggu Diana seorang diri. Tidak berselang lama, orang yang dia tunggu kembali. Diana sangat heran melihat Nizam seorang diri.
"Mana kedua sekretarismu?" Diana menoleh kearah kiri dan kanan, tapi tidak menemukan dua sekretaris Nizam.
"Mereka berdua ku minta pulang duluan. Tenang saja, barang-barangmu ada padaku."
"Ya sudah, ayo pulang. Aku sangat lelah."
Mereka berdua kembali melangkah menuju pintu keluar. Saat hampir sampai di pintu keluar tiba-tiba seorang laki-laki mengenakan setelan jas lengkap dan mengenakan kacamata hitam menghalangi langkah Diana. Laki-laki itu membuka kacamatanya.
“Semua urusan di Dubai sudah aku bereskan.”
“Terima kasih,” ucap Diana begitu dingin.
“Sudah membaca pesanku sebelumnya?” tanya Fredy.
"Sudah."
"Bagaimana?"
"Maaf aku tidak bisa," ucap Diana.
"Pertimbangkan lagi, Diana. Aku mohon ...."
“Banyak tenaga medis yang sangat ahli di bidangnya.” Diana menyebutkan nama-nama dokter spesialis ternama di kota mereka. “Mereka jauh lebih berpengalaman, dan pendidikan mereka jauh lebih tinggi dariku.”
"Tapi aku ingin kamu yang menolong temanku."
Diana menatap Fredy dengan sorot mata kekesalannya.
"Aku mohon Diana," pinta Fredy.
"Apa kau tidak mengerti bahasa yang Diana ucapkan?" sela Nizam.
Fredy menunduk, dia sadar Diana menolak permintaanya. “Sebelum kamu menolak permintaanku, bolehkan aku mengajakmu untuk mengunjungi seseorang yang aku maksud?” tanya Fredy. "Barangkali setelah melihat keadaannya hatimu terbuka untuk menolongnya."
"Aku lelah, aku ingin pulang." Diana mengisyarat pada Nizam, agar segera pergi. "Terima kasih atas semua bantuanmu," ucap Diana pada Fredy.
"Aku menolongmu di Dubai bukan karena aku ingin meminta imbalan darimu, tapi karena aku ingin terus membantumu, karena nyawaku selamat berkat keajaiban dirimu."