Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 70 Tulisannya Jelek


Diana berpikir keras, bagaimana mengatakan semua ini.


 


Ini hanya gejala, jika diobati dengan benar, maka akan sembuh.


 


Diana mengingat sesuatu, dia meraih handphonenya dan mulai mengetik.


*Bolehkah aku minta selembar kertas dan pena untuk menulis?


Ivan langsung mengambil alas tulis, di sana sudah ada beberapa lembar kertas yang terpasang pada penjepitnya. Lalu memberikannya pada Diana. Ivan menyalakan penerangan agar Diana mudah menulis. Diana sangat fokus menggoreskan tinta pena ke lembaran kertas putih, melihat Diana begitu asyik dengan kegiatan menulisnya, Ivan memilih untuk membuka laptopnya mengamati beberapa laporan, untuk mengisi waktu selama perjalanan mereka. Tak terasa mobil yang membawa Ivan dan Diana berhenti di sebuah halaman Restoran. Tapi, Diana masih asyik dengan kegiatan menulisnya.


Ivan menyimpan kembali laptopnya, Ivan menurunkan jendela kaca mobilnya, memandangi keadaan sekitar Restoran “Kita sudah sampai,” ucapnya.


Diana langsung menegakkan wajahnya, dia melepas selembar kertas dari penjepitnya, lalu memberikan kertas itu pada Ivan. Sedang dirinya langsung turun dari mobil. Diana menyadarkan punggungnya pada sisi mobil Ivan, matanya memandangi layar handphone, sedang pikirannya terbang entah kemana.


Apa Ivan mau menerima resep dariku?


Diana masih tenggelam oleh pemikirannya.


Di sisi parkiran yang lain, Yudha tersenyum melihat seorang gadis memainkan handphonenya di dekat mobil. “Dillah, kita ke sana dulu.” Yudha mengisyarat kearah mobil yang tidak jauh darinya.


“Baik Tuan.”


Keduanya pun berjalan kearah mobil Ivan, terlihat Ivan begitu fokus memandangi selembar kertas yang dia pegang.


“Apa yang kamu baca Van?"


Ivan menegakkan wajahnya, raut wajahnya terlihat malas ketika dia melihat Yudha ada di depan matanya. “Apa kota ini terlalu sempit? Hingga aku harus selalu melihatmu?”


Yudha terkekeh melihat kekesalan yang menghuni wajah Ivan. "Apa itu surat teguran dari Dosen pembimbing Diana?” Yudha semakin tersenyum melihat raut wajah Ivan yang semakin kesal. “Jadi ... apa yang kamu baca?”


Ivan memberikan lembaran kertas itu pada Yudha.


Sepasang mata Yudha berbinar melihat coretan pena yang ada pada kertas tersebut. “Siapa yang menulis ini, Van?”


“Diana.”


Yudha langsung menoleh kearah Diana. “Diana, apa yang kamu tulis ini?” Yudha memperlihatkan kertas yang dia ambil dari Ivan.


Diana hanya menoleh, tapi tidak memberi penjelasan.


Yudha menggelengkan kepalanya, dirinya benar-benar takjub dengan coretan pena itu. “Ini adalah resep obat yang sangat—” Yudha bingung menggambarkan ungkapannya. “Seingatku hanya seorang tenaga medis yang sangat profesional yang bisa menulis resep seperti ini. Salah satunya nenek Zelin.”


“Apa?!” Dillah tidak percaya dengan yang Yudha ucapkan, dia mengambil lembaran kertas tersebut dan membacanya sendiri. Ternyata Yudha benar, yang Diana tulis adalah resep yang sangat profesional.


“Kamu bisa beri kami sedikit penjelasan, Van?” tanya Yudha.


Ivan keluar dari mobilnya, dan mengambil lembaran kertas yang Dillah pegang. “Apa yang bisa aku jelaskan, aku hanya ingin bilang, aku tidak menyukai tulisan itu, tulisannya sangat jelek!”


Yudha terdiam, kekagumannya pada coretan yang ada pada kertas itu sungguh sulit untuk dia lupakan begitu saja.


Siapa Diana? Kenapa dia begitu pandai menulis resep obat? Aku harus mencari tahu tentang Diana.


“Diana. Ayo masuk,” panggil Ivan.


“Ini sangat luar biasa, Tuan,” bisik Dillah. “Keajaiban tadi siang saja membuatku sangat penasaran pada Nona Diana, Dia sangat cerdas. Sekarang mataku disuguhkan keajaiban seorang Diana dari sisi yang lain.”


“Ayo kita masuk kedalam,” ajak Yudha.


Mereka berdua langsung menyusul Ivan dan Diana. Yudha menarik salah satu kursi yang berada tepat di sisi kiri Diana, sedang Ivan duduk di sisi kanan Diana. Tapi Diana sangat fokus dengan layar handphonenya, terlihat jemarinya sibuk menari diatas keayboard handphonenya.


*Ivan, aku tidak punya wewenang apapun untuk memintamu menerima resep yang aku tulis. Memangnya siapa aku? Tapi, jika kamu berkenan tolong kamu pertimbangkan resep yang aku tulis tadi.


*Itu hanya resep Vitamin, supaya daya tahan tubuh kamu kuat, kamu harus memperhatikan kesehatanmu, karena kamu terlalu sibuk bekerja.


Ivan terdiam membaca tulisan yang ada di layar handphone Diana. Dia menatap Diana dengan tatapan yang begitu lembut. “Aku akan pertimbangkan.”


Diana tersenyum, dia segera melepaskan handphonenya, dan segera menulis menu yang dia inginkan. Tanpa Diana sadari, orang yang mendapat senyuman darinya serasa terbang tinggi keatas awan. Setelah Diana selesai, Yudha dan Dillah juga segera menulis menu makanan yang mereka inginkan.


"Ini Van, tinggal kamu yang belum pesan." Yudha memberikan buku yang bertuliskan pesanan mereka.


Kesadaran Ivan kembali, saat Yudha memberikan kertas yang bertuliskan menu makanan. Ivan membaca jeli apa yang Diana pesan. Dia mencoret semua itu, dan menulis menu yang lain, juga memberi tambahan tulisan lain pada makanan yang dipesan Yudha dan Dillah. Tidak menunggu lama, pesanan mereka pun mulai memenuhi meja mereka. Diana memandangi menu yang ada, tapi tidak terlihat makanan yang dia pesan, Ivan memahami apa yang Diana cari.


“Pesananmu tadi aku batalkan, karena menu yang kamu pesan itu makanan pedas. Sedang dirimu tidak bisa makan pedas.” Ivan mulai mengambil makananya.


Yudha dan Dillah juga berusaha mencari menu yang mereka pesan. Tapi tidak ada tersaji di meja.


“Permisi Tuan, ini menu yang dibungkus.” Pelayan menaruh beberapa box makanan diatas meja.


“Berikan pada mereka.” Ivan mengisyarat pada Yudha dan Dillah. “Tagihannya masukkan dalam tagihan saya,” ucap Ivan.


“Baik, Tuan.” Pelayan itu pun pergi.


Yudha menatap Ivan begitu tajam. “Kenapa makanan kami dibungkus?” protesnya.


“Lebih baik kalian pulang duluan, dan nikmati makanan kalian di rumah masing-masing.”


Yudha ingin protes, namun melihat tatapan peringatan dari Ivan, membuat Yudha mengalah dan menarik Dilllah untuk pergi dari sana. Ivan dan Diana langsung menikmati makan malam mereka.


Setelah selesai makan malam, mobil yang ditumpangi Ivan dan Diana melaju menuju Apartemen Ivan. Sesekali Ivan melirik kearah Diana, terlihat gadis itu sibuk dengan handphonnya, dan sesekali menulis di buku yang berukuran kecil. Ivan kembali membuka laptopnya untuk mengisi kekosongan waktunya. Tidak terasa mobil berhenti di parkiran yang ada di Gedung Apartemen Ivan. Saat Ivan menoleh pada Diana, ternyata Wanita itu memejamkan kedua matanya.


Ivan mendekatkan wajahnya, dan memandangi wajah Diana dengan jarak yang begitu dekat. Ivan menyadari betapa cantiknya garis wajah yang Diana miliki, Ivan terpesona, dia memindahkan helaian rambut yang menutupi wajah Diana ke sisi telinganya, bibir yang begitu indah itu menyita perhatiannya, ingin sekali merasakan bagaimana rasanya. Ivan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Diana.


Drttttt!


Ivan merasa handphone Diana bergetar, dia pun segera menegakkan tubuhnya kembali ke posisi semuala, sepersekian detik setelah Ivan kembalu ke posisinya, perlahan Diana membuka matanya, karena ada yang bergetar di pangkuannya. Saat kedua matanya terbuka sempurna, Diana menyadari kalau mereka sudah sampai di Apartemen Ivan. Dia memeriksa handphonenya, ternyata hanya pesan dari group kampusnya.


Mata Diana masih terasa sangat berat, rasanya sulit untuk membuat matanya untuk tetap terbuka, terlihat di sampingnya Ivan mulai membereskan berkas pekerjaannya, Diana segera bersiap untuk keluar dari mobil.


Selama di lift, Diana terus berusaha agar kedua matanya terbuka sempurna, Ivan hanya sesekali melirik gadis itu, rasa iba seketika muncul melihat Diana berusaha menahan kantuknya.


Tink!


Suara pintu lift yang terbuka seakan menggoyangkan kesadaran Diana yang mulai terombang-ambing oleh rasa kantunya. Antara sadar dan tidak, dirinya sudah masuk kedalam Apartemen Ivan.


Plak!


Barang Diana jatuh. Diana pun membungkuk memungut buku kecilnya yang jatuh. Saat Diana membungkuk, kedua bola mata Ivan disuguhi pemandangan tato burung kecil yang ada di bagian pinggul bagian kanan Diana. Ivan terpana melihat burung kecil itu. Di luar kesadarannya, Ivan mendekati Diana. Saat Diana menegakkan tubuhnya dia terkejut tiba-tiba Ivan merengkuhnya. Telapak tangan Ivan yang satunya menyentuh bagian tubuh Diana yang dilukis burung kecil. Membuat Wanita itu terperanjat. Diana memegang tangan Ivan yang terus mengusap tatonya, gerakan lembut tangan Ivan membuat sekujur tubuh Diana bergetar hebat.